Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Bahasa (35): Bahasa Bima – Aksara di Pulau Sumbawa, Antara Pulau Moyo dan Pulau Sangeang;Kamus Bahasa Bima (1893)

Tempo Doelo by Tempo Doelo
23.09.2023
Reading Time: 9 mins read
0
Camping di Gunung Papandayan
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Suku
Bima atau Mbojo adalah kelompok etnis mendiami Pulau Sumbawa bagian timur. Istilah
“Mbojo” untuk menyebut kata ‘Bima’ dalam bahasa Bima (nggahi Mbojo), juga
sebagai istilah orang Mbojo (dou Mbojo). Orang Bima terdiri kelompok penduduk
asli (dou Donggo) dan kelompok orang Bima (dou Mbojo). Dou Donggo di bagian
barat teluk, di gunung dan lembah, memiliki kesamaan ciri Sasak Bayan rambut
pendek gelombang, keriting, kulit agak gelap. Dou Mbojo di kawasan pesisir
pantai, campuran dengan orang Bugis-Makassar dengan ciri rambut lurus.


Bahasa
Bima atau Nggahi Mbojo adalah sebuah bahasa Austronesia yang dipertuturkan oleh
Suku Mbojo (masyarakat Bima) di Pulau Sumbawa. Bahasa Bima (Bima-Dompu)
memiliki jenis sistem tanda grafis tertentu (aksara) yang disebut dengan aksara
Mbojo. Aksara Mbojo memiliki 18 karakter utama. Aksara Mbojo memiliki hubungan
kesamaan atau kaitan dengan aksara Bugis. Hal ini menjadi salah satu tanda
keterkaitan hubungan sejarah antara daerah Bima dengan Bugis. Aksara Mbojo
diperkirakan telah digunakan sejak abad ke-14. Aksara Mbojo digunakan untuk
menulis buku dan catatan kerajaan di Kerajaan Bima. Kemudian ketika pada abad
ke-17, masyarakat Bima mulai menggunakan bahasa Melayu yang ditulis dengan
aksara Arab. Hal ini disebabkan pada saat itu masyarakat Bima telah memeluk
agama Islam. Orang Bima (Dou Mbojo), dalam hal memperindah penggunaan bahasa,
senantiasa menggunakan pantun kahs Bima atau disebut Patu Mbojo atau Kapatu
Mbojo. Sebaran bahasa Bima secara besar terdapat di Kabupaten Bima, Kota Bima,
dan Kabupaten Dompu. Bahasa Bima terdiri dari empat dialek, yaitu: Serasuba; Wawo;
Kolo; dan Kore
. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Bima dan aksara
di Sumbawa, antara pulau Moyo dan pulau Sangeang? Seperti disebut di atas,
bahasa Bima dituturkan oleh kelompok populasi orang Bima di teluk Bima. Kamus bahasa
Bima (1893). Lalu bagaimana sejarah bahasa Bima dan aksara di Sumbawa, antara pulau
Moyo dan pulau Sangeang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional,
mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis)
dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber
disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja.

Bahasa Bima dan Aksara di Sumbawa, Antara Pulau Moyo
Lombok dan Pulau Sangeang; Kamus Bahasa Bima (1893) 

Bima di pulau Sumbawa berada tepat diantara
ragam budaya ke barat (Jawa), ke timur (Flores) dan ke utara (Sulawesi). Bahasa
Jawa makin ke timur makin sedikit pengaruhnya hingga ke Bima. Bahasa Sumbawa,
Sasak dan Bali cenderung lebih dekat ke Jawa. Bagaimana dengan bahasa Bima di
pulau Sumbawa? Ada pengaruh Melayu.


Sejumlah kosa kota elementer, seperti ibu dan ayah dalam bahasa Bima
adalah ‘ina’ dan ‘ama’ (lihat kamus Bahasa Bima oleh JCG Jonker, 1893). Kosa
kata ini tidak dapat ditemukan bahasa-bahasa semakin ke barat ke Jawa. Kosa
kata ina dan ama sama dengan bahasa Bugis (Sulawesi) dan bahasa-bahasa di Timor
dan sekitar. Ompu bahasa Bima adalah kakek. Dalam bahasa Bugis kakek adalah
opu. Ompu, ama dan ina adalah kakek, ayah dan ibu dalam bahasa Batak.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kamus Bahasa Bima (1893): Pulau Sumbawa Masa ke Masa 

Pada masa ini Tanah Bima disebut Mbodjo (land Bima).
Bima sendiri adalah tempat utama di bagian dalam teluk Bima. Orang Bima atau
penduduk di Tanah Bima (Mbodjo) disebut Dou Mbodjo. Nama Bima sendiri sudah
disebut dalam teks Negarakertagama (1365). Sebagai suatu nama tempat, Bima
sudah dikenal sejak masa lampau.


Dalam peta pelaut Portugis tidak didientifikasi nama
Bima. Nama yang diidentifikasi pada peta no 21 (peta-peta 1511-1513) adalah
nama Lombok, Soerabaja dan Solor serta Timor. Nama Bima baru diidentifikasi
pada peta-peta Belanda (era VOC).

Salah satu pananda navigasi sejarah kuno di wilayah
Bima adalah
teks
prasasti Wadu Tunti
. Teks yang
diduga berbahasa Kawi ini sudah dibaca oleh Balai
Arkeologi Denpasar. Dari prasasti Wadu Tunti, tidak
ada
nama Bhima. Yang ada dalam teks
adalah nama raja Sang ngaji dan nama tempat (kerajaan) Sapalu dan Hanipuh. Nama
raja dan nama tempat ini tampaknya nama yang mirip kita kenal pada masa ini
sebagai nama Sangaji dan nama Saparua dan Manipa. Hanya itu saja yang dapat
diinterpretasi dari teks tersebut
. Lalu,
apakah ada hubungan nama raja Sang Haji dan nama Saparua dan Manipa d
engan wilayah Tanah Bima
(Mbodjo)?


Namun jika diperhatikan secara cermat secara kontekstual (di luar teks),
Kerajaan Bima (sesuai namanya) awalnya beragama Hindoe, tetapi kini sudah
memiliki hubungan dengan raja dari Saparua yang sudah Islam dan bergelar haji.
Kerajaan Saparua akan membantu kerajaan Bima jika ada yang bermaksud jahat
kepada (kerajaan) Bima. Dimana kerajaan Saparua berada? Pada teks
Negarakertagama (Kern) hanya disebut nama-nama tempat di wilayah Maluku yang
sekarang adalah Hutan Kadarli (Buru), Ambuwan (Amboina), Muar, Ceram (Seram),
Wandan (Banda), Gurun, Maloko.
Nama
Muar tepat pada pulau Saparua yang sekarang (di tenggara pulau Haruku). Boleh
jadi pada era Majapahit Saparua (Negarakertagaa) masih diidentifikasi Muar
tetapi pada era prasasti Wadu Tunti namanya sudah menjadi Saparua. Sementara
nama Hanipuh dalam teks Wadu Tunti adalah pulau Manipa yang sekarang. Kelak
pada era VOC nama Manipa terkenal karena nama Kaptein Jonker, putra Sangaji.
Dalam hubungan ini, raja Saparua adalah Sang Haji dari Manipa.
Nama Muar diduga terkait
dengan orang Moor, pedagang-pedagang Islam dari Eropa Selatan. Nama Muar juga
ditemukan di pantai barat Semenanjung Malaka. Orang-orang Moor sudah lama ada
di pantai timur Sumatra.Ini terindikasi utusan Moor, Ibnoe Batutah pada tahun 1345
mengunjungi pantai timur Sumatra. Artinya semasaMajapahit orang Moor sudah
sampai ke Maluku. Dalam Mendes Pinto (1537) orang-orang Moor menjadi mitra
strategis Kerajaan Aroe Batak Kingdom di pantai timur Sumatra. Jika Muar
mengaju pada nama Moor, Moer dan Moear, lalu apakah
nama Haruku merujuk pada nama
Kerajaan Aru (H-aru-ku).
Di selatan pulau Muar, Saparua (Sap-aru-a) dan Haruku (H-aru-ku) terdapat
pulau Aroe.

Berdasarkan prasasti Batugana, dari empat raja (federasi) Kerajaan Aru dua
diantaranya bergelar Kadhi (pemimpin agama Islam) yang mana salah satu bergelar
haji. Jadi sangat masuk akal raja Saparua beragama Islam dengan gelar haji.
Lantas mengapa teks yang digunakan pada prasasti Wadu Tunti aksara dan bahasa
Jawa Kuno dengan campuran bahasa Bima, sebab saat itu lingua franca dalam
navigasi pelayaran di wilayah selatan Jawa Kuno di wilayah utara Melayu Kuno
(yang keduanya berasal dari lingua franca yang lama Sanskerta).

Tanah Bima setelah era Majapahit tampaknya terhubung
dengan wilayah Maluku (Saparua dan Manipa). Wilayah Saparua dan Haruku diduga
terhubung dengan pedagang Moor dan kerajaan Aroe di pantai timur Sumatra. Lantas
hubungan tersebut yang menyebabkan kosa kata elementer dalam bahasa Bima (ompu,
ama dan ina) terhubung dengan bahasa di kerajaan Aroe?


Pedagang-pedagang Moor sudah lama diketahui keberadaannya di Bima. Salah
satu yang terkenal pada era VOC adalah Codja Roeboe. Berdasarkan catatan
kasteel Batavia (Daghregister) tanggal 8 Oktober 1675 disebutkan Codja Roeboe
dari Bima membawa surat dari ondercoopman Paulus de Bock. Dua bulan kemudian
Daghregister 13 Desember 1675 surat dari Radja Bima diterjemahkan (ke dalam
bahasa Belanda) yang dibawa oleh sabandhar Codja Roeboe. Koja adalah gelar diantara
orang-orang Moor di Hindia. Pada era VOC di Batavia ada nama kampong Koja,
kampong orang Bima di Batavia. Besar dugaan yang membawa agama Islam ke Bima
adalah orang-orang Moor dari wilayah Maluku.
Pengaruh Islam dari kerajaan
Demak (di Jawa) didiga hanya mencapai Lombok (pantai utara dan teluk Lombok di
timur). Islam di pulau Sumbawa sudah lama (dari timur, Saparua dan kemudian
dari utara Makassar).

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur.
Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

20.01.2026
Sejarah

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

20.01.2026
Sejarah

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

19.01.2026
Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah jambu bol

18.01.2026
Sejarah

Sejarah Jepang (5): Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Bermula Orang Portugis di Indonesia di Hindia Timur

18.01.2026
Sejarah

Kepulangan Jenderal Mansergh dari Surabaya ke Inggris setelah konflik pasukannya dengan para pejuang menyulut pertempuran Surabaya

17.01.2026
Next Post
Hei Kamuh!

Sejarah Bahasa (36): Bahasa Sumbawa di Pulau Sumbawa; Tau Samawa - Peradaban Sabalong Samalewa dan Samalewa Samawa

Penari perempuan Jawa dalam enam foto

Iklan

Recommended Stories

Menyembunyikan Amalan Itu Lebih Utama (Agar Ikhlas)

Menyembunyikan Amalan Itu Lebih Utama (Agar Ikhlas)

10.08.2017

Sejarah Aceh (38): Sejarah Perjalanan Haji di Aceh, Wilayah Paling Dekat ke Mekkah; Sejarah Perjalanan Haji Era Hindia Belanda

02.01.2021

Resep Cara Membuat Ayam Bumbu Bali Enak Mudah

06.06.2014

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?