*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan tanggal
17 Agustus 1945. Dalam hubungan ini tidak ada yang menginginkan perang diantara
Indonesia dan Belanda. Namun masalahnya siapa yang memulai, dan bagaimana harus
mengakhirinya. Perang kemerdekaan Indonesia harus diakhiri yang lalu kemudian dilanjutkan
ke meja perundingan. Celakanya Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia
sejak 17 Agustus 1945, hanya mengakui kedaulatan Indonesia yang diberlakukan
tanggal 27 Desember 1949. Okelah. Itu artinya perang belum benar-benar berakhir
di Indonesia termasuk di wilayah Banyumas.

Sejarawan Ingatkan Pentingnya Pengakuan
Kedaulatan. Banjarnegara 18 Agustus 2022. Ketua
Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Banjarnegara Heni Purwono mengingatkan
pentingnya pengakuan kedaulatan atas kemerdekaan. Pengakuan kedaulatan penuh
ini penting bagi Bangsa Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaannya pada 17
Agustus 1945. “Dalam memperingati HUT RI, salah satu hal penting yang perlu
diketahui masyarakat adalah tentang pengakuan kedaulatan RI, ternyata Belanda
tidak mengakui 17 Agustus 1945,” kata Heni Selasa (16/8). Bangsa Indonesia kala
itu menganut pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) harus membayar 4,3
milyar Gulden kepada Belanda agar mengakui kedaulatan Indonesia. “Dan itu pun
tidak 17 Agustus 1945, melainkan 27 Desember 1949,” terang Heni. Heni
menjelaskan Belanda tidak mau mengakui 17 Agustus karena mereka tidak mau
menanggung biaya agresi militer 1 dan 2. Dalam konteks Banjarnegara, menurut
dia aneh kalau masih ada yang masih mempermasalahkan perubahan Hari Jadi
Banjarnegara dari 22 Agustus 1831 menjadi 26 Februari 1571. Sebab 22 Agustus
1831 menandai pemindahan ibu kota Banjarnegara oleh Belanda sekaligus mengganti
bupatinya yang pro Diponegoro. Untuk itu menurutnya dibutuhkan pendekatan
pemahaman (verstegen) dalam mengkaji sejarah.
(https://www.banyumasekspres.id/)
Lantas bagaimana sejarah berakhirnya perang kemerdekaan,
pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia? Seperti disebut di atas, jika
Belanda tidak mengakui kemerdekaaan Indonesia 17 Agustus dan hanya mengakui
kedaulatan Indonesia sejak 27 Desember 1949, itu berarti perang kemerdekaan
memang belum benar-benar berakhir. Bagaimana situasi di wilayah Banyumas pasca
pengakuaan kedaulatan tersebut. Lalu bagaimana sejarah berakhirnya perang kemerdekaan,
pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Berakhirnya Perang Kemerdekaan, Pengakuan Belanda
Kedaulatan Indonesia; Situasi di Wilayah Banyumas
Tunggu deskripsi lengkapnya
Situasi di Wilayah Banyumas: Pengakuan Belanda
terhadap Kedaulatan Indonesia Semasa RIS
Tunggu deskripsi lengkapnya
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur. Saya
sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah
dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog
ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish).
Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




