*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini
Lain
dulu, lain kini. Sejatinya Dayeuh Luhur adalah kota tua, kota yang sudah lama
diketahui keberadaannya. Awalnya daerah Dayeuh Luhur masuk wilayah Ciamis,
tetapi kini menjadi bagian dari wilayah Cilacap. Hal itulah mengapa di Dayeuh Luhur
penduduk umumnya berbahasa dan berbudaya Sunda. Dayeuh Luhur sendiri adalah
wilayah terjauh dari (kota) Cilacap, tetapi sebaliknya, wilayah Dayeuh Luhur
terbilang sangat dekat dengan kota Banjar (berbatasan langsung). Secara
geoigrafis, Dayeuh Luhur menjadi semacam area enclave Cilacap di wilayah Ciamis.
Tentu saja hal serupa ini juga ditemukan di wilayah lainnya di Indonesia.

Dayeuhluhur
adalah sebuah kecamatan di kabupaten Cilacap. Pada zaman dahulu wilayah
Dayeuhluhur dan sekitarnya adalah sebuah Kadipaten. Namun, pada saat perang
antara Hindia Belanda melawan Pangeran Diponegoro Kadipaten Dayeuhluhur
dibubarkan, karena dianggap menjadi sarang perlawanan terhadap Hindia Belanda.
Setelah pembubaran, seluruh wilayah Kadipaten Dayeuhluhur menjadi bagian dari Afdeeling
Purwokerto, Residentie Banyumas. Penduduk asli kecamatan Dayeuhluhur adalah
Suku Sunda yang mengamalkan budaya Sunda. Kuatnya tradisi Sunda di kecamatan
Dayeuluhur ditandai dengan bahasa daerah yang digunakan sehari-hari yatu bahasa
Sunda dan karena seringnya interakasi dengan warga yang ada di Jawa Barat. Untuk
masalah interaksi dengan daerah di luar Dayeuhluhur, warga kebanyakan
berinteraksi dengan warga Jawa Barat, hal ini dikarenakan masalah ekonomi.
Warga Dayeuhluhur memiliki ketergantungan terhadap Kota Banjar dalam masalah
pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Sebagai contoh, apabila warga menjual
hasil bumi seperti padi, kelapa, pisang, buah-buahan, dll. 95% akan dijual ke
Jawa Barat. Hal ini dipermudah dengan dekatnya akses dari Dayeuhluhur ke Kota
Banjar yang cukup ditempuh 15 menit dibandingkan jarak Dayeuhluhur ke Majenang
yang bisa memakan waktu sekitar 1 jam. Desa-desa di Dayeuh Luhur antara lain Bingkeng,
Bolang, Cilumping, Ciwalen, Datar, Dayeuhluhur, Hanum, Kutaagung, Matenggeng, Panulisan,
Sumpinghayu.
(Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Dayeuh Luhur kota tua
berbahasa berbudaya Sunda? Seperti disebut di atas, wilayah Dayeuh Luhur secara
geografis berada di wilayah Ciamis tetapi secara administrative masuk kebupaten
Cilacap. Itu adalah hal biasa. Tapi menjadi tidak biasa penduduk Daeyeuh Luhur
berbahasa dan berbudaya Sunda yang berbeda dengan wilayah lainnya di kabupaten
Cilacap. Bagaimana wilayah Cilacap menjorok masuk ke wilayah Sunda di Ciamis? Lalu
bagaimana sejarah Dayeuh Luhur kota tua berbahasa berbudaya Sunda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Dayeuh Luhur Kota Tua Berbahasa Berbudaya Sunda;
Wilayah Cilacap Menjorok Masuk ke Wilayah Ciamis
Tunggu deskripsi lengkapnya
Wilayah Cilacap Menjorok Masuk ke Wilayah Ciamis: Dayeuh
Luhur Masa ke Masa
Tunggu deskripsi lengkapnya
Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak
1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta
Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun
di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis
artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang,
utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



