*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini
Pada
masa ini Barturaden dikenal sebagai daerah wisata pegunungan. Di wilayah
Baturaden juga terdapat taman raya. Lokasi kebun raya Baturraden berada di kaki
gunung Slamet sebelah selatan, berjarak 17 Km dari kota Purwokerto (2 Km
setelah pintu gerbang Wana Wisata Baturraden). Batur Raden sendiri sudah
dikenal sejak era Hindia Belanda, tetapi bagaimana di masa lampau, masih kurang
terinformasikan. Baturaden diduga sudah dikenal di zaman kuno. Dalam hal ini ‘Batoer’
adalah kata lain untuk ‘Tjandi’.

Baturaden
adalah sebuah kecamatan di kabupaten Banyumas. Kecamatan ini berjarak sekitar
7,5 Km dari Kota Purwokerto ke arah utara. Pusat pemerintahannya berada di Desa
Rempoah. Kecamatan ini terletak di lereng selatan Gunung Slamet dan merupakan
kawasan wisata. Kecamatan Baturaden dikenal sebagai daerah yang sejuk karena
berada di ketinggian 300 hingga 3428 m dpl (titik tertinggi di Puncak Gunung
Slamet). Istilah Baturraden sendiri berasal dari dongeng yang berkembang di masyarakat.
Dahulu kala, ada seorang putra raja (“raden”) yang mencintai seorang
pembantu (“batur”). Namun oleh kedua orang tuanya tidak disetujui,
dan mengakhiri hidupnya di tempat yang kini bernama “Baturraden”. Batas-batas
wilayahnya adalah sebagai berikut: di utara gunung Slamet (Kabupaten Tegal dan
Kabupaten Pemalang); di timur kecamatan Sumbang; di selatan Kota Purwokerto; di
barat kecamatan Kedungbanteng. Adapun beberapa desa di Baturraden antara lain: Karangmangu,
Karangsalam, Karangtengah, Kebumen, Kemutug Kidul, Kemutug Lor, Ketenger, Kutasari,
Pamijen, Pandak, Purwosari dan Rempoah. (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Baturaden, destinasi wisata
masa kini, batoer tempo doeloe di selatan Slamat? Seperti disebut di atas,
wilayah Baturaden sudah dikenal sejak lama, bahkan diduga sudah sedari doeloe
dimana terdapat batur. Wilayah Baturaden sejak 1905 dijadikan sebagai taman
nasional. Lalu bagaimana sejarah Baturaden, destinasi wisata masa kini, batoer tempo
doeloe di selatan Slamat? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Baturaden, Destinasi Wisata Masa Kini, Batoer Tempo
Doeloe di Selatan Slamat; Taman Nasional Sejak 1905
Pusat kecamatan Baturaden di desa/kelurahan Rempoah
hanya kurang dari delapan kilometer. Akan tetapi ujung dari kecamatan, tepat
berada di puncak gunung Slamet (desa Kemutug Lor dan desa Ketenger). Ini mengindikasikan
Poerwokerto, (desa) Baturaden dan puncak gunung Slamet terhubung. Lantas
bagaimana dengan sejarah Baturaden sendiri?
Nama Baturraden
seperti dikutip di atas
disebut berasal
dari dongeng yang berkembang di masyarakat. Dikatakan, dahulu kala, ada seorang putra raja
(“raden”) yang mencintai seorang pembantu (“batur”). Namun
oleh kedua orang tuanya tidak disetujui, dan mengakhiri hidupnya di tempat yang
kini bernama “Baturraden. Boleh jadi itu pemahaman masa kini. Pada masa lampau, JW van Dapperen mengutip
pendapat para penduduk di Baturaden, terkait dengan candi yang dipertukatkan
dengan batur (lihat JW van Dapperen, 1935 Plaatsen van vereering op de
zuidhelling van den slamat tusschen de rivieren Peloes en Logawa). Disebutkan ‘tjandi’ adalah area
pemujaan kuno dimana tentang roh leluhur atau makhluk yang tidak berasal dari
bumi tinggal, atau tempat pemakaman orang-orang yang sangat terhormat, sedangkan
kata ‘batoer’ secara tepat merujuk, tempat tinggal para pertapa dan guru, suatu
tempat khusus. lantai atau bidang yang dilapisi di atasnya dengan batu. Disebutkan
jika seseorang berjalan dari Batur-Radèn sekitar dua pal ke arah barat, ia tiba
di Tjandi Sakala, yang terletak tepat di sebelah kiri jalan. Tempat tersebut
berukuran panjang ± 10 Roe dan lebar 3 Roe, dikelilingi oleh tembok tumpukan
batu gunung, dengan ketinggian ± 1 M. Di dalam tembok terdapat 3 pasang batu
tegak (paesan). Ini adalah tempat tinggal Kiahi Gendoeng Sroewoeng, penjaga gunung
Slamat. Pada malam Kemis Wage dan Djumahat Kliwon, penduduk desa Ketenger
mempersembahkan disana dengan cara membersihkan tempat, membakar kemenyan atau
meletakkan klobot wangi dan kembang galihan (rampé) potongan daun pandan, mawar
dll. Hal itu dilakukan dalam kaitan dengan bencana dan permintaan tertentu.
Saat ini masih ada satu batu berdiri, djaga. Ada juga dua buah batur lagi,
sebagian beralaskan batu, di sebelah barat berupa periuk batu bulat dan batu
berbentuk baji.
Asal usul nama Baturaden adalah satu hal. Hal yang
lebih penting adalah bagaimana sejarah pertumbuhan dan perkembangan di Baturaden.
Pada Peta 1817 nama Baturaden belum teridentifikasi (yang sudah teridentifikasi
adalah Poerwokerto dan Pasir). Pada Peta 1840 nama tempat terdekat dari
Poerwokerto yang diidentifikasi adalah Tjindiwoelan (enam pal di sebelah barat
laut Poerbalingga). Peta yang cukup lengkap dan terinci adalah Peta 1860. Dalam
pet aini tidak teridentifikasi nama Baturaden, tetapi di daerah aliran sungai
Peloes di wilayah hulu nama Kemoetoek diidentifikasi sebagai suatu nama desa. Besar
dugaan, wilayah desa Baturaden yang sekarang pada masa itu bagian dari desa
Kemoetoek.
Di sebelah timur sungai Peloes adalah sungai Bere yang menjadi batas
afdeeling Banjoemas dengan afdeeeling Poerbalingga. Dua sungai ini Bersama dengan
sungai Logawa berhulu di puncak gunung Slamat. Dalam hal ini studi yang
dilakukan oleh JW van Dapperen tentang sejarah zaman kuno di sungai Peloes dan
sungai Logawa berada di wulayah afdeeling Porwokerto, residentie Banjoemas.
Pada tahun 1905 terbit surat keputusan Gubernur Jenderal
Hindia Belanda tanggal 11 Januari 1905 (Stabls No 41) tentang penetapan
Kawasan taman nasional yang harus dilindungi. Dalam keputusan ini termasuk kawasan
hutan di wilayah district Soekaradja afdeeling Poerwokerto, residentie Banjoemas
yang disebut hutan Wana-Loewoeng, dengan batas-batas sebagai berikut: di
sebelah utara puncak Goenoeng Slamet; di sebelah timur suatu area yang masuk afdeeling
Poerbolinggo; di sebelah selatan area yang menjadi jalan Batoeraden hingga ke Bamboesoerat;
dan di sebelah barat suatu Kawasan yang masuk afdeeling Poerwokerto. Selain Kawasan
itu, di dalam keputusan ini juga beberapa kawasan dengan batas-batas tertentui di
Banjoemas di beberapa district di afdeeling Poerbalingga dan afdeeling
Poerwokerto. Satu yang penting dalam keterangan batas-batas hutan lindung
tersebut diketahui nama Batoeraden.
Nama Batoeraden dalam hal tidak terinformasikan apakah suatu nama desa
atau nama kampong ataukah nama suatu area tertentu (situs?). Besar kemungkinan
jalan atau situs Batoeraden masuk wilayah desa Kemoetoek di district Soekaradja,
afdeeling Poerwokerto.
Penetapan kawasan dimana terdapat Batoeraden menjadi
sangat penting. Tidak hanya untuk pelestarian hutan dan mencegah banjir di
hilir, juga menjadi penting bagi para peneliti flora dan fauna. Tentu saja keasrian
dan keaslian huta lindung di Kawasan Bartoeraden akan menjadi daya Tarik sendiri
bagi berbagai pihak. Apakah ada penduduk yang berkeinginan untuk bertapa di
dalam kawasan dan membangun ‘batoer’ yang baru? Tentu saja yang menjadi
perhatian khusus kita adalah apakah akan tertarik bagi para investor untuk membukan
dan mengembangkan bisnis di kawasan, seperti destinasi wisata? Atau apakah Soesoehoenan akan tertarik ke Kawasan Batoeraden? Kita lihat
saja nanti.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Taman Nasional Sejak 1905: Pertumbuhan dan
Perkembangan Wisata di Baturaden
Tunggu deskripsi lengkapnya
Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak
1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta
Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun
di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis
artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





