*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini
Lain
tempo doeloe, lain pula sekarang. Lain di zaman kuno, lain pula masa nanti.
Tidak hanya populasi penduduk yang berubah, juga wilayah geografis juga berubah
dari masa ke masa. Dalam narasi sejarah masa kini, tidak pernah dinarasikan
sejarah geografi wilayah. Semuanya dianggap tetap (tidak berubah) dari zaman ke
zaman; dari zaman megalitikum hingga ke zaman melenium. Membicarakan sejarah
perubahan geografis, kita sedang berbicara tentang geomorfologis wilayah.

Letak
Geografis. Wilayah kabupaten Banyumas terletak berada di barat daya propinsi
Jawa Tengah (garis Bujur Timur 108.39 sampai 109.27 dan garis Lintang Selatan 7.15
sampai 7. 37). Batas-batas kabupaten Banyumas adalah: Sebelah utara: gunung
Slamet, kabupaten Tegal dan kabupaten Pemalang; Sebelah selatan: kabupaten
Cilacap; Sebelah barat: kabupaten Cilacap dan kabupaten Brebes; Sebelah timur: kabupaten
Purbalingga, kabupaten Kebumen dan kabupaten Banjarnegara. Luas wilayah kabupaten
Banyumas 1.327,60 Km2. Keadaan wilayah antara daratan dan pegunungan dengan
struktur pegunungan sebagian lembah sungai Serayu, sebagian dataran tinggi dan
hutan tropis di selatan lereng gunung Slamet. Pegunungan Slamet dengan
ketinggian puncak 3.400 M dpl dan masih aktif. Kabupaten Banyumas memiliki
iklim tropis basah terletak di antara lereng pegunungan jauh dari permukaan
pantai/lautan (angin laut tidak begitu tampak). Tekanan rata-rata antara 1.001
mbs, dengan suhu udara berkisar antara 21,4-30,9 derajat Celsius. (https://www.banyumaskab.go.id/)
Lantas bagaimana sejarah geomorfologi wilayah Banyumas,
sungai Citandui dan sungai Serayu? Seperti disebut di atas, wilayah geografis
Banyumas hanya dideskripsikan apa yang bisa dilihat dan dirasakan pada masa
kini. Tentu saja itu tidak cukup. Analisis geomorfologis dapat memperkaya
pemahaman masa kini terhadap situasi dan kondisi geografi pada masa lampau.
Geomorfologis wilayah Banyumas antara gunung Slamet dan pulau-pulau di pantai selatan
Jawa. Lalu bagaimana sejarah geomorfologi wilayah Banyumas, sungai Citandui dan
sungai Serayu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan.
Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Geomorfologi Wilayah Banyumas, Sungai Citandui dan
Sungai Serayu; Gunung Slamet dan Pulau Pantai Selatan Jawa
Tunggu deskripsi lengkapnya
Gunung Slamet dan Pulau-Pulau di Pantai Selatan Jawa:
Dimanakah Tanah Genting Jawa?
Tunggu deskripsi lengkapnya
Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak
1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta
Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun
di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis
artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang,
utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel
sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or
perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



