*Untuk melihat semua artikel Sejarah Malang dalam blog ini Klik Disini
Di wilayah Malang sudah sejak lama penduduknya
memiliki kepecayaan Hindoe Boedha. Paling tidak hal itu dapat diperhatikan eksisrtensi
kerajaan Singosari yang rajanya yang terkenal Kertanegara. Apa yang menjadi
kepercayaan masyarakat juga tidak banyak berubah pada era pemerintahan Kerajaan
Madjapahit. Situasi dan kondisi yang berubah diduga bermula dengan kerajaan
(Islam) Demak yang memperluas pengaruhnya di wilayah (kerajaan) Majapahit,
termasuk di wilayah Malang.

Melihat Masjid Bungkuk, Masjid Tertua di
Malang yang Didirikan oleh Laskar Diponegoro. Kompas.com 20/04/2022. Masjid
Bungkuk di kelurahan Pagentan, kecamatan Singosari, merupakan masjid tertua di kabupaten
Malang. Masjid itu simbol penyebaran agama Islam, didirikan Kiai Hamimuddin
atau Mbah Bungkuk, salah satu Laskar Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang
singgah di kawasan Singosari. Kala itu Pangeran Diponegoro berpesan bagi
laskar-laskarnya agar menyebarkan agama Islam di manapun berada. Pesan itu
benar dilaksanakan oleh Kiai Hamimuddin di Malang ini,” kata KH Moensif
Nachrowi, cicit dari Kiai Hamimuddin. Awalnya, membangun mushala berupa gubuk
di tengah hutan, lalu mushala itu menjadi Masjid Bungkuk seperti yang saat ini.
Kehadiran Mbah Bungkuk dan mushalanya menjadi perbincangan warga mayoritas
beragama Hindu. Warga memperbincangkan tentang rukuk dan sujud kemudian masjid
dan area sekitar disebut sebagai kawasan Bungkuk,” tuturnya. Seiring
perkembangan waktu, santri yang ingin mendalami ajaran agama Islam berdatangan
ke Mbah Bungkuk, mushala gubuk direnovasi menjadi bangunan semi permanen,
dengan empat pilar kayu penyangga atap masjid, masih utuh sampai sekarang. Santri
yang ingin belajar kepada Mbah Bungkuk semakin banyak, akhirnya membangun
gubuk-gubuk sebagai tempat santri bermukim, yang kemudian menjadi pondok
pesantren dengan nama Miftahul Falah, yang terus aktif sampai sekarang. Pondok
Pesantren itu disebut-sebut juga sebagai pondok pesantren tertua di Malang.
Kiai Hamimuddin alias Mbah Bungkuk wafat pada tahun 1850 Masehi dan dimakamkan
tepat di belakang Masjid Bungkuk. (https://surabaya.kompas.com/)
Lantas bagaimana sejarah Islam dan masjid tertua
di wilayah Malang? Seperti disebut di atas, wilayah Malang di pedalaman
termasuk wilayah yang masyarakatnya pendukung kerajaan Singasari dan kerajaan
Madjapahit yang beragama Hindoe Boedha. Situasi dan kondisi mulai berubah
dengan terbentuknya kerajaan Demak yang beragama Islam. Lalu bagaimana sejarah Islam
dan masjid tertua di wilayah Malang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Islam dan Masjid Tertua di Wilayah Malang; Era Hindoe
Boedha Kerajaan Singasari hingga Kerajaan Islam Demak
Sejak dibentuknya cabang Pemeritah Hindia Belanda di
(residentie) Pasoeroean tahun 1801 tidak hal yang mengemuka tentang agama Islam
sebagai kepercayaan penduduk. Residentie Pasoeroean sendiri terdiri dari
district Pasoeroean, district Bangil dan district Malang en Antang. Hal ini
dapat diasumsikan penduduk wilayah Malang beragama Islam. Sebaliknya yang
mengemuka kemudian adalah ditemukannya penduduk yang memiliki kepercayaan mirip
Hindoe dan mulai munculnya aktivitas organisasi keagamaan Kristen (zending) di
Soerabaja. Hal ini sejalan dengan kembalinya Pemerintahan Hindia Belanda (pasca
pendudukan Inggris 1811-1816). Di Malang sendiri baru pada tahun 1817
ditempatkan setingkat pejabat Asisten Residen. Semua itu bermula dari era VOC.
Kapan masuknya (agama) Islam ke wilayah Malang tidak diketahui secara
pasti. Yang jelas saat kehadiran pelaut-pelaut Belanda (yang dipimpin Cornelis
de Houtman 1595-1597) kekuatan di pantai utara adalah Kerajaan Jepara (suksesi
Kerajaan Demak). Saat ekpedisi melintas di laut Rembang untuk tujuan Maluku,
utusan (Hindoe) dari Banjoewangi memintan bantuan kepada Cornelis de Houtman,
karena mereka sedang terancam dari wilayah pedalaman (kerajaan) Mataram.
Ekspedisi Belanda menolak karena mereka harus ke Maluku (tujuan mereka hanya
berdagang). Namun setelah terjadi pertempuran dengan Arosbaja, ekspedisi salah
satu kapal mereka mengalami kerusakan sehingga urung ke Maluku dan berputar
arah di pulau Lombok. Sebelum kembali ke Eropa, ekspedisi sempat mampir di
pantai timur Bali dan bertemu dengan raja Bali. Ketika VOC merelokasi pos perdagangan
utama dari Amboina ke Batavia tahun 1619 tidak lama kemudian Mataram menyerang
Batavia yang dibantu Banten pada tahun 1628. Dalam hubungan ini, selanjutnya
pada tahun 1634 Radja Bali meminta bantuan VOC di Batavia untuk menyerang
Mataram dari pantai timur Jawa. Sebagaimana diketahui Bali dengan Banjoewangi
hanya dipisahkan selat sempit. GG van Dieman menyatakan tidak siap karena masih
konsentrasi ke wilayah lain di Malaka. Apa yang dapat dipahami pada awal era
VOC pengaruh Islam (Mataram) sudah mencapai pantai timur Jawa hingga
Banjoewangi (yang sebaliknya Bali yang beragama Hindoe tengah terancam di
pantai timur Jawa). Dalam hal ini penduduk di wilayah Malang diduga telah
beragama Islam (lagi pula begitu dekat dengan pusat Islam di Soerabaja dan
Pasoeroean).
Pada era VOC, setelah takluknya Makassar (kerajaan
Gowa) oleh VOC, di Jawa. pangeran Trunajaya dari Madura tahun 1670an menyerang
Mataram. Akhirnya perang yang lebih luas tidak terhindarkan. Di satu pihak
Trunajaya dibantu oleh kekuatan eks Gowa yang dipimpin oleh Gelesong, dan di
pihak lain Mataram (Soesoehoenan) dibantu oleh VOC yang didukung pasukan
pribumi asal Bugis dan Ambon. Singkat cerita pasukan perlawanan dikalahkan di
Kediri pada November 1678 dan kemudian ditangkap 1679 Trunajaya di Antang dan
Galesong di Malang (lihat Daghregister, 29-11-1679). Dalam perkembangannya
disebut Amangkurat II (Soesoehoenan) menikam Trunajaya pada 2 Januari 1680.
Sebelumnya Galesong wafat 21 November 1679. Tamat sudah pemberontakan terhadap
Mataram.
Pasca Perang Jawa pertama ini, dilakukan perjanjian. Implikasi perjanjian
ini Mataram menyerahkan Jawa bagian barat kepada VOC (wilayah yang kemudian
menjadi province West Java, Chirebon, Preanger, Karawang dan Batavia, minus Banten).
Lalu pada tahun 1687 VOC mengirim ekspedisi ke wilayah hulu sungai Tjiliwong
hingga Pelaboehan (Ratoe) di pantai selatan. Sementara itu, pantai utara yang
berpusat di Semarang dan wilayah timur Jawa berada di dalam pengawasan VOC.
Dalam konteks inilah kemudian permintaan bantuan Raja Bali tempo doeloe hilang
dengan sendirinya. Pengaruh Islam Mataram dari pedalaman dan para pedagang-pedagang
di wilayah pantai timur Jawa bersemai di Jawa bagian timur termasuk wilayah
Malang.
Sebelum dan sesudah Perang Jawa pertama sejarinya pengaruh
Islam sudah memasuki ke wilayah pedalaman di Jawa bagian timur. Bali menjadi
tereliminasi dalam menjaga eksistensi Hindoe di Jawa bagian timur karena
terbentuknya aliansi baru antara Mataram dan VOC. Sebagaimana biasanya VOC menganggap
sama agama, yang membedakan adalah bagaiman para pemimpin local dan penduduknya
dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi (perdagangan) VOC. Hubungan VOC dengan
Madura yang semakin erat dengan sendirinya menyulitkan Bali. Hal itulah yang
kemudian menyebabkan pengaruh Islam juga telah memasuki pantai utara Bali (district
Bulelang) dan pantai barat Bali (district Jembrana). Sementara di wilayah
belakang di wilayah Malang populasi penduduk bercorak Hindoe ‘terjebak; di
dataran tinggi (wilayah Tengger yang sekarang).
Setelah Mataram menyerang Batavia tahun 1628, keterlibatan VOC dalam urusan
Mataram (Soesoehoenan) tidak hanya sampai pada Perang Jawa 1670a, tetapi masih
ada masa selanjutnya Perang Jawa kedua (1746-1755) yang kemudian berujung pada
Perjanjian Gijanti 1755. Implikasi perjanjian ini adalah pantai utara Jawa
lepas sepenuhnya dari Mataram (Kartosoera) dan pada gilirannya pantai timur
Jawa (Soerabaja) hingga ke Malang dan Antang. Seperti kita lihat nanti pasca
Perang Jawa terakhir (1825-1830) wilayah Soesoehoenan dan Soeltan juga semakin
berkurang. Di wilayah timur termasuk hingga Madioen (yang kini kemudian menjadi
gabungan province Oost Java). Di wilayah barat juga berkurang bagi Soeltan
hingga batas Banyumas sehingga hanya tersisa sebatas Residentie Soerakarta dan
Residentie Jogjakarta.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Era Hindoe Boedha Kerajaan Singasari hingga Kerajaan
Islam Demak: Islamisasi di Wilayah Pedalaman Jawa (Mataram)
Ada rangkaian yang panjang masuknya Islam di wilayah
Jawa, mulai dari wilayah pantai hingga pedalaman Jawa. Rangkaian ini harus
dimulai sejak era Hindoe Boedha semasa kerajaan Singasari dan kerajaan
Madjapahit hingga semasa kerajaan Demak dan kerajaan Mataram. Bagaimana awal
mula keberadaan Islam di Jawa tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi
pengaruh Islam jauh sebelumnya sudah berkembang di wilayah lain yang bermula di
pantai barat Sumatra dan pantai timur Tiongkok.

Pada masa kenabian (sejak 618 M), pedagang-pedagang Arab sudah diketahui
keberadaannya di Baros pantai barat Sumatra dan di Canton pantai timur Tiongkok
(tahun Hijrah dari Mekkah ke Medinah dimulai tahun 622 M). Dalam catatan Tiongkok
disebutkan bahwa antara 618 dan 626 empat murid Muhammad membawa Islamisme ke
Tiongkok, satu mengajar di Canton, satu di Yang-chow, dan dua lainnya di
Ch’üan-chow. P’an-yü-hsien-chih bab 53 halaman 1 dinyatakan: ‘Ketika
perdagangan laut dibuka pada dinasti T’ang, Muhammad, raja Muslim Medina
mengunjungi koloni Muslim di Canton, yang mereka sebut Khanfu. Juga disebutkan
mengirim paman dari pihak ibu, pendeta Su-ha-pai-sai ke Tiongkok untuk
berdagang. Dia membangun menara Kuangfe dan masjid Huai-shêng. Dia meninggal
segera setelah menara dan masjid selesai dibangun. Dabry de Thiersant, paman
dari pihak ibu Muhammad, Wahb-Abu-Kabcha, datang ke Tiongkok pada tahun 628
atau 629. Pada tahun-tahun ini pula
diketahui peziarah Tiongkok mulai berkunjung ke India (masih melalui darat;
sementara pedagang Arab ke pantai timur Tiongkok melalui laut),
Jalur navigasi pelayaran perdagangan Islam (semasa
kenabian) sudah mencapai Tiongkok melalui pantai barat India hingga pantai
barat Sumatra dan seterusnya hingga pantai timur Tiongkok. Namun yang menark dari
catatan Tiongkok mengindikasikasikan bahwa di Tiongkok, sudah ada orang-orang
Islam di Canton (melalui laut), sebelum orang-orang Tiongkok melakukan kali
pertama ziarah agama Boedha ke India (melalui darat). Tentu yang paling menarik
dari keterangan itu bahwa Nabi Muhammad pernah berkunjung ke Canton dan juga
kemudian oleh pamannya. Apakah fakta ini yang menjadi dasar bunyi hadis: Tuntutlah
ilmu itu walau jauh ke (pantai timur) Tiongkok?

Pantai barat Sumatra di Baroes, besar dugaan adalah salah satu tujuan
perdagangan para pelaut-pelaut Arab (yang awalnya hanya sampai ke pantai barat
India). Pencapai pedagang-pedagang Arab hingga ke pantai timur Tiongkok adalah
perluasan perdagangan dari Baros. Dalam hal ini posisi strategis Baroes (letak
dan potensi ekonomi) menjadi hub antara pusat perdagangan pedagang Arab di
pantai barat India dengan pantai timur Tiongkok. Apakah ini yang menjadi sebab turunnya wahyu
dalam Alquran (QS 76:5)? Yang jelas pada masa ini di Baroes ditemukan bukti
makam orang Islam bertarih 672 Masehi atau 48 Hijriyah (Nabi Muhammad wafat 8
Juni 632 M).
Lambat laun para cendikiawan Tiongkok mulai
menggunakan jalur navigasi pelayaran, seperti guru Hui Ning ke Java (664-665 M)
dan pembelajar I’tsing ke Sumatra (671 M). Tentu saja orang Tiongkok bukan
pelaut. Orang Tiongkok ke Jawa dan Sumatra diduga kuat menumpang kapal-kapal
orang Arab atau bisa jadi kapal-kapal orang Nusantara sendiri (sebagaimana
menurut catatan Tiongkok dari dinasti Han abad ke-2 sudah ada utusan raja
Yeh-tiao ke Peking melalui pantai timur Tiongkok; para peneliti pada era
Belanda menduga raja Yeh-tiao berasal dari pantai timur Sumatra; jauh sebelum
navigasi pelayaran pedagang Arab ke timur). Fakta bahwa navigasi pelayaran
Nusantara di panati timur Sumatra yang beribukota di Binanga (kini Padang
Lawas/Tapanuli Selatan) sudah maju pada abad ke-7 (lihat prasasti Kedoekan
Boekit 682 M dan prasasti Kota Kapoer 686 M). Baros dan Binanga adalah
pelabuhan di Tanah Batak, pelabuhan Baros di pantai barat dan Binanga di pantai
timur Sumatra.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Sementara era kejayaan kerajaan-kerajaan di
Sumatra (yang sebagian sudah mengadopsi Islam) dan Jawa (sudah ada koloni Islam
di pantai utara Jawa) mulai menurun, di Tiongkok terutama di pantai timur Islam
berkembang pesat, navigasi pelayaran Tiongkok juga sudah berkembang juga. Hal
itulah yang menyebabkan Kaisar Tiongkok mengirim ekspedisi (Islam) ke Nusantara
dan bahkan mencapai India di bawah pimpinan Laksamana Cheng Ho yang dimulai pada
tahun 1403 M. Secara khusus diantara-ekspedisi ekspedisi ini ada sejumlah
tempat/pelabuhan yang disinggahi antara lain di pantai timur Sumatra (Kerajaan
Aru Batak Kingdom) dan di koloni Islam di Semarang.

Dalam
perkembangannya, masa kejayaan Islam telah mencapai Eropa selatan, peran
perdagangan pedagang-pedagang Islam ke Nusantara tidak lagi dilakukan oleh
orang-orang Arab, tetapi orang-orang Moor (seputar laut Medirterania). Namun
semua itu, orang-orang Arab (Moor) terusir dari Eropa selatan pada masa Perang
Salib (abad ke-11). Dalam kekosongan inilah kemudian India yang Hindoe
(kerajaan Chola) melakukan serangan ke selat Malaka, termasuk pantai timur
Sumatra (lihat prasasti Tanjore 1030). Pasca
pendudukan Chola pedagang-pedagang Moor yang terusir dari Eropa selatan sudah
mencapai Selat Malaka. Siar Islam kembali bersemi di selat Malaka termasuk di
kerajaan Panai di pantai timur Sumatra. Koloni-koloni orang Moor semakin banyak
terbentuk bahkan hingga ke pantaitimur Tiongkok. Keberadaan orang-orang Moor
inilah yang kemudian utusan Moor dari Tunisia mengunjung selat Malaka (kerajaan
Samudra, kerajaan Panai di pantai timur Sumatra, kerajaan Muar di pantai barat
Semenanjung Malaya) hingga ke pantai timur Tiongkok. Utusan Moor ini yang
berada di selat Malaka tahun 1345 M kemudian dikenal sebagai Ibnoe Batoetah. Di
Jawa, kerajaan Madjapahit mulai menurun setelah panglima Gadjah Mada meinggal
tahun 1365 M dan kemudian disusul rajanya sendiri Hayam Wuruk. Koloni-koloni
Islam di pantai utara Jawa semakin kuat sehingga terbentuk Kerajaan Demak.
Besar dugaan koloni-koloni Islam di pantai utara Jawa,
setelah ekspedisi Cheng Ho bertransformasi menjadi kerajaan Islam maritime di
pantai utara. Kerajaan Majapahit (Hindoe Boedha) yang mengalami kemunduruan,
tampaknya menjadi target Kerajaan Demak (Islam). Kerajaan Demak ini mencapai
puncak pada saat mana kehadiran orang Eropa pertama datang (Portugis) tahun
1509. Seperti kita lihat nanti, target ke Madjapahit di Jawa bagian timur juga
diikuti target ke kerajaan Pakwan Padjadjaran (Hindoe) di Jawa bagian barat
(yang dimulai tahun 1521). Sementara itu Kerajaan Aru Batak Kingdom (Islam) yang
diperkuat oleh orang-orang Moor di pantai timur Sumatra mencapai puncaknya.
Kerajaan Demak juga diperkuat oleh para pedagang orang-orang Moor.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





