*Untuk melihat semua artikel Sejarah Malang dalam blog ini Klik Disini
Wilayah Indonesia adalah wilayah gempat, tidak
hanya karena factor geologi (tektonik) juga geomorfologi (vulkanik). Dua jenis gempa
ini dapat menimbulkan bencana, korban jiwa dan korban benda dan korban
lingkungan. Dalam hal ini wilayah Malang juga wilayah rawan gempa. Kejadi gempa
di wilayah Malang sudah tercata sejak lama.

Sejarah
Gempa Besar di Malang pada Abad 19. SejarahDalam arsip sejarah mencatat,
ternyata pernah ada dua gempa besar di Malang yang terjadi pada abad 19 atau
tahun 1800-an. Bencana alam tersebut memporak-porandakan Malang yang kala itu
belum resmi menjadi kota. Catatan gempa besar itu dapat ditelusuri melalui
beberapa penelitian terkait bencana kegempaan yang pernah mengguncang Malang.
Salah satunya adalah Indonesian’s Historical Earthquakes, yang diterbitkan
Australian Government melalui Geoscience Australia. Terbitan itu bersumber dari
catatan para ahli geologi. Catatan penting itu turut serta menjadi bukti
penguat adanya peristiwa gempa besar tersebut. Setidaknya ada dua gempa besar
yang sempat menjadi bencana dahsyat di Malang kala itu. Gempa besar pertama
terjadi di Malang pada 10 Juni 1867 silam. Gempa itu dicatat oleh sebuah buku
berjudul Beknopte Beschrijving van De Aardbeving; Die Het Eiland Java In Den
Ochtend Van Den 10 Den Juni 1867 Heeft Geteisterd. Buku itu ditulis oleh L Van
Laar pada tahun 1867. Dalam buku tersebut disebutkan, gempa itu berkekuatan 7
MMI, dengan keterangan ‘stone building suffered heavy damage’ atau bangunan
batu mengalami kerusakan berat. Sementara itu, gempa besar kedua tercatat
memiliki kekuatan 4 MMI. Gempa itu mengguncang wilayah Malang pada 22 November
1818. Gempa ini tercatat dalam buku Die Erdbeden Indischen Archipels Von 1858
Bis 1877. Penulis bernama A Wichmann menulis buku ini pada 1922 silam. Si penulis
memberikan keterangan ‘a weak shock was felt’ atau kejutan yang dirasakan
lemah. (https://www.wearemania.net/)
Lantas bagaimana sejarah gempa di wilayah
Malang dan peta gempa era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti disebut di atas
bahwa wilayah Malang, termasuk rawan gempa. Seperti kata ahli tempo doeloe tidak
perlu khawatir tapi tetap waspada. Lalu bagaimana sejarah gempa di wilayah
Malang dan peta gempa era Pemerintah Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Gempa di Wilayah Malang, Tidak Perlu Khawatir Tapi
Tetap Waspada; Peta Gempa Era Pemerintah Hindia Belanda
Pada bulan Mei 1848 terjadi gempa di Malang (lihat Nederlandsche
staatscourant, 22-08-1848). Disebutkan pada malam tanggal 16 Mei lalu, terjadi
letusan gunung api Kloet, berlokasi di perbatasan afdeeling Malang (residentie
Pasaroewan), Kedirie dan Blitar (residentie Kedirie).
Disebutkan lebih lanjut, setelah gemuruh bawah tanah mendahului, satu massa
terlempar keluar, terdiri dari batu dan pasir yang bersinar, jatuh ke laham
yang penuh pohon di gunung telah terbakar hancur dab sebagian dari massa ini
jatuh ke sungai Konto (afdeeling Malang) dan mengangkat air setinggi 5 sampai
20 kaki akibatnya 12 sawah irigasi kebanjiran dan 5 orang kehilangan sedangkan
16 orang warga dusun Redjo hilang. Di ujung aliran Konto, selain pohon dan
lain-lain, puing-puing dan kerbau juga hanyut; ikan terapung mabuk kepermukaan
air dan di residentie Kedirie mengalami banjir yang luar biasa.
Gempa letusan gunung Kloet initentulah bukan gempa
kecil tetapi gempa besar. Hanya saja kurang terinformasikan detailnya. Yang
terinformasikan adalah letusan gunung itu sendiri dan damnpak yang ditumbulkan.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Peta Gempa Era Pemerintah Hindia Belanda: Sebera
Intens Gempa di Wilayah Malang
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



