*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Wilayah geografis pulau Madura masa kini
berbeda dengan masa lampau. Dari empat penjuru mata angin seakan pulau Madura
hanya memiliki pulau-pulau di pantai timur (wilayah kabupaten Sumenep). Dalam
sejarahnya, dulu ada pulau di pantai barat tetapi telah menyatu dengan daratan,
konon di pantai utara juga pernah ada pulau. Bagaimana dengan pantai selatan?
Mengapa kini dikenal pulau Mandangin?

Pulau
Mandangin adalah nama desa dan juga nama pulau yang berada di kecamatan
Sampang, kabupaten Sampang. Pulau Mandangin adalah salah satu tempat wisata di
Sampang, dan dapat dijangkau dengan perahu bermotor dari pelabuhan Tanglok.
Pulau Mandangin dikenal akan keindahan pasir putih, terumbu karang, dan
kehidupan masyarakatnya yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan. Ada
cerita dahulu seseorang yang bernama Bangsacara dibunuh di pulau ini oleh
Bangsapati suruhan Raja Bidarba yang ingin merebut kembali Ragapatmi (mantan
istrinya) yang sudah sembuh dari penyakit kulitnya yang mengerikan (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah pulau Mandangin di wilayah
Sampang, Madura? Seperti disebut pulau Mandangi sangat dikenal dan terkenal
masa ini sebagai pulau pasir putih di pantai selatan pulau Madura. Akan tetapi
mengapa pulau ini tidak dikenal? Lalu bagaimana sejarah pulau Mandangin di wilayah
Sampang, Madura? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Pulau Mandangin di Wilayah Sampang, Pulau Madura; Bagaimana
Pulau Pasir Putih di Pantai Selatan Pulau Madura
Dalam penyelidikan sejarah, banyak ditemukan kasus
dimana nama tempat (secara geografis) berbeda nama masa kini dengan masa
lampau. Perbedaan itu karena ada pergeseran, akibat pengucapan lisan, penulisan
teks (coding) dalam peta/teks dan karena kesalahan yang tidak disengaja oleh
para kartografi. Juga pergeseran karena adanya intervensi politik (meski sangat
jarang). Olek karena itu nama tempat sendiri memiliki sejarah tersedndiri. Hal
serupa itu yang terjadi pada nama pulau Mandangin pada masa ini.

Peta-peta tertua tentang keberadaan pulau Mandangin berasal dari
peta-peta era VOC/Belanda. Pulau Mandangin hanyalah suatu pulang kecil, pulau
karang yang berada di selat Madura yang ramai dengan lalu lintas navigasi
pelayaran. Pulau ini dikenal dalam navigasi bukan karena keutamaan pulau
(misalnya populasi penduduk atau sumber daya alam) tetapi karena posisi pulau
yang berada di jalur ramai yang harus dihindari karena dapat mengancam
pelayaran menabrak karang atau hanyut terbawa arus yang mendekati pulau.
Awalnya pulau ini tidak berpenghuni. Francois Valentijn, seorang ahli geografi
yang tinggal di Amboina mengidentifikasi pulau yang terdapat dalam bukunya
terbit tahun 1726 (Peta 1724). Pada Peta 1724 pulau Mandangin dicatat sebagai
pulau Baddingien.
Mengapa nama Baddingien
berubah menjadi Mandangin? Dalam catatan geografis nama Badingi dan nama
Madangi sudah eksis sejak zaman kuno era Hindoe Boedha. Salah satu diantara duan
ama kuno ini menjadi nama pulau, yang awalnya Bernama Badingi dan kemudian menjadi
Mandangi.

Satu abad kemudian nama pulau Baddingien masih eksis (lihat Peta 1818).
Lepas soal masalah perubahan ejaan, nama Banddingin dengan nama Mandangin
diduga karena pelafalan yang berbeda. Sebagaimana biasanya pelaut-pelaut yang
menjadi sumber bagi ahli kartografi selalu menulis nama tempat apa yang didengar
dengan cara menuliskannya dengan cara ejaan sendiri (coding) dari siapa mereka
mendapat informasi/keterangan. Oleh karena dalam hal tertentu ada pelafalan
orang Jawa dengan orang Madoera dan orang Makassar terhadap suatu nama atau
suatu kata, maka pelaut-pelaut mengambil nama dari siapa mendapatkan keterangan
tersebut.
Pada Peta 1858 nama Mandangin mulai diidentifikasi. Nama
Mandangin sudah diberitakan pada tahun 1845 (lihat Javasche courant, 22-01-1845).
Disebutkan dalam berita ‘pulau Mandangien, di bawah pantai Madoera’. Nama pulau
ini juga menjadi perhatian para ahli geografi seperti AJ van der Aa dan Johannes
Hageman.

Dalam catatan geografi AJ van der Aa (lihat Aardrijkskundig woordenboek
der Nederlanden, 1840) nama Baddiengien masih digunakan (yang sinonim dengan
Badingin) suatu pulau di selatan pulau Madura dan di utara kabeljaauwsdroogte.
Dalam catatan geografi Johannes Hageman (lihat Het aardrijkskundig en
statistisch woordenboek van N.I., bewerkt naar de jongste en beste berigten.
Amsterdam, P.N. van Kampen; 1861: I deel A-J. 1863: II deel K-Q. f 16.- per
deel op Java, 1865) deskripsi pulau lebih detail. Disebutkan pulau ini memiliki
lima nama yang berbeda: Mandhingan atau Mendjangan, Badingin, Mendhagin dan
Kambing (Bokken). Pulau ini dicatat tahun 1859 memiliki populasi sebanyak 89 orang.
Seperti dicatat oleh Johannes Hageman pulau
Mandangin yang juga disebut pulau kambing (bokken eiland), namun nama itu belum
popular. Nama pulau disebut pulau Kambing ditemukan dalam Peta 1878 dan Peta 1885.

Dalam perkembangannya, angkatan laut yang melakukan survei di sekitar kawasan
(selat Madura) yang dimuat dalam laporan kumlulatif Zeemansgids voor den
Oost-Indischen Archipel, 1904-1914 disebutkan pulau Kambing yang biasa disebut
pendudukan sebagai pulau Mandangin. Kawasan pulau ini di perairan Oostervaar di
bagian barat selat Madoera adalah Pulau Kambing dan bahaya yang mungkin muncul
(karang bawah laut dan terumbu karang). Disebut sebuah pulau bervegetasi rendah
yang jaraknya lebih dari 5 mil laut dari pantai Madura. Titik tertinggi di
pulau naik hingga 100 kaki. Rumah terlihat di sepanjang pantai utara; di dekat
East Point, dekat dengan pantai, ada pilar triangulasi bata putih. Pulau ini
dikelilingi oleh batu pasang surut yang curam dan terumbu karang; sekitar
karang ini adalah 15 sampai 20 depa jalur air antara pulau Kambing dan pantai
selatan Madura hanya selebar 2 mil laut karena tepiannya menjorok keluar dari
sudut Batu Putih; pada kedalaman 18 sampai 23 depa, lumpur dan pasir, ditemukan
di bagian ini. Populasi penduduk Kambing adalah 1700 jiwa dan hidup dari
menangkap ikan.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Bagaimana Pulau Pasir Putih di Pantai Selatan Pulau
Madura: Masa Kini versus Tempo Doeloe
Pulau Mandangin dari waktu ke waktu terus
meningkat. Pada tahun 1859 populasi penduduk di pulau hanya dihitung sebanyak 89
orang, tetapi pada periode tahun 1904-1914 angkatan laut mencatat sebanyak 1.700
orang.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



