Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Madura (36): Lapangan Terbang di Pulau Madura, Bermula di Gili Anyar, Kini di Sumenep (Surabaya, Denpasar, Mataram)

Tempo Doelo by Tempo Doelo
14.12.2022
Reading Time: 12 mins read
0
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini  

Apakah
ada sejarah lapangan terbang di pulau Madura? Yang terinformasikan adalah lapangan
terbang di Sumenep yang dibangun pada tahun 1970an. Lapangan terbang di Sumenep
diberi nama bandara (bandar udara) Trunojoyo. Lapangan terbang Sumenep ini
hingga kini masih eksis. Dalam, hubungan sejarah lapangan terbang di pulau
Madura, apakah pernah eksis lapangan terbang pada era Pemerintah Hindia Belanda
dan selama pendudukan Jepang?

Bandar
Udara Trunojoyo adalah bandar udara yang terletak di kabupaten Sumenep, memiliki
landasan pacu 1.600 M dan akan diperluas menjadi panjang 2.500 M dan lebar 45
meter. Bandara Trunojoyo sendiri dibangun pada tahun 1970an. Bandara Trunojoyo
mengalami era keemasan pada awal-awal pembangunannya diawali dengan penerbangan
secara langsung jemaah haji Sumenep ke Surabaya. Hingga Bulan Juni 2016 Bandara
Trunojoyo yang dikelola Kementerian Perhubungan dengan kepanjangan tangannya
yaitu Kantor UPBU (Unit Penyelenggara Bandar Udara) Kelas III Trunojoyo –
Sumenep melayani penerbangan perintis PT Airfast Indonesia dan 3 sekolah
penerbangan, yaitu Merpati Pilot School, Trans Asia Pacific Aviation Training,
dan Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi atau Loka Banyuwangi. Pada
tahun 2011, sempat direncanakan adanya perubahan nama Bandar Udara Trunojoyo
menjadi Bandar Udara Sultan Abdurrahman. Alasannya tak lain karena adanya
ikatan psikologis masyarakat Sumenep dengan rajanya terdahulu, selain untuk
mengingatkan kepada masyarakat bahwa Sumenep pada waktu dulu dipimpin oleh
seorang raja yang sangat bijaksana dan dicintai oleh rakyatnya. Pada tanggal 27
september 2017 telah dibuka penerbangan komersial perdana maskapai Wings Air,
melayani rute Sumenep-Surabaya PP. Untuk penerbangan domestik ke seluruh Indonesia
bisa dilayani dari bandara ini dengan layanan transit di bandara Juanda Surabaya
(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah lapangan terbang di pulau Madura, bermula di
Gili Anyar, Kamal? Seperti disebut lapangan terbang di pulau Madura hanya
terinformasikan lapangan terbang di Sumenep. Sejak era Pemerintah Hindia
Belanda ada empat kota penting yang menjadi ibu kota afdeeling. Kota-kota
terdekat dari pulau Madura dimana terdapat lapangan terbang pada era Pemerintah
Hindia Belanda adalah Surabaya, Denpasar dan Mataram. Lalu bagaimana sejarah lapangan
terbang di pulau Madura, bermula di Gili Anyar, Kamal? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan
dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki
permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang
bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk
menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini
adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan
peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena
saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber
primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena
sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang
disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan
kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Lapangan Terbang di Pulau Madura Bermula di Gili Anyar; Kini di Sumenep
(Surabaya, Denpasar, Mataram)

Di pulau Madura tidak hanya lapangan terbang di
Sumenep masa kini yang pernah eksis. Di masa lampau, era Pemerintah Hindia
Belanda pernah eksis lapangan terbang di Kamal (afdeeling Bangkalan). Lapangan
terbang di Kamal bahkan lebih awal eksis daripada lapangan terbang di (wilayah)
Soerabaja. Mengapa bisa begitu? Iya, itulah sejarah yang sebenarnya tentang
keberadaan lapangan terbang di (pulau) Madura.


Penerbangan di Indonesia (baca: Hindia Belanda) dimulai pada era
Pemerintah Hindia Belanda. Ini dimulai oleh Angkatan Laut (Marine Department)
dan Angkatan Darat (Militaire Department). Ada dua jenis pesawat yang bisa
mendarat di air (laut/danau) dan di darat (lapangan terbang/vliegveld). Jika Angkatan
laut melakukan ekspedisi ke pulau-pulau yang jauh (yang belum ada lapangan
terbang) pesawat take-off dari dak dan landing di air/laut lalu diangkut ke
dak lagi dengan derek. Dalam perkembangannya, terutama angkatan darat (Leger) dan
angakatan udara (Luchtmacht) semakin banyak membutuhkan lapangan terbang.
Lapangan pertama yang dibangun di Tjililitan (Batavia) dan Kalidjati, Andir (Bandoeng).
Selanjutnya lapangan terbang dibangun di Semarang, Gresik dan Singaradja (Bali)
serta Muntuk (Bangka) dan Polonio (Medan). Antara Muntok dan Medan meminjam
lapangan terbang di Singapoera (Inggris). Pada tahun 1924 terjadi penerbangan
jark jauh (long distance) dari Amterdam ke Hindia Belanda di Tjililitan dengan
transit di Phuket (Siam), Medan, Singapoera dan Muntok. Inilah penerbangan
jarak jauh pertama di dunia.

Sejak suksesnya penerbangan jarak jauh antara Amsterdam-Batavia
pada tahun 1924 yang disponsori KLM, kebutuhan penerbangan sipil di Hindia
Belanda merebak. Gayung bersambut antara maskapai penerbangan sipil di Belanda
(KLM) dengan munculnya permintaan yang tinggi di Hindia Belanda pengadaan
penerbangan sipil. Penyelenggaraan penerbangan sipil tersebut dalam waktu yang
tidak lama dapat direalisasikan seperti rute Batavia-Semarang dan rute Batavia-Bandoeng.
Lapangan terbang sipil membutuhkan standar yang lebih tinggi, selain karena stander
penerbangan sipil juga karena pesawat-pesawat sipil lebih besar (dan maskapai penerbangan
sipil bernegosiasi dengan militer dalam hal upgrade lapangan terbang militer
yang sudah ada). Dalam hal ini dapat ditambahkan munculnya permintaan dari orang
Inggris untuk diizinkan lapangan terbang yang ada di Hindia untuk rute
Singapoera-Sidney via Muntok, Jawa dan Singaradja/Bali. Lantas bagaimana soal isu
penerbangan sipil ke Soerabaja dan ke Medan?


Sejak adanya penerbangan jarak jauh Amsterdam-Batavia dan permintaan yang
tinggi (kebutuhan) penerbangan sipil di Hindia Belanda, militer (darat/laut dan
udara) terus memperluas dan memperbanyak lapangan terbang. Lapangan terbang di
Gresik dianggap tidak memadai lagi karena mungkin terlalu jauh dari Soerabaya. Disamping
itu juga teknologi pesawat yang semakin meningkat, sehingga jangkauan pesawat
semakin jauh. Sebelumnya dipilihnya Gresik sebagai lapangan terbang militer karena
secara teknis dibutuhkan untuk rute penerbangan militer untuk menghubungkan
jalur pertahanan Tjililitan, Kalidjati/Soebang, Semarang, Gresik dan
Singaradja. Dalam hal inilah kemudian militer membangun lapangan terbang di Kamal,
afdeeling Bangkalan di pulau Madura (dalam hubungannya rute baru dari Semarang
dan ke Koeta (pengganti lapangan terbang di Singaradja). Lalu dalam perkembangannya
Angkatan laut membangun lapangan terbang sendiri di Morok Rembang, Soerabaja.   

Permintaan penerbangan sipil yang tinggi di kota
Soerabaja menjadi isu baru dalam penerbangan sipil (lihat De locomotief, 28-11-1928).
Anak perusahaan KLM di Hindia Belanda (KNILM) tampaknya sulit merealisasikan di
Soerabaja karena lapangan terbang Morok Rembang kurang kondusif untuk diupgrade.
Ini berbeda dengan lapangan terbang di Semarang yang berada di Simongan (barat daya
kota Semarang, ke arah hulu sungai Semarang). Lapangan terbang Morok Rembang
(dekat pantai, di sebalah barat laut pelabuhan Tandjoeng Perak) hanya sesuai untuk
pesawat-pesawat kecil (peswat militer berbobot ringan) karena secara geologis
tanahnya rapuh dan ketinggian tanahnya yang rendah/tanah sedimen. Lalu ada usul
memindahkan rencananya ke lapangan terbang Kamal (yang disambut baik oleh maskapai
pelayaran yang akan menyediakan layanan bagi penumbang untuk menyeberang selat
Madura dari Kamal ke pelabuhan Oedjoeng di Soerabaja.


Untuk mengatasi permasalahan di Soerabaja, usulan yang baru adalah
membangun lapangan terbang yang baru di Wonok Romo, Ngagel, tidak jauh dari
depot BPM. Disebutkan pihak militer mendukung di Ngagel, karena mereka lebih
memilih untuk berada sejauh mungkin dari pangkalan angkatan laut di Morok Rembang.
Sebagai solusi sementara sambal
menunggu selesainya di Ngagel, direncanakan untuk menggunakan lokasi lapangan
terbang di dekat Kamal, di pantai Madura, yang lokasinya dianggap cocok dan
dapat dimungkinkan diupgrade dalam beberapa bulan. Lapangan terbang Kamal
sendiri berada tidak jauh dari Kamal, sekitar 5 Km dari dermaga Maduratram dan
tidak jauh di timur jalan raya Kamal – Bangkalan.
Area pendaratan sementara di
Kamal akan memakan waktu sekitar satu jam 50 menit dari pusat kota Surabaya
dengan tram plus kapal penyeberangan.

Dengan mengerucutnya pilihan lokasi lapangan terbang
yang baru di Soerabaja di area Ngagel, jauh dari lapangan terbang angakatan
laut di Morok Rembang, dan militer menolak pilihan lokasi di Kamal, Madura,
tetapi belum menyelesaikan masalah. Harga tanah di Ngagel memang lebih murah
dan biaya pembangunan lapangan lebih rendah, tetapi secara geologis tanahnya
kurang kondusif, karena ketinggiannya rendah dan dapat diringkatkan dengan pembangunan
tanggul/drainase. Sementara itu juga diusulkan untuk mengatasinya dengan memanfaatkan
upaya pendalaman Kali Brantas yang akan segera direalisasikan dimana pertapakan
lapangan terbang tersebut kemudian dapat dinaikkan dengan pasir sungai dan
tanah liat melalui pompa dan pipa panjang dari Kali Brantas. Usul terakhir ini
diperkirakan lebih murah daripada pembangunan tanggul dan drainase.


Untuk mendukung realisasi lapangan terbang (sipil) di Soerabaja,
disebutkan Pemerintah Kota (gemeente) Soerabaja telah menyatakan bersedia
menyerahkan tanah dengan harga rendah (harga 10 sampai 15 sen per meter) demi untuk
sebuah lapangan terbang, mengingat Soerabaia membutuhkan penerbangan sipil yang
memadai. Namun perlu dicatat satu komisi yang dibentuk masih menghitung biaya
apakah dengan pertimbangan masing-masing apakah keputusan akhir di Morok
Rembang atau di Ngagel. Secara geografis Morok Rembang cukup menguntungkan
karena dekat dengan pusat bisnis di Soerabaja.

Bagaimanapun dalam urusan penebangan sipil tidak
berdiri sendiri, melainkan terkait dengan beberapa stakeholder seperti militer,
pemerintah kon dan para warga yang membutuhkan jasa layanan penerbangan sipil.
Tentu saja stakeholder maskapai penerbangan sipil (KNILM) memiliki keputusan di
atas segalanya. Dalam satu kesempatan Ketika perwakilan maskapai KNILM datang
ke Soerabaja untuk penjajakan terkesan ada pesimis ketika diwawancarai (lihat De
Indische courant, 17-12-1928).


Disebutkan Mr. Beelaerts dari perwakilan KNILM menyatakan bahwa ‘Saya
tidak terlalu optimis tentang kemungkinan terbang di Soerabaia. Saya yakin kami
akan terbang ke Sumatra lebih cepat dari sini. Tidak ada yang akan datang meskipun
lapangan terbang sementara di (Kamal) Madoera. Beberapa keberatan telah
diajukan untuk ini. Pertama-tama, itu terlalu jauh dan angin monsoon bisa terjadi
di laut di selat Madoera. Selain itu, angkatan laut tampaknya telah mengajukan
keberatan di bidang penerbangan seipil (di Morok Rembang). Dan kemudian ada
biaya tambahan, yang kira-kira berjumlah ƒ5 hingga ƒ7,50 untuk transportasi
dari Soerabaia ke bandara.
Semester pertama tahun depan kami berharap bisa
mulai menggunakan jalur: Batavia-Singapura-Palembang-Medan, mungkin dengan
jalur cabang ke Penang. Kemudian, tentu saja, pembukaan berbagai jalur ke pulau
lainnya untuk lalu lintas udara akan menyusul secara bertahap. Tapi itu masih rencana
masa yang akan datang.

Meski pihak KNILM sempat pesimis dengan pembukaan
jalur penerbangan sipil ke Soerabaja tetapi pada akhirnya menemui solusinya
sendiri yakni akan membangunan lapangan terbang baru di Soerabaja yang mana
untuk sementara dilayani di Kamal, pulau Madoera (lihat
Algemeen handelsblad voor
Nederlandsch-Indie
, 08-02-1929).


Disebutkan pejabat datang dari Semarang ke Soerabaia atas permintaan
direktur Departemen Perusahaan Pemerintah, Kepala Biro Penerbangan, Dr WL
Groeneveld Meijer, untuk mengadakan diskusi antara lain dengan manajemen
pelabuhan di Soerabaja, mengenai lapangan terbang sementara dan lapangan
terbang final (yang baru), sebagai tempat pendaratan penerbangan sipil di
Soerabaja. Didampingi oleh Letnan Satu Insinyur, GWIJ van Walraven, masinis
kelas dua L de Vogel dan masinis van Esch, keduanya dari dinas Manajemen
Pelabuhan di Soerabaia, Dr Groeneveld Meijer menyeberang ke Madoera pagi ini
untuk melihat area yang akan disiapkan untuk lapangan terbang sementara di Gili
Anjar.
 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kini di Sumenep
(Surabaya, Denpasar, Mataram): Mengapa Lapangan Terbang Penting di Sumenep?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post
Rambu-rambu al-Qur’an

Balapan Sepeda di Porprov Lampung 2022

Manfaat Menikmati Suara dan Suasana Alam Bagi Kesehatan Jiwa

Iklan

Recommended Stories

Resep Beef Cubes dengan Creamy Brown Sauce & The Dog Whisperer

12.12.2020

Resep Sarapan Sehat Tim (Kukus) Tahu Jamur Spesial

06.11.2013

PUJIAN DAN KEMULIAAN DENGAN IBADAH DI MALAM HARI

04.04.2016

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?