*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Sungai-sungai di pulau Madura? Tentu saja
tidak dalam konteks membandingkan sunga-sungai yang panjang di wilayah Jawa Timur
seperti sungai Solo dan sungai Surabaya dan sungai Brantas. Sungai-sungai besar
di Jawa Timur berhulu di gunung-gunung tinggi seperti sungai Soerabaya yang
berhulu di gunung Semeru. Di pulau Madura hanya gunung-gunung rendah (bukit)
yang ditemukan, dimana sungai-sungai di pulau Madura berhulu. Jelas berbeda.
Meski demikian, ada persamaannya. Seperti sungai-sungai di Jawa Timur, sungai-sungai
di pulau Madura juga menyebabkan proses sedimentasi (terbentuknya daratan
baru). Dalam hal ini kita sedang mendeskripsikan geomorfologis di pulau Madura.

Daftar
sungai di Madura semuanya berhulu di pegunungan kapur: Kali Baru, lintasan barat,
laut Jawa, melintasi Bangkalan; Kali
Balige, selat Madura; Kali Klempes, selat Madura; Kali Lebak, lintasan barat, laut
Jawa; Kali Pasian, selat Madura, melintasi Sumenep; Kali Pasongsongan, laut
Jawa, melintasi Pasongsongan; Kali Sampang, selat Madura, melintasi Sampang; Kali
Saroka, selat Madura, melintasi Saronggi; Kali Sedung, laut Jawa; Kali Semajul,
selat Madura, melintasi Pamekasan; Kali Sumberbanger, laut Jawa; Kali Tambing,
laut Jawa; Kali Temburu, laut Jawa, melintasi Tamberu. Kali Sampang mengalir
dari utara ke selatan melintasi tiga kecamatan di Kabupaten Sampang termasuk
Kota Sampang. Kali Sampang berhulu di selatan bukit Betating, desa Gunung
Rancak, kecamatan Robatal dan bermuara di selat Madura, kecamatan Sampang.
Sungai ini merupakan sungai utama di daerah aliran sungai (DAS) Kemuning atau
kadang juga disebut DAS Bediyan seluas sekitar 382,304 km2 mencakup lima
kecamatan yaitu Robatal, Karang Penang, Kedungdung, Omben dan Sampang. Sejumlah
anak sungai yang bermuara ke Kali Sampang antara lain: sungai Gunungmaddah, Colak,
Malaka, Bediyan, Lancaran, Batulebar, Lepelle, Arnih (Wikipedia). Sungai Sumber
Pucung panjangnya 8.8 Km; Semajid (17 Km); Torbang (3.5 Km); Pengarengan (7.9
Km); Sampang (30 Km) dan sungai Sorokah (14 Km) (BPS Jawa Timur)
Lantas bagaimana sejarah sungai-sungai di pulau
Madura? Seperti disebut di atas di pulau Madura terdapat beberapa sungai, namun
sungainya tidak sepanjang sungai-sungai di pulau Jawa. Satu yang pasti gunung-gunung
di pulau Madura rendah yang menyebabkan geomorfologi wilayah Madura berbeda
dengan wilayah pulau Jawa. Lalu bagaimana sejarah sungai-sungai di pulau Madura?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Sungai-Sungai di Pulau Madura; Gunung-Gunung Rendah di
Pulau Madura dan Geomorfologi Wilayah Madura
Sungai Maringan (kini Kali Marengan) di Sumenep bukanlah
sungai yang panjang seperti sungai Kali Sampang. Meski demikian, hingga kini
Kali Mrengan kerap banjir dan menggenangi perkampungan. Sungai Maringan tempo
doeloe dapat dimasuki perahu-perahu hingga mendekati kota Sumanep (melalui
kampong Maringan dimana terdapat benteng). Sungai ini menjadi penting karena
ada peristiwa sejarah pada tahun 1820 dimana terlihat ada indikasi tsunami di
daerah aliran sungai (sungai Maringan).

Bataviasche courant, 20-01-1821: ‘Disebutkan
tanggal 29 Desember 1820 telah
terjadi tsunami (kecil) di Sumenep sekitar pukul sepuluh pagi telah terjadi
gempa bumi yang berlangsung lebih dari satu menit. Pada sore hari sekitar pukul
tiga efek gempa laut teramati, air yang mengalir di sungai tiba-tiba pecah
dengan sangat keras akibat datangnya gelombang besar selama beberapa menit, dan
kemudian selama setengah jam lagi, meski datang sedikit, setelah itu sungai
kembali mengalir ke laut. Perahu-perahu kecil, yang diikat di pantai dengan
tali, putus terbawa arus menjadi terapung. Sejauh ini tidak terjadi kerusakan
yang diakibatkannya di laut’.
Dalam Peta 1817 sungai Kali Marengan diidentifikasi
sebagai rivier Kali Puki. Berapa panjang sungai Kali Puki ini tidak diketahui
secara pasti, namun sungai yang berada di sebelah barat daya Kali Puki yakni
sungai rivier Saroko kini dikenal sebagai sungai Sorokah (panjang 14 Km).
Secara geomorfologis, di wilayah Sumenep, dua sungai ini diduga yang membentuk
kota Sumanap. Lantas bagaimana asal usul nama Sumenep sendiri?

Wikipedia: Nama Sumenep setidak-tidaknya sudah dikenal sejak era
kerajaan Majapahit. Sebelumnya, wilayah Sumenep dikenal dengan sebutan Madura
ing Wetan atau Madura bagian timur. Menurut ahli bahasa, nama Sumenep diduga
berasal dari bahasa kawi, yakni “Sungennep”.
Jika diartikan, kurang lebih memiliki makna “lembah atau relung yang
mengendap”. Sekalipun belum pernah ditemukan prasasti yang menyebutkan kata
Sungennep, namun kata tersebut banyak ditulis didalam naskah-naskah kuno yang
ditulis pada era Majapahit, seperti Serat Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan
Kidung Panji Wijayakrama. Salah satunya seperti yang dituliskan dalam serat Pararaton:
“Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak Wide, Sinungan
Pasenggahan Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira, dinohaksen, kinun adipati
ring Sungennep, anger ing madura wetan”. Yang artinya: Adalah seorang hambanya,
keturunan orang ketua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya
Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di
Sumenep. Bertempat tinggal di Madura sebelah timur. Catatan: yang tertulis
di dalam teks Pararaton yang sebenarnya adalah sebagai berikut: ‘Wiraraja,
arupa tan kandël denira, dinohakën, kinon adhipatia ring Sungënëb, anger ing
Madura wetan. Hana ta patihira nduk mahu afijënëng prabhu, puspapata sira mpu
Raganatha, nityasa angaturi rahayuaning tuhan, tan-kedëp uenira Qri
Kêrtanagara; sangkanira mpu Raganatha asalah linggih mantun apatih, ginanten
denira Këbo tëngah sang apafijy Aragani. Sira mpu Raganatha gumanti’. Ada
perbedaan penulisan antara Sungennep dan Sungeneb.
Kota Sumanap adalah kota tua yang terdapat di bagian
timur pulau Madura. Namun yang harus diingat kota tertua di pulau Madura diduga
adalah kota Arosbaja (di pantai barat pulau Madura). Sesuai nama Sungeneb yang
disebut dalam teks Pararaton, diduga ‘sunge’ dalam hal ini adalah ‘sungai’.
Lalu, ap itu ‘neb’?

Kata ‘sunge’ tampaknya bukan kata yang ditemukan dalam bahasa Jawa
(Kawi), Kta ‘sunge’ lebih mirip bahasa Melayu atau bahasa Batak. Boleh jadi nama Sungeneb berasal dari zaman baru
(pasca era Singhasari dan Madjapahit). Sedangkan nama Arosbaja adalah nama yang
berasal dari zaman kuno (diduga pada era Singhasari dan era Madjapahit). Seperti
kita lihat nanti, lalu dalam perkembangannnya nama Sungeneb bergeser menjadi
nama Samanap, Sumanap dan Sumenep.
Nama Sungeneb atau Sumenep dalam hubungannya dengan
sungai Maringan dan sungai Saroka, posisi kota Samanap atau Sumenep pada
awalnya berada di pantai, di suatu teluk (lihat Peta 1724). Nama sungai Saroko
merujuk pada nama tempat (kampong) Saroko. Sementara nama sungai Maringan
merujuk pada nama tempat (kampong) Maringan. Namun haruslah diingat bahwa
kampong Maringan berada di pantai dimana kemudian terbentuk sungai Maringan
sehingga Namanya disebut sungai Maringan.
Sungai Maringan sebelumnya bermuara tepat di tengah kota Sumenep yang
sekarang, Oleh karena terjadi proses sedimentasi jangka panjang, lalu di dalam
danau kuno terbentuk sungai Meringan, dimana kampong Maringan berada di muara
sungai. Hal itulah diduga yang menyebabkan nama sungai berubah (bergeser) dari
nama sungai Sungeneb (Sunge Neb) menjadi nama sungai Maringan atau sungai Puki.
Sementara itu nama sungai Saroko tetap eksis (hingga ini hari) karena posisi
kampong Saroka tetap berada di pantai. Berbeda dengan muara sungai Maringan/Puki
awalnya di Sumanap, tetapi sungai Saroko diduga berawal di bagian dalam (diduga
di kampong Limbong sebelumnya bergeser ke kampong Tambangan).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Gunung-Gunung Rendah di Pulau Madura dan Geomorfologi
Wilayah Madura: Riwayat Sungai-Sungai di Pulau Madura
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




