*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lampung di dalam blog ini Klik Disini
Danau adalah ranau? Ranau adalah danau. Nama danau
Ranau tidak hanya di (pulau) Sumatra, juga ada di pulau Mindanao. Ada danau
terbentuk di dataran rendah, ada juga di dataran tinggi, dan tentu saja ada
danau du puncak gunung. Ada juga danau yang hilang, karena proses sedmientasi
menjadi daratan dan ada juga hilang karena jebol. Danau Ranau berada di dataran
tinggi pulau Sumatra. Satu yang penting, danau-danau di Sumatra adalah
pusat-pusat peradaban awal di Sumatra. Danau terbesar di Siumatra adalah danau
Toba di Sumatra Utara. Bagaimana dengan danau di Sumatra Selatan.

Danau
Ranau adalah danau terbesar kedua di Sumatra setelah danau Toba. Danau ini
terletak di perbatasan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Provinsi Sumatra
Selatan dan Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung. Danau ini tercipta dari
gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan
besar. Secara geografis topografi danau Ranau adalah perbukitan yang berlembah
hal ini praktis menjadikan danau Ranau memiliki cuaca yang sejuk. Danau
terkenal sering para nelayan untuk mencari ikan seperti mujair, kepor, kepiat,
dan harongan. Tepat di tengah danau terdapat pulau yang bernama Pulau Marisa.
Disana terdapat sumber air panas yang sering digunakan para penduduk setempat
ataupun para wisatawan yang datang ke pulau tersebut, terdapat air terjun, dan
penginapan. Danau ini juga menjadi objek wisata andalan dari Kabupaten Ogan
Komering Ulu Selatan. Ada tiga tempat tujuan utama bagi para pengunjung Danau
Ranau, Pantai Sinangkalan (Sumatera Selatan), Pantai Pelangi (Sumatera Selatan)
Pantai Bidadari (Sumatera Selatan) Wisata Air Panas (Sumatera Selatan) Icon
Ranau (Sumatera Selatan) dan Wisata Lombok (Lampung). Beberapa gangguan
ekosistem yang terjadi di danau Ranau, salah satunya matinya ikan yang
disebabkan pelepasan belerang H2S ke dalam air. Hal tersebut terjadi pada tahun
1962, 1993, 1998, dan pada 2011 (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah danau Ranau, diantara
Residentie Palembang, Residentie Bengkulu dan Residentie Lampung? Seperti
disebut di atas, danau Ranau adalah salah satu danau pegunungan di (pulau)
Sumatra. Danau Ranau milik dua atau tiga provinsi? Lalu bagaimana sejarah danau
Ranau, diantara Residentie Palembang, Residentie Bengkulu dan Residentie
Lampung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Danau Ranau, Diantara Residentie Palembang, Residentie
Bengkulu dan Residentie Lampung; Danau di Sumatra
Sebelum mendeskripsikan danau Ranua, ada baiknya mengidentifikasi
danau-danau di pulau Sumatra. Namun sebelum mengidentifikasi danau Ranau ada
baiknya memahami bentuk permukaan bumi Sumatra. Dalam konteks itulah, danau Ranau
dihubungkan dengan orang Lampoeng sendiri yang telah terbagi ke dalam suku-suku
(Aboeng, Peminggir, Toelangbawang, Poebian dan Lampoeng).
Pada masa ini dalam peta Sumatra yang memanjang dari utara (Atjeh) ke
selatan (Lampoeng), terbagi ke dalam dua wilayah geomorfologis. Bagian wilayah
barat terdiri pegunungan yang sambung menyambung, bagian wilayah timur terdiri
daratan rendah yang umumnya terbentuk dari tanah alluvial. Pada bagian wilayah
pegunungan umumnya terbentuk dari batuan andesit, yang juga merupakan
konstribusi dari aktivitas vulkanik di masa lampau. Diantara pegunungan
tersebut kini masaih banyak gunung-gunungnya yang masih aktif (alias berapi).
Di antara rantai pegunungan, yang disebut pegunungan Bukit Barisan terdapat
sejumlah danau besar.
Danau Ranau adalah danau besar di wilayah pegunungan
yang berada di daerah antoropologis dari district Lampoeng paling selatan pulau
Sumatra. Sementara danau pegunungan Sumatra paling utara pada masa ini adalah
danau Tankengon (danau Laut Tawar). Diantara dua danau tersebut terdapat
danau-danau yang masih eksis pada masa ini, antara lain danau Toba dan danau
Siais (di Sumatra Barat), danau Maninjau dan danau Singkarak; danau Kerntji
(Djambi).
Diantara danau-danau pegunungan yang pernah eksis pada zaman doeloe, ada
yang sudah hilang. Danau tersebut hilang karena jebol sehingga menguras isi
semua danau sehingga membentuk daerah rawa-rawa dan daratan kering. Danau
Tangse di Atjeh yang kini membentuk kota Tangse diduga kuat adalah suatu danau
besar di zaman lampau. Pada masa itu sejumlah kampong/kota berada di pinggir
danau seperti kampong/kota di danau yang masih eksis pada masa ini. Danau
Tangse ini diduga telah jebol karena aktivitas gempa (tektonik atau vulkanik)
sehingga menjadi kering, yang lalu di bagian eks danau menjadi Kota Tangse yang
sekarang, sementara kampong/kota zaman doeloe menjadi perkampungan di pinggir
kota. Satu lagi danau yang hilang adalah danau Siabu di Angkola Mandailing (Tapenoeli).
Kasusnya juga diduga sama dengan kasus eks danau Tangse. Kawasan eks danau
Siabu ini masih menyisakan wilayah rawa-rawa yang luas.
Di wilayah danau-danau pegunungan pulau Sumatra
inilah di masa lampau bermula peradaban orang Sumatra bermula, tumbuh dan
berkembang sehingga membawa penduduk masing-masing di kawasan danau ke tingkat
peradaban yang lebih maju. Sebab secara teoritis sulit peradaban awal terbentuk
di garis pantai (pesisir) karena ekosistem tidak stabil dan populasi penduduk
yang masih sedikit rawan terhadap ancaman orang asing dari lautan. Sebaliknya, Kawasan
pedalaman yang kaya sumber daya alam (hasil hutan dan tanah-tanah yang subur)
plus perikanan danau sebagai penganti perkianan laut, penduduk hidup tenang, berkecukupan
dan populasi berkembang pesat, yang memungkinkan kelompok populasi membentuk
peradaban sendiri dan mengembangkannya. Dalam konteks inilah kita berbicara
penduduk asli Sumatra seperti orang Aboeng, orang Redjang, orang Pasemah, orang
Kerintji, orang Minangkabau, orang Batak, orang Gajo dan sebagainya.

Dalam konteks ini pula kita berbicara orang Melayu yang mana orang Melayu
sendiri belum terbentuk di wilayah pantai/pesisir. Secara geomorfologis,
wilayah pulau Sumatra bagian timur semakin meluas karena proses sedimentasi
jangka panjang yang membentuk daratan baru. Sungai-sungai kecil yang turun dari
lereng-lerang gunung dan danau-danau pegunungan, menjadi memanjang seiring
dengan meluasnya daratan kea rah timur. Pad fase inilah orang asing berdatangan
untuk berdagang dengan kelompok populasi yang hidup di pegunungan.
Koloni-koloni yang terbentuk di muara-muara sungai terjadi percampuran (orang
asing dengan orang pedalaman) yang kemudian membentuk populasu sendiri, yang
secara umum disebut kelompok populaso orang Melayu. Hal itulah mengapa orang
Melayu cenderung dibedakan dengan berbagai kelompok populasi di pedalaman
karena perbedaan bahasa. Bahasa Melayu sendiri adalah transformasi percmapuran
bahasa asing Sanskerta sebagai lingua franca dengan bahasa setempat dari
kelompok populasi penduduk asli. Hal itulah mengapa di district Lampoeng kelompok
populasi penduduk asli hanya disebut antara lain Aboeng, Toelangbawang dan Poebian.
Sementara yang lainnya Jawa, Banten dan Melayu dianggap sebagai orang asing
(pendatang).
Sejarah kelompok penduduk asli di suatu wilayah
(seperti di wilayah distrik Lampoeng) selalu dihubungkan ke masa lalu pada suatu
titik di wilayah pedalaman terutama di wilayah pegunungan dimana terdapat danau,
dalam hal ini danau Ranau. Danau dalam hal ini menjadi awal terbentuknya
peradaban baru (adat, tradisi dan budaya penduduk asli) yang kemudian mulai tercampur
dengan budaya asing seiring dengan perpindahan penduduk ke dataran rendah
seiring dengan terbentuknya daratan baru (terutama kea rah timur). Dalam
konteks inilah kita berbicara varian kelompok populasi diantara penduduk asli
seperti orang Aboeng, orang Toelangbawang dan orang Poebian atau orang
Peminggir. Varian populasi ini membentuk dialek bahasa yang berbeda-beda.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Danau di Sumatra: Danau Hilang Danau Gunung, Danau
Dataran Rendah dan Danau Buatan
Danau Ranau pada masa kini dapat dikatakan sebagai
warisan orang Lampoeng. Mengapa? Dari seputar danau Ranau inilah, orang asal
Lampong menyebar ke wilayah yang lebih rendah ke segala arah, ke barat (district
Kroei/residentie Bengkoelen), ke timur (district Toelangbawang) dan ke selatan (district
Lampoeng, kemudian district Teloek Betoeng) dan ke utara (district Moeara Doea/residentie
Palembang). Orang asal Lampong dari seputar danau tersebut kemudian mebentuk kelompok-kelompok
populasi penduduk baru dengan dialek-dialek bahasa yang berbeda.

Sungai adalah navigasi perpindahan penduduk ke wilayah yang lebih rendah.
Demikian sebaliknya para pendatang dari lautan melalui muara-muara sungai
besar. Danau Ranau mengalirkan airnya ke arah timur melalui sungai yang di
hilir disebut sungai Martapura (yang kemudian ke hilir bermuara di sungai Musi
di Palekmbang). Orang-orang asal Lampoeng di masa lampau yang mendirikan kampong/kota
Martapura (orang Abaoeng). Di pegunungan sekitar danau Ranau dari lereng-lereng
gunung terbentuk sungai-sungai yang lebih kecil yang mana salah satu sungai ke
hilir disebut sungai Ompoe yang kemudian ke hilir bermuara ke sungai Way Kiri
dan yang kemudian ke hilir terbentuk sungai Toelangbawang. Di daerah aliran
sungai Ompoe dan sungai Toelangbawang inilah penduduk asal Lampoeng dari daerah
danau Ranau bermigrasi (orang Toelangbawang). Sungai-sungai lainnya yang
bermuara ke timur antara lain sungai Sepeotih/sungai Pengabuah dan sungai way
Sekampoeng. Sementara itu, hal serupa, sungai Musi terbentuk dari sungai-sungai
di wilayah hulu yang mana sungai Rawas, sungai Lematang dan sungai Martapura
bermuara ke sungai Musi. Satu yang penting hulu sungai Musi sendiri berada jauh
di pedalaman di pegunungan Bukit Barisan di wilayah Tjoeroep (kini provinsi
Bengkulu). Di wilayah Tjoeroep inilah terbentuk peradaban orang Redjang di
zaman doeloe. Kawasan kota Tjoeroep yang sekarang diduga di masa lampau adalah
eks danau pegunungan (seperti halnya danau Tangse di Atjeh dan danau Siabu di Tapanili
Selatan). Sedangkan sungai Batanghari, idem dito dengan sungai Musi dan sungai
Toelangbawang, terbentuk dari berbagai sungai di pedalaman di wilayah
pegunungan Bukit Barisan. Salah satu sungai yang bermuara ke sungai Batanghari
adalah sungai Bangko melalui sungai Tembesi. Sungai Bangko sendiri berhulu di
danau Kerintji (yang membentuk peradaban orang Kerintji). Hulu sungai
Batanghari sendiri berada di danau Singkarak (yang membentuk peradaban Minangkabau).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






