*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lampung di dalam blog ini Klik Disini
Dalam narasi sejarah masa kini, disebut
Kerajaan Tulang Bawang pernah eksis di wilayah dimana kini (provinsi) Lampung.
Tentulah itu menarik untuk diperhatikan, karena disebut salah satu kerajaan
tertua di Indonesia. Namun di dalam narasi, sejarahnya kurang terinformasikan.
Hal itu karena minimnya data tentang keberadaan kerajaan. Bagaimana dengan
keberadaan prasasti Palas Pasemah yang disebut berasal dari abad ke-7. Tentu
itu menjadi penting jika dikaitkan dengan sejarah geomorfologis wilayah Lampong.

Kerajaan
Tulang Bawang adalah salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang pernah
berdiri di Lampung. Sumber sejarah yang dijadikan acuan para sejarawan adalah
catatan I-Tsing, seorang biksu China yang pernah mengunjungi Nusantara pada
abad ke-7. Letak Kerajaan Tulang Bawang diperkirakan berada di wilayah yang
sekarang disebut Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Nama kerajaan ini
diduga memudar dengan sendirinya karena tertutup oleh kebesaran Kerajaan
Sriwijaya. Letak Kerajaan Tulang Bawang dari catatannya, diketahui bahwa
I-Tsing pernah singgah di kerajaan yang ia sebut sebagai To-Lang Po-Hwang (Tulang
Bawang), yang berada di pedalaman Pulau Sumatera. Karena kurangnya sumber
sejarah, ibukota Kerajaan Tulang Bawang belum dapat diketahui secara pasti
hingga saat ini. Akan tetapi, seorang ahli sejarah bernama Dr. J. W. Naarding
menduga bahwa pusat pemerintahan kerajaan ini berada di hulu Way Tulang Bawang,
tepatnya berada pada sekitar 20 km dari pusat Kota Menggala. Setelah pengaruh
Sriwijaya pudar, Singasari menguasai wilayah Lampung, setelah Singasari
mengalami kemunduran, wilayah ini dibawah kekuasaan Majapahit dan diserahkan
kepada Adityawarman, setelah bubarnya Majapahit wilayah ini berdiri Kepaksian
Skala Brak
(Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah kerajaan Tulang
Bawang, bagaimana datanya? Seperti disebut di atas, dalam narasi sejarah masa
kini disebut Kerajaan Tulang Bawang pernah eksis, namun kurang terinformasikan
karena minimnya data pendukung. Dalam hal ini bagaimana dengan prasasti Palas
Pasemah dan geomorfologi wilayah Lampung? Lantas bagaimana sejarah kerajaan
Tulang Bawang, bagaimana datanya? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*. Peta 1883
Kerajaan Tulang Bawang, Bagaimana Datanya? Prasasti
Palas Pasemah dan Geomorfologi Wilayah Lampung
Tidak seperti Sriwijaya, Singhasari dan Majapahit,
siapa yang menemukan dan membuktikan eksisitensi Kerajaan Toelang Bawang di
Lampong tidak diketahui secara pasti. Peneliti-peneliti Sriwijaya, Singhasari dan
Majapahit cuku banyak pada era Hindia Belanda. Sementara itu, kerajaan Toelang
Bawang (hanya) disebutkan termasuk kerajaan tua di Sumatra (lihat De Indische
courant, 29-04-1936).
Dalam desertasi Husein Djajadiningrat tahun 1913 berjudul CRITISCHE BESCHOUWING VAN DE SADJARAH BANTÊN meski menyebit nama Toelang Bawang, tetapi tidak
ada indikasi yang menghubungkan dengan keberadaan kerajaan Toelang Bawang. Mengapa
tidak ada? Sebagaimana diketahui bahwa kerajaan Banten terhubung di masa lalu
dengan Toelang Bawang.
Studi-studi yang ada tentang Lampong umumnya
menyangkut tentang sejarah penyebaran populasi di Lampong. Dalam Nota over de Lampoengsche
Merga’s (1930) disebutkan bahwa penduduk yang bermukim di Manggala (ibu kota)
district Toelang Bawang adalah berasal usul dari orang Aboeng yang sebelum bermukim
di Manggala sempat sempat di Selaboeng (Komering, Moeara Doea, Residentie
Palembang) kemudian orang Aboeng mendirikan kota Martapoera.
Disebutkan lebih lanjut orang Aboeng sendiri menghubungkan keturunan
mereka dengan buai Kembahan dari Sekala-Brak. Dalam hal ini orang Tulangbawang, yang
berbicara dengan bahasa yang sama, tetapi dengan pengucapan yang sedikit diubah
(akhiranr “a” sebagai
“au”), diturunkan dari mojang
yang sama sampai tinggal di Selaboeng, kemudian silsilah keluarga terpecah. Ini mengindikasikan bahwa
orang Toelang Bawang adalah yang termuda dari origin di hulu, yang kemudian wilayah
Toelang Bawang jatuh di bawah pengaruh Banten. Dalam buku Feestbundel uitgegeven door
het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen bij
gelegenheid van zijn 150 jarig bestaan 1778-1928 yang diterbitkan 1929 hanya
menyebut orang Toelang Bawang memberontak kepada Sultan Banten dengan meminta
bantuan Raden Aria, namun dilarang sang ayah (Jamaloeddin Sultan Tjandiwalang
yang berkuasa 1662-1706).
Salah satu sumber yang diharapkan adalah buku Handelingen van het Eerste Congres voor de Taal,
Land- en Volkenkunde van Java (1928) suatu risalah
kongres bahasa, tanah dan penduduk. Risalah ini mencatat berbagai aspek
termasuk sejarah kerajaan, namun tidak disebutkan adanya kerajaan Toelang
Bawang. Yang disebutkan di wilayah Toelang Bawang terdapat jejak Majapahit.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Prasasti Palas Pasemah dan Geomorfologi Wilayah
Lampung: Bagaimana Membuktikan Keberadaan Kerajaan Tulang Bawang?
Sejarah masa kuno adalah sejarah yang dapat
dikatakan sejarah yang sama-samar. Berbeda dengan sejarah kerajaan-kerajaan di
Hindia Timur sejak era Portugis yang banyak bukti tertulia dan ditulis selama
era Hindia Belanda, sejarah kerajaan-kerajaan zaman kuno pada era Hindia
Belanda tidak mulus-mulus, banyak perdebatan diantara para peneliti. Semua
perdebatan tentang sejarah zaman kuno yang tidak menemukan kesepakatan umum
karena minimnya data yang ada, tak terkecuali sejarah kerajaan Sriwijaya dan
kerajaan Majapahit.
Publik
memiliki penilaian sendiri tentang narasi sejarah, sementara para peneliti
diantara para peneliti juga memiliki penilaian sendiri-sendiri. Itulah dinamika
penulisan narasi sejarah zaman kuno. Para peneliti tidak pernah berhenti.
Sejauh data baru ditemukan, penulisan narasi sejarah juga tidak berhenti.
Narasi sejarah yang sebelumnya dengan sendirinya tidak final. Namun bagi public,
pembaca narasi sejarah, sesuatu yang masih mentah, yang masih kontroversi dan
yang masih perdebatan, sudah ada yang menganggap final dan menjadi kebenaran
sejarah.
Seperti dikutip di atas, tahun 1936 ada pembaca
yang menulis di surat kabar tentang keberadaan kerajaan Toelang Bawang di
Sumatra 1936 (lihat De Indische courant, 29-04-1936). Namun sang penulis juga
tidak menulis sumbernya dari mana. Dalam buku GESCHIEDENIS VAN NEDERLANDSCH
INDIE onder leiding van Dr FW Stapel yang diterbitkan pada tahun 1938
diharapkan dapat membantu siapa yang melakukan penyelidikan awal tentang
kerajaan Toelang Bawang.
Buku
(394 halan) ini sangat lengkap tentang narasi sejarah Hindia Belanda (Nederlandsch
Indie). Namun di dalam narasi tidak mengidentifikasi sumber rujukannya dan juga
tidak memiliki catatan kaki. Semua sumber yang digunakan dalam penulis buku
itu, dikumpulkan di halaman belakang sebagai daftar Pustaka. Hal seperti itu
memang lazim untuk buku umum, namun dalam hal ini tidak membantu mempercepat
upaya penyelidikan lebih lanjut. Biasanya pengutipan dan catatan kaki terdapat
dari publikasi jurnal (limiah).
Stapel dkk menulis bahwa terdapat varian kecil
dalam sumber Tiongkok dalam hubungannya kerajaan-kerajaan dari selatan abad
ketujuh muncul seperti To-lang, P’o-hwang, Mo-lo-che, Kamboja dan Tjampa. Stapel
dkk berandai sekaligus menanyakan jika menggabungkan dua yang pertama apakah
seseorang dapat menyimpulkan itu Toelangbawang dan karena itu nama itu terdapat
di Lampung.

Dalam
sumber yang dikutip Stapel dkk, bahwa ada dua nama yang disebut dalam catatan
Tiongkok yakni To-lang dan P’o-hwang. Jika dua nama itu pernah dicatat di dalam
sumber Tiongkok pada abad ke-7, seperti yang ditanyakan Stapel dkk, tentu juga
muncul pertanyaan lain, apakah To-lang suatu nama di tempat tertentu dan P’o-hwang
adalah Pahang di pantai timur Semenanjung Malaya? Nama tempat Tolang sendiri
berasal dari zaman era Hindoe Boedha dan banyak ditemukan di India. Di
Indonesia sendiri masa kinin ama tempat Tolang ditemukan di Jawa dan Sumatra
serta Mudura. Di Sumatra, nama tempat Tolang (hanya dan) banyak ditemukan di
wilayah Tapanuli Bagian Selatan. Oleh karena Stapel dkk hanya sekadar bertanya,
namun jika duana nama To-lang dan P’o-hwang digabungkan dan dianggap
Toelangbawang tentu sangat berisiko. Yang jelas dalam catatn Tiongkok dua nama itu
adalah dua nama yang berbeda tempat(?). Peta: Obdeijn (1942)
Hasil penelitian V Obdeijn yang dimuat dalam
jurnal 1942 dengan judul De oude zeehandelsweg door de straat van Malaka in
verband met de geomorfologie der Selat-eilanden lebih detail tentang nama-nama
tempat dalam sejarah zaman kuno. Obdeijn telah meramu banyak sumber dengan mengutip.
Obdeijn mengutip nama To-lang-p’o-hwang (kadang-kadang ditulis dalam dua kata
terpisah, yang ditulis oleh duta besar Tiongkok tahun 449-463 M) di dalam (teks)
T’ai p’ing huan yu ki, dan Ch’ien atau Ts’ ien-chih-fu.
Dalam
hal ini meski Obdeijn juga berhati-hati dengan membuat catatan dalam kurun (kadang-kadang
ditulis dalam dua kata terpisah). Namun dalam hal ini, peta yang dibuat Obdeijn
telah berasumsi bahwa To-lang dan P’o-hwang sebagai dua nama yang terikat
menjadi nama satu tempat (Toelangbawang). Hal ini berbeda yang dilakukan Stapel
dkk yang hanya sekadar bertanya-tanya. Obdeijn yang menggunakan pendekatan
geomorfologis dalam studinya, kurang cermat memperhatikan bagaimana situasi dan
kondisi geomorfologis di distrik Toelangbawang sendiri (antara zaman kuno
dengan zaman kini). Dalam hal ini Obdeijn tidak sinkron antara satu sisi
menggunakan pendekatan toponimi dan pendekatan geomorfolgis di sisi lain.
Secara geomorfologis, wilayah
(district/afdeeling) Toelang Bawang dengan dengan ibu kota Manggala adalah Kawasan
rendah yang disana-sini terdapat area rawa-rawa. H Zollinger (1846)
mengidentifikasi wilayan district Toelang Bawang jika musim hujan sejauh mata
memandang tergenang oleh luapan sungai Toelang Bawang dan pada saat kemarau
terlihat sangat kering (tidak berawa). Jika membandingkan dengan peta-peta
tahun 1940an, wilayah Manggal di daerah aliran sungai Toelang Bawang diidentifikasi
sebagai Kawasan rawa-rawa.

Dalam interval waktu satu abad, apa yang
diamati Zolllinger telah berbeda dengan yang didientifikasi oleh para ahli
pemetaan (kartografi). Ini mengindikasikan bahwa situasi dan kondisi lingkungan
(alam) di sekitar Manggal telah berubah drastic. Dengan kata lain pada saat
pengamatan Zollinger Kawasan Manggal adalah Kawasan dataran yang sangat rendah,
jika banjir Kawasan tergenang. Jika satu abad kemudian oleh para ahli pemetaan Kawasan
yang sama sudah menjadi rawa-rawa, berarti sudah ada kenaikan permukaan dasar
tanah (dengan terbentuknya rawa-rawa yang ditutupi vegetasi).
Nah, lalu bagaimana situasi dan kondisi kawasan
dimana kini disebut district Toelang Bawang dengan ibu kota Manggala
dibandingkan dengan situasi dan kondisi pada abad ke-7 (eranya I’tsing)? Besar
dugaan area dimana kota Manggala berada, pada abad ke-7 masih berupa
perairan/laut. Sementara garis pantai berada di, kemungkinan masih di Tarabangi
(Terbanggi) dan muara sungai Oempoe di Way Kiri. Catatan: Pertemuan sungai Way
Kiri dan Way Kanan ke atah hilir disebut sungai Toelang Bawang.
Dalam
Peta 1883 diidentifikasi nama Toeloang Bawang sebagai nama kampong di daerah
aliran sungai Oempoe. Apakah nama kampong ini kemudian yang menggunakan nama
sungai di wilayah hilir di kawasan dimana kota Manggala terbentuk? Jika hal itu
benar, maka pada era VOC/Belanda (pada saat pangeran Pelembang ingin membanti
orang Toelang Bawang mengusir Banten) pusat perdagangan berada di kampong Toelang
Bawang di daerah aliran sungai Oempoe. Lalu kemudian dalam perkembangannya
pusat perdagangan bergeser ke hilir dengan terbentuknya kampong Manggala (pada
akhir abad kr-18). Lantas apakah nama tempat To-lang dan P’o-hwang dalam
catatan Tiongkok berasal dari abad ke-7 benar-benar di kampong Toelang Bawang?
Jangan lupa nama To-lang ditemukan di berbagai wilayah dan nama P’o-hwang yang
juga diduga nama Pohang atau Pahang.
Satu-satunya sumber/data sejarah yang
ditemukan di wilayah Sumatra bagian selatan yang berasal dari abad ke-7 adalah
prasasti Palas Pasemah (di wilayah Lampung). Seperti halnya nama Manggala dan
letaknya secara geografis, lokasi dimana kini ditemukan prasasti Palas Pasemah,
secara geomorfologis juga perlu dipertanyakan. Untuk kasus ini akan dibuat
artikel tersendiri.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel
sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or
perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






