*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Mungkin anda bertanya, untuk apa harus memahami
geomorfologi pantai timur Tiongkok. Bukankah itu suatu yang jauh dan suatu yang
tidak terkait dengan nusantara? Nah disitulah tantangannya dalam penyelidikan
sejarah. Faktanya, sebelum orang Tiongkok menjadi pelaut, orang-orang Nusantara
sudah memiliki kemampuan navigasi pelayaran perdagangan hingga pantai timur
Tiongkok. Suatu yang jauh menjadi prestasi sediri dan yang diduga tidak terkait
bahwa faktanya ada hubungan yang erat antara nusantara dan Tiongkok pada masa
lampau, khususnya pantai timur.

Pada zaman kenabian (Muhamad SAW masih hidup), menurut
catatan Tiongkok abad ke-7 pada Dinasti Tang sudah ada perkampongan orang Arab
di Canton. Dalam catatan itu tidak disebutkan apakah ada perkampongan oraang
asal Nusantara. Catatan Tiongkok dari Dinasti Han, orang nusantara yang mencapai
Tiongkok terjadi pada abad ke-2. Disebutkan utusan Raja Yeh-tiao (kerajaan di selatan
lautan) menghadap Kaisar Tiongkok di Peking dalam rangka membuka pos
perdagangan (sejumlah penbeliti era Hindia Belanda pos perdagangan itu diduga
Nha Trang, Vietnam yang sekarang yang mana ditemukan prasasti Vo Chan daro abad
ke-3. Satu yang penting dari adanya perkampongan Arab di Canton dibentuk oleh
para pelaut/pedagang Arab yang tekah mencapai Tiongkok. Pelaut-pelaut Arab
diduga sebelumnya telah membentuk perkampongan di Baroes, pantai barat Sumatra
di Tapanuli. Kini terdapat makam tua Islam yang diduga berasal dari Persia/Arab
di Barus
Lantas bagaimana sejarah geomorfologi pantai timur
Tiongkok? Seperti disebut di atas, jauh
sebelum orang Tiongkok menjadi pelaut, navigasi pelayaran Nusantara sudah
mencapai pantai timur Tiongkok dan pulau Tainan/Taiwan. Lalu bagaimana sejarah geomorfologi
pantai timur Tiongkok? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Geomorfologi Pantai Timur Tiongkok; Navigasi Pelayaran
Nusantara Sebelum Orang Tiongkok Menjadi Pelaut
Satu wilayah yang penting di pantai timur Tiongkok dimana
terdapat kota tua adalah Canton (kini lebih dikenal sebagai Guangzhou). Awalnya
kota Canton ini berada di pantai di sebuah teluk besar. Namun kini kota Canton/Guangzhou
seakan berada jauh di pedalaman. Kota ini sejak dari doeloe adalah kota besar
dan Guangzhou kini adalah kota terbesar di Tiongkok. Meski wilayah ini bukan
awal peradaban Tiongkok, tetapi dalam hubungannya dengan wilayah lautan, khususnya
nusantara berawal di kota Canton.

Di dalam laman Wikipedia disebutkan kota Guangzhou berdiri pada tahun 214
SM. Kota ini tumbuh makmur di bawah rezim Tiongkok asli, membangun kuil Buddha
dan mengembangkan komunitas yang dikelola pedagang Arab dan Hindu. Tembok kota
diperluas buat menampung pertumbuhan selama Dinasti Sung (960-1279) dan banyak
keluarga Tionghoa membanjiri bagian selatan untuk menghindari serangan Mongol
dari utara abad 13-14. Dinasti Man Chu memerintah 1644-1911, dan Guangzhou
menjadi ibukota Guangdong dan Guangxi. EIC mulai berdagang pada 1699, dan
Perang Candu I (1839-1842) pecah saat orang Guangzhou menyita dan menghancurkan
candu-candu ilegal selundupan Inggris, yang mendorong pemakainya melemahkan
pekerja India dan Tionghoa. Perang Candu II terjadi antara Inggris, Prancis,
dan Tiongkok pada 1856, dan Guangzhou diduduki pasukan Inggris-Prancis sampai
1861. Saat itu juga permusuhan pada dinasti yang berkuasa meletuskan
Pemberontakan Taiping (1820-1864). Gerakan ini menjadi gerakan bawah tanah
setelah kekalahan pertama pemberontak dalam upayanya namun muncul lagi ke
permukaan bersama Sun Yat Sen yang dinamis pada 1885. Peta 1749
Kota Canton bermula di suatu muara sungai di dalam
teluk. Sungai tersebut kini disebut sungai Silver. Setelah pelaut Portugis menaklukkan
(kerajaan) Malaka di Semenanjung Malaya pada tahun 1511, pelau-pelaut Portugis segera
memperluas navigasi pelayaran perdagangan ke Maluku. Ekspedisi pertama Portugis
ke Malaku dengan dua kapal ke Maluku melalui pantai timur Sumatra bagian
selatan, pantai utara Jawa, perairan pulau-pulau Nusa Tenggara hingga mencapau
Maluku.

Pelaut Portugis yang berpusat di Malaka, pada tahun
1516 memperluas perdagangan ke kota Canton di pantai timurTiongkok.
Pelaut-pelaut Portugis membangun pos perdagangan di suatu pulau yang jauh dari
muara sungai Canton. Hal itu dilakukan karena tonase kapal Portugis yang berat
berisiko pada waktu permukaan air rendah. Alansan berikutnya strategi escape
jika muncul serangan dari pedalaman (dan mudah kanur ke lautan). Teknologi maritim
Tiongkok masih rendah dan pelaut-pelaut Tiongkok bukan pelaut andal. Namun pada tahun 1519 terjadi perselisihan
antar orang-orang Canto dengan pelaut-pelaut Portugis yang membuat onar. Namun alasan
Kaisar Tiongkok mengusir Portugis karena pelaut-pelaut Portugis sudah mulai membangun
benteng di pulau. Orang Canton marah terhadap pelaut Portugis di pulau karena
sering terjadi penculikan, dan kemudian diduga dijual sebagai budak di pos Portugis
di pulau. Akhirnya Portugis angkat kaki dari perairan Canton. Pada tahun 1521
pedagang Portugis di Malaka membuka pos perdagangan di Brunai. Sejak itu rute perdagangan Portugis ke Maluku
tidak lagi melalui perairan/laut Jawa, tetapi menggeser via Borneo terus ke
pantai utara Celebes hingga Maluku. Namun sejak kehadiran Spanyol di Zebu,
Filipina kerap bergesekan antara pelaut Portugis dan Spanyol (terutama di
wilayah Maluku). Peta 1664/1702
Di teluk Canton terdapat sejumlah pulau-pulau kecil
nama lambat laun semakin membesat karena proses sedimentasi jangka Panjang. Pos
perdagangan awal Portugis di sekitar teluk berada di sisi luar. Teluk tersebut
lambat laun semakin tertutu oleh daratan seperti saat ini (bandingkan dengan
situasi dan kondisinya pada peta-peta era Portugis). Jauh sebelum kehadiran
Portugis di teluk Canton, navigasi pelayaran perdagangan orang-orang nusantara
dan orang-orang Arab sudah terjadi di zaman kuno. Seperti kita lihat nanti sisa
peradaban Portugis di Kawasan teluk adalah kota (pulau) Macao (yang
bersebelahan dengan kota/pulau Hong Kong/Inggris). Dua koloni Eropa (Portugis
dan Inggris) di kawasan dipisahkan oleh sisa teluk yang menjadi muara baru
sungai Canton.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Navigasi Pelayaran Nusantara Sebelum Orang Tiongkok Menjadi
Pelaut: Interakasi Penduduk Nusantara dengan Orang Asing
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


