*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Selama negara Malaysia tidak menggunakan nama
Malaysia, selama itu juga akan bergesekan dengan Indonesia. Apa pasal? Penduduk
eks wilayah Hindia Belanda telah memperjuangkan nama Indonesia. Sebaliknya eks
wilayah Inggris (Federasi Malaya, Singapoera, Serawak, Brunai dan Sabah)
dinamai Malaysia. Sebagaimana diketahui, Brunai menolak bergabung dengan
Federasi Malaysia (1963), lalu kemudian Singapoera keluar dari Federasi (1965).
Kini, Serawak dan Sabah galau.

Ketika Inggris keluar dari wilayah koloni (1963), ingin
negara-negara eks koloni dengan nama Federasi Malaysia. Negara Singapoera
bersedis karena sangat tergantung dengan arus perdagangan (ekspor dan impor) di
Semenanjung Malaya (wilayah Federasi Malaya). Sebelum itu, Singapoera sudah
tidak nyaman ketika para politisi Malaya memaksakan agar bahasa resmi di
Singapoera adalah bahasa Melayu dan agama Islam bebas di Singapoera plus ada
perwakilan (negara) Malaya di dalam parlemen (negara) Singapoera. Saat mana
muncul pemberontakan kaum komunis di Semenanjung Malaya dan di Indonesia,
Singapoera keluar dari Federasi Malaysia pada tahun 1965. Federasi Malaya tidak
berkutik. Pertama, saat pembentukan Federasi Malaysia, pihak Indonesia dan
Filipina mengecam dan bahkan Indonesia melancarkan propaganda Ganyang Malaysia.
Kedua, angkatan laut Inggris, yang memberi lampu kuning Singapoera keluar dari
federasi, masih berada di Singapoera. Lalu mengapa isu Melayu di Malaysia, yang
menjadi pemicu Singapoera keluar dari Federasi Malaysia, masih terus
dikembangkan hingga ini hari? Kini, isu
bahasa, budaya dan bangsa Melayu jadi kontroversi?
Lantas bagaimana sejarah identifikasi nama
Melayu diantara Malaya dan Malaysia yang kini isu bahasa, budaya dan bangsa menjadi
kontroversi? Seperti disebut di atas, masalah itu sudah berlangsung lama,
bahkan sebelum Inggris memberikan kemerdekaan kepada Federasi Malaya. Lalu bagaimana sejarah identifikasi
nama Melayu diantara Malaya dan Malaysia? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Identifikasi Nama Melayu Diantara Malaya dan Malaysia;
Bahasa, Budaya, Bangsa Jadi Kontroversi?
Ketika Inggris membentuk Federasi Malaya sebagai
gabungan dari kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaya tidak banyak masalah.
Ketika Inggris akan memberikan kemerdekaan kepada Federasi Malaya dan wilayah
koloni (Penang, Malaka dan Singapoera) mulai muncul ada masalah. Pertama, semua
wilayah itu disatukan menjadi satu negara dengan nama (Federasi) Malaya yang
akan diberikan kemerdekaan pada tahun 1957. Kedua, Para politisi Federasi
Malaya yang berangkat ke London mengusulkan kepada Inggris agar di (negara
bagian) Singapoera bahasa resmi adalah bahasa Melayu, mendapat kebebasan penyelenggaraan
kegiatan agama Islam di Singapoera dan ada perwakilan Federasi Malaysia di
Singapoera. Sebaliknya politisi (kaum Cina) Singapoera kemudian berangkat ke
London untuk berunding dengan tujuan yang berbeda (dari Federasi Malaya).
Nama Melayu (Malajoe) paling tidak muncul pertama di wilayah pantai timur
Sumatra (lihat prasasti Tanjore, 1030). Nama Melayu semakin popular di
Nusantara Ketika era (kerajaan) Singhasari dan kerajaan Majapahit yang terkenal
dengan ekspedisi Pamalayu ke (pulau) Sumatra (lihat juga teks Negarakertagama,
1365). Pada tahun 1401 pangeran (Melayu) di Palembang melarikan diri ke
Semenanjung Malaya dan membangunan (kerajaan) Malaka di suatu kampong yang
berada di muara sungai yang disebut Malaya, Orang-orang Moor yang sudah lama di
Muar menyebut kerajaan Malaya tersebut dengan lafal Malaka. Kerajaan kuat di pantai
timur Sumatra pernah menyerang kerajaan Malaka. Lalu kemudian orang-orang
Portugis menaklukkan kerajaan Malaka pada tahun 1511 dan lalu melafalkan dan
menulis nama Malaka dengan nama Malacca. Pada tahun 1641 Belanda (VOC)
menaklukkan Malaka dan mengusir Portugis. Pada 1799 VOC dibubarkan dan kemudian
dibentuk Pemerintah Hindia Belanda. Inggris yang berpusat di India, yang
memiliki satu koloni di Bengkulu, pada tahun 1789 memindahkan skuadronnya dari
Madras ke Bengkulu. Lalu pada tahun 1811 menyerang Pemerintah Hindia Belanda di
Jawa. Namun Inggris tidak lama karena pada tahun 1816 Inggris Kembali menyerangkan
Pemerintah Hindia Belanda kepada Belanda. Pada fase inilah Inggris mulai
membentuk koloni baru di (pulau) Penang dan kemudian di pulau Singapoera
(1819). Pada tahun 1824 dialakukan perjanjian antara Inggris dan Belanda dimana
Malaka dan Bengkulu dilakukan tukar guling. Dalam perjanjian ini juga disepakati
garis batas di selat Singapoera dan (wilayah) pantai utara Borneo (plus
kepulauan Natuna). Sejak 1824 inilah Inggris yang berpusar di Penang mulai
menanamkan pengaruh yang senmakin kuat di wilayah daratan (semenanjung Malaya)
hingga terbentuknya Federasi Malaya. Dalam hal ini nama (kota) Malaya pada masa
lalu telah berubah menjadi (kota) Malaka, dan nama Malaya sendiri kemudian
menjadi nama wilayah (semenanjung). Bagaimana dengan nama Melayu sendiri? Yang
jelas menjelasng kemerdekaan Federasi Malaya, para politisinya menghendaki
bahasa Melayu juga sebagai bahasa resmi di Singapoera.
Pada tahun 1957 Inggris memberikan sepenuhnya
kemerdekaan kepada Federasi Malaya (dengan perjanjian). Namun yang dimerdekakan
pada tanggal 31 Agustus 1957 tidak termasuk (negara) Singapoera. Tampaknya
delegasi politik Singapoera ke London berhasil. Lalu apakah Federasi Malaya
kecewa? Antara iya dan tidak. Sebab, meski Singapoera tidak bagian dari
Federasi Malaya yang merdeka, tetapi para politisinya mungkin merasa aman,
karena Angkatan laut Inggris masih berpangkalan di Singapoera (aman dari
ancaman Indonesia dan Filipina?). Lalu lima tahun kemudian Inggris benar-benar
akan keluar dari semua wilayah koloni dimana Inggris ingin menyatukan Federasi
Malaya (termasuk Penang dan Malaka) yang telah merdeka dan akan memerdekakan Singapoera,
Brunai, Serawak dan Sabah menjadi satu negara federasi yang lebih besar dengan
nama Federasi Malaysia.
Negara Singapoera yang sangat tergantung arus perdagangan (ekspor/impor)
dengan Semenanjung Malaya (Federasi Malaya) menjadi alas an bagi Singapoera
untuk bergabung dalam federasi. Serawak dan Sabah yang masih lemah mengikut
saja, namun tidak dengan Brunai. Sebagaimana sebelumnya Singapoera, Brunai mengirinm
utusan ke London. Tampaknya berhasil tujuannya. Pada tahun 1963 ketika
Singapoera, Serawak dan Sabah diberikan kemerdekaan dan bersedia dalam satu negara
federasi baru Federasi Malaysia. Nagar (kerajaan) Brunai tidak ikut serta
(belum merdeka dan tetap di bawah proteksi Inggris/protektorat).
Pada tahun 1965, negara (bagian) Singapoera yang
telah melihat sebelumnya aneksasi Federasi Malaya di Singapoera (sebelum tahun
1957) mulau tidak nyaman dengan para politisi Federasi Malaya dengan misi
(budaya( Melayu, lalu atas persetujuan Inggris keluar dari Federasi Malaysia,
membentuk negara otonomi sendiri dengan nama Republik Singapoera tahun 1965.
Apa yang menjadi pasal? Besar dugaan karena soal Melayu. Seban di negara
Singapoera populasu dominan adalah orang asal Tiongkok dengan bahasa Mandarin.
Aksi (bahasa dan budaya) Melayu dari Federasi Malaya dan reaksi (budaya
Tiongkok dan bahasa Mandarin) di Singapoera. Apakah misi budaya Melayu dari
Federasi Malaya? Tampanya belum. Sasaran misi baru adalah negara Serawak dan
Sabah.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Bahasa, Budaya, Bangsa Jadi Kontroversi: Mengapa
Indonesia Menolak?
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





