*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pada saat mana kehadiran orang Eropa pertama di
Nusantara (Portugis) bahasa yang digunakan secara luas (lingua franca) adalah
bahasa Melayu. Namun bahasa Melayu bukanlah penutur terbanyak, tetapi adalah
penutur bahasa Jawa dan juga bahasa Batak. Di Semenanjung Malaya bahasa yang
dominan adalah bahasa Melayu. Dua bahasa Eropa yang kemudian berkembang pesat kemudian
adalah bahasa Belanda dan bahasa Inggris.

Orang-orang pertama Eropa (terutama Portugis) di
Nusantara tidak terlalu intens memperkenalkan bahasanya, tetapi sebaliknya
orang-orang Portugis belajar berbahasa Melayu (karena mereka cenderung merakyat
dan kawin mawin dengan berbagai penduduk asli). Orang-orang Spanyol di
pulau-pulau Filipina melalui kegiatan misionaris yang masif melembagakan bahasa
Spanyol melalui pendidikan yang diselenggarakan para misionaris. Dua Eropa
berikutnya yakni Belanda dan Inggris memiliki pola koloni yang berbeda.
Orang-orang Belanda sejak era Portugis telah membentuk koloni yang diperluas
dengan kahadirannya di berbagai wilayah bahkan hingga ke pedalaman. Sementara
Inggris membentuk koloni di kota-kota pantai/pulau dan bekerjasama dengan para
pemimpin lokal baik di India maupun Bengkulu yang kemudian di Semenanjung.
Hanya di Australia populasi Inggris dominan. Pada era Pemerintah Hindia Belanda
(sejak 1800) Kerajaan Belanda membentuk cabang-cabang pemerintah yang sangat
luas dan bahkan hingga ke tingkat distrik (dengan pejabat Controleur(. Belanda
melestarikan bahasa Belanda melalui pemerintahan dan pendidikan yang lebih
tinggi. Sebaliknya Inggris seperti di India dan Semenanjung hanya melesatrikan
bahasa Inggris di kota-kota koloni.
Lantas bagaimana sejarah bahasa Belanda gagal
di Indonesia sedangkan bahasa Inggris sukses di Malaysia? Seperti disebut di
atas, ada perbedaan cara berkoloni Belanda di Indonesia dengan cara berkoloni
Inggris di Malaysia. Lalu bagaimana
sejarah bahasa Belanda gagal di Indonesia sedangkan bahasa Inggris sukses di
Malaysia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Bahasa Belanda Gagal di Indonesia, Bahasa Inggris
Sukses di Malaysia; Merdeka atau Merdeka
Tunggu deskripsi lengkapnya
Bahasa Indonesia Merdeka di Indonesia, Kemerdekaan
Bebahasa di Malaysia
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





