*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Di Nusantara pada zaman dahulu sudah terbentuk dari
berbagai suku/bangsa. Ada yang sudah punah/lenyap atau tersamar dalam suku lain
yang populasinya lebih besar. Jumlah suku di Indonesia yang ada sekarang
dibandingkan di masa lampau tentu jauh lebih sedikit. Hal itu juga dengan di
Malaysia. Suku/bangsa Melayu di Indonesia kini hanya minoritas, yang mayoritas
adalah suku/bangsa Jawa. Sementara di Malaysia suku/bangsa terbesar adalah
Melayu. Namun karena berbeda definisi di Indonesia dan Malaysia, banyak
suku/bangsa asal Indonesia di Malaysia dianggap Melayu (bahkan sekalipun mereka
berbahasa etnik sendiri).

Suku atau juga bangsa, adalah suatu afiliasi bagi
seseorang atau sekelompok orang yang mengidentifikasi diri masuk atau
dikelompokkan sebagai suku apa atau beragama. Pengelompokkan diri dalam suku
lebih longgar dari agama. Kelonggaran dalam afiliasasi suku itu bisa dipengaruhi
karena hubungan tempat tinggal, batas-batas wilayah/negara, hubungan
perkawinan, bahasa yang digunakan atau elemen-elemen budaya lainnya dalam
kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini secara makro pengelompokkan suku bisa
karena atas pengakuan atau karena diidentifikasi orang lain (label yang
diberikan oleh orang luar/asing). Pengelompokkan suku/bangsa yang dimaksud di
atas dapat berbeda-beda antara satu negara dengan negara lain. Di Indonesia dan
di Malaysia pengelompokkan etnik Melayu tampaknya berbeda.
Lantas bagaimana sejarah orang Melayu berbeda-beda
di Nusantara dan banyak di Sumatra, tetapi hanya minoritas di Indonesia? Seperti
disebut di atas, suku/bangsa adalah suatu afiliasi, suatu pengelompokkan yang
berbeda-beda antara satu pihak dengan pihak lain antara satu negara dengan
negara lain. Lalu bagaimana sejarah orang
Melayu berbeda-beda di Nusantara dan banyak di Sumatra, tetapi hanya minoritas
di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan.
Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Orang Melayu Berbeda-Beda di Nusantara; Banyak di
Sumatra, Hanya Minoritas di Indonesia
Tunggu deskripsi lengkapnya
Orang Melayu Banyak di Sumatra, Hanya Minoritas di
Indonesia
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


