*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Kota Bangkok adalah ibu kota negara Thailand (dahulu
disebut Siam). Wilayah Kota Bangkok termasuk dataran banjir yang subur, cocok
untuk budidaya padi dan persawahan (tham na) menarik banyak pendatang ke daerah
ini mulai dari pinggiran dataran tinggi sampai dengan dataran tinggi di wilayah
utara atau Dataran tinggi Khorat ke timur laut. Pada abad ke-11 Masehi,
sejumlah kota/kerajaan kecil yang terhubung karena budidaya padi dan
perdagangan berkembang di atas Chao Phraya Valley. Kota-kota kerajaan kecil ini
disatukan dibawah kendali kerajaan Ayutthaya di bagian selatan ujung dari
dataran banjir.

Orang-orang Thailand bermigrasi dari Yunnan Tiongkok ke daratan Asia
Tenggara selama berabad-abad. Referensi paling awal yang diketahui tentang
kehadiran mereka di wilayah tersebut berkaitan dengan pengasingan orang Siam di
prasasti abad ke-12 di kompleks kuil Khmer Angkor Wat di Kamboja yang menyebut
mereka “palsu” atau “perang lama”. Daerah itu pernah
dikuasai oleh berbagai pemerintah negara bagian India seperti Mon, Kekaisaran
Khmer, dan negara-negara Melayu, bersaing dengan negara-negara seperti
Ngoenyang Thailand, Sukhothai, kerajaan Chiang Mai, Lan Na dan Ayutthaya juga
saling bertentangan. Kota-kota besar berturut-turut dibangun di berbagai titik
di sepanjang sungai, menjadikan pusat-pusat perdagangan kerajaan-kerajaan
Thailand yang besar yang berbasis pada budidaya padi dan perdagangan luar
negeri. Tidak seperti tetangga Khmer dan Burma, Thailand terus memperluas
hubungannya keluar ke seberang Teluk Thailand dan Laut Andaman menuju pelabuhan
perdagangan asing. Orang-orang Eropa tiba pada abad ke-16, dimulai dengan misi
diplomatik Portugis ke Ayutthaya pada tahun 1511. Abad-abad berikutnya melihat
berbagai kekuatan kolonial Eropa menduduki wilayah-wilayah di IndoTiongkok, di
mana Thailand kehilangan sebagian besar wilayahnya oleh Prancis dan Inggris
tetapi tetap satu-satunya. Negara-negara Asia Tenggara yang selamat dari
pendudukan. (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah geomorfologi Kota
Bangkok dan Teluk Siam? Seperti disebut di atas, Kota
Bangkok kini menjadi ibu kota negara Thailand (dulu disebut Siam). Orang Thai
yang sekarang adalah penduduk pendataran yang berasal dari utara (Yunnan). Lalu bagaimana sejarah geomorfologi Kota
Bangkok dan Teluk Siam? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Geomorfologi Kota Bangkok dan Teluk Siam; Wilayah
Tidak Dikenal di Zaman Kuno, Mengapa?
Kota Bangkok termasuk kota besar masa ini di Asia
Tenggara yang tidak dikenal zaman doeloe. Nama-nama kota yang sudah dikenal antara
lain Malaka, Singapoera, Manila, Kamboja dan Jakarta (Batavia). Sebagaimana
Kota Kuala Lumpur, kota Bangkok dapat dikatakan adalah kota baru, yang
terbentuk belakangan. Kota Bangkok yang terbentuk berada di muara sungai Phraya
(ingat nama kota Praya di Lombok).

Pada tahun 1641 VOC (Belanda) menaklukkan Portugis di Malaka. Setahun
kemudian VOC/Belanda mengusir Portugis dari Kamboja. Di Kamboja terdapat
kerajaan. Di sebelah utara di hulu sungai Mekong terdapat kerajan Leuvee.
Sementara di hulu sungai Phraya terdapat Kerajaan Hudia Odija. Pada peta VOC/Belanda Peta 1666 sudah dipetakan nama kampong Bangkok di
sisi timur muara sungai Phraya. Di wilayah hulu sungai diiddentifikasi Iudia.
Besar dugaan VOC/Belanda sudah membuka pos perdagangan setelah berhasil menaklukkan
Porttugis di Malaka dan Kamboja
Di masa lampau dimana
kini Kota Bangkok berada, masih berupa perairan, suatu pulau-pulau delta yang
terbentuk di muara sungai Phraya. Pulau-pulau yang terbentuk ini merupakan
proses sedimentasi jangka panjang. Sungai besar Phraya yang berhulu di
pegunungan telah membawa massa padat (lumpur dan sampah vegetasi) mengendap di
teluk Siam yang kemudian terjadi sedimentasi yang diawali terbentuknya rawa dan
kemudian daratan baru, berupa pulau-pulau delta. Lambat laut pulau-pulau ini
menyatu satu sama lain membentuk daratan luas yang berada di pesisir laut. Di kawasan
baru inilah di sisi timur sungai Phraya terbentuk kampong/kota Bangkok (lihat
Peta 1701),

Bangkok masih sebuah kampong kecil di sebelah timur muara sungai Phraya.
Pada Peta 1724a lokasi eks Kerajaan Leuvee telah berubah nama menjadi Eauweck.
Nama ini tampaknya adalah nama Belanda. Nama Kerajaan Hudia Odija diidentifikasi
sebagai Siam (yang juga menjadi nama wilayah). Di utara kerajaanHudia Odija/Siam
masih tetap eksis kerajaan yang lebih kecil yang diidentifikasi (kerajaan) dengan
nama Louvo. Satu hal yang jelas pulau-pulau kecil di muara sungai Phraya telah
menyatu menjadi satu daratan luas dimana kampong Bangkok terbentuk di sisi
timur.
Pada peta sungai Francois Valentijn (Peta 1724b) di kawasan
dimana sebelumnya terbentuk kampong Bangkok telah terbentuk koloni VOC
(Belanda). Pada peta tempat hunian penduduk dan koloni Belanda hanya terdapat
di sisi sungai. Di luar kawasan sungai digambarkan sebagai kawasan rawa-rawa
yang sangat luas. Praktis di pemukiman dan perkampong berada di sisi sungai. Gambaran
serupa ini tipikal untuk kota-kota sungai seperti di Batavia, Soerabaja,
Semarang dan Badjarmasin.

Dari keterangan peta disebut benteng Fort Bangkok (12). Sedangkan logi pakhuis
Amsterdam berada di arah hilir sisi barat sungai (5) dimana berkibar bendera
Belanda. Ini mengindikasikan gudang komoditi VOC/Belanda menjadi aman karena
benteng penjagaan berada di arah hulu. Sepanjang daerah aliran sungai ke arah
hulu sungai adalah wilayah penduduk dimana terdapat kraton kerajaan (Hudia
Odija/Siam). Di dekat benteng pada sisi barat sungai ditandai sebagai kantor
bea cukai kerajaan Konings Tolhuys (7). Di arah hilir kraton terdapat logi
Belanda Hollansch Logie (53) dan beacukai radja (32) yang di hilirnya suatu
pulau yang dihuni oleh orang Cina. Beberapa kampong yang mudah dikenal antara
lain kampong Makassar (30) dan (46), pemukiman orang Moor (47), kampong Pegu
(35), kampong Jawa (36) dan kampong Melayu (50). Di arah hulu kraton terdapat
Wat Pu (Wat Pho?, suatu kuail tua). Selain itu juga terdapat pemukiman-pemukiman
orang asing (lainnya).
Peta yang digambarkan Francois Valentijn (1724) di
bagian hilir mengindikasikan kawasan sungai di wilayah metropolitan Bangkok
yang sekarang. Dalam hal ini perlu dijelaskan
mengapa ada kampong Melayu, Jawa dan Makassar. Besar dugaan mereka adalah eks
pesukan pribumi pendukung militer VOC/Belanda yang tidak kembali ke kampong
halaman karena lebih memilih bermukim di wilayah yang mulai mereka kenal. Hal
serupa inilah mengapa pada masa ini ditemukan kampong Jawa, kampong Bali,
kampong Ambon, kampong Melayu dan kamping Makassar dan lainnya di sekitar
Jakarta (dulu Batavia).

Seperti halnya Batavia (di muara sungai Tjiliwong), Bangkok yang sekarang
dapat dikatakan dibangun oleh orang Belanda (VOC). Jika di Batavia, eks pasukan
pribumi penfdukung militer VOC umumnya membuka kampong dengan mengembangkan
pertanian, besar dugaan eks pasukan pribumi pendukung militer VOC di wilayah Siam
(di utara) Bangkok juga mengusahakan pertanian dan boleh jadi mereka terlibat
dalam perdagangan sungai. Gambaran yang dipetakan oleh F Valentijn yang menjadi
dua bagian dari daerah aliran sungai (bagian hilir dan bagian hulu) diduga kini
yang menjadi bagian hilir adalah Kota Bangkok sendiri dan bagian hulu adalah lingkungan
kraton kerajaan Ayuthaya
Pada masa ini Kota Bangkok dengan
elevasi 8 meter dpl. Suatu ketinggian yang rendah, umumnya kota-kota pantai
yang tanahnya terbentuk baru karena proses sedimentasi jangka Panjang.
Ketinggian di Bangkok kurang lebih sama dengan di Ayutthaya.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Wilayah Tidak Dikenal di Zaman Kuno: Sejarah Terbentuknya
Wilayah Kota Bangkok
Nama kota Bangkok sendiri pada awalnya ditulis tidak
seragam, misalnya Belanda menulis Bancasey. Namun pada awal tahun 1820an
Inggris mencatat Bangkok (yang digunakan hingga kini). Kota Bangkok ini berada
di muara sungai Menam (kini Phraya). Nama Bangkok diduga kuat bukan bahasa
asli, bukan didirikan oleh penduduk asli, akan tetapi oleh para pendatang dari
Sumatra.
Nama yang mirip Bangkok sangat umum ditemukan di Sumatra pada masa lampau
seperti Bangkalis, Bangka, Bangko dan Bangkahulu. Namun aslinya nama-nama
semacam ini merujuk pada nama India. Oleh karena wilayah daratan Bangkok di
Thailand adalah wilayah baru yang terbentuk sedimentasi, maka nama kampong
Bangkok di muara sungai Menam (kini sungai Phraya) dapat dikatakan adalah nama
baru. Sedangkan nama-nama sejenis sudah sejak lama ditemukan di Sumatra. Pertamyaannya:
mengapa orang Belanda menyebut dan mencatat Bancasey, sementara kemudian orang
Inggris menulisnya dengan nama Bangkok. Ini mirip dengan nama Bangkahoeloe oleh
orang Belanda tetapi orang Inggris menulisnya menjadi Bencoolen.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






