*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Kerajan tertua dan kerajaan
terlama di Nusantara diduga kuat berada di Sumatra bagian utara. Kerajaan ini
diduga berada di wilayah antara pelabuhan Barus di pantai barat Sumatra dan
pelabuhan Binanga di pantai timur Sumatra. Selama ini kita hanya berasumsi
bahwa kerjaan tertua nusantara ada di Koetai (prasasti Muara Kaman berasal dari
abad ke-5). Kerajaan tertua ini mulai memudar setelah (kerajaan) Atjeh
menaklukkannya (lihat Mendes Pinto 1537).

Ada dua peta detail yang
terdapat dalam catatan geografi Ptolomeus yang berasal dari abad ke-2 yang
dihubungkan dengan wilayah Asia Tenggara. Pertama peta Semenanjung Chersonesus,
suatu peta yang dapat diinterpretasi sebagai peta pulau Sumatra dan peta
Semenanjung Malaya. Gambaran peta Semenanjung Chersonesus saat itu pulau
Sumatra masih terhubung dengan daratan Asia di di Semenanjung Burma. Kedua,
peta pulau Taprobana, suatu peta yang sangat terinxi nama-nama tempat, suatu
pulau yang diidentifikasi sebagai pulau Kalimantan. Dalam dua artikel terdahulu
dalam blog ini telah dibuktikan bahwa pulau Taprobana adalah pulau Kalimantan
dan Semenanjung Chersonesus adalah pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya.
Sebagai tamabahan dalam catatan geografis Ptolomeus adalah nama tempat yang
diidentifikasi sebagai Katigara yang diduga sebagai kota Kota Negara yang
beradi di wilayah Kota Kamboja/Phnom Phen yang sekarang.
Lantas
bagaimana sejarah kerajaan
tertua
Nusantara dan wilayah
geomorfologi
(kerajaan)
Aru
di Sumatra bagian
utara? Seperti
disebut di atas, kerajaan
tertua ini diduga telah eksis sejak era Ptolomesus abad ke-2 dimana pusatnya
berada diantara pelabuhan Barus di pantai barat Sumatra dan pelabuhan Binanga
di pantai timur Sumatra. Lalu bagaimana sejarah kerajaan tertua Nusantara dan wilayah geomorfologi (kerajaan) Aru
di Sumatra bagian
utara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*. Peta grias pantai timur Sumatra tempo doeloe
Kerajaan Tertua Nusantara,
Wilayah Geomorfologi Aru di Sumatra: Ibu Kota Berada Diantara Pelabuhan Barus dan Pelabuhqan Binanga
Tunggu deskripsi Catatan tertulis Kerajaan Aru
secara penjang lebar ditulis oleh seorang penulis Portugis Mendes Pinto
(1537). Buku Mendes Pinto berjudul Peregrinacao
(Penjelajahan) dapat diakses pada masa ini. Ada enam bab yang berisi tentang
eksistensi Kerajaan Aru Batak Kingdom. Mendes Pinto menggambarkan Kerajaan Aroe
Batak Kingdom sebagai kerajaan yang kuat dan memiliki armada maritom.

Dalam buku Peregrinacao yang ditulis Fernao
Mendes Pinto disebutkan Kerajaan Aru tengah berselisih dengan Kerajaan Atjeh.
Kerajaan Aru dibantu oleh pedagang-pedagangan Moor, sedangkan Kerajaan Atjeh
mendapat bantuan militer dari Kerajaan Turki. Sebelumnya, menurut Mendes Pinto
pernah menyerang Kesultanan Malaka dan orang-orang di Malaka selalu takut
kepada Kerajaan Aru. Masih menurut Mendes Pinto kekuatan Kerajaan Aru sebanyak
15.000 pasukan yang mana delapan ribu orang Batak dan sisanya berasal dati
Minangkabau, Jambi, Indragiri, Brunai dan Luzon. Ibu kota Kerajaan Aru disebut
berada di Panaju. Berdasarkan Peta Portugis (1598) dan Peta Belanda (1818)
Kerajaan Aru berada di pantai timur Sumatra (selat Malaka).
Wilayah dimana ditemukan
Kerajaan Aru berada diduga terhubung dengan situs kerajaan kuno di Pantai Timur
Sumatra, secara arkeologis berada di
wilayah Padang Lawas yang sekarang, dimana kini terdapat puluhan candi-candi tua
yang berasal dari era Hindoe/Boedha. Sebaran candi-candi tua tersebut berada di
daerah aliran sungai Baroemoen dan sungai Pane. Wilayah peradaban tua dimana
ditemukan sebaran candi-candi diduga kuat terhubung dengan catatan-catatan yang
lebih tua yakni prasasti-prasasti abad ke-7 dan peta-peta kuno Ptolomeus yang
berasal dari abad ke-2.

Dalam catatan geografis Ptolomeus abad ke-2 pada
peta semenanjung Chersonesus dapat diidentifikasi sebagai pulau Sumatra dan
semenanjung Malaya yang sekarang. Penamaan peta sebagai chersonesus adalah
sebagai semenanjung/pulau emas. Sebagaimana diketahui penghasil emas sejak masa
lampau adalah Sumatra. Masih dalam catatan geografis Ptolomeus bahasa sentara
produksi kamper berada di Sumatra bagian utara. Yang perlu diinterpretasi dalam
peta Chersonesus diidentifikasi nama Tacola (Angkola?). Selanjutnya dalam
catatan tertulis Eropa yang berasal dari abad ke-5 disebut kamper diekspor dari
pelabuhan yang disebut Baroesia (Barus?). Selanjutnya pada prasasti Kedoekan
Boekit (682 M) disebutkan nama Minana suatu (pelabuhan) dari mana pasukan
kerajaan yang dipimpin Dapunta Hyang Nayk berangkat. Dalam hal ini nama Minana
diduga kuat adalah kota Binanga (ibu kota kecamatan) di Padang Lawas.
Dari data-data awal yang
berasal dari masa lampau terdapat tiga nama yang dicatat yang nama-nama
tersebut masih eksis hingga ini hari (Angkola, Baroes dan Binanga). Lantas
bagaimaa posisi GPS kota-kota tersebut di masa lampau dengan membandingkan
dengan posisi GPS pada masa ini. Untuk menganalisis perbandingan itu, kita
tidak cukup dengan analisis data tertulis tetapi harus dianalisis dengan
pendekatan geomotfologis.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Wilayah Geomorfologi Kerajaan Aru di Sumatra:
Menjelaskan Kerajaan Sriwijaya di Pantai Timur Sumatra
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






