*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Ada
satu peristiwa sejarah bahasa pada tahun 1972. Peristiw tersebut adalah
perubahan dari eajaan yang tidak sempurna lalu dideklarasikan ejaan yang
disempurnakan (EYD) antara negara Indonesi dan negara (federasi) Malaysia. Saat
saya duduk dikelas dua sekolah dasar (SD), cara menulis nama saya berubah dari
Achir Matua Harahap menjadi Akhir Matua Harahap. Ada perubahan ejaan ch menjadi
kh. Namun perubahan itu masih janggal dan saya masih kerap menulis dengan ejaan
ch, sebab umumnya masyarakat secara luas hanya mengenal itu, termasuk ayah dan
ibu saya. Dengan mengabaikan adaptasi ejaan di kalangan pers, saat itu perubahan
ejaan terkesan bergaung hanya di sekolah. Pada izajah kelulusan saya di sekolah
dasar nama saya dibakukan dengan ejaan kh.

bersama ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut
mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para
ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan yang Disempurnakan. Pada
tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972,
berlakulah sistem ejaan Latin bagi bahasa Melayu (“Rumi” dalam
istilah bahasa Melayu Malaysia) dan bahasa Indonesia. Di Malaysia, ejaan baru
bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Pada waktu pidato
kenegaraan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia
yang ke XXVII, tanggal 17 Agustus 1972 diresmikanlah pemakaian ejaan baru untuk
bahasa Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia. Dengan Keputusan Presiden
No. 57 tahun 1972, ejaan tersebut dikenal dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan (EYD). Ejaan tersebut merupakan hasil yang dicapai oleh
kerja panitia ejaan bahasa Indonesia yang telah dibentuk pada tahun 1966. Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ini merupakan penyederhanaan serta
penyempurnaan daripada Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik yang dipakai sejak
bulan Maret 1947. Selanjutnya pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia
Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan
buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dengan
penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27
Agustus 1975 Nomor 0196/U/1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan” dan “Pedoman Umum Pembentukan
Istilah”. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah ejaan yang disempurnakan Indonesia dan Malaysia 1972? Seperti
disebut di atas, ada korbanya yakni perbedaan penulisan pada dokumen resmi
seperti akta dan izajah. Nama saya termasuk bagian dari perubahan itu. Lalu sejarah
ejaan yang disempurnakan Indonesia dan Malaysia 1972? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Ejaan yang Disempurnakan
Indonesia dan Malaysia 1972: Perubahan Aksara (Pallawa, Aksara Jawi, Aksara
Latin) hingga Perubahan Ejaan
Pada
tahun 1972 ada sejumlah peristiwa bahasa di Indonesia, diantaranya buku Max
Havelaar karya Multatuli diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia (lihat Het
Parool, 25-01-1972). Buku yang berkisah dari awal perjalanan Edward Douwes
Dekker sebagai Controleur di Natal dalam membela penindasan Belanda terhadap
penduduk Angkola Mandailing tahun 1842/1843. Buku legendaris yang diterbitkan
kali pertama tahun 1860 diterjemahkan oleh HB Jassin dan diterbitkan oleh
Penerbit Djambatan, Jakarta.
Peristiwa bahasa lainnya adalah Boen Sri
Oemarjati, lahir di Jakarta, meraih gelar doktor di bidang sastra. Disertasinya
berjudul ‘Chairil anwar, Penyair dan Bahasanya’. Pembimbingnya adalah Dr A
Teeuw, guru besar penuh Bahasa Indonesia dan Bahasa dan Sastra Melayu di
Universiteit Leiden (lihat NRC Handelsblad, 28-12-1972).
Pada
tahun 1972 ada sejumlah peristiwa bahasa di Belanda, diantaranya adalah tentang
penyamaan ejaan di Belanda (lihat Leeuwarder courant : hoofdblad van Friesland,
23-03-1972). Disebutkan antara wilayah utara dan wilayah selatan di Belanda
ejaan bahasanya selama ini tidak sama. Isu ejaan ini muncul dalam berbagai
artikel surat kabar dan program televisi.
Disebutkan partisipasi dalam panitia ejaan resmi, yang telah bekerja
selama bertahun-tahun pada ejaan yang bertanggung jawab mungkin dan yang juga
dapat diterima oleh orang-orang Belanda Utara dan Selatan. Khususnya dalam dua
puluh tahun terakhir, orang-orang di kalangan pendidikan tidak terlalu senang
dengan hasil yang dibuat oleh orang-orang yang sangat bijaksana ini: setelah
banyak mengutak-atik ejaan telah dibuat bahwa tidak ada seorang pun tanpa
“buku hijau” yang benar untuk menulis.
Di Indonesia, ejaan pertama kali diusulkan
oleh Charles Adrian van Ophuijsen, seorang guru yang memulai karir guru di
Angkola Mandailing dan menjadi guru bahasa Melayu di sekolah guru (kweekschool)
Padang Sidempoean sejak 1881. Charles Adrian van Ophuijsen sebagai guru di
Padang Sidempoean selama delapan tahun dimana dalam lima tahun terakhir sebagai
direktur Kweekschool Padang Sidempoean. Ejaan van Ophuijsen ini cukup lama
hingga muncul ejaan Soewandi atau ejaan Repoeblik pada masa perang kemerdekaan
Indonesia (1947). Lalu kemudian ejaan disempurnakan pada tahun 1972.
Pada
tahun 1972 ini di Indonesia juga dilakukan perubahan dalam ejaan Bahasa
Indonesia. Keputusan ini dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun
1972 yang diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972. Penyempurnaan ini bersama
dengan bahasa Melayu di Malaysia.
Nederlands dagblad : gereformeerd gezinsblad /
hoofdred. P. Jongeling … [et al.], 10-08-1972:
‘Ejaan bahasa Indonesia diperbarui. Jakarta. “Masih banyak orang di Indonesia
yang lebih suka berbicara bahasa asing daripada bahasa Indonesia”, kata Menteri
Pendidikan Indonesia, Mashuri, saat menyerahkan draf ortografi baru untuk
bahasa resmi Indonesia, Bahasa Indonesia. Menurut menteri, sistem ejaan lama,
termasuk republik dan Suwandhi, tertinggal dalam perkembangan penggunaan
bahasa. Misalnya, sejauh ini dalam Bahasa Indonesia huruf f, ch. v dan sj
ditulis, sementara mereka diucapkan. Selanjutnya, pengenalan ejaan baru harus mencegah
merayap masuk kata-kata asing’.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Perubahan Ejaan: Ejaan
Ophuijsen, Soewandi hingga EYD
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





