*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pada
artikel sebelumnya telah dideskripsikan sejarah lama Serawak dimana dihubungkan
dengan Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra dan telah disinggung nama-nama lama
seperti negeri-negeri Sibu dan Bintulu. Pada artikel ini dideskripsikan sejarah
Sabah di Borneo Utara dekat Sulu dimana pada kawasan gunung Kinabalu terdapat
nama lama negeri Tambunan.

negara bagian di Malaysia. Sabah adalah negara bagian kedua terbesar di
Malaysia setelah Sarawak. Sabah juga berbatasan dengan Provinsi Kalimantan
Utara, Indonesia, di selatan. Ibu kota negara bagian ini adalah Kota Kinabalu.
Sabah sering disebut sebagai “Negeri di Bawah Angin” yang digunakan
oleh pelaut pada masa lalu untuk menggambarkan daratan di selatan sabuk topan. Asal
mula nama Sabah masih belum jelas, dan banyak teori yang muncul. Salah satu
teori adalah bahwa pada masa Sabah merupakan bagian dari Kesultanan Brunei, di
daerah pantai wilayah tersebut banyak ditemukan pisang saba (dikenal juga
dengan nama pisang menurun yang tumbuh secara luas dan populer di Brunei. Suku
Bajau menyebutnya pisang jaba. Nama Saba juga merujuk pada salah satu varietas
pisang dalam bahasa Tagalog dan Visaya. Selain itu, dalam bahasa Visaya kata
itu juga berarti “bising”. Saat Brunei menjadi salah satu negara
vasal Majapahit, naskah Nagarakretagama karya Empu Prapañca menyebut wilayah
yang kini Sabah dengan nama Seludang. Sementara itu, meskipun Tiongkok telah
berkait dengan Pulau Borneo sejak zaman Dinasti Han, mereka tidak memiliki nama
khusus untuk wilayah itu. Baru pada masa Dinasti Song, mereka menyebut Borneo
dengan nama Po Ni (disebut juga Bo Ni), yang merupakan nama yang sama yang
merujuk pada Kesultanan Brunei pada saat itu. Karena lokasi Sabah berhubungan
dengan Brunei, terkesan bahwa Sabah adalah sebuah kata dalam bahasa Melayu
Brunei yang berarti hulu atau “di arah utara”. Teori lain menyatakan
bahwa nama itu berasal dari kata dalam bahasa Melayu sabak yang berarti tempat
gula aren diekstrak. Sabah juga merupakan satu kata dalam bahasa Arab yang
berarti matahari terbit. Banyaknya teori menyebabkan asal mula sebenarnya dari
nama Sabah sulit ditentukan. Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Sabah di Borneo Utara dan Negeri Tambunan di Kinabalu? Seperti
disebut di atas, wilayah Sabah adalah wilayah yang sudah lama dikenal yang
dihubungkan dengan Brunai dan Sulu. Lalu bagaimana sejarah Sabah di Borneo
Utara dan Negeri Tambunan di Kinabalu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Sabah di Borneo Utara dan
Negeri Tambunan Kinabalu; Negeri Sibu dan Bintulu di Serawak
Nama
Sabah menjadi lebih dikenal sejak 1878 sejak pengusaha Inggris Baron von Overdeck
mendapat konsesi jangka panjang dari Sultan Brunai dan Sultan Sulu (lihat De
locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 05-03-1878). Disebutkan
dua wilayah yang menjadi konsesi Overdeck bagian barat di bawah otoritas Sultan
Brunai yang dipimpin oleh Maharadja Sabah dan bagian timur di bawah otoritas
Sultan Sulu yang dipimpin Datoe Bandara dan Radja van Sandakan.

1601 tidak teridentifikasi nama Sabah. Nama yang diidentifikasi antara lain
Broenai, Marudo serta nama-nama Portugis. Oliver Noort adalah pimpinan
ekspedisi kedua Belanda (setelah ekspedisi Cornelis de Houtman). Nama Maludu
besar dugaan adalah nama kuno (mungkin sudah ada sejak era Ptolomes). Nama
Broenai kali pertama dilaporkan oleh pelaut Portugis yang mengujungi Broenai
pada tahun 1524 (sejak itu nama pulau disebut Borneo (merujuk pada nama
Broenai). Pedagang Inggris mendapat konsesi pertama di kawasan ini pada tahun
1775 di pulau Balanbangan (lepas pantai Marudu). Broenai pernah berada di bawah
supremasi Kerajaan Aroe Batak Kingdom di pantai timur Sumatra (lihat Mendes
Pinto 1537).
Sebelum kehadiran Baron van Overdeck di kawasan Sabah sudah lebih dahulu
sejumlah pedagang mendapat konsesi. Yang pertama adalah seorang pedagang
Inggris pada tahun 1775 di pulau Balambangan. Pulau di sebalah timur pulau
Balambangan yang lebih besar adalah pulau Banggi. Dua pulau ini menjadi penanda
navigasi pelayaran yang penting pada kawasan Sabah beserta gunung tinggi
Kinabalu (gunung tertinggi di pulau Kalimantan), Penanda navigasi pelayaran di pedalaman
adalah sungai Kinabantangan (sungai tertbesar di Sabah).

baru dibandingkan Marudu. Dengan memperhatikan geomorfologi Sabah, pada masa
lampau Sandakan berada di wilayah perairan atau suatu pulau dimana sungai
Kinabatangan muaranya berada di pedalaman yang sekarang. Sungai ini di masa
lalu tidak sepanjang,yang sekarang. Hal itulah mengapa nama sungai disebut
Kinabatangan karena sungai ini tidak jauh dari hunung Kinabalu, Dalam hal ini
nama Kina bukan nama tanaman (kina seperti di Jawa Barat), tetapi hanya sekadar
nama yang berasal dari zaman kuno. Nama gunung disebut Kinabalu sedangkan nama
sungai disebut Kinabatangan. Besar dugaan nama Kinabalu merujuk pada nama ‘ina’
dan ‘balu’. Dalam bahasa Batak ina adalah ibu sedangkan balu ada perempuan yang
ditinggal suami (karena meninggal) dan batang adalah sungai. Penamaan nama
gunung ini pada masa lampau diduga dihubungkan dengan pemujaan terhadap leluhur
(pada era agama Budha Batak sekte Birawa (merujuk pada candi-candi di Padang
Lawas (daerah aliran sungai Baroemoen dimana pusat Kerajaan Aroe). Besar dugaan
nama Broenai merujuk pada nama sungai Baroemoen.
Satu nama tempat yang berada di dekat gunung Kinabalu adalah Tambunan.
Apakah ada kaitannya dengan salah satu marga di Tanah Batak marga Tambunan?
Boleh jadi karena Tambunan berada di pedalaman di barat gunung Kinabalu dengan
yang terhubung dengan nama tempat Kinabalu (Kota Kinabalu, kini ibu kota
Sabah). Nama tempat Tambunan tidak
hanya di Sabah, juga ada di pulau Mangindanao, pulau Marinduque dan pulau Panai
di Filipina dan Toradja, Sulawesi. Di dekat Tambunan di Sabah terdapat nama
tempat Nabawan (nama marga Nababan di Tapanuli). Dekat Nabahan terdapat nama
Samuran (nama tempat Sumuran di Tapanuli).
Umumnya penamaan gunung di masa lampau
dihubungkan dengan nama tempat dan dalam hubungannya dengan pemujaan
(kepercayaan zaman kuno). Besar dugaan nama tempat Kinabalu kemudian menjadi
dasar penamaan gunung Kinabalu. Seperti disebut di atas, Kinabalu diduga
merujuk pada nama ina dan balu. Oleh karena wilayah Borneo Utara di masa lampau
adalah wilayah di bawah supremasi Kerajaan Aroe Batak Kingdom maka nama
Tambunan diduga juga merujuk pada nama maraga di Tanah Batak. Sisa orang Batak
di kawasan ini pada zaman dulu adalah etnik Batak di pulau Palawan dekat
Sabah/Kinabalu (salah satu etnik di Filipina yang bahasa dan budayanya mirip
Batak). Baron van Overdeck pada tahun 1878 mencatan gelar raja Sabah adalah
Mangaradja (gelar raja yang mirip di tanah Batak).
Lantas
bagaimana dengan nama Sabah sendiri? Tidak ditemukan nama Sabah dalam catatan
awal, jauh sebelum dilaporkan Overdeck tahun 1878 nama gelar radja Mangaradja
Sabah. Wilayah Mangaradja Sabah berada di kawasan gunung Kinabalu, sedangkan
Radja Sandakan di sekitar daerah lairan sungai Kinabatangan. Saat mana Overdeck
memulai pengelolaan konsesi, yang pertama dibangun adalah kota baru tidak jauh
dari (kampong) Kinabalu. Kota baru ini disebut Jesselton. Sejak itu nama nama
tempat Kinabalu meredup, tetapi nama Kinabalu masih tetap menjadi gunung
(gunung yang pada era Portugis disebut gunung Mt del Pedro). Kota berikutnya
yang dibangun adalah Weston di arah barat dekat Brunai (teluk Brunai).
Dagblad van Zuidholland en ‘s Gravenhage, 03-09-1900:
‘Kereta api sedang dibangun sepanjang sekitar 110 mil. Mulai dari 2 titik di
Pantai Barat, Weston dan Jesselton, Dua jalur masing-masing sepanjang 20 dan 58
mil bertemu di Beaufort untuk mencapai Tenom [akhir tahun] 33 mil dari yang
terakhir’.Catatan: Beaufort adalah pelabuhan sungai yang menghubungkan antara
Westen di pantai dan Tenom di pedalaman.
Gaya
adalah salah satu teluk di Borneo utara yang sesuai dengan pelabuhan yang tidak
kalah dengan teluk Brunai. Kota Jesselton menjadi kota Eropa (selain Brooke
Town di dekat Brunai). Semakin menguatnya orang Eropa di Borneo Utara mulai
muncul perlawanan dari penduduk. Di Putatan, dekat Jesselton terjadi serangan,
stasion pemerintah dihancurkan dan dua korban meninggal tetapi kemudian dapat
diatasi setelah dikerahkan pasukan bersenjata (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-01-1901).
Jesselton dan Beaufort telah ditetapkan sebagai
dua kota utama Eropa di wilayah Sabah, Para pekerja telah didatangkan dari Cina
yang jumlahnya semakin banyak dari waktu ke waktu. Pembangunan jalan untuk
koneksi telah digalakkan ke Paga;lan dan Oloe Padas. Khusus di Jesselton sedang
gencar pembangunan kantor-kanrtor dan perumahan.
Pada
tahun 1902 mulai ada usul bahwa British North Bomeo akan ditempatkan di bawah
administrasi langsung Gubernur Straits Settlements (lihat Het vaderland, 25-02-1902).
Sebagaimana selama ini Borneo Utara Inggris adalah pemerintahan di bawah
Inggris yang terpisah dengan wilayah koloni di Semenanjung (Penang, Malaka dan
Singapoera). Orang-orang Cina yang berada di Kudat dan Sandakan mulai banyak
yang bermigrasi ke Jeeselyon dan Beuufort sehubungan dengan pembukaan pertanian
ke arah pedalaman (lihat De Sumatra post, 06-08-1902). Catatan: Kudat adalah
kota utama di pantai timur laut.
Tidak mudah bagi Inggris untuk membentuk
koloni di Borneo Utara. Pada tahun 1904 terjadi serangan yang menewaskan
sebanyak 20 orang di tempat antara Papar dan Jesselton. Namun semuanya mulai
kondusif, Seorang Jerman, sebagai orang Eropa pertama yang memasuki pedalaman
menceritakan jalur kereta api yang dinaiki sudah sampai ke Fort Tenom (Fort Birch)
sepanjang 12- mil dari Jesselton via Beaufort. Tenom bukan kota metropolis,
bahkan bukan kota, sepertinya hanya ada beberapa rumah penduduk asli yang
berserakan, tapi begitu bangunan stasiun selesai dan kereta api beroperasi sedikit
lebih teratur (lihat De Sumatra post, 14-09-1905). Pembangunan jalur kereta api
ini telah membuat sepi jalur penduduk melalui sungai membawa dagangannya ke
Beaufort dimana para pedagang Cina menunggu. Dengan adanya kereta api penduduk
mulai ramai menggunakannya dan pendapatan kereta api mulai terasa meningkat.
Dalam
perkembangannya sehubungan dengan meningkatkan perdagangan di Borneo Utara
Inggris, perusahaan pelayarana Hindia Belanda, Noorddeuyschen Lloyd telah
menyambungkan pelaysan dari Sulawesi ke Labuan melalui Lahad Datu, Sandakan,
Kudat, dan Jesselton (lihat Algemeen Handelsblad, 18-01-1906). Selama ini
pelayaran hanya sampai Zambongan dan Sulu via Sangir. Dari arah barat sudah
terbentuk jalur pelayaran dari West Borneo ke Serawak dan Labuan. Sejauh ini
tidak ada jalur langsung dari pantai timur Kalimantan yang hanya sampai di
Tarakan. Dengan demikian akses menuju Borneo Utara hanya dapat ditempuh melalu
jalur Manado dan Pontianak.
Pada akhir tahun 1906 satu ekspedisi geologi
telah dikirim ke pedalaman Sabah dimana mereka bekerja selama enam bulan yang
berakhir di Cowie (kalan dari Tenom). Tim ekspedisi ini menemukan potensi
tambang batubara yanh jaraknya 35 mil dari garis pantai.
Gunung
Kinabalu yang menjadi puncak gunung tertinggi di pulau Kalimatan jarang
tersentuh meski dapat dengan mudah dilihat dari laut di Jesselton. Gunung ini
sepi sendiri sejak pertama kali John Whitehead, seorang ahli zoologi Inggrus
berhasil mendakinya pada tahun 1888,. Pada tahun 1910 muncul berita besar
seorang perempuan bernama Lilian Gibbs berhasil mencapai puncak gunung Kinabalu
(lihat Provinciale Noordbrabantsche en ‘s Hertogenbossche courant, 09-03-1910).
Disebutkan nona LS Gibbs telah berhasil mendaki Kinabaloe setinggi 13.700 kaki,
sebagaimana dilaporkan Reuter dari Jesselton (British North Borneo), Nona Gibbs
adalah anggota Linnean Society dan ahli botani yang sangat berani dan ini
adalah pertama kalinya Kinabaloe ditaklukkan oleh seorang wanita.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Negeri Tambunan Kinabalu:
Gunung Kinabalu Gunung Tertinggi di Kalimantan
Sejak
keberadaan Inggris di timur laut Brunai/Serawak, wilayah disebut Borneo Utara
Inggris dimana admionistrasi pemerintahan dijalankan Inggris. Ibu kota berada
di Jesselton. Pada saat perang Asia Pasifik, pasukan Australia memborbardir
kota kecil Jesselton yang diduduki oleh militer Jepang. Kota hancur rata dengan
tanah. Sejak itu pembangunan kota dimulai lagi dari nol. Berdasarkan laporan
tahun 1962 pengaruh Inggris dominan, tetapi penduduk Cina adalah yang terbesar
dan paling aktif. Di Jesselton juga bermukim
berbagai etnik Dayak seperti Dosoens, Bajaus, dan Maroet.
Disebutkan lebih lanjut penduduk kota sebanyak
24.000 jiwa. Perdagangan sekitar 1 juta ton per tahun sebagian besar ekspor
karet. Jalut kereta api umumnya digunakan untuk pengangkutan karena. Bandara
tampak lebih menonjol ada saja pesewar yang berangkat dan mendarat setiap hari.
Lantas
kapan nama Kinabalu dikembalikan untuk menamai tempat yang telah sekian
dasawarsa dikenal sebagai Jesselton? Yang jelas bahwa pada tahun 1963 Inggris
membentuk Federasi Malaysia dimana empat wilayah digabung yakni Federasi
Malaya, Singapoera, Serawak danj Borneo Utara. Sejak ini nama wilayah Borneo
Utara Inggris diganti dengan nama lokal sebagai Sabah. Namun anggota federasi
ini berkurang karena tahun 1965 Singapoera memisahkan diri.
Nama Sabah adalah nama pemimpin wilayah di
masa lampau Mangaradja Sabah. Sejak kehadiran Inggris Overdeck nama wilayah itu
dilabel sebagai British North Borneo. Kini nama wilayah dikembalikan ke
aslinya, nama raja Sabah yang diduga kuat berasal usul dari Tapanoeli. Hal
serupa ini pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1950 dimana Batavia
dikembalikan kepada nama asli Jakarta, nama Buitenzorg dikembalikan dengan nama
awal Bogor (demikian juga Fort de Kock menjadi Bukittinggi dan Fort van der
Capellen menjadi Batusangkar. Saba atau sabah dalam bahasa Tapanuli adalah
sawah. Pada era Inggris Borneo Utara di Borneo Utara (Sewarak, Brunai dan
Sabah) sawah hanya ditemukan di wilayah Sabah, Apakah ada kaitan nama gelar
Magaradja Sabah dengan kepemilikan sawah secara turun temurun di dekat gunung
Kinabalu?
Lalu
bagaimana dengan nama tempat (kota) Kinabalu? Setelah nama Sabah direhabilitas
namanya giliran nama kota Jesselton harus dikembalikan ke nama aslinya Kinabalu
pada tahun 1967 (lihat Amigoe di Curacao : weekblad voor de Curacaosche
eilanden, 27-12-1967). Disebutkan negara bagian Saba di Borneo (Malaysia(
selanjutnya akan menyebut ibu kotanya Kota Kinabaloe, bukan Jesselton. Nama
pertama sebenarnya diambil dari gunung lokal dan yang terakhir dari orang
asing. Seperti disebut di atas nama Kinabalu diduga kuat merujuk pada nama
Inabalu (ina=ibu, balu=wanita ditinggal suami meninggal; janda) yang secara
harfiah sebagai sebutan ibu yang tetap menjanda di Tapanoeli. Besar dugaan nama
Inabalu ini sudah sejak zaman lampau pada era Hindoe/Boedha dimana nama gunung
sebagai wujud dari pemujaan terjafap leluhur.

kota Tamboenan (nama salah satu marga Batak di Tapanuli), nama kampong/kota di
dekat gunung Kinabaloe. Satu nama tempat/kota di masa lampau di lereng gunung
Kinabalu adalah Tamparuli (Tapanuli?). Orang-orang Batak Tapanuli bermugrasi
pada era sebelum kehadiran orang Eropa (Portugis) pada era Kerajaan Aroe Batak
Kingdom dimana pasukan Kerajaan Aroe di pantai timur Sumatra (Padang Lawas,
Tapanuli) juga ada yang direkrut dari Brunai (Borneo Utara) (lihat Mendes Pinto
1537). Nama Brunai sendiri diduga merupakan reduksi dari nama sungai di Padang
Lawas, sungai Baroemoen dan sungai Panai. Di Teluk Brunai tempo dulu bermuara
dua sungai yakni sungai Limbang (nama marga di Tapanuli) dan sungai Batang
Trusan (batang di Tapanuli diartikan sungai). Di Filipina dimana juga migrasi
orang Batak juga ditemukan nama pulau Panai dan etnik Batak..
Salah satu tokoh sejarah Sabah di Tambunan
adalah Mat Saleh (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 19-12-1899). Mat Saleh adalah salah satu pejuang di wilayah
Borneo Utara semasa Maskapai Borneo Utara (Inggris) yang terang-terangan
berseberangan dengan Gubernur Borneo Utara (Inggris).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





