*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Dalam
memahami sejarah awal Brunai di Borneo utara harulah memperhatikan bnkti-bukti
awal, antara lain peta Ptolomeus abad ke-2, prasasti Muara Kaman, Koetai abad
ke-5, prasasti Laguna, Mainla (Luzon) 900 M dan prasasti Ligor dan khususnya
prasasti Trenggano 1326 (atau 1386). Ini mengindikasikan bahwa wilayah Borneo
Utara yang sekarang khususnya wilayah Brunai adalah wilayah yang sudah dikenal
luas sejak zaman kuno. Selanjutnya bagaimana? Apa hubungannya dengan Kerajaan
Aru di pantai timur Sumatra?

adalah negara berdaulat di Asia Tenggara yang terletak di pantai utara pulau
Kalimantan. Negara ini memiliki wilayah seluas 5.765 km² yang menempati pulau
Kalimantan dengan garis pantai seluruhnya menyentuh Laut Tiongkok Selatan.
Wilayahnya dipisahkan ke dalam negara bagian di Malaysia Sarawak. Replika stupa
yang dapat ditemukan di Pusat Sejarah Brunei menjelaskan bahwa agama
Hindu-Buddha pada suatu masa dahulu pernah dianut oleh penduduk Brunei. Sebab
telah menjadi kebiasaan dari para musafir agama tersebut, apabila mereka sampai
di suatu tempat, mereka akan mendirikan stupa sebagai tanda serta pemberitahuan
mengenai kedatangan mereka untuk mengembangkan agama tersebut di tempat itu.
Replika batu nisan P’u Kung Chih Mu, batu nisan Rokayah binti Sultan Abdul
Majid ibni Hasan ibni Muhammad Shah Al-Sultan, dan batu nisan Sayid Alwi
Ba-Faqih (Mufaqih) pula menggambarkan mengenai kedatangan agama Islam di Brunei
yang dibawa oleh musafir, pedagang dan mubalig-mubaliq Islam, sehingga agama
Islam itu berpengaruh dan mendapat tempat baik penduduk lokal maupun keluarga
kerajaan Brunei. Islam mulai berkembang dengan sangat pesat di Kesultanan
Brunei sejak Syarif Ali diangkat menjadi Sultan Brunei ke-3 pada tahun 1425 M
karena sultan yang sebelumnya mengahwini puterinya dengan Syarif Ali. Sultan
Syarif Ali adalah seorang Ahlul Bait dari keturunan / pancir dari Cucu
Rasulullah Shalallahualaihi Wassallam yaitu Amirul Mukminin Hasan / Syaidina
Hasan sebagaimana yang tercantum dalam Batu Tarsilah / prasasti dari abad ke-18
M yang terdapat di Bandar Sri Begawan, Brunei. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Brunai dan Kerajaan Aru di Pantai Timur Sumatra? Seperti
disebut di atas, awal sejarah Kerajaan Brunai di Borneo Utara satu hal dan awal
sejarah wilayah di Borneo Utara adalah hal lain lagi. Lalu bagaimana sejarah sejarah
Brunai dan Kerajaan Aru di Pantai Timur Sumatra? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Brunai dan Kerajaan Aru di
Pantai Timur Sumatra: Awal Sejarah Kerajaan Brunai di Borneo Utara
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Awal Sejarah Kerajaan Brunai
di Borneo Utara: Kerajaan Aru dan Kehadiran Awal Peluat-Pelaut Eropa
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



