*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Nama
Jakarta (doloe Belanda menulisnya dengan Jacatra) sejatinya tidsak pernah
hilang, Hanya saja tenggelam selama era Belanda sejak VOC. Orang-orang Belanda
memperkenalkan nama (baru) Batavia untuk menggantikan nama Jacatra. Namun pada
era kebangkitan bangsa, ketika pribumi menulis nama Jakarta, orang Belanda
menganggap itu sebagai wujud bagian perlawanan.

awalnya adalah sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung, tepatnya sekitar
500 tahun silam. Seiring berjalannya waktu, kota bandar ini berkembang menjadi
pusat perdagangan yang ramai yang hingga kini menjadi ibukota Indonesia dengan
jumlah penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Jakarta mendapat
julukan “Kota 1001 Nama” karena banyaknya perubahan nama hinggga 13
kali. Selain nama Sunda Kelapa atau nama Batavia, masih ada nama lain, yakni
Jayakarta, Stad Batavia, Gemeente Batavia, Stad Gemeente Batavia, Jakarta Toko
Betsu Shi, Pemerintahan Nasional Kota Jakarta, Stad Gemeente Batavia, Kota
Praj’a Jakarta, Kota Praja Djakarta Raya. Pemerintahan Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Raya. Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (IDN Times). Namun yang jelas pada
intinya hanya nama Jakarta dan Batavia yang umum.
Lantas
bagaimana sejarah nama Jakarta? Seperti disebut di atas, Jakarta ditulis oleg
orang Belanda sebagai Jacatra. Nama Jakarta/Jacatra tidak pernah hilang hanya
saja tenggelam. Jakarta menjadi elemen perjuangan masa kebangkitan bangsa
Indonesia. Lalu bagaimana sejarah nama Jakarta? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Jakarta adalah Nama
Perjuangan: Nama Batavia dan Jacatra Bersaing Era Belanda
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Mempromosikan Nama Jakarta Meninggalkan
Nama Batavia (1950)
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




