Para pengikut nama Indian Archipelago sebelumnya antara lain John.Crawfurd
(dengan bukunya History of the Indian
Archipelago), CGC Reinwardt dan para sejumlah penulis Prancis.
Alfred Russel Wallace di dalam buku The Malay
Archipelago mendeskripsikan banyak aspek ilmu pengetahuan seperti keragaman flora
dan fauna serta keragaman budaya di Nusantara/Indisch Archipel. Russel memulai
kajiannya dari Semenanjung yang menjadi wilayah yurisdiksi Inggris. Namun
anehnya Russel melakukan penyelidikan ilmiah lebih banyak, lebih luas dan lebih
lama selama interval waktu (1654-1862) justru di wilayah yurisdiksi Hindia
Belanda seperti Jawa, Sumatera, Bali, Lombok, Borneo, Celebes, Timor, Moluccas
dan Papua. Satu fakta lainnya yang juga penting adalah Russel sendiri meminta/mendapat
izin melakukan penyelidikan ilmiah di wilayah Hindia Belanda justru dari
Pemerintah Hindia Belanda. Nah, lho! Tentu saja dalam hal ini AE Wallace tidak jujur,
fakta bahwa wilayah yurisdiksi Inggris, termasuk Semenanjung tidak memiliki
wilayah kepulauan (archipel/archipelago). Wilayah Semenanjung adalah tanah
daratan yang terhubung dengan benua Asia. Sepantasnya Wallace tidak membuat
judul Malay Archipelago, karena faktanya adalah (yang tetap eksis) adalah Indisch
Archipel. Namun, tentu saja Wallace, boleh jadi Wallace memiliki motif lain.
adalah nama liar yang sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah bahkan sangat
sulit dipahami secara politik. Mengapa? Nama yang sudah lama eksis dan sudah
lama pula diakui oleh orang-orang Inggris adalah Indisch Archipel atau Indian Achipelago.
Selama ini tidak ada nama Malay Archipelago, tetapi yang sudah ada adalah Malay
Peninsula (Semenanjung Malaya/Melayu). Orang-orang Inggris awalnya hanya
memperkernalkan Malay Peninsula (untuk menggantikan Land van Indie), Sampai
disini mungkin tidak ada masalah. Lalu kemudian orang Inggris semakin menjadi-jadi
dengan memperkenalkan nama Malay Archipelago. Disinilah masalahnya.
Nama Oost Indisch Archipel tidak hanya tetap
eksis. Sementara nama Malay Archipelago semakin dikenal. Meski demikian,
Indisch Archipel dan Malay Archipelago dianggap biasa-biasa saja. Boleh jadi
hanya dianggap nama yang berbeda dengan cara pandang yang sama pada suatu
(kawasan) yang sama. Akan tetapi pemahaman di tingkat akar rumput dalam
perkembangannya diinterpretasi berbeda (bahkan hingga ini hari).
Lantas
apakah ada orang-orang Belanda yang keberatan dengan judul yang diberikan
Russel dengan nama Malay Archipelago? Ada, tetapi show must go on. Lambat laun
orang-orang Belanda tidak memedulikannya lagi (dan lupa), tetapi nama Malay
Achipelago menggelinding terus di tingkat internasional yang menjadi
terminologi untuk menunjuk wilayah Nusantara (yang sebagian besar wilayah
Indonesia/Hindia Belanda). Nasi sudah menjadi bubur.

Notes on the Malay Archipelago and Malacca: Comfiled from Chinese Sources yang
diterbitkan tahun 1877 (isinya tentang geografi, yang sebagian besar
tempat-tempat di Hindia Belanda). Sebagaimana diketahui, lebih-lebih pada masa
kini, bubur inilah yang dinikmati orang Malaysia (termasuk para akademisi) yang
juga mengklaim wilayah Indonesia (dari Sabang hingga Merauke) juga sebagai
wilayah (alam) Melayu. Tampaknya Wallace, Groeneveldt dan juga diantara para
sarjana Malaysia dewasa ini, berbicara atas namanya (Melayu/Malaysia), tetapi
yang dibicarakan tentang hal orang lain (Hindia Belanda/Indonesia).
Sementara
buku AR Wallace menjadi buku penting yang terus dirujuk dalam dunia akademik,
nama Oost Indisch Archipel tetap eksis. Nama OI Archipel bahkan telah lama dijadikan
sebagai nama bidang keahlian di Universiteit te Leiden.
Sebagaimana diketahui salah satu pribumi yang
lulus sarjana pada bidang tersebut di Leidem adalah Raden Mas Kartono (abang
dari RA Kartini) yang lulus tahun 1900 (lihat Het vaderland, 08-03-1909).
Disebutkan ujian universitas di Leiden doctotral examen in de Taal- en Letterkunde
van de Oost Indisch Archipel, Raden Mas Pandji Sosro Kartono.
Sarjana-sarjana
Belanda dan sarjana-sarjana pribumi (Indonesier) tetap melestrikan nomenklatur
Oost Indisch Archipel. Karena nama itulah yang sesuai dan nama yang pertama
muncul jauh sebelum nama Malay Archipelago muncul. Archipelago dalam bahasa
Belanda ditulis Archipel (kepulauan). Indisch Archipel sudah sejak lama eksis. Seperti
disebiut di atas, bahkan pada fase perjanjian Traktat London 17 Maret 1824
sangat jelas dibedakan antara Land van Indie (Tanah Semenanjung) di satu sisi
dan Indisch[en] Archipel (kepulauan Hindia) di sisi lain (lihat kembali Nederlandsche
staatscourant, 19-05-1824).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Nama Kepulauan Indonesia Lebih
Awal Bila Banding Nama Kepulauan Melayu: Apakah Pemicu Perkara adalah AR
Wallace?
Pada
masa kini, para ahli dan para peneliti di Malaysia dengan santai mengutip dan
mengkampanyekan kemana-mana nama The Malay Archipelago (yang hanya merujuk pada
nama buku AR Wallace). Mereka tidak lagi memperhatikan sebelum nama itu muncul
sudah sejak lama eksis nama Indisch Archipel (Bahasa Belanda) atau Indian
Archipelago (bahasa Inggrsi). Seperti Halnya AR Wallace, para peneliti di
Malaysia tanpa merasa besalah menyatakan bahwa hanya ada Kepulauan Melayu
(Malay Archipelago) dan tidak ada nama Kepulauan Indonesia (Indisch
Archipel/Indian Archipelago).
Dengan mengacu pada nama Malay Archipelago,
maka para peneliti di Malaysia berbicara kemana-mana. Para peneliti sejarah
Malaysia dengan seenaknya menyatakan Kepulauan Melayu itu adalah Semenanjung
termasuk pulau-pulau dari Madagaskar di barat hingga pulau-pulau kecil di
Pasifik dan Selandia Baru yang dalam dalam hal ini termasuk Sumatra, Jawa,
Borneo, Sulawesi dan Papua. Oleh karena itu karena bahasa kebangsaan Malaysia
adalah Bahasa Melayu, maka bahasa Melayu termasuk bahasa Melayu di Indonesia. Anehnya pula, zaman sudah lama berubah, para peneliti di Malaysia menyebut Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu.
Lalu apakah negara Malaysia yang berpusat di Semenajung juga akan mengatakan negara Malaysia juga termasuk (negara)
Indonesia? Oalah!
Baru-baru
ini PM Malaysia mengajak Presiden Indonesia (Joko Widodo) agar bahasa Melayu
(yang notabe bahasa kebangsaan negara Malaysia) dijadikan sebagai bahasa rasmi kedua ASEAN. Akan tetapi dengan tegas para
peneliti dan ahli Indonesia menjawab: Tidak bisa!. Yang akan dijadikan
sebaiknya Bahasa Indonesia. Nah. lho! Juga belum lama ini ada guru besar di
Malaysia dengan pede menyatakan bahwa tidak ada Bahasa Indonesia, yang ada
adalah Bahasa Melayu. Pie, to! Apakah para sarjana di Malaysia tidak mengetahuai ikrar Bahasa Indonesia tahun 1928 dan nama Bahasa Indonesia dinyatakan dalam UUD RI tahun 1945? Bukankah soal ilmu pengetahuan tidak hanya soal kejujuran ilmiah tetapi juga luasnya pengetahuan yang dimiliki.
Kini, daftar semakin panjang. Beberapa waktu
yang lalu juga dari Malaysia ada klaim bahwa tari Tortor dan perkusi Gondang
Sambilan adalah warisan Malaysia; rendang adalah warisan budaya Malaysia; tari
piring, tari Pended, lagu Rasa Sayange, reog Ponorogo, batik, keris dan
sebagainya. Belum lama ini juga ada yang mengklaim candi Borobudur,
candi/piramida Gunung Padang adalah warisan Melayu (Malaysia). Ini ibarat
pepatah ‘Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri’.
yang terjadi masa ini tentang klaim-mengklaim, sebenarnya diawali oleh yang
mulia Alfred Russel Wallace. Dengan pongahnya Wallace menamai bukunya The Malay
Archipelago, padahal nama yang umum dan yang terus dipakai bahkan oleh orang-orang Inggris sendiri adalah nama Indisch
Archipel atau Indian Archipelago. Wallace tampaknya tidak memahami arti kolegial, tidak menghargai dan
menghormati para koleganya ahli-ahli, sarjana-sarjana tetangga Belanda.
Wallace merasa tidak bersalah meski sebagian besar hasil penelitiannya di dalam
buku The Malay Archipelago adalah tentang temuan di wilayah Hindia Belanda
(Indisch Archipel/Indian Archipelago). Lalu apakah Anda ingin seperti AR
Wallace? Lantas apakah Anda ingin menulis sejarah baru? Jangan lupa ada sejarah
lama.
Pada masa ini dunia internasional tidak mau
terjebak dengan motif Wallace. Cukup sudah. Cukup terminologi The Malay
Archipelago. Para penutur bahasa asing sekarang mengetahui persis ada perbedaan
yang signifikan antara Bahasa Melayu dengan Bahasa Indonesia. Namun mereka
mengetahui bahwa Bahasa Indonesia berakar dari Bahasa Melayu. Akan tetap Bahasa
Indonesia kini sudah bercabang beranting. Oleh karena itu, para penutur bahasa
asing untuk menjaga jarak aman lebih kerap mereka menyebut BAHASA untuk
menyatakan Bahasa Indonesia. Boleh jadi dengan yang dimaksudkan dengan BAHASA,
itu termasuk Bahasa Melayu. Namun kini peminat Bahasa Indonesia semakin hari
semakin banyak di seluruh muka bumi. Dengan mengikuti (sistem) algoritma nama BAHASA akan segera
disempurnakan menjadi Bahasa Indonesia (contoh yang terbaru adalah Netlix yang
menggunakan Bahasa Indonesia).
Orang
Inggris berbeda dengan orang Belanda, orang Malaysia berbeda dengan orang
Indonesia. Orang Malaysia seharusnya tidak mengikuti orang Inggris, Tapi fakta
sebaliknya. Orang Malaysia mengikuti Orang Inggris. Akibatnya yang timbul
adalah permasalahan di Malaysia? Malaysia adalah sebuah negara seperti halnya
negara Indonesia. Lalu apakah orang Malaysia dapat mengatakan bangsa Melayu
atau bangsa Malaysia? Yang jelas di Indonesia: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan
Satu Bahasa—Indonesia. Biarlah Malaysia dengan pilihan sendiri, biarkan pula
Indonesia dengan caranya sendiri.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





