*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Siapa
sebenarnya Hang Tuah? Ada yang mengklaim tokoh sejarah Malaysia dari era
Kerajaan Malaka. Ada juga yang mengklaim tokoh sejarah Indonesia masa lampau.
Okelah sampai disitu masalah. Yang jelas era Hang Tuah negara Indonesia dan
negara Malaysia belum terbentuk. Wilayah dimana tokoh Hang Tuah beada di
wilayah yang disebut Nusantara. Namun yang menjadi pertanyaan dimana asal usulnya
berada?

Djakarta pada tahun 1950. Nama-nama selain Hang Tuah sebagai nama jalan di
Jakarta Selatan adalah Hang Lekir dan Hang Jebat. Nama Hang Tuah sebagai nama
julan juga ditemukan antara lain di Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang dan
Bali. Nama Hang Tuah juga telah digunakan untuk nama Universitas Hang Tuah di
Surabaya dan nama Sekolah Menengah Kejuruan Pelayaran Hang Tuah di Kediri.
Tentu saja tidak hanya itu, Nama Hang Tuah juga ditabalkan namanya menjadi nama
kapal perang Indonesia, KRI Hang Tuah. Nama Hang Tuah juga dijadikan nama
sekolah di Medan Belawan. Lalu mengapa tidak ada nama Hang Tuah di Tapanuli
Bagian Selatan?
Lantas
bagaimana sejarah Hang Tuah? Seperti disebut di atas, Hang Tuah adalah nama
tokoh besar di masa lampau. Namun bagaimana sejarah Hang Tuah yang sebenarnya
masih suatu perdebatan. Semua pihak mengklaim. Lalu bagaimana sejarah Hang Tuah?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Hang Tuah
dan Kerajaan Malaka: Gelar Hang di Kerajaan Aroe Sumatra Timur
Hang
Tuah adalah nama gelar. Nama gelar ini terdiri dari dua kata Hang dan kata
Tuah. Dalam sejarah kuno, nama Hang adalah nama gelar, sedangkah Tuah adalah
nama gelar yang menyertai Hang. Sebelum memahami gelar Hang, haruslah terlebih
dahulu memahami nama Tuah.
Dalam data sejarah kuno, kata tuah tidak
dikenal. Kata tuah baru muncul belakangan (abad ke-19). Dalam bahasa Melayu
kata tuah adalakanya ditulis tuha. Dalaman bahasa Melayu. Kata tuah (toeah) dan
tuha (toeha) mengindikasikan maksud yang sama pada masa ini tua (old).
Hang
Tuah dipersepsikan di Malaka/Malaya (Hikayat Hang Tuah) sebagai nama/gelar
tokoh hebat. Oleh karena itu kata tuha atau tuah dalam hal ini tidak
dimaksudkan tua dalam usia. Kata Tuah dalam nama/gelar Hang Tuah haruslah
dihubungkan dengan nama yang agung, besar, yang terhormat dan lain sebagainya.
Sampai sejauh ini nama/kata Tuah tidak
ditemukan dalam bahasa Melayu, kecuali kata tuah dan tuha sebagai kata yang
berkaitan dengan usia. Kata tuah, tuha juga dalam bahasa Melayu pada abad ke-19
juga ada yang menulis tuwa/toewa, Kata tuah/tua dalam arti agung hanya dikenal
dalam penduduk Batak, seperti nama saya Matua, Simatua, namartua, sarimatua. Kata-kata
tua atau dalam hal ini tidak dikaitkan dengan usia, tetapi suatu harapan, suatu
yang diagungkan atau dihormati. Khusus untuk kata/nama matua tidak hanya
ditemukan di Batak, juga ada nama kota kuno di Sumatra Barat (Matua); di
Sulawesi, diu Maori dan sebagainya.,
Lantas
apa itu Hang? Kata hang sebagai nama/gelar sudah dikenal pada zaman kuno. Nama
Hang sebagai nama gelar disebutkan dalam prasasti Batugana 1. Dalam prasasti
ini juga ditenukan nama/gelar Mpu. Prasasti ini diduga berasal dari abad ke-12
dan ke-14. Nama/gelar Hang juga ditemukan dalam teks prasasti Sitopayang 1.
Prasasti ini diduga berasal dari abad ke-13. Nama/gelar Hang dan Mpu juga
ditemukan pada prasasti Prasasti Sitopayan II (abad ke-13).
Nama/gelar Hang diduga berasal dari zaman
kuno. Ini dapat dihubungkan dengan teks prasasti-prasasti yang berasal dari
abad ke-7. Dalam prasati Kedoekan Boekit (682 M) disebutkan nama/gelar raja
sebagai Dapunta Hyang Nayik. Apakah Dapunta dalam hal ini kemudian mereduksi
menjadi Mpu dan Hyang mereduksi menjadi Hang? Dalam prasasti Talang Tuwo (684
M) juga disebut nama/gelar raja Dapunta Hyang Srinagajaya.
Nama/gelar
Hang ini tampaknya bermula di pantai timur Sumatra. Seperti disebut di atas,
nama/gelar Hang ditemukan pada prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah
aliran sungai Barumun, Padang Lawas, Tapanuli (Batugana 1, Sitopayan 1 dan
Sitopayan 2). Juga nama/gelar Hang/Hyang pada prasasti-prasasti yang berada di
wilayah Palembang (Kedoekan Boekit dan Talang Tuwo). Dalam prasasti Kedoekan
Boekit disebutkan raja Dapunta Hyang Nayik berangkat dari Minana (nama yang
diduga kini Binanga, nama kota kecamatan di Padang Lawas). Bukankah nama-nama
tempat ditemukan nama/gelar Hang berada cukup dekay dengan Malaka/Malaya?
Banyak sejarawan yang telah membuktikan
buku/teks Hikayat Hang Tuah adalah mitos. Tidak ada bukti nama/gelar itu ada di
Semenanjung Malaya, dan cerita dalam teks juga banyak yang tidak masuk akal.
Boleh jadi bahwa nama Hang Tuah di Malaya/Malaka adalah cerita/mitos belaka,
tetapi boleh jadi itu benar, hanya saja tidak di Malaya/Malaka tetapi di pantai
timur Sumatra khususnya Tapanuli Selatan.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Hang
Tuah Era Maritim Pra Eropa: Kerajaan Aroe versis Kerajaan Malaka
Di
Malaysia disebut Hikayat Hang Tuah disebut bukan mitos tetapi (fakta) sejarah.
Seperti disebut di atas, nama/gelar Hang Tuah faktanya tidak ditemukan di
wilayah Melayu di Malaysia (Semenajung Malaya), justru nama/gelar itu ditemukan
di Tapanuli (Padang Lawas). So, bagaimana sejarah yang sebenarnya tentang Hang
Tuah yang ditipersepsikan di wilayah Melayu (Malaysia)? Dalam sejarah Melayu
disebutkan nama kapal Hang Tuah diberi nama Mendam Berahi. Kapal yang digunakan
Hang Tuah (beroperasi 1498 sampai 1511).
Kapal ini digunakan pada masa Kesultanan
Melaka pada abad ke-16 di bawah kendali Laksamana Hang Tuah saat ia melakukan
perjalanan ke 14 negara atau kota. Kapal ini khusus dibangun untuk membawa
pesan kepada raja Majapahit akan keinginan raja Melaka untuk menikahi putri
raja Majapahit. Namun anehnya kisah ini menjadi dongeng saja karena fakta dalam
hikayat itu nama Gajah Mada, ysudah meninggal dunia tahun 1365. Catatan
mengenai kapal ini hanya terdapat dalam Hikayat Hang Tuah, catatan Melayu lain
seperti Sejarah Melayu tidak mencatatnya. Malah catatan Portugis tidak mencatat
Mendam Berahi, meskipun rujukan kepada satu kapal besar dapat dilihat dalam
Suma Oriental karya Tomé Pires, Lagipula, Hikayat Hang Tuah dikarang setelah
abad ke-17 (lebih dari 100 tahun setelah peristiwa itu), jadi informasi di
dalamnya mungkin tidak tepat. Disebutkan kapal Mendam Berahi panjangnya 60 gaz
(180 kaki atau 54,9 m) dan lebar 6 depa (36 kaki atau 11 m). Menurut kajian
Rohaidah Kamaruddin, penukaran satuan yang disebutkan dalam manuskrip Melayu
lama akan menghasilkan panjang 50,292 m dan lebar 10,9728 m. Kapal ini dibuat
dengan kerangka yang kuat, dindingnya dibuat sangat indah dengan diberi lis
(bingkai) dari kayu, dan ditutupi oleh kain beledu berwarna kuning, merah, dan
hijau. Atapnya (kemungkinan disini bermaksud atap dari kabin belakangnya)
terbuat dari kaca kuning dan merah, dengan beberapa pola yang menggambarkan
awan dan petir. Hiasan lain pada kapal itu adalah kain kuning kerajaan dan
sebuah kursi singgasana. (Wikipedia)
Benar
apa tidak sejarah Hang Tuah di wilayah Melayu, nama kapal yang diberi nama
Mendam Berahi ada baiknya juga dicari artinya apa dan ditemukan di wilayah
mana. Dalam bahasa Melayu kata mendam adalah menyimpan seperti memendam amarah
(kosa kata mendam dalam Bahasa Indonesia adalah tahan). Lalu apa arti kata
berahi? Dalam bahasa Melayu kata berahi berarti sensual. Lantas apakah dalam
hal ini nama kapal Hang Tuah pantas dengan nama Mendam Berahi, apakah relevan
dengan nama memendam sensual. Itu terserah andalah kalau hanya sekadar cerita,
hikayat atau mitos. Yang penting bisa menyenangkan dan membuat senang.
Suka-sukamulah.
Dalam bahasa Angkola Mandailing terdapat nama
Mendam Berahi yang mirip yang lebih sesuai dengan konteks kapal Hang Tuah. Kata
‘mundom’ dalam bahasa Angkola Mandailing adalah suatu wujud yang timbul dari
dalam air. Ibarat air, batu yang sebagian besar berada di dalam air dan
sebagian kecil berada di atas permukaan air. Wujud batu di atas permukaan air
ini disebut ‘mundom’ dalan hal ini ‘batu mundom’. Di wilayah Angkola Mandailing
juga ditemukan nama tempat Bator Moendom. Dalam konteks kapal Hang Tuang nama
Mendam Berahi masih lebih tampak relevan jika dibandingkan kata mendam dalam
bahasa Melayu. Lalu apakah ada arti yang mirip dengan kata berahi dalam bahasa
Angkola Mandailing. Tamaknya tidak ada. Namun ada yang mirip yakni ‘burari’
yang artinya keluar dari teror untuk mengalahkan; ‘birara’ atau ‘burara’=terlihat
merah karena marah’. Diantara kata-kata ini kata ‘burari’ mirip secara fonetik
dengan kata ‘berahi’ yang diartikan dalam bahasa Melayu sebagai sensual.
Nama
Mendam Berahi tampaknya ditemukan nama yang sesuai dengan kapal Hang Tuah di
dalam bahasa Angkola Mandailing. Lantas apakah nama kapal ini pernah
benar-benar ada di pantai timur Sumatra (Padang Lawas, Tapanuli) yang mana nama
kapal Mendam Berahi di pantai barat Semenanjung yang menjadi nama
fiktif/cerita? Lantas apakah nama/gelar Hang Tuah juga pernah benar-benar ada
di Padang Lawas?
Dalam laporan Mendes Pinto, seorang Portugis
di Malaka yang pernah berkunjung ke Kerajaan Aroe Batak Kingdom di pantai timur
Sumatra tahun 1537 menyatakan pasukan Kerajaan Aroe beberapa kali menyerang (kerajaan)
Malaka, dan orang di Malaka selalu takut kepada Kerajaan Aroe. Sebagaimana
diketahui kota (kerajaan) Malakan ditaklukkan Portugis pada tahun 1511. Sudah
barang tentu kapal Hang Tuah bernama Mendam Berwahi tidak ada lagi pada saat
Mendes Pinto, karena kapal Hang Tuah disebutkan hanya beroperasi pada tahun 1498 sampai 1511. Namun dalam laporan Portugis
terdahulu Tome Pires tidak menyebitkan nama Hang Tuah maupun nama Mendam
Berahi. Nah, jika dihubungkan laporan Mendes Pinto bahwa Kerajaan Aroe pernah
beberapa kali menyerang Malaka, itu harus diartikan keberadaan kapal menurut
versi bahasa Angkola Mandailing sebelum kehadiran pelaut-pelaut Portugis di
Malaka (sejak 1509). Lalu mengapa Mendes Pinto tidak mencatat nama Hang Tuah
dan nama Mendam Berahir di Kerajaan Aroe? Boleh jadi kedua nama itu telah lama
berakhir di masa lampau, yang dibangkitkan di di wilayah Melayu sebagai bahan
cerita?
yang menjadi persoalan, hingga kini masih banyak para ahli, sejarawan di
Malaysia menganggap hikayat Hang Tuah sebagai fakta sejarah. Fakta bahwa sejak
era Hindia Belanda, banyak peneliti Belanda telah meragukan isi hikayat Hang
Tuah yang ditulis di Semenanjung Malaya. Buku teksnya tidak hanya satu, ada beberapa
dengan dengan versi yang berbeda-beda. Akan tetapi tentu saja, belum lama ini
ada juga sejarawan Malaysia yang melakukan otokoreksi bahwa disebutnya hikayat
Hang Tuah adalah fiksi.
Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Yang jelas
di sejumlah kota ada yang ditabalkan nama Hang Tuah sebagai nama jalan.
Misalnya di Jakarta, tidak hanya nama Hang Tuah yang dijadikan nama jalan, juga
nama-nama dengan gelar Hang, seperti Hang Lekir, Hang Jebat dan sebagaimanya.
Lantas apakah nama-nama jalan Hang Tuah di Indonesia harus dikoreksi pula? Ntar
dulu! Sebab pertanyaan yang muncul adalah apakah ada versi Hang Tuah yang
sebenarnya sebagai fakta sejarah? Nah, itu dia. Seperti disebut di atas,
nama/gelar Hang Tuah ditemukan di Tapanuli (Padang Lawas) dan juga nama kapal
Hang Tuah yang diberi nama Mendam Berahi dimana kosa kata mendam dan kosa kata
berahi ditemukan dalam bahasa Angkola
Mandailing. Apakah bukti-bukti lain masih perlu ditunggu kapan ditemukan?
Pertanyaan
yang memerlukan jawaban dalam penyelidikan sejarah adalah bagaimana sejarah
Kerajaan Aroe Batak Kingdom? Dalam blog ini sudah beberapa artikel yang
membahasnya. Banyak bukti yang mengindikasikan Kerajaan Aroe Batak Kingdom
adalah kerajaan besar yang telah berumur tua (namun diduga telah memudar sejak
menguatnya Kerajaan Atjeh, hingga nama Kerajaan Aroe yang masih tersisa.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







