*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pelembagaan
pendidikan sejak awal di negara Malaysia (baca: wilayah Semenanjung termasuk
Penang dan Singapoera) pada dasarnya memiliki pengalaman yang kurang lebih sama
dengan di Indonesia (baca: Hindia Belanda). Namun dalam perjalanan sejarah
masing-masing, terutama sejak 1824 proses pelembagaan pendidikan mengalami
perbedaan yang dari waktu ke waktu terus melebar. Oleh karennya sejarah
pendidikan di Malaysia dan sejarah pendidikan di Indonesia berbeda. Meski
demikian ada fase tertentu dalam sejarah pendidikan di Malaysia para guru datang
atau didatangkan dari Indonesia.

diselia oleh Kementerian Pendidikan Malaysia (KPM). Pendidikan Malaysia boleh
didapatkan dari sekolah tanggungan kerajaan, sekolah swasta atau secara
sendiri. Sistem pendidikan dipusatkan terutamanya bagi sekolah rendah dan
sekolah menengah. Kerajaan negeri tidak berkuasa dalam kurikulum dan aspek lain
pendidikan sekolah rendah dan sekolah menengah, sebaliknya ditentukan oleh
kementerian. Hanya pendidikan di sekolah rendah diwajibkan dalam undang-undang.
Oleh itu, pengabaian keperluan pendidikan selepas sekolah rendah tidak
melanggar undang-undang. Sekolah rendah dan sekolah menengah diuruskan oleh
Kementerian Pelajaran Malaysia tetapi dasar yang berkenaan dengan pengajian
tinggi diuruskan oleh Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia yang ditubuhkan
pada tahun 2004. Sejak tahun 2003, kerajaan memperkenalkan penggunaan bahasa
Inggeris sebagai bahasa pengantara dalam mata pelajaran yang berkenaan dengan
Sains dan Matematik Sekolah Kebangsaan. Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa
pengantar di Sekolah Kebangsaan merupakan salah satu jenis sekolah rendah. Satu
jenama yang diberi kepada sekolah yang dikenal pasti cemerlang dalam klusternya
daripada aspek pengurusan sekolah dan kemenjadian murid. Pewujudan sekolah
kluster bertujuan melonjakkan kecemerlangan sekolah dalam sistem pendidikan
Malaysia dan membangun sekolah yang boleh dicontohi oleh sekolah dalam kluster
yang sama dan sekolah lain di luar klusternya. Bahasa Cina atau Bahasa Tamil
digunakan sebagai bahasa pengantar. Sekolah Jenis Kebangsaan merupakan salah
satu jenis sekolah rendah. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah pendidikan di Malaysia? Seperti disebut di atas, sejarah pendidikan di Malaysia berbeda
dengan sejarah pendidikan di Indonesia yang menyebabkan terdapat perbedaan
dalam sistem pendidikan. Dalam fase tertentu sepanjang sejarah pendidikan di
Malaysia terjadi kehadiran guru-guru dari Indonesia. Lalu bagaimana sejarah penidikanm
di Malaysia? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia –
Pendidikan di Malaysia Sejak Era Inggris; Guru Didatangkan dari Indonesia
Hingga
tahun 1885 Inggris belum memiliki arti yang penting di Semenanjung. Tidak
seperti Belanda di Hindia Belanda. Wilayah yurisdiksi Inggris begitu luas di
muka bumi, meski banyak orang dan militer tetapi akibat terbagi habis, di
wilayah kecil hanya sedikit yang berada di wilayah Semenanjung. Hanya karena
ada beberapa kapal perang Rusia lewat di selat Singapoera dan berhenti selama
waktu tertentu, banyak penduduk Singapoera melarikan diri ke Malaka dan Riau
(lihat Soerabaijasch handelsblad, 07-12-1885). Pada fase ini Singapoera masih
rapuh dan kedudukan Gubernur di Penang masih sangat lemah.
Gubernur Straits Settelement (Semenanjung
Malaka) berkedudukan di Penang. Perang di Kwala
Lompoer berakhir tahun 1875, pemerintah Inggris lalu membentuk pemerintahan di
Selangor. Ibukota Residentie Selangor ditetapkan di Kwala Lompoer (menggantikan
Klang?). Residen pertama (Davidson) diangkat tahun 1875. Sejak tahun 1874
Selangor dan Soengei Odjoeng dibawah protektorat Inggris. Selangor, Perak,
Sungei Oedjoeng dan Djeleboe, Pahang dan Negeri Sembilan (yang terikat dalam
satu konfederasi). Wilayah-wilayah lainnya langsung dibawah Inggris yakni
Penang, Malaka, Singapoera dan Province Wyl (Dindings). Pada tahun 1874 di
Perak ditempatkan seorang Residen (yang pertama Bich). Gubernur Straits
Settelement yang berkedudukan di Penang kemudian dipindahkan ke Taiping. Gubernur
sendiri bertanggung jawab kepada Menteri Koloni (di Inggris). Hal yang pertama
dilakukan Inggris di Kwala Loempoer adalah membangun rumah residen sebagai
pusat pemerintahan Inggris di Residentie Selangor. Kedua, pasukan Inggris yang
semakin banyak membangun garnisun militer dan pos polisi. Orang-orang yang
membantu Inggris dalam awal pemerintahan di Kwala Lompoer ini bukan orang-orang
Melayu, Cina atau Mandailing dan Angkola tetapi didatangkan dari India (India,
Bengalen, Sigh) baik sebagai tentara, polisi maupun pegawai-pegawai
pemerintahan.
Untuk
menghindari dari berbagai ancaman asing, pada tahun 1896 Kwala Loempoer di
pedalaman ditetapkan sebagai ibukota konfederasi Semenanjung. Ini dengan
sendirinya Kwala Lompoer akan menjadi ibukota Residentie Selangor juga menjadi ibukota
konfederasi (negara) Semenanjung. Saat penetapan ibukota konfederasi ini (1896)
Gubernur masih tetap berkantor di Taiping (Perak) sambil menunggu selesainya
bangunan baru Kantor Gubernur. Bangunan kantor ini sangat megah dan selesai
tahun 1900. Sejak inilah pengembangan pendidikan dimulai di Semenanjung (Straits
Settelement).

pemerintah banyak terlibat dalam pengeeembangan pendidikan modern (aksara
Latin), bahkan sejak 1821, di Semenanjung (pemerintah) Inggris memberikan
kebebasan kepada semua penduduk, baik penduduk pribumi (Melayu) maupun asing (Cina,
India/Bengalen, Minang kabau, Angkola/Mandailing, dll) untuk menyelenggarakan
pendidikan sendiri-sendiri. Orang Cina mendatangkan guru dari Tiongkok, orang
India/Bengal mendatang guru dari India, orang Minangkabau mendatangkan guru
dari Sumatra Barat dan orang Angkola Mandailing mendatangkan guru dari
Tapanoeli.
Kapan introduksi pendidikan modern (aksara Latin) dimulai di Semenanjung
tidak diketahui secara pasti. Sudah barang tentu itu dimulai di kota-kota
pelabuhan seperti Penang, Malaka, Singapoera, Djohor dan Pahang serta Klang.
Bagaimana di Koeala Loempoer? Yang jelas pada masa transisi ibu kota negara
dipindahkan dari Taiping ke Koeala Loempoer elemen penduduk asli Semenanjung
(Melayu) mulai berupaya membujuk penduduk pribumi Indonesia (Hindia Belanda) beremigrasi
ke Semenanjung seperti ke Malaka dengan iming-iming prospek yang lebih baik
(lihat antara lain De nieuwe vorstenlanden, 11-02-1889).
Pada tahun 1850 di Afdeeling Mandailing dan
Angkola diintroduksi pendidikan dengan mendirikan sekolah rakyat di
Panjaboengan dan Padang Sidempoean. Pada tahun 1854 dua lulusan terbaik Si Asta
(Panjaboengan) dan Si Angan (Padang Sidempoean) dikirim untuk mengikuti
pendidikan kedokteran di Batavia (Docter Djawa School; dibuka tahun 1851). Dua
siswa Mandailing dan Angkola yang mengikuti pendidikan dokter ini adalah siswa
pertama yang berasal dari luar Jawa. Pada tahun 1856 Dr. Asta ditempatkan di
Mandailing dan Dr. Angan di Angkola. Pada tahun 1857, Si Sati alumni sekolah
rakyat di Panjaboengan berangkat studi ke Belanda untuk mendapatkan akte guru.
Pada tahun Si Sati yang telah mengubah namanya menjadi Willem Iskander selesai
studi di Belanda dan kembali ke kampung halaman dan tahun 1862 Willem Iskander
mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobatoe (Mandailing). Siswa-siswa
yang diasuh Willem Iskander berasal dari lima sekolah rakyat yang ada di
Afdeeling Mandailing dan Angkola. Pada tahun 1864 Kweekschool Tanobato ini
dinyatakan sekolah guru yang terbaik di Nederlandsch Indie (baca: Hindia
Belanda). Pada tahun 1865 sekolah ini diakuisisi pemerintah sebagai sekolah
guru negeri (sebelumnya sudah ada dua sekolah guru negeri: di Soerakarta
didirikan tahun 1850 dan di Fort de Kock tahun 1856). Dengan demikian sekolah guru Tanobatoe adalah
sekolah guru negeri yang ketiga. Lulusan sekolah guru ini disebarkan ke seluruh
Tapanoeli (bahkan ada yang merantau ke Semenanjung).
penduduk pribumi Semenanjung (Melayu) berupaya membujuk penduduk pribumi
Indonesia bermigrasi, sementara sudah sejak lama dan sudah cukup banyak
penduduk pribumi Indonesia yang bermigrasi ke Semenanjung seperti Mandailing,
Angkola dan Minangkabau? Sudah barang tentu untuk menambah kekuatan Melayu
dengan memperbanyak populasi dari wilayah serumpun untuk mengimbangi populasi
Cina dan India yang terus meningkat.

Semenanjung dapat diperhatikan di Kedah pada tahun-tahun sebelum terjadinya
perang saudara di Selangor (antara Raja Mahdi dan Tuanku Kudin) sudah terdapat
20.000 kuli dari Tiongkok yang bekerja di tambang-tambang timah (lihat
Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
25-10-1872). Populasi Cina di Perak juga terus meningkat. Sebagaimana halnya
dengan Perak, lalu kemudian juga terjadi di Selangor. Ini bermula di Laroet,
Perak ditemukannya tambang timah terbaik. Pada akhir 1873 hanya tersisa 4.000
jiwa di district Laroet. Lalu Inggris datang dan melakukan perjanjian dengan
Soeltan Perak pada tanggal 20 Januari 1874. Tidak lama kemudian pekerja
mengalir lagi ke Laroet. Pada akhir 1874 terdapat sebanyak 33.000 pendatang
baru yang mana sebanyak 26.000 Cina. Pada awal tahun 1874 hanya terdapat 30
tambang tetapi pada akhir tahun 1874 sudah sebanyak 120 buah tambang yang
menghasilkan 1.584.000 dollar (lihat Sumatra-courant: nieuws- en
advertentieblad, 30-10-1875). Nama Laroet kemudian berubah menjadi Taiping
(ibukota konfederasi Semenanjung). Tidak lama kemudian hal serupa terjadi di
Selangor. Ini bermula bahwa ibukota Selangor beribukota Langat dalam beberapa
tahun terakhir telah berkembang pesat. Inggris memburu Raja Mahdi, pada bulan
Agustus 1874 Kapitein Swettenham menduduki Langat, wilayah yang sangat kaya
hasil tambang timah. Inggris melakukan perjanjian dengan Sultan Wilayah ini
dilaporkan juga kaya akan kayu berharga, di mana gula, kopi dan tembakau juga
ditanam (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 30-10-1875). Dalam
Perang Selangor ini Radja Mahdi didukung orang-orang Angkola Mandailing di
pedalaman (wilayah Koeala Loempoer) sementara lawan politiknya didukung oleh
orang Cina. Atas bantuan Inggris orang Melayu dan pengikut Radja Mahdi tersingkir
dan juga orang Cina mendapat angin yang mana kemudian orang Angkola Mandailing
terpinggirkan. Sejak inilah pendatang Cina semakin banyak di Koeala Loempoer
ditambah lagi ribuan kuli Cina didatangkan dari Tiongkok.
Dalam
konteks inilah penduduk pribumi Semenanjung (Melayu) tertinggal dalam pendidikan
modern (aksara Latin). Orang Melayu masih terikat dengan tradisi sekolah agama
(Islam) dimana aksara yang digunakan huruf Jawi (Arab gundul). Hanya penduduk
pribumi asal Indonesia yang memiliki pengetahuan aksara Latin. Sementara orang
India sebagian masih dengan aksara India dan sebagian yang lain dengan aksara
Latin. Sedangkan orang-orang Cina dengan aksara sendiri (aksara Cina). Dalam
hubungan ini orang Inggris yang semakin banyak di Semenanjung tentu saja dengan
aksara Latin. Adanya prinsip diantara orang Melayu, bahwa Melayu adalah Islam
(preferensi ke aksara Jawi), menjadi satu halangan sendiri untuk menerima dan
juga sulit memiliki akses ke pendidikan modern (aksara Latin). Orang-orang
pendatang (Mandailing, Angkola dan Minangkabau) meski sudah terbiasa dengan
aksara Latin juga masih diajarkan aksara Jawi.
Sejak awal era Pemerintah Hindia Belanda
(1817) introduksi pendidikan modern (aksara Latin) terus diperluas, tidak hanya
di kota-kota besar juga hingga ke kota-kota kecil. Lebih-lebih sejak dibukanya
sekolah guru tahun 1851 di Soeracarta yang lalu kemudian sekolah guru dibuka di
Fort de Kock tahun 1856 yang selanjutkan dibuka di Tapenoeli (Tanobato,
Mandailing) pada tahun 1862 tidak hanya jumlah guru yang bertambah tetapi juga
perluasan sekolah dan penerimaan murid semakin banyak. Dalam hubungan inilah
semakin banyak penduduk di tiga wilayah dimana sekolah guru terdapat semakin
banyak yang terpelajar (dengan pengetahuan terkait dengan aksara Latin).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pendidikan di Malaysia Sejak
Era Inggris: Semakin Hari Semakin Berbeda dengan Indonesia
Secara
teknis Konfederasi Semenanjung (cikal bakal Negara Malaysia) sejatinya baru
dimulai pada era dimana ibu kota baru ditetapkan di Koeala Loempoer. Ibu kota
baru dengan permasalahan baru. Tentu saja bagaimana sistem pendidikan
diselenggarakan oleh pemerintah belum terpikirkan. Sistem pendidikan dalam arti
sistem yang dibangun pemerintah dan pemerintah hadir dalam pendidikan penduduk.
Bahkan untuk masalah yang esensial di bidang pertanian justru baru dimulai.
Selama ini pemerintah Inggris di Semenanjung
di bawah gubernur Straits Settelement sejak di (ibu kota) Penang, hanya fokus
pada ekonomi perdagangan hasil-hasil tambang khususnya timah dan jasa pelayanan
perdagangan yang dipusatkan di Penang dan Singapoera. Barang industri diimpor
dari India, Eropa dan Tiongkok. Sementara kebutuhan pokok penduduk utamanya
beras didatangkan dari Sumatra, Jawa, Burman dan Thailand. Pertanian di
Semenmanjung oleh penduduk pribumi dan pendudukan asal Mandailing, Angkola dan
Minangkabau hanya bersifat subsiten. Sedangkan kebutuhan beras dan
produk-produk pertanian terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya
populasi pendatang khususnya dari India dan Tiongkok. Dalam situasi ini Inggris
di Semenanjung mulai melihat masalah. Orang-orang Belanda mengolok-olok orang
Albion atau para putra Radja Edward di Semenanjung pemalas. Boleh jadi itu
karena sistem pertanian di Sumatra dan Jawa sudah lama eksis ditangan para
insinyur Belanda. Tahun 1904 mulai ada gagasan mengatasi masalah pembangunan
pertanian di Semenanjung. Para teknisi Inggris di Semenanjung meminta advis
dari lembaga pertanian di Ceylon dan juga lembaga pertanian di Hindia Belanda
(lihat Soerabaijasch handelsblad, 26-08-1904). Saran dari Ceylon meminta Inggris
di Semenanjung untuk membentuk departemen pertanian setelajh kunjungan lembaga
pertanian Ceylon yang dipimpin Mr J Willis di Perak, Selangor, dan Negri
Sembilan. Sementara itu, orang-orang Inggris di Semenanjung juga bertanya-tanya
mengapa Jawa begitu makmur (dalam pertanian) yang kemudian mereka berangkat ke
Jawa untuk mempelajarinya. Saran dari Jawa adalah tanah Semenanjung itu sangat
subur seperti halnya Sumatra dan diperlukan upaya. Upaya berikutnya yang
disarankan Willis untuk mendorong orang Melayu dari sikap malas.
Dalam
banyak hal Inggris di Semenanjung tertinggal jauh dari tetangga mereka di
Sumatra dan Jawa. Mengapa demikian? Orang-orang Inggris tersebar di berbagai
wilayah di muka bumi, di Amerika Utara, Jazirah Arab, India, Australia dan
bahkan Tiongkok. Wilayah Tanah Semenanjung di peta diaspora Inggris hanyalah
titik kecil yang sedikit kurang terperhatikan kecuali hanya semata-mata karena
perdagangan dan penambangan timah. Sebaliknya Belanda hanya fokus di Hindia
Barat (Suriname dan sekitar) dan Hindia Belanda. Energi Belanda lebih
terkonsentrasi di Hindia Belanda. Hal itulah meski banyak perang yang dihadapi
di Hindia Belanda, tetapi potensi alam dan penduduk yang besar menjadi alasan
yang kuat untuk intensifikasi dan ekstensifikasi semua bidang seperti
cabang-cabang pemerintahan, perdagangan, infrastruktur jalan dan pelabuhan,
kesehatan, pendidikan, pertanian, pertambangan dan sebagainya.
Seperti disebut di atas, di Hindia Belanda
introduksi pendidikan modern (aksara Latin) dengan mendirikan sekolah-sekolah
pemerintah bagi penduduk pribumi seiring dengan pendirian sekolah-sekolah bagi
orang Eropa/Belanda (ELS). Pada tahun 1851 sekolah guru pribumi (kweekschool) didirikan
di Soeracarta dan sekolah kedokteran pribumi (Docter Djawa School) didirikan di
Batavia. Lalu pada tahun 1856 didirikan sekolah guru di Fort de Kock tahun 1856
yang kemudian disusul pendirikan sekolah guru di Tanobato (Mandailing) tahun
1862 dan sekolah guru di Bandoeng tahun 1866. Sementara di Batavia sejak tahun
1860 dibuka sekolah menengah Eropa.Belanda (HBS) di Batavia. Pada tahun 1875
sekolah HBS dibuka di Soerabaja dan kemudian disusul pembukaan sekolah HBS di
Semarang tahun 1877. Pada fase ini juga pemerintah membuat program pengiriman
guru-guru muda untuk studi keguruan ke Belanda. Sementara itu, sehubungan
dengan kebijakan pemerintah untuk memberi slot (kuota) bagi pribumi dan Timur
Asing khususnya Cina di sekolah ELS tahun 1880an yang pada berikutnya dimungkinkan
untuk melanjutkan ke sekolah HBS. Pada tahun 1884 di Buitenzorg diselenggarakan
kursus (pendidikan) kedokteran hewan bagi pribumi dan di kota yang sama
kemudian dibuka sekolah pertanian beberapa tahun kemudian. Tidak lama kemudian
juga dibuka sekolah pemong (sekolah pemerintahan) di beberapa tempat seperti di
Jawa, Sumatra dan Sulawesi. Selanjutnya pada tahun 1896 seorang pribumi lulusan
HBS Semarang melanjutkan studi ke universitas di Belanda. Pada tahun 1902
sekolah kedokteran pribumi Docter Djawa School ditingkatkan menjadi sekolah
kedokteran STOVIA. Jumlah pribumi yang studi di perguruan tinggi di Belanda
semakin banyak, paling tidak tahujn 1908 sudah ada sekitar 20an mahasiswa. Tiga
tahun berikutnya orang Cina asal Hindia yang studi di Belanda sudah pula ada belasan
orang. Pada tahun 1907 dibuka sekolah
kedokteran pribumi (veeartsenschool) di Buitenzorg. Pada tahun 1909 di Batavia
dibuka sekolah hukum bagi pribumi dan kemudian pada tahun 1912 sekolah
pertanian Buitenzork ditingkatkan menjadi Midlebarelnadbouw School. Praktis
pada tahun 1912 semua sekolah-sekolah yang dibutuhkan di Hindia Belanda sudah
terpenuhi, sementara di Semenanjung masih merupakan babak baru pengembangan
pertanian dan [re]organisasi sistem pendidikan bagi pribumi.
Kurangnya
perhatian Inggris pada pengembangan sistem pendidikan di Semenanjung, boleh
jadi karena setiap penduduk, terutama penduduk pendatang telah berinisiatif
membentuk pendidikan (sekolah) sendiri-sendiri. Juga boleh jadi hasrat untuk
menyatukan sistem pendidikan di Semenanjung dianggap tidak urgen dengan melihat
pengalaman Inggris di India dimana sekolah-sekolah dengan bahasa pengantar
bahasa Inggris telah melahirkan golongan revolusioner diantara penduduk
pribumi. Sebenarnya apa yang terjadi di India, di Hindia Belanda juga sudah
muncul golongan revolusioner.
Satu hal yang membedakan situasi politik di
Semenanjung dan di Hindia Belanda adalah kesadaran orang Indo/Belanda sendiri.
Diantara orang Belanda khususnya orang Eropa-Indo/Belanda mulai muncul
pertentangan antara Belanda totok dan Belanda Indo yang pada akhirnya
orang-orang Indo/Belanda menginginkan pemisahan Hindia Belanda dari (kerajaan)
Belanda untuk mengatur diri sendiri. Tentu saja perlawanan Indo/Belanda ini
ditentang, Namun orang Indo/Belanda (keturunan Belanda di Hindia karena
perkawinan atau karena kelahiran dan sudah lama di Hindia) tidak patah arang
dan kemudian bekerjasama (berkolaborasi) dengan para pemimpin muda pribumi yang
telah mendapatkan pendidikanj Eropa/Belanda. Tumbuhnya berbagai organisasi
kebangsaan pribumi telah menambah tekanan bagi Pemerintah Hindia Belanda. Awal
perlawanan orang Indo/Belanda pada tahun 1884 lalu pada tahun 1913 digantikan
permulaan perlawanan Indo/Belanda dan pribumi terhadap otoritas pemerintah
dimana tiga pentolannya diasingkan yakni Dr EFE Douewes Dekker, Soewardi
Soerjaningrat dan Dr Tjipto Mangoenkosoemo. Gerakan tahun 1913 dengan cepat
memasuki alam pikiran para mahasiswa pribumi yang studi di Belanda yang
tergabung dalam organisasi Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia).
Sistem
pendidikan di Semenanjung masih terbilang jalan di tempat, hanya sedikit yang
dilakukan perbaikan. Sementara di Hindia Belanda sistem pendidikan terus
dikembangkan dan berkembang dengan sendirinya akibat adanya tekanan politik
dari orang Indo/Belanda yang bekerjsasama dengan orang-orang terpelajar
pribumi.
Sejak 1913 sekolah dasar Eropa diperluas
dengan membentuk sekolah dasar HIS (bentuk lain dari ELS). Pada tahun ini juga
dibukan sekolah HBS baru di Batavia (PHS). Untuk menampung luberan lulusan HIS
kemudian dibentukan sekolah menengah pertama (MULO). Lulusan MULO ini juga
dapat melanjutkan studi ke sekolah HBS yang menuntun jalan untuk melanjutkan
studi ke universitas di Belanda. Oleh karenanya jumlah pribumi yang menjadi
sarjana (setara Eropa) semakin banyak dari tahun ke tahun dan bahkan pada tahun
1913 sudah ada yang lulus dengan gelar doktor (Ph.D) di Belanda. Pada tahun ini
juga dibuka sekolah kedokteran baru di Soerabaja. Tidak lama setelah MULO
menghasilkan lulusan lalu dibuka sekolah perluasan HBS yang dikenal sebagai
sekolah menengah atas AMS di beberapa kota. Lulusan AMS juga dapat melanjutkan
studi ke universitas di Belanda. Akhirnya, untuk memperbanyak sarjana karena
hambatan ekonomi orang tua dan jarak yang jauh studi ke Belanda lalu pada tahun
1920 dibukan sekolah tinggi untuk menghasilkan sarjana tekni di Bandoeng (THS).
Salah satu lulusan pertama dari THS adalah Ir Soekarno (1926). Sebelumnya pada
tahun 1924 sekolah hukum (rechtschool) di Batavia ditingkatkan menjadi sekolah
tinggi (RHS) dan kemudian disusul pendirian sekolah tinggi kedokteran di
Batavia (GHS) tahun 1927. Lalu bagaimana
dengan di Semenanjung?
tinggi di Malaysia (dalam hal ini Universitas Malaya) pada dasarnnnya baru
dimulai pada era kemerdekaan dengan terbentuknya Federasi Malaysia pada tahun
1957.
Ini bermula dengan pendirian Universitas
Malaya di Singapoera yang pada tahun 1957 didirikan Universitas Malaya di Kualalumpur.
Seperti kita lihat nanti Universitas Malaya di Singapoera akan menjadi
Universitas Nasional Singapoera. Universitas Malaya di Singapoera sebelumnya
merupakan gabungan dua akademi di Singapoera yang salah satu memiliki sejarah
yang panjang sebagai sekolah kedokteran.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




