Ada empat prasasti yang berisi perjanjian hukum yang dibuat raja
Sriwijaya (Dapunta Hyang/Dapunta Hyang Sri Jayanaga) yakni prasati Telaga Batu
(wilayah Palembang), prasasti Kota Kapoer (wilayah Bangka), prasasti Karang
Brahi (wilayah Jambi) dan prasasti Palas Pasemah (wilayah Lampoeng). Empat
tempat prasasti perjanjian hukum ini diduga sebagai pusat perdagangan
(kerajaan-kerajaan pra Sriwijaya) yang berada di empat penjuru mata angin:
Karang Brahi (utara), Kota Kapoer (timur), Telaga Batu (selatan) dan Palas
Pasemah (barat). Dalam hubungan ini ada satu pertanyaan penting. Mengapa
dilakukan perjanjian hukum di seluruh wilayah empat penmjuru mata angin? Besar
dugaan empat arah mata angin adalah wilayah taklukan baru (yang disebut
Sriwijaya) oleh kerajaan yang kuat. Untuk menjamin stabilitas wilayah
diperlukan perjanjian hukum. Lalu dimana letak kerajaan yang kuat ini (induk
kerajaan Sriwijaya)? Jawaban yang masuk akal adalah berada di yang stabilitasnya
tinggi di wilayah utara dengan pelabuhan besar di pantai timur Sumatra di
Minanga. Wilayah kerajaan yang kuat ini berada di Tapanoeli/Padang Lawas dimana terdapat pusat religi dan peradaban di
candi Simangambat yang juga memiliki pelabuhan besar di pantai barat Sumatra
(Baroes).
Lantas
dimana posisi GPS prasati Palas Pasemah dan prasasti Karang Brahi? Tampaknya
dua tempat ini tidak berada di garis pantai, diduga berada di wilayah
pedalaman. Seperti disebut dalam prasasti Kedukan Bukit, bahwa ada sekitar seribuan
pasukan melakukan jalan darat  (ssebagian
yang lain dengan perahu/sampan) ke Mataya (kini Merangin) yang diduga sebagai
ibukota suatu kerajaan di daerah aliran sungai Batanghari. Sedangkan tempat
dimana Pancami dimana kerajaan Sriwijaya dikukuhkan berada di sebuah pulau di
sekitar muara sungai Batanghari (suatu area yang kini menjadi Kota Jambi).
Posisi GPS prasasti Palas Pasemah, seperti
halnya Karang Brahi, berada di pedalaman (kini sekitar Martapura) di daerah
aliran sungai yang mana muara sungai ini berada di sekitar pulau-pulau Kedukan
Bukit, Bukit Siguntang dan Telaga Batu.
Besar
dugaan pada saat prasasti-prasasti itu dibuat pada abad ke-7 Kota Palembang dan
Kota Jambi secara imajiner masih berada di perairan. Pada saat ini kedua kota
ini seakan jauh ke pedalaman melalui sungai Musi dan sungai Batanghari. Dalam
hal ini dimana sebenarnya pusat (kerajaan) Sriwijaya? Peneliti-peneliti
Inggris, Belanda dan Prancis pada era Hindia Belanda belum ada kata sepakat
(sama-sama menerima atau membuktikan sama di suatu tempat tertentu.
Ada enam prasasti yang ditemukan di Sumatra
(bagian selatan) yang tarihnya relatif bersamaan. Dua yang pertama
mengindikasikan terbentuknya dua pusat kerajaan yakni penabalan banua (prasasti
Kedoekan Boekit) dan pembangunan pertanian (prasasti Talang Tuwo). Dua pusat
kerajaan ini mengindikasikan bahwa eksistensi kerajaan (Sriwijaya) belum lama
berlangsung (baru terjadi sejak 682 M). Empat prasasti yang lain isinuya kurang
lebih sama: menunjukkan kekuasaan kerajaan (Sriwijaya), mengatur tatanan hukum
pada penduduk yang berada di wilayah yang berbeda yakni di wilayah Pelembang (prasasti
Telaga Batu); di Bangka (prasasti Kota Kapoer); di Djambi (prasasti Karang
Brahi); dan di Lampung (prasasti Pasemah). Pertanyaannya: jika di wilayah
Sumatra (bagian selatan) masih baru sebagai (bagian) Sriwijaya, lantas dimana
pusat utama kerajaan Sriwijaya / dimana pusat kerajaan Sriwijaya sebelumnya.
Dimana pusat kerajaan Sriwijaya, kuncinya terletak pada prasasti Kota Kapoer.
Disebutkan pasukan akan berangkat untuk menyerang Jawa. Oleh karena ada empat
prasasti yang menegaskan hukum (balasan bagi yang melanggar) ini
mengindikaasikan pasukan yang menyerang ke Jawa (dari Bangka) bukan direkrut
dari Sumatra bagian selatan. Lalu, jawabnya darimana? Dari berbagai tempat (di
luar Sumatra bagian selatan). Lalu dimana pusat (kerajaan) Sriwijaya? Jawabnya
terdapat pada prasasti Kedoekan Boekit. Mengapa? Pasukan yang dipimpin raja
Dapunta Hyang dengan kekuatan 20.000 pasukan berangkat dari Minana.
Lalu
dimana posisi GPS Minanga yang disebut dalam prasasti Kedukan Bukit? Idem dito,
Minanga juga berada di garis pantai di sekitar muara sungai Baroemoen di
wilayah Padang Lawas (Tapanuli Selatan) yang sekarang. Oleh karenanya pelayaran
dari Binanga ke Pancami (Jambi) dan ke Kedukan Bukit (Palembang) yang sama-sama
berada di sekitar pantai mudah melakukan pelayaran sepanjang pantai timur
(daratan) pulau Sumatra. Dan itu berarti jaraknya relatif pendek (satu bulan
pelayaran) dibandingkan sekarang.
Seperti yang kita lihat nanti mengapa ada
kekuatan dari Jawa yang memusuhi kerajaan-kerajaan di Sumatra bagian selatan.
Kekuatan-kekuatan antara lain kerajaan Singhasari dengan radjanya yang terkenal
Kertagama. Dalam hal ini mengapa ada relasi Singasari (pada era Kertanegara)
dengan kerajaan di utara (yang ditunjukkan kemiripan satu candi di Singhasari
dengan candi-candi di Sumatra bagian utara (Padang Lawas) pada abad ke-13. Bukti-bukti
yang lebih awal ada kemiripan candi-candi di Jawa bagian tengah dengan candi
Simangambat di Sumatra bagian utara yang berasal dari abad ke-8. Lalu mengapa
pada era berikutnya kerajaan di Jawa (Madjapahit) ingin ‘menaklukkan’ semua
kerajaan-kerajaan yang ada termasuk kerajaan-kerajaan di Sumatra bagian utara,
termasuk di Padang Lawas? Jawabnya: Madjapahit juga ‘memusuhi’ Singhasari.
Seperti disebut di atas: kerajaan mana yang diserang di Jawa pada prasasti Kota
Kapoer 686 M? Tentu saja bukan di Jwa bagian tengah, tetapi di Jawa bagian
barat. Lalu terbentuk kerjasama raja yang membawa pasukan dari Minana (Sriwijaya)
dengan raja-raja Jawa bagian tengah dengan adanya gelar raja Dapunta di Jawa
yakni Dapunta Seilendra (prasasti Sojmerto). Â Â
Tunggu deskripsi lengkapnya
Â
Â
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com
Â




