Siapa
guru Kahar Masjhoer? Tampaknya tidak ada yang pernah menulisnya. Kahar Masjhoer
adalah lulusan sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock. Pada tahun 1910 Kahar
Masjhoer melanjutkan studi ke Belanda dan lulus tahun 1912. Meski bukan guru
lulusan Fort de Kock studi ke Belanda, tetapi Kahar Masjhoer adalah yang
pertama lulus dengan akta guru. Sebelum Kahar Masjhoer lulus akta guru, Soetan
Casajangan tahun 1911 lulus ujian akta guru kepala.

di gedung baru (yang kini menjadi SMU 2 Bukittinggi). Pada tahun 1879 sekolah
guru (kweekschool) Padang Sidempoean dibuka (sebagai pengganti sekolah guru di
Tanobato, yang telah didirikan sejak tahun 1862). Saat pembukaan sekolah guru
Padang Sidempoean yang menjadi direktur adalah Harmsen yang dipindahkan dari
sekolah guru Fort de Kock. Hal ini terjadi karena Willem Iskander, pendiri
sekolah guru Tanobato yang berangkat kembali ke Belanda untuk studi akta guru
kepala dikabarkan meninggal di Belanda tahun 1876. Pada tahun 1881 seorang guru
baru yang belum lama diangkat di sekolah guru Probolinggo, Charles Adrian van
Ophuijsen dipindahkan ke sekolah guru Padang Sidempoean. Selama delapan tahun
di Padang Sidempoean, lima tahun terakhir sebagai direktur. Charles Adrian van
Ophuijsen, direktur sekolah guru Padang Sidempoean diangkat sebagai Inspektur
Pendidikan Pribumi di Pantai Barat Sumatra di Padang. Saat menjadi Inspektur
Pendidikan, Charles Adrian van Ophuijsen diangkat menjadi guru besar di
Universitas Leiden dalam bidang pengajaran bahasa Melayu.
Lantas
bagaimana sejarah Kahar Masjhoer? Seperti disebut di atas, Kahar Masjhoer adalah lulusan sekolah guru Fort de
Kock yang berhasil meraih akta guru di Belanda. Apakah Kahar Masjhoer terhubung
dengan Charles Adrian van Ophuijsen dan Soetan Casajangan? Lalu bagaimana
sejarah Kahar Masjhoer? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Guru
Kahar Masjhoer Studi di Belanda 1912;
Guru Soetan Casajangan 1911
Setelah
menyelesaikan sekolah dasar, Kahar Masjhoer melanjutkan studi ke sekolah guru
(kweekschool) di Fort de Kock. Lama studi di sekolah guru adalah tiga tahun,
Tidak terinformasikan kapan diterima di sekolah guru Fort de Kock. Pada tahun
1910 Kahar Masjhoer, sebagai guru muda melanjutkan studi keguruan ke Belanda.
De locomotief, 01-07-1910: ‘Ke Belanda, Pada
tanggal 25 Juni, dua orang Melayu lulusan sekolah guru, Roestam dan Kahar Mashhoer,
berangkat dari Padang, yang baru saja lulus sekolah guru di Fort de Koek.
Mereka diharapkan akan mendapatkan akata guru hoofdacte di Belanda dan kemudian
diproyeksikan sebagai guru di sekolah Eropa di Kota Gadang. Studi mereka
dibiayai oleh ‘studiefond’ dari asosiasi Malayu di Kota Gadang. Mereka
melakukan perjalanan di bawah bimbingan Asisten Residen Westenenk, yang telah
diberikan cuti enam bulan ke Eropa’.
Di
Belanda sudah ada beberapa guru asal Hindia, yakni Radjioen Harahap gelar
Soetan Casajangan, Djamaloedin dan Amaroellah. Soetan Casajangan dan
Djamaloedin berangkat ke Belanda tahun 1903 dalam rangka membantu Dr AA Fokker
dalam menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu Bintang Hindia di Amsterdam. Mereka
berdua dibawa oleh Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda, pemimpin surat kabar
berbahasa Melayu di Padang Pertja Barat yang akan bekerjasama dengan AA Fokker.
Soetan Casajangan adalah guru dan lulusan
sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean (adik kelas Dja Endar Moeda). Djamaloedin
adalah lulusan Kweekschool Fort de Kork yang membantu Dja Endar Moeda (sebagai
asisten editor) dalam majalah berbahasa Melayu di Padang, Insulinde. Namun
dalam perkembangannya Soetan Casajangan melanjutkan studi keguruan di Belanda
dan disusul Djamaloeddin melanjutkan di sekolah pertanian Landbouwschool di
Wageningen. Sedangkan Amaroellah juga adalah lulusan Kweekschool Fort de Kock
yang menjadi guru di Idie (Atjeh) yang direkrut pemimpin Bintang Hindia di
Amsterdam untuk membantu sebagai korektor. Amaroellah tiba di Belanda tahun
1907. Dari tiga guru terawal di Belanda ini hanya Soetan Casajangan yang tetap
di bidang (studi) keguruan. Pada tahun 1908 Soetan Casajanngan menginisiasi
pembentuk organisasi orang pribumi yang studi di Belanda yang diberi nama
Indische Vereeniging yang sekaligus menjadi ketuanya yang dibantu sekretaris
Raden Soemitro. Pada tahun 1909 Soetan Casajangan lulus ujian guru LO.
Saat
kedatangan Kahar Masjhoer (dan Roestam) di Belanda, Soetan Casajangan, ketua
Indische Vereeniging telah kuliah (melanjutkan studi) untuk mendapatkan akta
guru kepala (MO). Tentu saja di Belanda, Kahar Masjhoer dan Roestam dengan
sendirinya dibimbing oleh Soetan Casajangan.
Pada tahun 1911 Soetan Casajangan lulus ujian
guru dan mendapat akta guru kepala (MO) di Leiden. Setelah lulus MO, Soetan
Casajangan mengikuti kursus pendidikan bahasa Melayu dan etnologi di
Universitas Leiden. Dalam hal ini, Soetan Casajangan adalah pribumi pertama di
Belanda yang meraih akta guru MO (sarjana pendidikan, setara lulusan IKIP masa
ini). Pribumi pertama yang berhasil meraih akta guru :LO di Belanda adalah JH
Wattimena pada tahun 1884. Sedangkan pribumi pertama yang meraih akta guru di
Belanda adalah Sati Nasoetion alias Willem Iskander tahun 1860. Pada tahun 1862
Willem Iskander, dengan akta guru bantu mendirikan sekolah guru ketiga di
Tanobato (afdeeling Angkola Mandailing, Residentie Tapanoeli). Sekolah guru
yang sudah ada adalah di Soeracarta dibuka 1851 dan di Fort de Kock dibuka
tahun 1856. Suksesi Kweekschool Tanobato adalah Kweekschool Padang Sidempoean
yang dibukan tahun 1879 (dan kemudian ditutup tahun 1892).
Pada
awalnya Kahar Masjhoer dan Roestam lancar dalam studi. Akan tetapi menjelang
ujian Roestam mengalami sakit sehingga tidak berhasil untuk mengikuti ujian
akta guru LO. Sementara Kahar Masjhoer berhasil lulus ujian akta LO pada tahun
1912 (lihat Provinciale Overijsselsche
en Zwolsche courant, 21-05-1912). Disebutkan, di Zwolle 21 Mei dilakukan ujian delapan
kandidat dimana empat lulus diantaranya Kahar Masjhoer. Mereka berdua Kahar
Masjhoer dan Roestam kembali ke tanah air pada bulan Juli (1912).
Sumatra-bode, 25-05-1912: ‘Pendidikan pribumi
di Belanda. Pada bulan Juni 1910, dua pemuda pribumi yang berbakat, Kahar
Mashhoer dan Roestam, dari Kota Gedang dekat Fort de Koek, berangkat bersama Westenenk
dari sini ke Nedeiland. Sebuah pesan telegraf sekarang telah diterima bahwa
yang pertama telah lulus ujian untuk pendidikan dasar (LO). Sayangnya, Roestam
jatuh sakit parah, sehingga tidak bisa mengikuti ujian. Keduanya kembali pada
bulan Juli. kembali kesini. Kedua anak muda itu mendapat sambutan hangat di
Belanda di (kota) Deventer yang dititipkan pada keluarga Schuilling, semoga
warga Kota-Gedang berterima kasih kepada pasangan bangsawan ini atas banyak dan
perhatian baik yang diberikan kepada mereka berdua disana’.
Sementara
itu, Soetan Casajangan sudah lulus guru di Belanda tidak segera kembali ke
tanah air. Soetan Casajangan mengajar di Amsterdam di sekolah perdagangan.
Sejak 1911 Soetan Casajangan tidak lagi sebagai ketua Indische Vereeniging,
digantikan oleh RM Noto Soeroto, yang membuat Soetan Casajangan lebih bebas,
Meski demikian, Soetan Casajangan yang dibantu oleh Abdoel Firman Siregar gelar
Mangaradja Soangkoepon berinisiatif mendirikan studiefond di Belanda untuk
membantu pribumi yang studi maupun yang akan datang ke Belanda karena kesulitan
keuangan.
Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant,
09-10-1912: ‘Guru pribumi dengan akta Belanda, Kahar, Mashhoér, yang berangkat
ke Belanda pada bulan Juni 1910 atas nama dana studi studiefond “Kota
Gedang”, telah memperoleh akta Belanda LO. dan baru saja kembali ke Hindia
Belanda De Batakker Rajioen Soetan Casajangan, termasuk guru lulus di Belanda,
ia datang ke Belanda selama sekitar delapan tahun lalu, ia memperoleh akta guru
utama MO, pada tahun 1911 sementara ia juga telah memperoleh sertifikat bahasa
Melayu dan etnologi di Leiden, dan dalam beberapa tahun terakhir ia bekerja
sebagai guru untuk bahasa Melayu di sekolah-sekolah perdagangan di Rotterdam
dan Haarlem’.
Setelah
kembali di tanah air, Kahar Masjhoer tidak menjadi guru di sekolah guru Fort de
Kock tetapi, seperti misi awal, menjadi pengajar di sekolah dasar berbahasa
Belanda (ELS) di Fort de Kock. Soetan Casajangan kemudian harus kembali ke
tanah air karena Menteri Koloni telah mengangkatnya untuk menjadi direktur
Kweekschool Fort de Kock. Soetan Casajangan pada bulan Juli 1913 berangkat ke
tanah air.
Penempatan Soetan Casajangan di sekolah guru
di Fort de Kock akan memungkinkan Soetan Casajangan akan bertemu kembali dengan
Kahar Masjhoer. Sementara itu Soetan Casjangan akan kembali bertemu dengan
kawan lama Djamaloeddin yang setelah menyelesaikan studi pertanian di
Wageningen telah lebih dahulu kembali ke tanah air dan membuka usaha pertanian
dan usaha perdagangan di Pantai Barat Sumatra.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Guru Kahar Masjhoer Studi di
Belanda 1912: Lulusan Sekolah Guru Fort de Kock Pertama Lulus di Belanda
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


