Penggunaan
kata serumpun selama ini dipersepsikan biasa-biasa saja. Namun kata serumpun
tersebut belakangan ini menjadi hangat terbicarakan. Hal ini sehubungan dengan
masalah hubungan antara Malaysia dan Indonesia tentang isu (bahasa) Melayu.
Kata serumpun sendiri menurut KBBI adalah (1) satu nenek moyang; satu
keturunan; (2) sekumpulan (sekelompok) yang berasal dari satu induk (tentang
tumbuhan, bahasa). Lalu isu Melayu itu dalam penggunaan kata serumpun
dihubungkan dengan ras: Austronesia, Melanesia dan Polinesia.

bahasa-bahasa yang mempunyai perintis yang sama yaitu bahasa purba dari rumpun
tersebut. Seperti halnya rumpun biologis, bukti keterhubungan antara
bahasa-bahasa serumpun dapat diamati dari karakteristik bahasa-bahasa tersebut.
Sebuah rumpun bahasa yang dapat diidentifikasi dengan tepat adalah sebuah
kesatuan filogenetis yang berarti bahwa semua dari anggota rumpun bahasa
tersebut diturunkan dari sebuah perintis dan semua bahasa turunannya dimasukkan
ke dalam rumpun tersebut. Sebagian besar bahasa-bahasa di bumi adalah anggota
dari sebuah rumpun bahasa, tetapi ada juga bahasa-bahasa (seperti bahasa isolat
yang keterhubungannya dengan bahasa lain tidak diketahui atau dipertentangkan).
Konsep rumpun bahasa didasarkan dari anggapan bahwa seiring dengan berjalannya
waktu sebuah bahasa akan perlahan-lahan pecah menjadi bermacam-macam logat yang
masing-masing pada akhirnya menjadi sebuah bahasa baru. Namun, persilsilahan
bahasa lebih kabur daripada persilsilahan biologis karena bahasa dapat lebih
mudah bercampur (baik karena kontak bahasa, penaklukan, atau perdagangan)
sedangkan spesies biologis umumnya tidak dapat bersilang seperti itu. Pada
kasus bahasa kreol dan bahasa campuran lainnya perintis dari bahasa tersebut
berjumlah lebih dari satu. Namun kasus seperti ini bukanlah mayoritas dan
kebanyakan bahasa yang ada di bumi dapat digolongkan secara jelas (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah Melayu Serumpun atau Serumpun Melayu? Seperti disebut di
atas, isu kata serumpun ini mengemuka dan semakin intens dibicarakan dalam
hubungannya natara Indonesia dan Malaysia. Lantas bagaimana sejarah Melayu Serumpun atau Serumpun
Melayu? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia–Melayu
Serumpun atau Serumpun Melayu: Austronesia, Melanesia dan Polinesia
Seperti
halnya ras (genetik), bahasa juga diturunkan. Sejak terbentuknya ras, sejak itu
pula terbentuknya bahasa dalam wujud kolektif. Kolektif-kolektif pengguna
bahasa akan semakin berjarak dengan kolektif yang lainnya seiring dengan
penyebaran geografis dan perjalanan waktu. Dalam hubungan ini, selain ras dan
bahasa diturunkan, ras dan bahasa juga mengalami persebaran (perrubahan ras dan
bahasa). Hal itulah mengapa pada masa ini di seluruh muka bumi telah terbentuk
ras-ras yang berbeda dan bahasa yang berbeda-beda. Meski demikian, asal-usul
ras dan bahasa itu menjadi penting diperhatikan, karena dari suatu tempat pada waktu
tertentu di masa lalu bermula.
Ras dan bahasa berarti membicarakan manusia.
Dimana manusias berasal di peta bumi yang luas ini, secara teori harus sesuai
dengan kodrat manusia itu sendiri. Manusia yang lemah, harus tumbuh dan
berkembang di lingkungan alam yang membuatnya tumbuh dan berkembang dengan
baik. Ibarat benih akan tumbuh dengan baik di tanah yang subur. Namun kesuburun
hanya syarat perlu, lalu diperlukan iklim yang sesuai untuk pertumbuhan (udara
dan sinar matahari). Pada lingkungan serupa ini flora dan fauna tumbuh dengan
baik, sepanjang tahun, yang menjadi sumber kehidupan manusia itu sendiri untuk
tumbuh dan berkembang. Dimana lingkungan yang kondusif untuk manusia tumbuh,
secara teoritis berada di lingkaran bumi yang disebut khatulistiwa.
Secara
teoritis, dan sudah banyak yang membuktikan dari berbagai aspek, seperti
arkelogi dan biologi genetika, manusia generasi pertama itu berasal dari
Afrika, suatu manusia berkulit gelap. Wilayah Afrika ini sesuai dengan
lingkungan manusia yang lemah untuk tumbuh dan berkembang, yang secara umum
manusia Afrika ini menyebar ke dua arah di garis iklim yang sama di lingkar
bumi khatulistiwa (ke arah barat dan ke arah timur). Dalam konteks inilah
manusia generasi pertama diduga menyebar ke sebelah timur hingga Pasifik.
Namun tentu saja tida semua manusia generasi
awal dari Afrika menyebar semua, ada yang tetap tinggal dan tumbuh dan
berkembang di Afrika. Wilayah (barat dan timur) penyebaran baru seperti di
Indonesia akan tumbuh dan berkembang. Oleh karena alam dan lingkungan yang sama
wujud ras dan bahasa tidak berbeda jauh karena sama-sama di garis muka bumi
yang sama (khatulistiwa). Oleh karena itu kita menjadi paham mengapa salah satu
wujud kuno ditemukan di Jawa seperti manusia purba di Trinil (Pithecanthropus
erectus) hingga Homo Sapiens dan kemudian adanya piramida purba Gunung Padang.
Manusia
generasi pertama di Indonesia (baca: pulau-pulau Nusantara) sudah tentu manusia
generasi pertama yang hidup di Afrika. Pada generasi kedua, tidak ada
penyebaran manusia dari garis permukaan bumi khatulistiwa ke selatan.
Penyebaran justru ke wilayah utara dimana terdapat daratan yang luas dengan
iklim yang lebih sejuk. Penyebaran ini bersifat vertikal; Afrika ke daratan
Eropa, Amerika (selatan) ke daratan Amerika (utara) dan Nusantara ke daratan
Asia (timur) serta pulau-pulau di selatan India ke daratan di Asia (tengah).

karena tidak adanya daratan yang sesuai kecuali sampai Afrika Selatan, Amerika
Selatan dan Australia. Penyebaran manusia ke arah utara, di iklim yang sejuk,
tetapi sumber daya kehidupannnya tidak sekaya dengan sumber daya kehidupan di
lingkar bumi khatuslistiwa. Penyebaran manusia ke wilayah utara memiliki
tantangan (kesulitan-kesulitan sendiri). Penyebaran ke wilayah utara (vertikal)
adalah gelombang kedua dari penyebaran manusia generasi pertama (horizontal). Sebagaimana
penyebaran manusia secara horizontal karena adanya tekanan populasi (kepadatan,
peperangan), penyebaran ke utara juga akibat tekanan populasi. Manusia bagian
dari populasi yang tertekan akan mencari jalan keluar ke wilayah baru, meski
lingkungan alamnya yang lebih berat. Semakin ke utara tantangan lingkungan alam
semakin berat seperti tanah-tanah yang tandus dan musim dingin yang sangat
dingin.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Melayu Serumpun atau Serumpun
Melayu: Bahasa Malaysia versus Bahasa Indonesia
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



