*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Sebelum terbentuknya Pemuda
Indonesia, sudah ada berbagai organisasi pemuda di Indonesia (baca: Hindia
Belanda) yang berafilisasi dengan komuinitas kedaerahan seperti Jong Java, Jong
Sumatra, Jong Selebes dan Jong Ambon. Lalu pada tahun 1928
organisasi-organisasi pemuda kedaerahan tersebut diintegrasikan dengan membentuk
federasi (PPPI) yang kemudian menyelenggarakan Kongres Pemuda 1928. Para
pemuda-pemuda Indonesia benar-benar bersatu, melebur menjadi satu (asimilasi)
dimana tahun 1930 terbentuk orgasnisasi tunggal yang diberi nama Indonesia
Moeda.

pemuda yang diresmikan tanggal 31 Desember 1930 yang merupakan penggabungan
antara organisasi Jong Java, Pemuda Indonesia dan Jong Sumatra. Ide penyatuan
dan pembentukan organisasi ini diprakarsai oleh organisasi Jong Java yang
mengundang beberapa wakil perkumpulan pemuda untuk rapat di Jl. Kramat No. 106
Batavia (sekarang Gedung Sumpah Pemuda, Jakarta) tanggal 23 April 1929. Keputusan
pertemuan adalah mengadakan Kongres Pemuda di Solo antara tanggal 28 Desember
1930 dan 2 Januari 1931. Organisasi ini bertujuan memperkuat rasa persatuan di
kalangan pemuda dan pelajar di Hindia Belanda kala itu; sekaligus sebagai
sebuah gerakan nasionalis untuk membangun kesadaran bertanah air, berbangsa dan
berbahasa Indonesia. Karena haluan nasionalistik ini, Indonesia Moeda juga kala
itu secara tegas mengakui Sumpah Pemuda, dan menjunjung bahasa Indonesia dan
lagu Indonesia Raya, dan bendera Merah Putih sebagai identitas organisasi ini.
Walaupun organisasi ini secara resmi tidak berkiprah dalam politik, organisasi
ini adalah salah satu gerakan yang mempelopori terciptanya Indonesia merdeka. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Kongres Pemuda dari masa ke masa? Seperti disebut di atas, kongres
muda yang dikenal luas adalah Kongres Pemuda 1928 dan Kongres Pemuda 1930.
Namun sebelum itu dan sesudah ini berbagai kongres pemuda (Indonesia) diadakan.
Lalu bagaimana kongres pemuda dari masa ke masa? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Kongres
Pemuda Masa ke Masa: Putusan Kongres 1928 dan Sumpah Pemuda 1953
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Kongres Pemuda Masa ke Masa:
Kongres Hindia di Belanda 1917 hingga Kongres Pemuda 1953 di Djakarta
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



