antas bagaimana sejarah Roebini? Seperti disebut di atas, Roebini
adalah tokoh sejarah yang tidak dikenal dalam dalam daftar tokoh Betawi. Yang
cukup dikenal pada era Pemerintah Hindia Belanda hanya dicatat MH Thamrin. Lalu apakah tidak ada tokoh Betawi yang lain? Okelah itu satu hal. Hal lain dalam hal ini adalah sesungguhnya
nama Roebini pada masa ini masih eksis tetapi tidak di Tanah Betawi (Jakarta)
tetapi sebagai nama jalan di Bandoeng dan Pontianak serta nama rumah sakit di
Mempawah. Lalu bagaimana sejarah Roebini? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan
dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Siapa
Roebini Pahlawan di Tanah Betawi: Menolak Lupa, Tak Kenal Maka Tak Sayang
Setelah
menyelesaikan sekolah dasar berbahasa Belanda (HIS) di Bandoeng, Roebini
melanjutkan studi ke sekolah kedokteran di Batavia (STOVIA). Pada tahun 1919
Roebini lulus ujian masuk STOVIA di Bandoeng (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-05-1919).
Nama-nama yang lain yang diterima antara lain Kroeng Raba Nasoetion (Tandjoeng
Pinang); Soeleiman Siregar, Soetan Loebis, Daliloedin Loebis (Pangkalan
Brandan); Oentjok (Tandjoeng Balai); Rehatta (Ambon). Soeharno dan Soetrisno
(Pontianak); dan Agoes Moegni (Tjiandjoer).
Sekolah kedokteran pribumi di Batavia dibuka
sejak 1851. Awalnya lama studi dua tahun. Sekolah kedokteran ini kemudian
disebut Docter Djawa School. Pada tahun 1902 sekolah kedokteran ini
ditingkatkan dan namanya diubah menjadi STOVIA. Lama studi selama 10 tahun yang
tiga tahun sebagai tingkat persiapan dan tujuh tahun sebagai tingkat medik plus
dua kali ujian dokter.
Pada
tahun 1920 Roebini lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua
tingkat persiapan (lihat De Preanger-bode, 17-05-1920). Roebini calon dokter
tidak hanya rajin studi juga gemar berolahraga. Pada tahun 1921 dalam lomba
olah raga senam yang diselenggarakan organisasi anggar dan senam STOVIA Roebino
mendapat hadiah pertama (medali emas) dalam cabang senam (lihat De locomotief, 18-03-1921).
Pada bulan Mei Roebini lulus ujian naik ke kelas tiga persiapan (lihat De
locomotief, 03-05-1921). Pada tahun 1922 Roebini lulus ujian naik dari kelas
tiga tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik (lihat De expres, 10-05-1922).
Dalam perkembangannya Roebini tidak hanya
gemar olah raga senam, Roebini juga gemar dengan olah raga sepakbola. Roebini
diketahui sebagai salah satu pemain dari klub sepak bola di Meester Cornelis,
Oliveo (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 02-10-1922). Klub Oliveo ini
berpartisipasi di dalam kompetisi sepak bola tertinggi di Batavia. Roebini
di dalam klubnya sebagai penyerang kanan luar. Teman satu timnya yang juga
sama-sama dari STOVIA adalah Rehatta (penyerang kiri luar). Pada tahun 1923
Roebini termasuk dalam tim gabungan Batavia kedatangan tamu klub dari Selangor
yang pemainuya semua adalah orang Inggris (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-07-1923).
Pada
tahun 1923 Roebini lulus ujian naik dari kelas satu ke kelas dua tingkat medik
(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-05-1923). Pada tahun 1924 lulus ujian naik ke
kelas tiga (lihat De Indische courant, 27-05-1924). Pada tahun 1925 Roebini
lulus ujian naik ke kelas empat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 15-05-1925).
Roebini lulus ujian naik ke kelas lima (lihat De
Indische courant, 14-05-1926). Pada tahun 1927 Roebini lulus ujian naik ke
kelas enam (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-05-1927).
Pada tahun 1928 Roebini lulus ujian naik ke kelas tujuh (lihat Het nieuws van den
dag voor Nederlandsch-Indie, 09-05-1928).

Cornelis (kini Jatinegara). Selain aktif bermain sepak bola di klub, Roebiui
juga diduga berpartisipasi dalam organisasi pemuda. Sehubungan dengan
penyelenggaraan Kongres Pemuda 1928, dibentuk Panitia Kongres Pemuda dari
federasi organisasi pemuda (PPPI) yang tim intinya terdiri dari Soegondo
(ketua), Mohamad Jamin (sekretaris) dan Amir Sjarifoeddin Harahap (bendahara).
Ketiganya adalah mahasiswa di fakultas hukum (Rechthoogeschool) di Batavia. (lihat
De Indische courant, 08-09-1928).
Tidak
ada halangan bagi Roebini meski banyak berpartisipasi dalam kegiatan di luar
kampus, Roebini tetap sukses dalam studi. Sejauh ini Roebini tidak pernah ketinggalan
kelas (tinggal kelas atau menunda studi). Pada bulan Januari 1929 Roebini lulu
sujian dokter pertama (lihat Soerabaijasch handelsblad, 21-01-1929). Roebini
masih tetap sebagai pemain inti di klub Oliveo. Roebini seharusnya sudah lulus
ujian dokter kedua pada pertengahan tahun 1929. Namun Roebini yang selama ini
lancar studi, tampaknya mulai melambat. Roebini akhirnya lulus ujian akhir dan
mendapat gelar dokter Indisch Arts (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 07-07-1930).
Segera setelah lulus dokter, Roebini diangkat
sebagai dokter pemerintah di dinas kesehatan DVG (lihat De Indische courant, 23-08-1930).
Meski sudah bekerja, Roebini masih tetap sebagai pemain inti Oliveo (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-03-1931). Dr Roebini ditempatkan
di rumah sakit kota di Batavia (CBZ).
Pada
tahun 1934 Dr Roebini sebagai dokter pemerintah di CBZ Batavia dipindahkan ke
Pontianak (lihat De locomotief, 29-08-1934).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Roebini Pahlawan di Tanah Betawi:
Apakah Ada Tokoh Betawi Selain MH Thamrin?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




