*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Ada berita lama yang menyita
perhatian pada akhir-akhir ini. Tidak di Indonesia, tetapi di Malayasi. Berita
tersebut bahwa di (negara) Malaysia warga seakan terkotak-kota dimana warga
pribumi (asli) terpisah dengan warga pendatang terutama Cina dan India. Dalam
bidang pendidikan masing-masing warga menyelenggarakan sistem pendidikannya
sendiri dengan bahasa pengantar sesuai bahasa ibu: Melayu, Cina dan India. Hal
itu tentulah berbeda dengan di Indonesia.

yang diharapkan, terutama golongan Cina yang terkesan sebagian (saja) yang
bersikap eksklusif. Namun itu tentu tidak menjadi masalah besar, karena masalah
preferensi. Berbeda dengan di Malaysia, penyatuan banyak hal telah dan dicapai
dan terselesaikan seperti dalam bidang pendidikan. Di seluruh Indonesia, semua
sekolah menggunakan bahasa pengantar yang sam (bahasa Indonesia) dengan
kurukulum yang seragam. Itu berlaku pada sekolah-sekolah yang dikelola
pemerintah dan sekolah-sekolah swasta. Banyak sekolah-sekolah swasta yang
dikelola oleh warga Cina di Indonesia tetapi seperti disebut tadi semuanya
merujuk pada satu ukuran: persamaan (bahasa pengantar dan kurikulum). Oleh
karena itu, permasalahan yang ada di Malaysia tidak terdapat di Indonesia. Permasalahan
itu serupa itu di Indonesia pernah ada tetapi itu doeloe pada era Pemerintah
Hindia Belanda. Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu Pemerintah Republik
Indonesia, terutama sejak 1950 permasalahan dapat dieliminasi.
Lantas
bagaimana sejarah warga Malaysia terkotak-kotak sehingga menimbulkan
permasalahan sendiri pada masa ini? Seperti disebut di atas, permasalahan yang
dihadapi Malaysia pernah dialami di Inoneesia namun sudah selesai. Lalu
bagaimana sejarah warga Malaysia terkotak-kotak? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Mengapa
Warga Malaysia Menjadi Terkotak: Melayu, Cina dan India
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Warga Malaysia Terkotak-Kotak:
Apakah Bisa Diselesaikan?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



