*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Siapa Tjan Tjoe Som? Dalam laman
Wikipedia dengan entri Tjan Tjoe Som disebutkan sebagai guru besar Universitas
Indonesia (UI) yang secara khusus memperhatikan bidang Sinologi. Namun narasi
sejarahnya yang ditulis sangat minim. Okelah, Untuk memperkaya narasi sejarah Tjan
Tjoe Som masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Mari!

guru besar di Jurusan Sinologi, Universitas Indonesia, di Jakarta. Salah
seorang murid bimbingannya adalah Mely G. Tan yang juga menjadi seorang Sinolog
terkemuka di Indonesia. Tjan Tjoe Som dilahirkan di Surakarta dari sebuah
keluarga Tionghoa Muslim. Tjoe Som belajar di Universitas Leiden, Belanda
jurusan Sinologi dengan thesis Po Hu T’ung (Kelenteng Harimau Putih). Dia
kemudian bekerja sebagai pustakawan di Perpustakaan Sinologi di Leiden. Ia
menerbitkan thesisnya pada tahun 1949, dan pada tahun 1950 dia diangkat menjadi
Profesor Filosofi Chinese di Leiden. Tjan pada tahun 1952 kembali ke Indonesia
walaupun banyak yang kolega yang menginginkan ia tetap tinggal di Belanda. Ia dan
saudaranya, Prof. Tjan Tjoe Siem disingkirkan oleh pemerintah Orde Baru karena
menjadi anggota Himpunan Sarjana Indonesia (HSI) yang dianggap sebagai
organisasi onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Salah satu hasil
tulisannya adalah Po Hu T’ung, The Comprehensive Discussions in the White Tiger
Hall (Leiden: E.J. Brill, 1949 & 1952) (Wikipedia). Jadi teringat nama Ibu Mely G Tan yang
pernah menjadi dosen saya dalam mata kuliah metodologi riset dan tentu saja
suami beliau yang menjadi pimpinan saya dalam tim penelitian pengembangan
transportasi di wilayah Jabodetabek (1994).
Lantas
bagaimana sejarah Tjan Tjoe
Som?
Seperti disebut di atas, Tjan Tjoe Som adalah seorang guru besar du Universitas
Indonesia tempo doeloe. Ada yang menyebut Tjan Tjoe Som adalah Bapak Sinologi
Indonesia. Lalu bagaimana sejarah Tjan Tjoe Som? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Dr Tjan
Tjoe Som Studi ke Belanda: Sinologi Universitas Leiden dan UI
Nama
Tjan Tjoe Som kali pertama diberitakan pada tahun 1917 (lihat De nieuwe
vorstenlanden, 11-06-1917). Disebutkan di sekolah MULO di Solo lulus ujian
transisi naik dari kelas satu ke kelas dua diantaranya Tjan Tjoe Som.
Siswa-siswa di sekolah MULO Solo seperti halnya di kota-kota lain terdiri dari
golongan Eropa/Belanda, Cina dan pribumi. Pada tahun 1921 Tjan Tjoe Som
diberitakan lulus ujian bahasa Inggris (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-06-1921).
Disebutkan lulus ujian di Bandoeng untuk
bidang bahasa Prancis dan bahasa Inggris yang mana Tjan Tjoe Som salah satu yang
lulus bidang bahasa Inggris. Dari nama-nama yang lulus tersebut hanya Tjan Tjoe
Som yang bernama non Eropa/Belanda.
Siswa yang diterima di sekolah menengah MULO
adalah lulusan sekolah dasar berbahasa Inggris (HIS atau ELS). Lama studi
adalah tiga tahun. Lulusan MULO dapat melanjutkan ke sekolah menengah seperti
HBS atau lainnya. Jika Tjan Tjoe Som tahun 1917 naik ke kelas dua, jika dan
hanya jika lancar studi, Tjan Tjoe Som lulus ujian akhir tahun 1919. Dengan
membandingkan tahun 1921 lulus ujian bahasa Inggris, diduga Tjan Tjoe Som
mengikuti sekolah/lembaga bahasa (Prancis dan Inggris) selama dua tahun (sejak
1919).
Sejak
Tjan Tjoe Som lulus ujian bahasa Inggris di Bandoeng, tidak terdengar berita
Tjan Tjoe Som lagi. Beritanya baru muncul kembali tahun 1929 (lihat Nieuwe
Rotterdamsche Courant, 23-11-1929). Disebutkan Dr. WF Stutterheim menerbitkan
tiga buku: (1) A Javanese Period in
Sumatran History; (2) Oudheden van Bali; dan (3) Tjandi Bara-Boedoer.
Penerbitan buku-buku tersebut terkait dengan Tjan Tjoe Som.

dengan sejarah dan kepurbakalaan. Dr. WF Stutterheim sendiri saat itu adalah
kepala dinas kepurbakalaan. Dalam buku itu juga mengutip George Coedes. Prof
N.J. Krom, Gabriel Ferrand dan Prof. J.Ph. Vogel yang mana WF Stutterheim
melakukan koreksi berdasarkan data baru dengan beberapa kesimpulan antara lain
bahwa Dinasti Sheilendra tidak memiliki Sriwijava (Palembang) sebagai wilayah
utamanya, tetapi Jawa Tengah dan Jawa Tengah telah menjadi penerusnya, yaitu
pada abad kedelapan dan kesembilan. Juga kesimpulan itu dikaitkan dengan
keberadaan candi Borobudur. Disebut nama Bara-Boedoer dijelaskan Stutterheim.
sebagian meniru Dr. Purbatjaraka sebagai “Biara Bukit” atau
“Komplek Biara Bukit’. Tiga buku itu tiga terbitan ini dalam satu tahun,
yang sangat memperkaya literatur tentang kepurbakalaan Jawa, Soematra dan Bali.
Buku-buku tersebut diterbitkan oleh penerbit, firma Kolff di Weltevreden dan Tjan
Tjoe Som di Solo. Risalah buku itu disarikan oleh Prof Dr CC Berg.
Tjan
Tjoe Som di Solo, kampong halamannya telah menjadi penerbit. Boleh jadi Tjan
Tjoe Som meneruskan usaha orangtua. Dalam hal ini, Tjan Tjoe Som telah
terhubung secara langsung dengan peneliti sejarah dan kepurbakalaan Dr Stutterheim
dan secara tidak langsung dengan Prof Berg. Hingga tahun 1932, Tjan Tjoe Som
masih tinggal di Solo dan diketahui sebagai salah satu aktivis.
De Indische courant, 11-05-1932: ‘Sekolah Mulo
di Solo. (Dari koresponden kami) Beberapa perwakilan dari asosiasi Pribumi,
Tiong Hwa dan perhimpoenan orang Indo (Indoblijvers vereeniging) telah
membentuk sebuah komite untuk membantu keterbatasan pendidikan dasar yang
komprehensif bagi orang tua dan untuk mencari solusi untuk menyediakan
pendidikan dasar menengah bagi para remaja yang tidak melanjutkan. Dalam
seruannya kepada orang tua dikatakan. Komite yang akan kami perkenankan untuk
berbicara lebih lanjut, sebagai berikut: Tahun lalu Muloschool dimulai dengan
kira-kira. 100 siswa persiapan dan 125 di kelas 1, saat ini hanya ada ruang
untuk sekitar. 70 kelas persiapan dan 100 di kelas 1. Krisis Muloschool, yang
didirikan oleh perorangan, betapapun niatnya baik, tidak akan cukup membantu
dan kelas malam yang diselenggarakan dan mahal tidak untuk kepentingan semua
pihak. Disini, dalam pandangan kami, adalah tugas komunitas atau Pemerintahan
Sendiri untuk membantu, dalam pandangan kami, tugas mereka untuk campur tangan
dimana pemerintah tampaknya tidak berdaya. Untuk pernyataan dukungan atas kemungkinan
permintaan kepada pemerintah untuk memberikan solusi yang lebih adil daripada
pembatasan pendidikan menengah, seperti yang sedang terjadi disini, kami
meminta Anda mengirim kartu nama atau sejenisnya ke salah satu alamat berikut:
KRMH Woerjaningrat di Purwosari, Ong Siang Tjoen di Pasar Kembang, VL de Lannee
de Bretancourt di Mangoendjajan, Soetedjo di Kadipolo, Tjan Tjoe Som di Pasar
Pon, EJ van Naerssen di Pasar Legi, Singgih di Kadipolo dan Dr Satiman di Keprabon’.
De locomotief, 02-01-1934: ‘Asosiasi. Federasi Asosiasi Pemuda Tiongkok. Pada
tanggal 26 Desember. Di Tawang Mangoe, selama konferensi Chung Hsioh, dimana
ketua dewan ketua Hua Chiao Tsin Nien Hui dan Shiong Tih Hui diundang sebagai
undangan, sebuah federasi dari Asosiasi Pemuda Tiongkok yang besar ini
didirikan. Dalam panitia kerja yang akan menentukan kegiatan, Chung Hsioh. Tjan
Tjoe Som untuk HCTNH, See Woon Howe dan Shiong
Tih Hui Ir Tan Sin Houw.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Penelitian Sejarah Kuno
Indonesia: Dr Tjan Tjoe Som hingga Generasi Masa Kini
Dalam
perkembangannya Tjan Tjoe Som diketahui sudah berada di Belanda. Tidak
terinformasikan sejak kapan Tjan Tjoe Som berangkat ke Belanda. Yang jelas pada
tahun 1934 Tjan Tjoe Som masih berada di tanah air. Seperti halnya di tanah air
aktif dalam organisasi, Tjan Tjoe Som di Belanda juga aktif dalam organisasi.
Tjan Tjoe Som kali pertama diketahui di Belanda pada tahun 1936.
Soerabaijasch handelsblad, 16-04-1936: ‘Chung
Hwa Hui di Belanda. Peringatan seperempat abad. Aneta memberi kabar dari Den
Haag bahwa Chung Hwa Hui disana merayakan hari jadinya yang ke-25 kemarin.
Sebuah pertemuan perjamuan dan resepsi diadakan, dimana anatara lain hadir Prof
Duyvendak, Prof. Idema dan Prof. Swellengrebel. Pemimpin pemuda Cina Hindia Tjan
Tjoe Som memberikan presentase tentang posisi orang Cina Hindia, menunjukkan
kesalahan yang menyebabkan posisi ini memburuk. Dia mendorong solidaritas dan
partisipasi nyata dalam politik. Asosiasi menerima surat ucapan selamat dari
utusan Tiongkok untuk Belanda yang tidak bisa hadir’.
Dalam
hal apa Tjan Tjoe Som di Belanda belum
diketahui, apakah bekerja atau melanjutkan studi. Dalam suatu artikel dalam
surat kabar De Indische courant, 04-05-1936 ada indikasi bahwa Tjan Tjoe Som
tengah studi di Belanda. Beberapa bulan kemudian Tjan Tjoe Som diberitakan
lulus ujian MO bahasa Inggris Akte A di Utrecht (lihat Christelijk sociaal
dagblad voor Nederland De Amsterdammer, 05-08-1936). Disebutkan Tjan Tjoe Som
tinggal di Leiden.
Akta guru MO adalah guru kepala, Lulus ujian
MO setara dengan sarjana pendidikan (kira-kira lulusan IKIP yang sekarang). Di
bawah akta guru MO adalah akta guru LO. Besar dugaan ujian yang diikuti oleh
Tjan Tjoe Som pada tahun 1921 di Bandoeng adalah ujian akta guru LO bahasa
Inggris. Setelah itu diketahui Tjan Tjoe Som kembali ke Solo. Besar dugaan di
Solo, Yjan Tjoe Som mengahajar di sekokolah menengah MULO (swasta). Hal itulah
mengapa Tjan Tjoe Som berpartisipasi dalam komite pengembangan sekolah MULO di
Solo pada tahun 1932. Masih di Solo, pada tahun 1934 Tjan Tjoe Som sebagai
salah satu ketua organisai pemuda Cina yang berpartisipasi dalam pembentukan
federasi. Besar dugaan Tja Tjoe Som berangkat ke Belanda pada tahun 1934 atau
beberapa bulanm setelahnya yang kemudian mengikuti program pendidikan untuk
mendapat akta guru MO (lulius 1936). Sebelum Tjan Tjoe Some, telah banyak guru-guru
asal Indonesia (baca: Hindia) yang telah lulus dan mendapatkan akta guru MO
yakni yang pertama Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan tahun 1911. Todoeng
Harahap gelar Soetan Goenoengf Moelia tahun 1918 (kelak Menteri RI kedua),
Sjamsi Sastra Widagda (1920); Dahlan Abdoellah 1921 dan lainnya. Soewardi
Soejaningrat (kelak dikenal Ki Hadjar Dewantara) di Belanda hanya akta guru LO
saja (lulus 1921).
Meski
sudah lulus guru MO di Belanda, Tjan Tjoe Som tampaknya tidak segera pulang ke
tanah air di kampong halamannya di Solo. Hal ini karena, paling tidak di dalam
nama-nama penumpang kapal ke Batavia selama satu tahun kemudian setelah lulus
MO. Pada tahun 1938 Tjan Tjoe Som berpartisipasi dalam suatu kongres pendidikan
di Leiden.
Algemeen Handelsblad, 17-03-1938: ‘Pertemuan
Mahasiswa Internasional. Ned. Komite Layanan Mahasiswa Internasional Belanda akan
mengadakan konferensi di Leiden dari 28 Maret hingga 1 April untuk mahasiswa Belanda,
Hindia Belanda, Cina, Inggris, dan India Inggris Subjek:
“Pendidikan”. Pembicara akan menghadirkan CF Strickland dari Inggris,
Prof. Dr. J Ph. Vogel, Tjan Tjoe Som, Prof. Dr CC Berg serta seorang penutur
bahasa Belanda-Indonesia dan Inggris-Indonesia. Bahasa yang akan digunakan adalah
bahasa Inggris. Informasi lebih lanjut disediakan oleh sekretariat
International Student Service, Breestraat 41, Leiden’.
Dalam
kongres internasional pendidikan di Belanda itu terinformasikan bahasa
pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris. Tjan Tjoe Som guru bahasa
Inggris lulusaan akta gur MO bahasa Inggris di Belanda termasuk salah satu
pembicara. Dalam kongres ini juga terinformasikan dua nama penting yakni Prof.
Dr J Ph. Vogel dan Prof. Dr CC Berg yang dapat dihubungkan dengan penerbitan
hasil penelitian Dr WF Stutterheim tahun 1929 dimana Tjan Tjoe Som
berpartisipasi dalam penerbitannya. Paling tidak dalam hal ini sudah ada
koneksi langsung atau tidak langsung mereka bertiga. Dalam konferensi dimana
Tjan Tjoe Som pada hari kedua membawakan makalah berjudul „The relation of
educatlon to indigenous inatitutions”. (lihat Algemeen Handelsblad, 31-03-1938).
Dalam kongres mahasiswa internasional di
Belanda tersebut, Tjan Tjoe Som mengindikasikan masih kuliah setelah mendapat
akta guru MO. Besar dugaan setelah lulus MO, Tjan Tjoe Som melanjutkan studi
lebih lanjut untuk mendapatkan gelar master, yang menjadi persyaratan untuk
promosi ke tingkat doktoral.
Tjan
Tjoe Som tidak teronformasikan hingga terjadi pendudukan Jerman di Belanda
sejak bulan Mei 1940. Meski terjadi pendudukan dan pendidikan tinggi sempat
ditutup tetapi kemudian universitas kembali dibuka. Mahasiswa-mahasiswa asal
Indonesia (Hindia Belanda), yang tidak bisa pulang ke tanah air karena telah
terputus komunikasi sejak pendudukan Jerman, terus melanjutkan studi
masing-masing. Tentu saja dalam hal ini Tjan Tjoe Som juga meneruskannya. Pada
tahun 1941 diberitakan Tjan Tjoe Som lulus ujian sarjana (master) di Leiden dalam
bidang Chineesch-Japansche .taalen -. letterkunde, (lihat Leidsch dagblad, 08-07-1941).
Sejumlah mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia di
Belanda berhasil menyelesaikan pendidikan, tingkat sarjana, master dan doktoral
saat pendudukan Jerman di Belanda masih berlangsung. Untuk yang lulus doktor
(Ph.D) antara lain Ong Eng Die dalam bidang ekonomi di Amsterdam, Soemitro
Djojohadikoesoemo dalam bidang ekonomi di Rotterdam dan Masdoelhak Nasoetion
dalam bidang hukum di Utrecht. Di Belanda sendiri terdapat organisasi
mahasiswa-mahasiswa sepertti Chung Hwa Hui untuk golongan Cina (didirikan 1911)
dan Perhinpoenan Indonesia untuk golongan pribumi (didirikan 1908). Pada saat
pendudukan Jerman ini para pemimpin Perhimpeioenan Indonesia yang anti fasis
ditangkap yakni Parlindoengan Lubis (ketua), Sidhartawan (sekretaris) dan
Mohamad Ildrem Siregar (bendahara). Sidhartawan meninggal dalam tahanan, Ildrem
Siregat dibebaskan, sedangkan Parlindoengan Lubis terus ditahan di kamp NAZI.
Satu
yang menarik dari bidang yang dipelajari oleh Tjan Tjoe Som adalah dengan
kemampuan bahasa Inggris yang baik kemudian mempelajari sastra bahasa
Cina-Jepang. Mengapa Tjan Tjoe Som tertarik pada sastra dan bahasa Jepang?
Bukankah saat itu di Indonesia (Hindia) terjadi gerakan anti Jepang diantara
orang-orang Cina (sebagai solidaritas terhadap pendudukan Jepang terhadap
China. Boleh jadi Tjan Tjoe Som bukan tergolong anti Jepang, tetapi seperti
umumnya orang pribumi di Indonesia anti Belanda (sedikit pro ke Jepang).
Soal studi tentang Jepang, sudah ada orang
Indonesia sebelumnya di Belanda. Pada tahun 1925 Sjamsi Sastra Widagda berhasil
meraih gelar doktor di Amsterdam dengan tesis tentang perdagangan Jepang.
Selanjutnya pada tahun 1933 tujuh revolusioner Indonesia, yang terbilang anti Belanda
berangkat ke Jepang. Ketujuh revolusiner Indonesia itu dipimpin oleh Parada
Harahap yang didalannya termasuk Dr Sjamsi Sastra Widagda dan Drs Mohamad Hatta
berangkat ke Jepang pada bulan November 1933. `Mereka tiba kembali ke tanah air
pada tanggal 14 Januari 1934 di Tandjoeng Perak Soerabaja, dimana pada hari
yang sama Ir Soekarno diberangkatkan dari Tandjoeng Priok diasingkat ke Flores.
Sebagaiman disebut di atas pada periode waktu itu Tjan Tjoen Som aktif
berpartisipasi dalam pembentukan federasi pemuda Cina/Tionghoa di Solo (lihat De
locomotief, 02-01-1934). Besar dugaan, dalam hal ini, Tjan Tjoe Som adalah
salah satu pendukung fanatik (perjuangan) nasionalis Indonesia. Oleh karenanya
Tjan Tjoe Som menjadi tidak kontraproduktif dengan memilihj sastra dan bahasa
Jepang sebagai bidang kajiannya di Belanda.
Dalam
perkembangannya, Belanda dibebaskan dari Jerman oleh Sekutu. Kebebasan Belanda
kembali di Belanda. Para mahaiswa asal Hindia juga terasa ikut terbebaskan.. Beberapa bulan kemudian,
Kerajaaan Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Beberapa
hari kemudian pada tnaggal 17 Agusrus 1945 di Djakarta diproklamasikan
kemerdekaan Indonesia.
Algemeen Handelsblad, 05-09-1945: ‘Cina di Den
Haag Merayakan Kemenangan. Pesta kemenangan kemarin dirayakan oleh koloni Cina
di Den Haag dan diperkenalkan dengan prosesi eksotis yang memuncak dalam
pertemuan yang dihadiri banyak orang di aula besar Kebun Binatang yang
didekorasi dengan indah. Drs. Tjan Tjoe Som menunjukkan bahwa, sepanjang
sejarah, budaya Cina selalu menaklukkan musuh yang menyerang, dan bahwa
perlawanan empat belas tahun melawan Jepang muncul dari semangat cinta
kebebasan Cina. Walikota De Monchy berharap bahwa periode kerjasama yang
bermanfaat akan dimulai antara Belanda, Hindia Belanda dan Cina yang hebat. Tamzil
berbicara atas nama Perhimpoenan Indonesia, setelah itu Prof. Burgers
mengucapkan terima kasih kepada orang-orang Belanda. Atas nama panitia perayaan
Cina, hadiah 1000 dan 500 gulden diserahkan kepada anggota gerakan perlawanan
yang berduka dan Palang Merah. Sebuah koleksi juga mengumpulkan lebih dari
1.100 gulden. Tarian Cina dan Hindia mengisi acara antara istirahat. Yang hadir
antara lain Alderman De Vries, para profesor Waterman, Duyvendack,
Nieuwenhuizen dan Burgers, Mayor Baron Melvill van Carnbee atas nama MG. dan Boasson,
sekretaris Kota;’. Het parool, 05-09-1945: ‘Cina merayakan kemenangan. Sebuah
rekaman prosesi penuh warna dan aneh yang dilakukan oleh orang Tionghoa yang
tinggal di sini di Belanda kemarin di Den Haag. Sebelumnya, para korban perang telah
diperingati di aula Kebun Binatang. Sebuah karangan bunga putih kecil
ditempatkan di taman, dimana bunga-bunga diletakkan. Di aula yang didekorasi
dengan penuh selera dan dihias dengan meriah, pesta kemenangan besar juga
diadakan tadi malam. Banyak yang harus puas dengan tempat berdiri. Setelah
membaca wasiat Dr. Sun Yat Sen, Drs Tjan Tjoe Som, ketua Chung Hwa Hui,
asosiasi Cina angkat bicara.
Dalam
berita tersebut diketahui yang menjadi ketua Chung Hwa Hui adalah Tjan Tjoe
Som. Sedangkan ketua Perhimpoenan Indonesia, setelah Parlindoengan Lubis dutanggap
dan masih di tanah militer Jeerman, adalah FKN Harahap. Pada bulan Mei FKN
Harahap memimpin anggota Perhimpoenan Indonesia dalam suatu demonstrasi
menuntuk kemerdekaan Indonesi di Jepang.
De bevrijding: weekblad uitgegeven door de
Indonesische Vereniging Perhimpoenan Indonesia, 26-05-1945): ‘De
vrijheidsbetogingen te Amsterdam (9 Mei 1945). Demonstrasi besar di Amsterdam
dengan mengatasnamakan Perhimpunan Indonesia untuk menuntut kemerdekaan
Indonesia yang berkumpul di lapangan Istana Kerajaan. Bendera Merah Putih
menjulang diantara demonstrasi. Banyak orang Amsterdam yang mendukung demo ini
dengan simpati. Beberapa orang Amsterdam juga ikut naik panggung untuk
berbicara untuk mendukung kemerdekaan Indonesia termasuk Wali Kota
Amsterdam…F. Harahap telah berpidato, yang mewakili atas nama Perhimpunan
Indonesia untuk mengatakan beberapa kata. mengucapkan terima kasih kepada
orang-orang Belanda untuk semua dukungan dan simpati ini, yang mana orang
Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus memperjuangkan kemerdekaan.
Namun
setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan terjadi gerakan Belanda memasuki
kembali wilayah Indonesia. Sudah barang tentu itu bertentangan dengan isi
proklamasi kemerdeka. Orang-orang Belanda tetap ngotot masuk dan ingin
menguasai Indonesia. Akibatnya perang yang terjadi. Disinilah orang Belanda
diuji.
Sebagaimana diketahui Belanda belum lama
dibebaskan dari Jepang. Selama pendudukan Jerman di Belanda, para mahasiswa
Indonesia ikut berjuang. Ketika belum lama ini Belada terbebaskan, mahasiswa
Indonesia agak sedidikit lega yang kemudian mengalihkan perjuangan untuk
kemerdekaan Indonesia. Demonstrasi Indonesia di Belanda untuk mendapatkan
kemerdekaan (dari Jepang) didukung orang Belanda. Akan tetapi ketika Indonesia
diproklamasikan 17 Agustus 1945 Belanda lupa semuanya yang belum lama terjadi
dengan mengorganisasikan orang-orang Belanda untuk menduduki dan menguasai Indonesia (kembali). Belanda
dalam hal ini tidak tahan uji, yang mengemuka adalah nafsu ingin menguasai demi
keuntungan.
Sudah
barang tentu di Indonesia ada pihak yang menerima Belanda (bekerjasama),
sebaliknya di Belanda ada pihak Indonesia yang menjalin kerjasama dengan
Belanda. Kerjasama tidak didasarkan atas kekuasaan tetapi dengan dasar harmoni.
Mereka inilah kemudian yang membentuk Perhimpunan Belanda-Indonesia di
Indonesia. Ini mengindikasikan tidak ada lagi sekat-sekat antara satu sama lain
Belanda, Cina dan pribumi. Untuk mencapai tujuan itu, mereka yang tergabung
dalam Perhimpunan Belanda-Indonesia di Belanda memajukan manifesto pada bulan
Januari 1946 termasuk di dalamnnya yang menandatangani Tjan Tjoe Som (lihat De
waarheid, 03-01-1946).
Manifesto itu pada intinya menyerukan kepada
orang Belanda dan orang Indonesia yang tengah berselisih di Indonesia untuk
saling menahan diri. Kedua belah pihak memilih untuk tidak menggunakan kekuatan
senjata, tetapi untuk saling berkonsultasi. Dasar untuk ini haruslah pengakuan
tanpa syarat atas hak Indonesia untuk memerintah sendiri, yang sampai
kesepakatan akhir pada Konferensi Meja Bundar. Oleh
karena itu memohon kepada Piagam Atlantik dan Piagam Perserikatan
Bangsa-Bangsa, yang keduanya telah ditandatangani oleh Belanda dan dimana
prinsip kerjasama supranasional di satu sisi dan prinsip penentuan nasib
sendiri bangsa-bangsa berlabuh di lainnya. Pengurus Nasional Perhimpunan
Belanda-Indonesia Prof Dr dr JPB de Josselin de Jong, RM Soenito. Dr JA
Verdoorn, JWB Riemens. RMR Woerjaningrat. Dr Ong Eng Die. HJ de
Dreu. Selain ditandatangani oleh pengurus Perhimpunan Belanda-Indonesia, yang ikut
menandatangi manifesto tersebut antara lain Prof Dr W Asselbergs (Anton van
Dunkerque), Dr KJ Brouwer, Prof Dr GWJ Drewes, TM Daliloedin Loebis, Drs
M Daroesman, FJ Goedhart (Pieter ‘t Hoen), E Gobée, FKN. Harahap, Mr T. Harahap-Soedjanadiwirja,
GH van Heuven Goedhart, FJ Heyligers. J van de Kieft, AJ Koejemans, Prof Dr RD
Kollewijn, Prof Dr H Kraemer, F Kuiper, Dr Parlindoengaan Loebis, W.
Middendorp, LN Palar, Mr NDG Pamontjak, E Poetiray, HM van
Randwijk. Prof J Romein, Geert Ruygers, SJ Rutgers, Prof. P Scholten, GH
Slotemaker de Bruine, RM Setyadjit Soegondo, N Stufkens, BW Schaper,
Tajibnapis, S Tas, Tjan Tjoe Som, JM den Uyl, Prof MW Woerdeman, K
Woudenberg. TM Yoesoef, JJ Voskuil, JJ Buskes..
Perselisihan
Belanda – Indonesia di Indonesia terus bergulir. Tjan Tjoe Som belum ingin
kembali ke tanah air. Boleh jadi karena keadaan yang semakin kacau. Tampaknya
Tjan Tjoe Som tetap bertahan di Belanda. Perjanjian Linggarjati sebenarnya
sudah dapat diterima oleh para anggota yang tergabung dalam Perhimpoenan
Belanda – Indonesia di Belanda. Akan tetapi menjadi bermasalah karena DPR
Belanda mengubah kebijakan yang terkesan melanggar perjanjian Linggarjati yang
merasa terganggu dengan fakta-fakta ini dan fakta-fakta lainnya, yang bertanda
tangan di bawah ini menyatakan keyakinannya (lihat De waarheid, 05-02-1947)
Disebutkan bahwa hal itu merusak dasar yang
masuk akal dan dapat diterima secara moral untuk kerjasama di masa depan dengan
Indonesia, HANYA MEMBANGUN DI ATAS YAYASAN LINGGADJATI DAPAT DAMAI DAN
KEMAKMURAN BAGI BELANDA. NEGARA DAN INDONESIA. Lalu Pengurus Nasional
Perhimpunan Belanda-Indonesia dan anggotanya di Belanda memajukan manifesto
baru yang juga turut ditandatangani oleh Tjan Tjoe Som. Dari pihak Indonesia
yang turut menandatangani manifesto tersebut, selain Tjan Tjoe Som adalah LN
Palar; Dj. Pratomo; Tjiam Djoekhiam; Tjan Tjoe Som; T Loemban Tobing. Nama-nama
yang turut mendantangani manifesto pertama sudah ada yang pulang ke tanah air
seperti Dr Parlindoengan Loebis dan Dr Ong Eng Die serta Setjajit.
Dalam
sotuasi dan kondisi yang belum menguntungkan dan menemukan jalan keluar
perselisihan Belanda – Indonesia di Indonesia, Tja Tjoe Som tetap intens
menyelesaikan studinya di Belanda. Seiring dengan adanya keinginan bersama
antara pihak Belanda dan Indonesia dalam perdamaian dengan gencatan senjata
yang kemudian akan dilanjutkan ke perundingan (KMB di Den Haag) Tjan Tjoe Som
juga di Belanda sudah menuman proses penyelesaian studinya. Pada bulan Juli
1949 diberitakan lulus ujian doktoral (lihat Algemeen Handelsblad, 09-07-1949).
Disebutkan Tjan Tjoe Som dinyatakan lulus sebagai doktor dalam bidang sastra
dan filsafat (cum laude) dengan disertasi “Po Hu T’ Ung: ‘The comprehensive
discussions in the White Tiger Hall’.
Selesai sudah studi Tjan Tjoe Som di Belanda
dan telah mencapai level tertinggi dalam pendidikan sebagai doktor. Satu yang
tersisa dari berita ini adalah bahwa desertasi Tjan Tjoe Som tampaknya ditulis
dalam bahasa Inggris. Bukankah Tjan Tjoe Som seorang guru bahasa Inggris di
Solo yang lulus ujian akta guru LO bahasa Inggris di Bandoeng yang melanjutkan
studi di Belanda dan telah meraig akta guru MO bahasa Ingris sebelum meneruskan
studi untuk mendapat gelar master (Drs) dan doktor (Dr). Dsertasi bahasa
Inggris akan memberi efek luas karena dapat dibaca secara internasional.
Dalam
minggu-minggu terakhii di Den Haag perundingan antara Belanda dan Indonesia
kemudian disepakati sejumlah perjanjian damai yang permberlakuannya dimaulai
pada tangfgal 27 Desember 1949 bahwa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.
Tentu saja Tjan Tjoe Som sumringah. Akan tetapi Tjan Tjoe Som tidak buru-buru
pulang ke tanah air. Hal ini karena Tjan Tjoe Som akan diangkat sebagai guru
besar di Universitas Leiden (lihat Algemeen Handelsblad, 16-08-1950).
Sementara rekannya FKN Harahap akan kembali ke
tanah air. FKN Harahap bersama istrinya yang tinggal di Imhofflaan No. 59
Amsterdam bersiap-siap pulang ke tanah air (De Vrije Pers: ochtendbulletin,
31-01-1950). Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 03-01-1951 memberitakan kembali di tanah air. Dari Calcutta
FKN Harahap dengan pesawat KLM tiba di Bandara Kemajoran. Di tanah air, FKN
Harahap memulai karir sebagai dosen di Akademi Wartawan di Batavia. FKN Harahap
sendiri selesai studi tingkat master pada tahun 1946 (lihat Friesch dagblad,
10-07-1946). Disebutkan FKN Harahap berhasil ujian akhir di Vrije Universiteit,
Amsterdam.
Hubungan
Tjan Tjoe Som dan FKN Harahap terbentuk karena hubungan yang baik di Belanda antara
relasi organisasi Perhimpoenan Indonesia dan organisasi Chung Hwa Hui. Besar
dugaan bahwa Tjan Tjoe Som adalah ketua terakhir Chung Hawa Hui dan FKN Harahap
sebagai ketua terakhir Perhimpoenan Indonesia.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Dr Tjan Tjoe Som: Guru Besar
Sinologi di Universitas Indonesia
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



