Tiga tahun sebelum ekspedisi
Padjadjaran, ekspedisi Pagaroejoeng dilakukan pada tahun 1684. Ekspedisi
Padjadjaran dipimpin oleh Sersan Scipio, ekspedisi Pagaroejoeng dipimpin oleh
Thomas Dias. Ekspedisi ke Pagaroejoeng ini dilakukan setelah Pemerintah VOC
membuat perjanjian dengan para pemimpin di pantai barat Sumatra pada tahun
1665.
yang pernah berdiri di Sumatra bagian tengah. Kerajaan ini runtuh pada masa
Perang Padri, Sebelumnya kerajaan ini tergabung dalam Malayapura, sebuah
kerajaan yang pada Prasasti Amoghapasa disebutkan dipimpin oleh Adityawarman,
yang mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Bhumi Malayu di Suwarnabhumi. Munculnya
nama Pagaruyung sebagai sebuah kerajaan Melayu tidak dapat diketahui dengan
pasti. Namun dari beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman,
menunjukan bahwa Adityawarman memang pernah menjadi raja di negeri tersebut,
tepatnya menjadi Tuan Surawasa, sebagaimana penafsiran dari Prasasti
Batusangkar. Dari manuskrip yang dipahat kembali oleh Adityawarman pada bagian
belakang Arca Amoghapasa disebutkan pada tahun 1347 Adityawarman
memproklamirkan diri menjadi raja di Malayapura, Pada masa pemerintahannya
kemungkinan Adityawarman memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah pedalaman.
Dari prasasti Suruaso yang beraksara Melayu menyebutkan Adityawarman
menyelesaikan pembangunan selokan. Sementara pada sisi lain dari saluran
irigasi tersebut terdapat juga sebuah prasasti yang beraksara Nagari atau Tamil.
Sebelum kerajaan ini berdiri, sebenarnya masyarakat di wilayah Minangkabau
sudah memiliki sistem politik semacam konfederasi, yang merupakan lembaga
musyawarah dari berbagai Nagari dan Luhak. Dilihat dari kontinuitas sejarah,
kerajaan Pagaruyung merupakan semacam perubahan sistem administrasi semata bagi
masyarakat setempat (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah penemuan wilayah pedalaman Sumatra? Seperti disebut di atas, wilayah
pedalaman yang dimaksud adalah wilayah pedalaman di hulu sungai Siak dan sungai
Kampar dimana Thomas Dias mengunjunginya pada tahun 1684.. Lalu bagaimana
sejarah penemuan wilayah pedalaman di bagian tengah Sumatra? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan
Penemuan Pedalaman Sumatra: Thomas Dias dan Ekspedisi Pagaruyung 1684
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Ekspedisi Pagaruyung: Thomas
Dias hingga Thomas Stamford Raffles
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



