Tiga kota pantai, kota-kota besar di (pulau) Jawa pada
masa lalu adalah Batavia, Semarang dan Soerabaja. Banyak peristiwa sejarah yang
terjadi di tiga kota pantai utara Jawa ini. Namun secara khusus di kota
Semarang muncul sejumlah tokoh sejarah yang penting, apakah yang berasal dari
golongan orang Eropa/Belanda, golongan Cina maupun golongan pribumi. Boleh jadi
itu semua karena kota Semarang lokasinya strategis secara internasional
(navigasi pelayaran) dan penduduknya yang sudah sejak jaman lampau bersifat
melting pot. Satu kemiripan kota Seamarang di (pulau) Sumatra adalah kota
Padang di pantai barat Sumatra.
Kota Semarang adalah ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Semarang
berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Demak di sebelah timur,
Kabupaten Semarang di sebelah selatan, dan Kabupaten Kendal disebelah barat. Kota
Semarang merupakan satu dari tiga pusat pelabuhan (Jakarta dan Surabaya)
penting pada era Hindia Belanda sebagai pemasok hasil bumi dari wilayah
pedalaman Jawa. Seperti kota-kota besar lainya, Sejarah Semarang berawal kurang
lebih pada abad ke-6 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang
menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah
tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan
pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus
berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota
Semarang Bawah yang dikenal sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut.
Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan
memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho
bersandar pada tahun 1435 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho
mendirikan kelenteng dan masjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan
disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu). Pada tanggal 15 Januari 1678
Amangkurat II dari Kesultanan Mataram di Kartasura, menggadaikan Semarang dan
sekitarnya kepada VOC sebagai bagian pembayaran hutangnya. Dia mengklaim daerah
Priangan dan pajak dari pelabuhan pesisir sampai hutangnya lunas. Pada tahun
1705 akhirnya Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai
bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut kembali Keraton
Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian
Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1906 dengan Stadblat Nomor 120 tahun 1906
dibentuklah pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh
seorang Burgemeester
Lantas bagaimana sejarah kota Semarang? Seperti disebut di atas, kota
Semarang adalah kota tua, kota yang perkembanganyannya menjadi sangat pesat
sejak era VOC. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, kota Semarang termasuk salah
satu kota penting. Kota Semarang yang memiliki penduduk beragam (melting pot)
menjadi kota yang sibuk dan melahirkan banyak tokoh sejarah. Hal yang sama pula
terjadi di kota Padang di pantai barat Sumatra. Lalu bagaimana sejarah kota
Semarang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan
dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan
Indonesia dan Semarang Kota Melting Pot: Kota Padang di Pantai Barat Sumatra
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Sejarah
Kota Semarang dari Masa ke Masa: Ibu Kota Pulau Jawa Sejak Zaman Kuno
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



