Siapa Willer Hoetagaloeng? Tidak
banyak yang mengetahui. Di laman Wikipedia belum ada entri namanya. Di dalam
suatu tulisan yang dapat dibaca di internet, Dr Willer Hoetagaloeng hanya
dihubungkan dengan Ir MO Parlindoengan, penulis buku Tianku Rao (terbit 1963.
Di dalam buku ini ada disinggung nama Willer Hoetagaloeng. Ir MO Parlindoengan
sendiri adalah anak seorang guru, lulusan Kweekschool Padang Sidempoean tahun
1891 yang menjadi kepala sekolah di Taroetoeng.
Parlindoengan, yang dikisahkan oleh anaknya Dorpi Parlindungan Siregar, dimulai
ketika pada 1 Oktober 1945, Jenderal Mayor Oerip Soemohardjo mendirikan Tentara
Keamanan Rakyat (TKR). Beliau mengumpulkan 17 anak muda di Yogyakarta, di
antaranya Soeharto, Ibnu Sutowo, dan Ir MO Parlindoengan. Pada usia 27 tahun,
menurut Dorpi, ayahnya memperoleh pangkat letnan kolonel. Sebagai insinyur kimia
lulusan Jerman dan Belanda, ayahnya menjadi bawahan dr Willer Hutagalung, dulu
dokter pribadi Jenderal Soedirman. Mereka kemudian mengambil bekas pabrik mesiu
dan peralatan senjata Belanda di Bandoen, yang lalu menjadi PINDAD..
Lantas
bagaimana sejarah Dr Willer Hoetagaloengr? Seperti disebut di atas, Dr Willer
Hoetagaloeng terhubung dengan dengan nama Ir MO Parlindoengan.Keduanya pada
jaman perang (mempertahankan kemerdekaan Indonesia) memiliki pangkat yang sama
Overste (Letnan Kolonel). Dr Willer adalah dokter pribadi Jenderal Soedirman. Lalu
bagaimana sejarah Dr Willer Hoetagaloeng? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Dr
Willer Hoetagaloeng: Lulusan NIAS Dokter Pribadi Jenderal Soedirman
Di
wilayah Taroetoeng (Silindoeng) dan Balige (Toba) sudah sejak Nommensen
didirikan sekolah-sekolah misi. Belum ada sekolah pemerintah (kurikulum
nasional). Sementara jumlah sekolah pemerintah di wilayah Residentie Tapanoeli,
bahkan hingga tahun 1915 baru sebanyak 15 buah dimana 12 diantaranya berada di
Afdeeling Angkola Mandailing. Jumlah ini sudah jauh meningkat dibandingkan
tahun 1870 yang jumlahnya sebanyak enam buah dimana di Sipirok sudah ada satu
buah.
Pada tahun 1861 didirikan sekolah guru di
Tanobato (onderafdeeling Mandailing) oleh Sati Nasoetuon alias Willem Iskander
(yang baru pulang studi dan mendapat akta guru dari Belanda). Pada tahun
1862 di Parau Sorat didirikan sekolah
swasta yang diinisiasi oleh para misionaris yang mana salah satu gurunya
pendatang baru Nommensen. Untuk mengikuti permintaan masyarakat di Sipirok
pemerintah membangun sekolah pemerintah (sekolah umum Parau Sorat bergeser
menjadi sekolah misi). Sekolah misi Parau Sorat inilah yang dikloning di
wilayah Taroetoeng oleh Nommensen. Lalu pada tahun 1879 didirikan sekolah guru
di Padang Sidempoean yang lebih besar sebagai pengganti sekolah guru di
Tanobato (yang ditutup tahun 1872)..
Salah
satu lulusan sekolah dasar pemerintah di Sipirok, Soetan Martoewa Radja
melanjutkan studi di Kweekschool Padang Sidempoean. Lulus tahun 1893. Soetan
Martoewa Radja ditempatkan di sekolah dasar pemerintah di Pargaroetan, Setelah
beberapa tahun Soetan Martoewa Radja menjadi kepala sekolah di Sipirok. Ketika
pemerintah membuka sekolah dasar pemerintah yang pertama di Taroetoeng, guru
Soetan Martoewa Radja diangkat sebagai kepala sekolah di Taroetoeng. Di kota
inilah anaknya AFP Siregar lahir tahun 1918 yang kemudian diberi gelar
Mangaradja Onggang Parlindoengan (MO Parlindoengan). Di kota ini Soetan
Martoewa Radja yang juga seorang pengarang menghasilkan dua novel: Doea Sedjoli
(jilid satu dan jilid dua).
Wiliater Hoetagaloeng lahir di Taroetoeng 1910.
Saat guru Soetan Martoewa Radja sebagai kepala sekolah di Taroetoeng, Willer
Hoetagaloeng sudah usia sekolah. Besar kemungkinan Willer Hoetagaloeng adalah
salah satu murid Soetan Martowa Radja, ayah dari MO Parlindoengan. Pada saat MO
Parlindoengan masih bayi keluarga mereka pindah ke Pematang Siantar dimana
Soetan Martoewa Radja diangkat sebagai direktur sekolah guru Normaal School di
Pematang Siantar. Dalam hal inilah pertalian nama Willer Hoetagaloeng dengan
nama MO Parlindoengan, sama-sama lahir di Taroetoeng, rura (lembah) Silindoeng.
Catatan: Pada tahun 1918 Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan kelahiran
Padang Sidempoean sarjana pendidikan lulusan Belanda mendirikan sekolah guru swasta
di Dolok Sanggoel (Soetan Casajangan pendiri Indische Vereeniging di Belanda
tahun 1908 pulang ke tanah air tahun 1913 dan menjadi direktur sekolah guru di
Fort de Kock), Pada tahun 1923 GB Joshua Batoebara kelahiran Siprok lulusaan sekolah
guru tinggi Hogere Kweekschool di Poeworedjo pulang kampung dan menjadi guru
sementara di HIS swasta Sipirok (kampung halamannya). Kemudian Gading Batoebara
merantau dan menjadi guru di Tandjoengpoera (Langkat). Tidak lama di
Tandjongpoera, GB Josua tertarik atas tawaran untuk memajukan sekolah HIS
swasta di Doloksanggoel. Kehadirannya membuat sekolah HIS Doloksanggoel maju
pesat hingga akhirnya diakuisisi oleh pemerintah menjadi HIS negeri. Sukses GB
Josua merancang HIS di Doloksanggoel membuat namanya diperhitungkan oleh pemerintah
Nederlansch Indie sehingga diberikan beasiswa untuk melanjutkan studi ke
Belanda.
Pada
saat Willer Hoetagaloeng melanjutkan sekolah ke Batavia, pada saat ini Soetan
Martoewa Radja juga telah menjadi anggota dewan kota (gemeentereaad) Pematang
Siantar. Pada tahun 1925 Willer Hoetagaleong diterima di sekolah elit di
Batavia Koning Willem III School disingkat KW III (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 12-05-1925). Nama-nama lain yang bersamaan diterima antara lain
Mohamad Nawir [Harahap], Tadjoeddin Aboebakar, Jhr BEZ Dibbets dan P van Motman.
Sekolah MULO hanya ada di Padang dan Medan. Sekolah
dasar Eropa (ELS) sejak 1905 dipindahkan dari Padang Sidempoean ke Sibolga. Sejak
1914 sudah ada sekolah HIS di Padang Sidempoean (eks gedung Kweekschool). Lulusan
ELS Padang Sidempoean/Sibolga umumnya melanjutkan studi ke sekolah kedokteran Docter
Djawa School/STOVIA. Amir Sjariefoeddin Harahap
lulus ELS Medan 1921 melanjutkan studi ke Belanda lalu disusul pada tahun 1924
Egon Nasoetion lulusan ELS Padang 1924 melanjutkan studi ke Belanda. Besar
kemungkinan Willer Hoetagaloeng lulusan HIS Padang Sidempoean atau HIS Medan. Kemudian
sekolah MULO didirikan di Fort de Kock. Salah satu lulusan MULO Padang adalah Mohamad
Hatta yang kemudian melanjutkan studi ke Prins Hendrik School di Batavia tahun
1919 (sekolah elit kedua). Salah satu siswa di PHS ini adalah Ida Loemongga
Nasoetion dari Tandjoeng Karang. Mohamad Hatta dan Ida Loemongga melanjutkan
studi ke Belanda. Pada tahun 1926 dua lulusan MULO Medan Casmir Harahap dan
Parlindoengan Loebis (alumni HIS Padang Siodempoean) melanjutkan studi ke AMS
di Batavia (lalu melanjutkan studi ke Belanda). Salah satu lulusan MULO Fort de
Kock adalah Tarip Abdoellah Harahap tahun 1930 (kemudian lanjut studi ke
Batavia dan tahun 1935 diterima di THS Bandoeng). Pada tahun 1932 AFP Siregar
gelar MO Parlindoengan diterima di sekolah HBS Medan. HBS (KW III, PHS dan
Medan) lama studi lima tahun, AMS yang hanya ada di Jawa lama studi enam tahun.
Lulusan MULO di HBS dan AMS diterima di kelas empat. Lulusan HBS dan AMS dapat
melanjutkan studi ke fakultas/Universitas di Hindia atau di Belanda. Sekolah
MULO di Taroetoeng dibuka pada tahun 1931 (lalu kemudian menyusul di Padang
Sidempoean pada tahun 1933). Seperti kita lihat nanti MO Parlindoengan lulusan
HBS Medan melanjutkan studi ke Belanda (Universiteit te Delft) tahun 1936..
Pada
tahun 1926 Willer Hoetagaloeng lulus ujian transisi di KW III naik dari kelas
satu ke kelas dua (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 04-05-1926).
Di atas Willer Hoetagaloeng yang lulus ujian ada nona RAMU Mohamad Achmad dan
nona SRS Douwes Dekker. Di atasnya lagi (naik ke kelas empat) antara lain R
Adil Poeradiredja. Yang lulus di kelas tertinggi antara lain SI Hahamatsu, nona
GG.Kawilarang dan Lim Toan Him.
Dalam Kongres Jong Sumatranen yang pertama
1919 dan 1921 yang keduanya diadakan di Padang turut hadir Parada Harahap
pemimpin surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean dan Mohamad Hatta
(masih sekolah di MULO Padang dan HBS di PHS). Tahun 1921 Mohamad Hatta
melanjutkan studi ke Belanda (Rotterdam). Parada Harahap setelah korannya
dibreidel hijrah ke Batavia tahun 1922 dan pada tahun 1923 mendirikan surat
kabar Bintang Hindia. Pada tahun 1925 bersamaan dirikanannya Jong Batak di
Batavia oleh Sanoesi Pane dkk (organisasi kebangsaan Bataksche Bond sendiri
didirikan tahun 1919 oleh Dr Abdoel Rasjid Siregar, paman dari MO
Parlindoengan), Parada Harahap mendirikan kantor berita Alpena dimana editornya
direkrut dari Bandoeng, WR Soepratman. Pada tahun 1925 masih dari Bandoeng
jurnalis muda Mohamad Tabrani direkrut Parada Harahap dan ditempatkan sebagai
salah satu editor di surat kabar Hindia Baroe (eks surat kabar Neratja). Pada
bulan September Parada Harahap menginisiasi organisasi jurnalis dimana Mohamad
Tabrani sebagai ketua, WR Soepratman sebagai sekretaris dan Parada Harahap
sebagai komisaris. Pada bulan April 1926 diadakan Kongres Pemuda yang pertama
di gedung Bintang Timoer, Weltevreden yang mana sebagai ketua kongres Mohamad
Tabrani. Tidak lama kemudian Parada Harahap mendirikan surat kabar baru Bintang
Timoer (tampaknya merujuk pada nama gedung dimana diadakan Kongres Pemdua,
tidak jauh dari kantor NV Bintang Hindia). Bintang Timoer bersuara lebih
revolusioner dari Bintang Hindia dan Hindia Baroe.
Pada
tahun 1927 Willer Hoetagaloeng lulus ujian transisi naik ke kelas tiga (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 04-05-1927). Di bawah mereka yang lulus ujian nai ke kelas dua
antara lain Sjamsoeddin dan Zainal Arifin. Pada tahun 1928 Willer Hoetagaloeng
lulus ujian naik kelas dari tiga ke empat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-05-1928).
Pada kelas yang terendah (naik ke kelas dua) antara lain DC Inkiriwang dan A Th
Manusama.
Pada tahun 1928 ini di sekolah kedokteran
STOVIA lulus ujian transisi naik ke kelas empat tingkat medik antara lain
Soeleiman Siregar, Pang Siregar, Mohin Tandjoeng dan Oeu Eng Liang. Naik ke kelas
lima antara lain Abdoel Moeloek dan Ali Bosar [Harahap], naik ke kelas enam
antara lain J Leimena, Gindo Siregar dan Daliloedin Loebis, Naik ke kelas tujuh
antara lain Roebini dan E van der Worm. Untuk yang lulus dengan gelar dokter (Indisch
Arts) antara lain Abdoel Moerad, Djabangoen Harahap, Diapari Siregar (abang
dari MO Parlindoengan), Radja Kamaroedin, Abdoel Gafar dan Bahder Djohan.
Sedangkan yang lulus ujian dokter pertama antara lain adalah GM Loembantobing
dan Achmad Ramali. Pada tahun ini bulan September diadakan Kongres PPPKI yang
diselenggarakan federasi organisasi kebangsaan Permoefakatan
Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia yang dipimpin oleh MH Thamrin
sebagai ketua dan Parada Harahap sebagai sekretaris (PPPKI didirikan September
1927 di Batavia atas inisiatif Paradda Harahap sekretaris Sumatranen Bond).
Pada bulan Juli dibentuk federasi organisasi kepemudaan dengan nama Persatoean
Pemoeda dan Peladjar Indonesia (PPPI) dengan pengurus inti Soegondo (ketua,
Jong Java cabang Batavia), Mohamad Jamin (sekretaris, Jong Sumatranen) dan Amir
Sjarifoeddin Harahap (bendahara, Jong Bataksch Bond). Ketiganya sama-sama
mahasiswa Rechthogesschool dimana dekannya Prof Husein Dajajadiningrat (tempat
dimana di rumahnya PPPKI dibentuk yang sebelumnya telah berkoordinasi dengan
Soetan Casajangan, direktur sekolah guru Normaal School di Meester Cornelis).
Husein Djajadiningrat adalah mantan sekretaris organisasi mahasiswa di Belanda
Indische Vereeniging tahun 1908 yang mana sebagai penggagas dan ketua pertama
Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan. Pada bulan Oktober PPPI
menyelenggarakan Kongres Pemuda kedua. Peran Parada Harahap pada Kongres Pemuda
I, Kongres PPPKI I dan Kongres Pemuda II cukup signifikan.
Tampaknya
Willer Hoetagaloeng tidak meneruskan studi di KW III Batavia Afdeeling HBS
(telah lulus naik ke kelas empat). Willer Hoetagaloeng putar haluan dan
mendaftar di sekolah kedokteran Nederlandsch Indie Artsenschoo (NIAS) di
Soerabaja. Mengapa bisa begitu? Bukankah Willer Hoetagaloeng terbilang lancar
studi di KW III (sejauh ini tidak pernah tinggal kelas)?
Pada tahun 1928 ini sudah ada tiga sekolah
kedokteran di Hindia Belanda. Sekolah kedokteran STOVIA (suksesi sekolah
kedokteran Docter Djawa School yang didirikan tahun 1851) siswa yang diterima
lulusan ELS atau HIS. Lama studi dua tahap dimana tiga tahun pertama tingkat
persiapan dan tujuh tahun tingkat medik plus dua kali ujian dokter. Pada tahun
1913 NIAS didirikan di Soerabaja yang mana siswa yang diterima lulusan MULO
atau sederajat (lulusan kelas tiga HBS/AMS). Lama studi tujuh tahun tingkat
medik plus dua kali ujian dokter. Pada tahun 1927 didirikan fakultas kedokteran
di Batavia Geneeskundige Hoogeschool (GHS) dimana siswa yang diterima adalah
lulusan HBS dan AMS (gelar dokter Arts, setara Eropa; sedangkan gelar di STOVIA
dan NIAS adalah dokter Hindia Indisch Arts). Sebelumnya lulusan STOVIA
melanjutkan studi ke Belanda untuk mendapatkan gelar Arts.
Pada
tahun 1931 Willer Hoetagaloeng lulus ujian transisi di sekolah kedokteran NIAS
di Soerabaja, naik dari kelas tiga ke kelas empat (lihat De Indische courant, 30-05-1931).
Yang satu kelas dengan Willer Hoetagaloeng antara lain Ida Bagoes Rai, The Bing
Tjo dan Thio Liep An. Di bawah mereka
satu tahun antara lain Sjahboedin dan JP Mangindaan. Di bawahnya lagi (naik ke
kelas dua) anatar alain Djamaan Biran dan Marzoeki. Di atas Willer Hoetagaleong
antara lain Esnawan dan dan Ismail. Di atasnya lagi antara lain Artodibjo dan HJL
Mantik. Di atasnya lagi naik ke kelas tujuh antara lain Ang Bing Hing dan
Roestam.
Nun jauh disana di Belanda, Parlindoengan
Loebis dan Mohamad Ildrem Siregar diterima di fakultas kedokteran Universitett
Amsterdam. Pada tahun ini Gele Haroen Nasoetion lulusan AMS Bandoeng afdeeling
B tiba di Belanda untuk melanjutkan studi. Kebetulan kakaknya Ida Loemongga
Nasution akan sidang promosi untuk mendapat gelar doktor (Ph.D) di bidang
kedokteran di Universiteit Amsterdam, Aida Loemongga mendapat gelar dokter di
Univesiteit Utrecht tahun 1927. Pada tahun 1931 ini Ida Loemongga lulus dan
mendapat gelar doktor (perempuan Indonesia pertama meraih gelar doktor/Ph.D;
pribumi pertama peraih gelar doktor adalah Huseiu Djajadiningrat di Leiden
tahun 1913). Setahun kemudian Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia
berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) di Leiden dalam bidang filsafat dan sastra.
Pada
tahun 1932 Willer Hoetagaloeng naik ke kelas lima (lihat De Indische courant, 24-05-1932).
Pada tahun 1933 naik ke kelas enam (lihat De Indische courant, 22-05-1933).
Pada tahun 1934 lulus ujian naik ke kelas tujuh (lihat De Indische courant, 09-06-1934).
Sejauh ini Willer Hoetagaloeng terbilang yang sukses dan lancar studi tidak
pernah tinggal kelas atau menunda studi. Tinggal dua langkah lagi Willer
Hoetagaloeng untuk mendapat gelar dokter Indisch Arst. Pada tahun 1935 Willer
Hoetagaloeng lulus ujian kelas tujuh teori ke kelas tujuh praktek (lihat De
Indische courant, 15-06-1935). Tinggal selangkah lagi dengan ujian-ujian
praktek. Pada tahun 1936 Willer Hoetagaloeng lulus ujian dokter pertama (lihat
Soerabaijasch handelsblad, 06-02-1936). Yang bersamaan lulus dengan Willer
Hoetagaloeng adalah The Bing Tjo. Akhirnya Willer Hoetagaloeng lulus ujian
dokter dan mendapat gelar Indische Arts (lihat Soerabaijasch handelsblad, 02-03-1937).
Disebutkan di NIAS lulus untuk gelar Indische Arts W Hutagalung, lahir di
Taroetoeng (Tapanoeli). Ini mengindikasikan bahwa Willer Hoetagaloeng lancar
studi tanpa pernah berhenti sejak masuk di KW III School Batavia tahun 1925.
Pada tahun 1937 ini MO Parlingungan berangkat
studi ke Belanda fakultas teknik di di Delft (lihat Delftsche courant,
11-09-1937). MO Parlindungan sendiri lulus HBS Afdeeling B Medan bulan Juni
1937 (lihat De Sumatra post, 03-06-1937). Dari Batavia, yang terdaftar di dalam
manifest kapal MO. Parlindoengan dengan menumpang kapal Indrapoera berangkat
dari Batavia tanggal 28 Juli 1937 menuju Marseile (Prancis). Dari kota
pelabuhan ini, Parlindoengan melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke Paris
sebelum ke Delft. MO Parlindoengan mengambil teknik kimia. Pribumi pertama yang
lulus teknik kimia di Delft adalah Raden Soeeahcham tahun 1922 (kelak menjadi
besan dari Soetan Goenoeng Moelia). Namun perang yang berlangsung di Eropa (dan
akhirnya invasi militer Jerman di Belanda bulan Mei 1940), MO Parlindoengan telah
transfer studi dari Delft ke Universitas Zurich (Swiss). MO Parlinndoengan
lulus insinyur teknik kimia di Zurich. Pada bulan Juni 1941 Ir MO
Parliendoengan sudah berada di Bandoeng ditempatkan sebagai insinyur teknik
kimi di pabrik senjata departmen militaire Pemerintah Hindia Belanda.
Sebagaimana diketahui pada bulan Maret 1942 giliran Hindia Belanda diinvasi
oleh militer Jepang. Tampaknya MO Parlindoengan dua kali terusir karena perang
di Delft dan Bandoeng.
Setelah
lulus dan mendapat gelar dokter Willer Hoetagaloeng diangkat sebagai dokter
pemerintah di Soerabaja (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-04-1937).
Disebutkan ditugaskan untuk sementara waktu sebagai dokter Indisch Pemerintah Dinas Kesehatan Masyarakat (Dienst
der Volksgezondheid) untuk sementara di Gouvernements CBZ (rumah sakit kota) di
Soerabaja W Huatagalung, seorang lulusan NIAS di Soerabaja, lulus ujian akhir di sekolah tersebut
pada tanggal 2 Maret 1937. W Hoetagaloeng kemudian diperbantukan dari Rumah
Sakit Umum Pemerintah Pusat di Soerabaja tetapi lembaga dengan nama yang sama
di Semarang untuk mempersiapkan khusus di departemen kusta disana untuk tugas dalam
memerangi kusta di Hindia Belanda (lihat De locomotief, 20-05-1937). W
Hutagaloeng dan dokter-dokter muda lainnya membantu Dr Sitanala dalam
pemberantasan kusta di wilayah Kediri (lihat De locomotief, 02-11-1937).
Setelah selesai di Kediri, dokter Willer
Hoetagaloeng diperbantukan di wilayah misi di Modjowarno untuk menangani kusta
(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 21-11-1938). Beberapa bulan kemudian dokter W
Hoetagaloeng dengan dipimpin Dr Sitanala melakukan kesehatan kusta dari
Modjowarno ke Modjokerto (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 31-03-1939). Pada tahun
1940 dokter W Hoetagaloeng selesai bertugas dengan kesehatan kusta di
Modjowarno dan dipindahkan ke sanatorium di Batoe untuk membantu dokter CRNF
van Joost (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-08-1940). Beberapa bulan kemudian
dokter W Hoetagaloeng dari Batoe dipindahkan ke Soerabaja yang dipusatkan di
NIAS untuk ikut program pemberantasan malaria nasional (lihat De Indische
courant, 12-10-1940). Sebelumnya Dr Soemarno Sosroatmodjo pernah berpartisipasi
dan pada pertengahan tahun 1939 mendapat tugas baru sebagai dokter pemerintah
di Koeala Kapoeas (dokter ini kelak dikenal sebagai kakek dari Bimbim).
Dr
Wuller Hoetagaloeng tetap masih di Soerabaja hingga detik-detik invasi militer
Jepang di Hindia Belanda. Dalam mengantisipasi perang, Pemerintah Hindia
Belanda memobilsasi para dokter, Di Soerabaja Dr Willer Hoetagaleong ikut dalam
mobilisasi (lihat Soerabaijasch handelsblad, 16-12-1941). Mobilisasi ini dibagi
dalam empat kelompok dokter yakni fungsi rumah sakit, fungsi di tempat
tertentu, fungsi mobile dan fungsi transfusi darah. Dr Willer Hoetagaloeng
masuk dalam kelompok dokter untuk fungsi bergerak (mobile). Mobilisasi juga
dilakukan pada aparatur pemerintah kota Soerabaja. Perang sudah dimulai di
Tarempe (Natuna), Pontianak, Tarakan dan Kakas. Keterangan dari Tarempa disampaikan
oleh istri Dr Amir Hoesin Siagian (putri anggota dewan kota senior Soerabaja
Radjamin Nasoetion). Surat itu ditjukan kepada ayahnya (Radjamin Nasution) yang
kemudian dimuat pada surat kabar Soeara Oemoem yang terbit di Surabaya yang
lalu dikutip oleh koran berbahasa Belanda De Indische Courant tanggal 08-01-1942.
Berikut isi surat tersebut.
Tandjong Pinang, 22-12-194l.
Dear all. Sama seperti Anda telah mendengar di
radio, Tarempa dibom. Kami masih hidup dan untuk ini kita harus berterima kasih
kepada Tuhan. Anda tidak menyadari apa yang telah kami alami. Ini mengerikan,
enam hari kami tinggal di dalam lubang. Kami tidak lagi tinggal di Tarempa tapi
di gunung. Dan apa yang harus kami makan kadang-kadang hanya ubi. Tewas dan
terluka tidak terhitung. Rumah kami dibom dua kali dan rusak parah. Apa yang
bisa kami amankan, telah kami bawa ke gunung. Ini hanya beberapa pakaian. Apa
yang telah kami menabung berjuang dalam waktu empat tahun, dalam waktu setengah
jam hilang. Tapi aku tidak berduka, ketika kami menyadari masih hidup.
Hari Kamis, tempat kami dievakuasi….cepat-cepat
aku mengepak koper dengan beberapa pakaian. Kami tidak diperbolehkan untuk
mengambil banyak. Perjalanan menyusuri harus dilakukan dengan cepat. Kami hanya
diberi waktu lima menit, takut Jepang datang kembali. Mereka datang setiap
hari. Pukul 4 sore kami berlari ke pit controller, karena pesawat Jepang bisa
kembali setiap saat. Aku tidak melihat, tapi terus berlari. Saya hanya bisa
melihat bahwa tidak ada yang tersisa di Tarempa.
Kami mendengar dentuman. Jika pesawat datang,
kami merangkak. Semuanya harus dilakukan dengan cepat. Kami meninggalkan tempat
kejadian dengan menggunakan sampan. Butuh waktu satu jam. Aku sama sekali tidak
mabuk laut….. Di Tanjong Pinang akibatnya saya menjadi sangat gugup, apalagi
saya punya anak kecil. Dia tidak cukup susu dari saya…Saya mendapat telegram
Kamis 14 Desember supaya menuju Tapanoeli…Saya memiliki Kakek dan bibi di
sana…Sejauh ini, saya berharap kita bisa bertemu….Selamat bertemu. Ini
mengerikan di sini. Semoga saya bisa melihat Anda lagi segera.
Penyerangan
oleh Jepang dimulai dengan pengeboman di Filipina dan Malaya/Singapura.
Pemboman oleh Jepang di Tarempa merupakan bagian dari pengeboman yang dilakukan
di wilayah Singapura. Tarempa berada di kepulauan Natuna, Riau yang beribukota
Tandjoeng Pinang, pulau Bintan (dekat dari Singapura). Pada tanggal 8 Maret
1942 Pemerintah Hindia Belanda kepada militer (kerajaan) Jepang. Rezim
Pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia berakhir (digantikan rezim militer
Jepang).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Dr Willer Hoetagaloeng dan Ir
MO Parlindoengan: Sejarah Awal PT PINDAD Bandung
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



