Nama Yap Hong Tjoen hingga ini hari
masih diingat sebagai nama rumah sakit mata di Yogyakarta: RS Mata Dr YAP. Yap
Hong Tjoen sendiri di masa lampau termasuk salah satu generasi pertama orang
Cina asal Hindia Belanda (baca: Indonesia) yang studi di Belanda. Yap Hong
Tjoen sendiri adalah salah satu pendiri organisasi mahasiwa Cina di Belanda
Chung Hwa Hui. Pendirian organisasi ini setelah dua tahun pendirian organisasi
mahasiswa poribumi di Belanda yang diinisiasi oleh Saotan Casajagan dengan nama
Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).
merupakan rumah sakit khusus mata berstatus sebagai rumah sakit swasta milik
masyarakat Yogyakarta. Keberadaan Rumah Sakit Mata Dr. YAP dan lembaga lain
yang didirikan disampingnya prakarsa dan usaha Dr. Yap Hong Tjoen, seorang warga
keturunan Cina. Setibanya di Indonesia setelah menyelesaikan studi di Belanda,
Dr. Yap Hong Tjoen berusaha untuk segera merealisasikanrumah sakit ditandai
dengan: Berdirinya Centrale Vereeninging tot bevordering der Oogheelkunde (CVO);
Pada era pemerintah pendudukan Jepang tahun 1942, Prinses Juliana Gasthuis voor
Ooglijders berganti nama menjadi Rumah Sakit Mata Dr. YAP. Dr. Yap Hong Tjoen sendirei
pernah ditangkap dan ditawan Jepang. Pada tahun 1948, Dr. Yap Kie Tiong putera
Dr. Yap Hong Tjoen, kembali ke Indonesia setelah studi di Belanda dengan meraih
gelar Doktor di bidang penyakit mata. Dr. Yap Kie Tiong menjadi penerus Dr. Yap
Hong Tjoen. Dengan Akte Notaris No. 53 tanggal 17 Juni 1949 dihadapan Notaris
J. Hofstade di Semarang, Dr. Yap Hong Tjoen menyerahkan kuasa penuh kepada Dr.
Yap Kie Tiong mengenai segala sesuatunya yang berkaitan dengan Centrale
Vereeninging tot bevordering der Oogheelkunde in Nederlandsch-Indie (CVO),
Vorstenlandsch Blinden Instituut, dan Rumah Sakit Mata Dr. YAP. Dr. Yap Hong
Tjoen meninggalkan Indonesia pada bulan Juni 1949 dan meninggal dunia di Belanda.
Dr. Yap Kie Tiong mengemban kuasa penuh dari ayahnya, hingga wafatnya tanggal 9
Januari 1969. Sebelum meninggal dunia, Dr. Yap Kie Tiong sempat menulis sepucuk
surat wasiat antara lain “permintaan mengambil alih Rumah Sakit Mata Dr. YAP
guna kepentingan masyarakat”. Pada masa kini, nama Dr. Yap juga diabadikan
sebagai nama museum “Dr. Yap Prawirohusodo”, suatu museum yang
didirikan untuk mengenang pendiri Rumah Sakit Mata Dr. Yap, almarhum Dr. Yap
Hong Tjoen dan Dr. Yap Kie Tiong berlokasi di Yogyakarta Jalan Cik Ditiro No.5 dan
diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tahun 1997. Sebagian besar
koleksi yang terdapat dalam museum ini adalah peninggalan almarhum Dr. Yap Hong
Tjoen dan Dr. Yap Kie Tiong. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Yap Hong
Tjoen?
Seperti disebut di atas, Yap Hong
Tjoen
adalah salah satu generasi pertama oranf Cina asal Hindia studi di Belanda. Yap Hong Tjoenjuga salah satu
pendiri organisasi mahasiswa Chung Hwa Hui. Lalu bagaimana sejarah Yap Hong Tjoen?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku
hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Yap
Hong Tjoen di Belanda: Studi Kedokteran
Yang
Hong Tjoen lulus ujian akhir sekolah menengah berbahasa Belanda (HBS) di
Semarang tahun 1908 (lihat Het vaderland, 08-10-1908). Yang sama-sama lulus di
HBS Semarang antara lain adalah Be Tiat Tjong, Mas Notodiningrat dan Raden
Soemitro. Sementara yang lulus HBS di Soerabaja antara lain Raden Ambio
Soedibio. Baru tiga sekolah HBS ini yang ada di Hindia Belanda (baca:
Indonesia). Yang Hong Tjoen melanjutkan studi ke Belanda.
Surat kabar De locomotief, 07-12-1908 memberitakan
sejumlah perkawinan antara tanggal 30 November hingga 6 Dsember di Semarang.
Dalam daftar ini terdapat pasangan Yap Hong Tjoen dengan LE Tan. Dalam hal ini
Yap Hong Tjoen menikah muda. Sebab usia Yap tentulah masih mudah, normalnya lulusan
sekolah dasar (7 tahun) ditambah lulusan HBS (lima tahun), Mungkin sekitar
18-19 tahun.
Kapan
Yap Hong Tjoen berangkat studi ke Belanda tidak terinformasikan. Yang jelas Raden
Soemitro berangkat ke Belanda bulan Juli 1908 (lihat Sumatra-bode, 08-07-1908).
Raden Soemitro berangkat dengan kapal ss Kawi dengan tujuan akhir Nederland.
Satu kapal dengan Raden Soemitro adalah Raden Ambia Soedibio. Het vaderland,
14-08-1908 menyebutkan Raden Soemitro dan Raden Ambia Soedibio.adalah anak dari
Bupati Koetoardjo dan cucu dari Bupati Banjoemas.
Be Tiat Tjong sudah berada di Belanda
sebagaimana diberitakan De nieuwe courant, 10-09-1908. Disebutkan dari 147 yang
baru mendaftar di Technische Hoogeschool di Delft, 94 telah terdaftar sebagai
calon anggota DSC Groenlijst dimana terdapat 4 nama asing tahun ini, yaitu: Be
Tiat Tjong, Notodhiningrat, Ambia Soedibio dan Raden Soemitro. Namun bagaimana
hasil selanjutnya belum diketahui (karena masih bersifat kandidat). Namun dalam
perkembangannya Raden Soemitro sudah lulus ujian masuk Indischen
Administratieven Dienst (lihat De Telegraaf, 11-10-1908).
Yap
Hong Tjoen di Belanda belum terinformasikan dimana kuliah. Yang jelas pada
tanggal 25 Oktober 1908 di rumah Radjioe Harahap gelar Soeran Casajangan di
Leiden berkumpul semua mahasiswa pribumi asal Hindia (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 28-01-1909). Atas prakarsa Soetan Casajangan, meminta Raden
Soemitro mengirim undangan semua mahasiswa, semuanya hadir sebanyak 20 orang.undangan.
Hari itu diresmikan organisasi mahasiswa pribumi yang diberi nama Indische
Vereeniging dimana sebagai ketua Soetan Casajangan (mahasiswa paling senior)
dan sebagai sekretaris Raden Soemitro (mahasiswa paling junior yang belum lama
berada di Belanda).
yang kami sebutkan sebelumnya, sebuah persatuan penduduk asli (pribumi) Hindia
telah dibentuk di Belanda. R Soetan Casajangan menulis yang dimuat Het
Koloniaal Weekblad untuk mengatakan hal berikut tentang asosiasi ini: untuk
mendirikan sebuah asosiasi untuk orang Hindia di Belanda: ‘Saya memilih salah
satu orang Hindia sebagai kolaborator saya, yaitu R Sumitro. Lalu kami mengirim
undangan ke semua orang Hindia yang belajar di Belanda untuk menghadiri
pertemuan pembentukan organisasi. Pada tanggal 25 Oktober kami, lima belas
orang Hindia, berkumpul di tempat saya, Leiden, dan pertemuan pertama diadakan.
Saya meminta R Soemitro untuk menghadiri pertemuan. R.Hoesein Djajadiningrat
adalah sekretaris sementara. Anggaran Dasar disetujui pada prinsipnya dengan
suara bulat dan diputuskan untuk mendirikan ‘Indische Vereeniging’. Kemudian
kami melanjutkan untuk memilih dewan. Presiden terpilih: R Soetan Cssajangau Soripada,
sekretaris dan bendahara RM Soemitro. Komisarie terdiri dari dari R Soetan Casajangan
Soripada, RM Soemitro, RMP Sosro Kartono dan R. Hoesain Djajadiningrst, ditunjuk untuk
menyusun lebih lanjut anggaran dasar dan peraturan. Pada tanggal 15 November
pertemuan kedua diadakan di Den Haag. Itu sejarah pendirian ‘Indische Vereeninging’.
Dalam statuta kami memberi nama Vereeniging dengan nama “Indische
Vereeniging” dan didirikan di Den Haag. Tujuannya adalah untuk memajukan
kepentingan bersama orang Hindia di Belanda, dan untuk tetap berhubungan dengan
Hindia. penduduk asli Hindia Belanda. Asosiasi mencoba untuk mencapai tujuan
ini dengan: mempromosikan interaksi antara orang Hindia di Belanda, mendorong
orang Hindia untuk datang dan belajar di Belanda. dengan melakukannya dengan
memberikan informasi tentang studi dan tempat tinggal di Belanda, dengan
membantu orang Hindia yang baru tiba, dan dengan memberikan semua informasi
yang mungkin tentang Belanda atas permintaan. Anggota biasa hanya boleh orang Hindia
yang tinggal di Belanda. Kami berharap asosiasi muda ini menemukan keberhasilan’.
Yap
Hong Tjoen kemudian diketahui studi bidang kedokteran di Universiteit te Leiden
(lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 11-10-1911). Disebutkan di
Uiniversiteit te Leiden lulus ujian fisika kedua (het tweede natuurkundig
examen) Yap Hong Tjoen.
Pada tanggal 5 April 1911 didirikan
organiusasi mahasiswa Cina asal Hindia di Belanda. Pada tanggal 5 April disebutkan
vereeniging ini didirikan dalam pertemuan Yap Hong Tjoen, kandidat dokter di
Leiden menyampiakan pidatonya (lihat De
Telegraaf, 07-04-1912). Kepengurusan awal Tjoeng Hwa Hwee [Chung Hwa Hui] terdiri
dari Yap Hong Tjoen (ketua); Teng Sioe Hie (sekretaris); Be Tiat Tjoen
(bendahara). Komisaris terdiri dari Lie Tjwan Tien dan RAL Tan (alias Tan Tjing
Sen). Disebutkan tujuan dari asosiasi adalah: A. untuk mempromosikan persatuan
antara Cina yang tinggal di Belanda, dan untuk mempromosikan kepentingan
mereka. B. Membangkitkan Cina di Hindia Belanda untuk lebih mengembangkan diri
secara intelektual setelah studi pendahuluan selesai. C. Pembentukan Dana
Pendidikan. Juga disebutkan untuk membantu orang Cina di Hindia Belanda dalam
segala hal yang perlu mereka ketahui jika mereka memutuskan untuk pergi ke
Eropa atau mengirim anak-anak mereka ke Eropa (lihat De nieuwe courant, 10-11-1912).
Chung Hwa Hui didirikan oleh empat belas pemuda Cina yang belajar di Belanda;
sebuah asosiasi, yang menemukan landasan dalam nasionalisme, berasal dari
realisasi hak murni dan murni dari saudara-saudara kuning untuk menentang
diskriminasi hukum berdasarkan inferioritas ras yang seharusnya (lihat Algemeen
Handelsblad, 05-05-1926). Besar dugaan di satu sisi organisasi ini didirikan
terinspirasi dari adanya Indische Vereeniging dan di sisi lain selain hukum
Belanda yang diskriminatif di Hindia Belanda juga diduga terinspirasi berlangsungnya
revoluasi di Tiongkok.
Pada
tahun 1913 Yap Hong Tjoen lulus ujian medis teoretis (theoretisch geneeskundig
examen). Disebutkan di Universiteit te Leiden lulus ujian theoretisch
geneeskundig examen antara lain Yap Hong Tjoen (lihat Algemeen Handelsblad, 11-10-1913).
Lulus ujian medis teoretis kemudian lebih dikenal sebagai ujian kandidat
dokter. Yap Hong Tjoen dapat dikatakan orang Cina pertama yang akan mendapat
gelar dokter di Belanda. Orang pribumi yang sudah mendapat gelar dokter di
Belanda antara lain adalah Dr Abdoel Rivai dan Dr F Laoh pada tahun 1908 dan Dr
W Tehoepelory tahun 1909. Mereka bertiga sebelum studi kedokteran di Belanda
adalah dokter-dokter yang sudah bekerja lulusan sekolah kedokteran Docter Djawa
School di Batavia.
Pada bnlan Juli 1913 Soetan Casajangan kembali
ke tanah air. Soetan Casajangan tiba di Belanda tahun 1905 yang saat itu
mahasiswa kedua asal Hindia (yang pertama adalah R Kartono, abang dari RA
Kartini yang datang tanhun 1896). Dalam pendirian Indische Vereeniging tahun
1908, R Kartono dan Hoesein Djajadiningrat sebagai komisaris. Pada tahun 1909
Soetan Casajangan lulus ujian guru LO dan kemudian pada tahun 1911 lulus ujian
guru MO (sarjana pendidikan). Soetan Casajangan, kelahiran Padang Sidempoenan
adalah lulusan sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean. Pada tahun 1913 ini
juga Hussein Djajadiningrat di Universiteit Leiden pada Mei 1913 meraih gelar
doktor (Ph.D) di bidang sastra dengan desertasi berjudul ‘Critische
beschouwingen van di Sadjarah Banten’.
Di
antara waktu studi, Yap Hong Tjoen terus aktif membangun organisasi Chung Hwa
Hui di Belanda. Pada bulan Desember 1913 dibentuk Chung Hwa Hui Hich Pan di
Amsterdam (Studiefond CHH). Disebutkan Studiefond CHH tersebut telah dibuat
akta oleh Yap Hong Tjoen dkk dihadapan notaris Chs. Miseroy (lihat De nieuwe
courant, 22-12-1913). Disebutkan Studiefond CHH bertujuan untuk memberikan
kompensasi finansial kepada kaum muda keturunan Cina (berjenis kelamin
laki-laki atau perempuan) yang berasal dari Hindia Belanda, yang berkelakuan
baik dan berakhlak mulia dan yang berkeinginan untuk mengunjungi tempat
pendidikan. lembaga-lembaga di Belanda, tetapi yang tidak atau tidak sepenuhnya
mampu membiayai sendiri. Disebutkan ketua Chineezen Vereeniging
(CHH) juga sebagai ketua Studiefond dimana kontrol atas segala sesuatu yang
menyangkut dana dipercayakan kepada sebuah komite, yang terdiri dari setidaknya
lima dan paling banyak sembilan orang senior yang tinggal di Belanda yang dengan
demikian AD/ART CHH telah mencapai tujuannya yang dinyatakan dalam Pasal 2 sub
C.
Pada tahun 1912 Soetan Casajangan (mantan
ketua Indische Vereeniging yang sudah lulus kuliah) dan Abdoel Firman Siregar
gelar Mangaradja Soangkoepon atas nama Indische Vereeniging membentuk suatu
komite untuk penggalangan dana untuk membantu biaya pendidikan yang membutuhkan
(Studiefonds) dengan nama besar mencatut nama Ratu Belanda (Juliana Fonds).
Selama ini studiefonds biasanya dilakukan oleh orang-orang Belanda baik di
Belanda maupun di Hindia. Mangaradja Soangkoepon, kelahiran Padang Sidempoean
tiba di Belanda pada tahun 1910. Studiefond CHH dibentuk terinspirasi dati
studiefond Indische Vereeniging.
Setelah
terbentuknya Studiefond, Yap Hong Tjoen mulai fokus studi. Kepengurusan Chung
Hwa Hui telah digantikan oleh pengurus baru (lihat Nieuwe Rotterdamsche
Courant, 22-12-1913). Disebutkan pengurus baru terdiri dari ketua Tan Tjing
Ien, sekretaris P Sim Zecha, bendahara Li Tjwan Ing. Komisaris terdiri dari
Caroline V Tan dan Tap Hong An. Pada yanggal 6 November Yap Hing Tjoen lulus
ujian dokter pertama di Leiden (lihat Algemeen Handelsblad, 06-11-1914).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Dr Yap Hong Tjoen Soetan dan
Chung Hwa Hui; Soetan Casajangan dan Indische Vereeniging
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




