*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Banyak pahlawan Indonesia bergelar
dokter. Mereka adalah lulusan sekolah kedokteran di Batavia dan Soerabaja.
Sekolah kedokteran pertama adalah Docter Djawa School di Batavia yang kemudian
pada tahun 1902 ditingkatkan dengan nama yang baru STOVIA. Pada tahun 1913
sekolah kedokteran yang baru dibuka di Soerabaja (NIAS). Lalu kemudian pada
tahun 1927 sekolah kedokteran yang baru dibuka lagi di Batavia dengan nama GHS.
dibedakan tiga jenis. Lulusan Docter Daja School atau STOVIA disebut Inlandsch
Arts. Sementara lulusan sekolah kedokteran NIAS di Soerabaja disebut Indisch
Arts. Sedangkan gelar dokter lulusan GHS adalah (hanya) disebut Arts. Apakah
ada beda? Tentu saja. Perbedaan didasarkan pada tujuan programnya yang meliputi
syarat masuk, lama studi, kurikulum dan sebagainya. Dari sekolah-sekolah
kedokteran di Hindia Belanda (Indonesia) para lulusan dapat meningkatkan
pendidikannya ke Belanda baik untuk mendapatkan gelar sarjana meupun gelar
doktor. Pribumi pertama yang meraih gelar doktor di Belanda adalaj Dokter
Sarwono pada tahun 1919. Sedangkan perempuan pribumi pertama yang meraih gelar
doktor adalah Ida Loemongga pada tahun 1931.
Lantas
bagaimana sejarah sekolah kedokteran di Hindia Belanda (baca: Indonesia) dari
masa ke masa? Seperti disebut di atas, sekolah kedokteran ada tiga jenis (lulusan
STOVIA, NIAS dan GHS). Sekolah kedokteran pertama didirikan tahun 1851 di
Batavia yang menjadi cikal bakal Docter Djawa School. Lalu bagaimana sejarah sekolah
kedokteran di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya
untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Sekolah
Kedokteran dari Masa ke Masa; Docter Djawa School hingga GHS
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Dokter-Dokter Terkenal dari
Masa ke Masa
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



