*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina
dalam blog ini Klik Disini
Apa
hubungan antara Filipina dan Indonesia? Kita sudah deskripsikan dalam banyak artikel. Namun
sejarah hubungan Indonesia dan Filipina tentu saja tidak hanya sebelum
kemerdekaan Indonesia. Sejarah hubungan Indonesia dan Filipina bahkan masih
berlangsung hingga Presiden Soekarno. Lantas apa yang manarik sejarah Presiden
Soekarno dalam hubungan politik antara Filipina dan Indonesia. Tentu saja itu sudah
ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

1927. Ir. Soekarno mendirikan organisasi kebangsaan dengan nama Perhimpoenan
Nasional Indonesia (PNI) di Bandung. Tidak lama kemudian organisasi kebangsaan
itu menjadi partai politik dengan nama Partai Nasional Indonesia (PNI). Sejak
itu Ir, Soekarno menjadi salah satu orang Indonesia yang dipermasalahkan
intelijen dan pemerintah Hindia Belanda. Akhirnya pada tahun 1930 Ir. Soekarno
ditangkap dan diadili. Setelah sempat menghirup udara bebas, Ir. Soekarno
kembali ditangkap pada tahun 1933 dan pada tahun 1934 diasingkan ke Flores, dan
kemudian pada tahun 1938 dipindahkan ke Bengkoelen. Penduduk Jepang menyebabkan
Ir. Soekarno lepas dari ikatan Hindia Belanda dan berjuang bersama dengan
pemerintah pendudukan militer Jepang (1943-1945) yang lalu Ir. Soekarno
membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 (yang
beberapa hari kemudian Ir Soekarno diangkat menjadi Presiden Republik
Indonesia. Setahun kemudian pada tanggal 4 Juli 1946 Filipina mendapatkan
kemerdekaan dari Amerika Serikat. Lalu seperti apa hubungan Presiden Soekarno
dengan presidern-presiden Filipina?
Sebagai
dua negera republik di Asia Tenggara, tentu saja hubungan Indonesia dan
Filipina memiliki kekhususan. Dalam hal inilah hubungan Presiden Soekarno
dengan para presiden dari Filipina. Lalu seberapa dekat hubungan (politik)
antara Filipina dan Indonesia semasa Presiden Soekarno? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Filipina dan Indonesia:
Presiden Soekarno
Hubungan
di antara penduduk di kepulauan Hindia Timur sudah berlangsung sejak zaman kuno
(dengan lingua franca bahasa Melayu). Hubungan itu mulai dibatasi setelah
terbentuknya Hindia Timur Spanyol (Filipina( dan Hindia Timur Belanda
(Indonesia). Hubungan secara pemerintahan baru terbentuk secara nyata sejak
Filipina di bawah kekuasaan Amerika Serikat. Pada tahun 1901 Konsul Hindia
Belanda di Manila (Filipina) sudah dibentuk. Namun tidak ada konsul Filipina di
Indonesia, yang ada adalah Konsul Amerika Serikat di Hindia Belanda. Konsul
Amerika Serikat juga membawa kepentingan Filipina di Hindia Belanda.
Selain ada konsul Inggris (yang juga terkait
kepentingan Semenanjung Strait Settleents di Penang dan Singapoera) di beberapa
kota di Hindia Belanda, seperti di Batavia dan Medan, juga ada konsul
negara-negara lain, Konsul China dan konsul Jepang, selain ada di Batavia juga
ada di Medan. Tentu saja ada konsul Australia dan negara lainnya.
Pada
saat penduduk Jepang, Filipina dan Indonesia memiliki ‘tuan’ yang sama: Kaisar
Jepang. Pada saat pendudukan Jepang, Filipina dipimpin oleh Presiden José P.
Laurel (14 Oktober 1943-14 Agustus 1945) dan Indonesia oleh Ketua Putra Ir
Soekarno. Namun sejauh ini tidak ada keterangan yang dapat ditemukan apakah
pernah Laurel dan Soekarno bertemu.
Pada saat Laurel di era pendudukan Jepang,
Presiden Filipina L. Quezon (sejak 1935) melarikan diri ke Amerika Serikat (dan
meninggal 1 Agustus 1944) dan digantikan Sergio Osmela (hingga 28 Mei 1946).
Sebagai pengganti Osmela adalah Manuel Roxas yang mengikuti penyerahan
kemerdekaan Filipina dari Amerika Serikat pada tanggal 4 Juli 1946. Elpidio Quirino menggantikan Roxas pada
tanggal 17 April 1948.
Hubungan politik anatara
Filipina dan Indonesia baru muncul sejak Indonesia dan Filipina merdeka. Pada
tahun 1949 Pemerintah Republik Indonesia mulai membuka hubungan politik dengan
Republik Filipina. Sifatnya belum formal tetapi rasa persaudaraan diantara dua
negara republik sudah terasa. Ini dapat diketahui ketika Presiden Soekarno
mengutus Menteri AA Maramis ke Filipina.

bij Quirino. Manila, 24 Mei (UP). Menteri Republik (Indonesia) Mr AA. Maramis
mengunjungi Presiden Filipina E. Quirino pada Selasa pagi, dimana pada
kesempatan itu ia menyampaikan ‘salam Ir. Soekarno dan rakyat Indonesia’. Maramis
termasuk didampingi Charles Thamboe, penjabat sekretaris jenderal urusan luar
negeri dalam pemerintahan darurat. Maramis berterima kasih kepada Quirino atas ‘dukungan
tanpa rasa takut Filipina di Dewan Keamanan atas perjuangan kami dan atas
tindakan persahabatan yang tak terhitung jumlahnya terhadap orang Indonesia
yang terbukti di Filipina sendiri’.
Republik
Indonesia saat itu belum lama melakukan gencatan senjata dengan Pemerintahan
NICA (Belanda) dan sedang mempersiapkan perundingan lebih lanjut. Saat itu Ir.
Soekarno masih berada di pengasingan di Parapat (Sumatra Utara) setelah agresi
militer Belanda bulan Desember 1948 dimana Presiden Republik Indonesia Soekarno
dan pejabat lainnya ditangkap di ibu kota pengungsian di Jogjakarta.
Perundingan akan di adakan di Den Haag Belanda (KMB). Untuk sekadar catatan
tambahan bahwa pada saat Maramis bertemu Presiden Filipina di Manila, di
Jakarta diberitakan Panglima NICA, Jenderal Spoor meninggal.
Salam dari Presiden Indonesia kepada Presiden
Filipina ini haruslah dianggap penting. Sebab situasi dan kondisi di Indonesia
belum menentu. Pemerintahan NICA Belanda masih terbilang kuat. Sementara di
Filipina, seperti disebut di atas, sudah sepenuhnya merdeka sejak 4 Juli 1946.
Filipina sendiri sudah menjadi anggota PBB. Dukungan Filipina di Dewan Keamaan PBB
inilah yang diingat Presiden Soekarno.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Presiden Soekarno Berkunjung
ke Filipina
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







