*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina
dalam blog ini Klik Disini
Dalam
sejarah zaman kuno, banyak pertanyaan yang sulit dijawab? Sebab data yang tersedia sangat minim. Okelah itu
satu hal. Namun keterbatasan data masa lampau dapat digunakan data masa kini.
Proses memahami masa lampau berdasarkan data masa kini disebut pendekatan
retrospektif. Data masa lalu digabung dengan data masa kini (data retrospektif)
diharapkan dapat lebih memperkaya pemahaman. Dalam hal ini pemahaman (understanding)
tentang penduduk asli Filipina.

adalah penduduk asli Aeta di teluk Manila, pulau Luzon. Tapi itu sangat naif,
karena Filipinan terdiri dari banyak pulau. Pulau-pulau besar di Filipina,
selain pulau Luzon adalah pulau Mindanao, pulau Panay, pulau Mindoro dan pulau
Palawan serta pula Zebu. Hal serupa itu juga di Indonesia adalah pulau Sumatra,
Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Oleh
karena penduduk asli ada di berbagai pulau-pulau di Hindia Timur
(Indonesia dan Filipina), tetapi tidak dengan sendirinya penduduk asli Aeta di
teluk Manila (dan juga penduduk Betawi di teluk Jakarta) sebagai penduduk asli
Filipina dan penduduk asli Indonesia yang paling tua. Yang jelas penduduk asli
Indonesia yang berbahasa Melayu dapat dianggap penduduk muda, karena
komunitasnya cenderuung di kota-kota pantai dan komunitas penduduk di pantai
cenderung bersifat bauran (mix population).
Lantas
bagaimana sejarah awal etnik Aeta, yang kerap disebut penduduk asli di teluk Manila?
Penduduk asli Aeta dalam berbagai tulisan antropologis disebut mirip etnik Batak,
penduduk asli pulau Palawan dan di pulau Panay. Lalu, dari namanya, apakah etnik
Aeta dan etnik Batak di Filipina memiliki asal usul dari Tanah Batak di pulau
Sumatra? Dalam hal inilah data zaman kuno dapat digabungkan dengan data masa
kini (data retrospektif) untuk digunakan memahaminya. Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Persebaran Penduduk Bumi: Kerajaan
Aroe, Pulau Panay, Kampong Manila
Berdasarkan
penelitian mutakhir (menggunakan data DNA), persebaran penduduk bumi dimulai
dari Afrika. Dalam perkembangannya ras manusia (berdasarkan warna kulit)
menjadi terbagai dua: ras putih menyebar ke utara (hingga Eropa) dan ras hitam
dari Afrika menyebar ke arah timur lautan hingga ke Pasifik.
Antara ras hitam dan ras putih ini terbentuk
tiga ras baru yakni merah (Rusia),
kuning (Mongol) dan coklat (India). Ras merah dari Eropa dan Asia menyebar ke
Amerika yang membentuk (ras) Indian; ras kuning dari Mongol menyebar ke
Tiongkok dan Jepang; ras coklat menyebar ke Hindia Timur.
Dalam
sejarah modern (sejak era Hindoe-Boedha), pedagang-pedagang dari Ceylon dan
India kemudian membentuk koloni-koloni di pulau Sumatra, Semenanjung dan Jawa.
Ras coklat (asal India) ini kemudian melahirkan ras coklat yang lebih terang
yang menjadi penduduk asli yang baru di Sumatra (Batak, Kerintji Komering dan
Lampung), Semenanjung (Semang) dan Jawa (Jawa). Pada fase inilah terbentuk
bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa.
Peneliti-peneliti Belanda menyatakan bahwa
pada era VOC masih ditemukan pada beberapa titik ras berkulit warna gelap (hitam)
yang disebut negrito (dari asal usul kata orang setempat (negorij, negeri) di
Jawa dan Semenanjung. Ras negrito ini tidak lagi adanya di Sumatra. Ras negrito
inilah yang menjadi penduduk asli Sumatra yang setelah berbaur dengan migra
asal India terbentuk etnik-etnik di Sumatra (Batak, Kerintji Komering dan
Lampung). Idem dito di pulau Jawa (etnik Jawa) dan di Semenanjung (etnik
Semang).
Sehubungan
dengan perkembangan di Sumatra, Jawa dan Semenanjung, penyerbaran penduduk bumi
terus berlanjut ke arah timur yang menyebabkan terjadi percampuran dengan
penduduk asli (negrito) yang disebut Melanesia (Alifoeroe) seperti di timur
kepulauaan Soenda Ketjil (Nusa Tenggara), Maluku dan Filipina. Etnik ras coklat
yang terbentuk di Sumatra, Semenjanjung dan Jawa plus Borneo dan Celebes
disebut ras Austronesia.
Sejaman dengan perseberan ras Austonesia ke
arah timur, muncul ras kuning yang lebih gelap yang merupakan penduduk asli di tenggara
daratan Asia (Indochina). Ras Indochina (di daerah aliran sungai Mekong)
menyeberang ke pulau Borneo dan Semenanjung (ernik Dayak). Ras kuning dari
utara (Jepang) juga menyerberang ke pulau-pulau di selatan di Filipina
(Filipino) dan Semenanjung Celebes (Manado). Gabungan dari penduduk asli
Sulawesi (negrito) dengan ras coklat dari barat (Sumatra dan ras kuning dari
utara di Sulawesi dan Maluku terbentuk ras coklat Alifoeroe (seperti etnik
Minahasa dan Toradja). Hingga kehadiran orang-orang Eropa (Portugis, Spanyol
dan Belanda) di Hindia Timur, keberadaan pendduduk asli (negrito) masih ditemukan
di Jawa, di kepulauaa Soenda Ketjil, Maluku (seperti di Sula dan Halmahera) dan
pulau-pulau di Filipina (seperti di pulau Negros)
Setelah
migrasi dari Ceylon dan India ke Hindia Timur, lalu muncul pedagang-pedagang beragama
Islam dari Asia Ketjil (termasuk Arab, Persia dan Turki plus Mesir). Kafilah
terakhir dari pedagang-pedagang Islam berasal dari Afrika Utara di Laut
Mediterani yang disebut bangsa Moor (di semenanjung Iberia; Spanyol dan
Portugal). Pasca Perang Salib di Eropa, orang-orang Moor ini bergeser dari
Semenanjung Iberia dan memusat di Afrika Utara (Mauritania, Maroko, Tunisa dan
Mali) dan sebagian menyebar ke Afrika Timur seperti Madagaskan hingga mencapai
India (Goa) dan seterusnya menemukan jalan ke pantai barat Sumatra dan pantai
barat Semenanjung.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Etnik Aeta dan Batak di
Filipina: Asal Usul dari Tanah Batak?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



