*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Papua dalam blog ini Klik Disini
Nama
(pulau) Papua sudah dikenal sejak era Portugis yang ditandai pada peta sebagai
Papoea atau Nova Guinea. Dua nama tersebut tetap eksis, tetapi nama Nova Guinea
lebih kerap digunakan dalam peta-peta buatan Eropa. Pada era VOC (Belanda) nama
Nova Guinea diterjemahkan pelaut-pelaut Belanda sebagai Nieuw Guinea. Pada
permulaan era Pemerintah Hindia Belanda terjadi perjanjian antara Inggris
dengan Belanda tahun 1823 (Traktat London 1824). Pemerintah Hindia Belanda
memproklamasikan batas yurisdiksinya (bagian barat pulau Papua) pada tahun
1828.

utara ke selatan dengan garis lurus (kecuali di ruas sungai Bensbach) dengan
menggunakan alat untuk membedakan batas pulau bagian Pemerintah Hindia Belanda sebagai
wilayah West-Zuidkust Niew Guenea dan Noord-Oosterkust Niew Guinea. Batas
tersebut yang tetap eksis hingga kini sebagai batas Provinsi Papua (Indonesia)
dan (negara) Papua Nugini. Pada tahun 1845 wilayah Papua bagian barat
dimasukkan ke dalam wilayah Residentie Ternate. Pada tahun 1854 pemasangan
patok untuk perbatasan dilakukan. Lalu pada tahun 1858 Pemerintah Hindia
Belanda membentuk suatu komisi yang bertugas untuk mengidentifikasi dan
memetakan (pulau) Papua bagian barat yang laporannya dipublikasikan pada tahun
1862. Pemetaan ini dimaksudkan untuk persiapan pembentukan cabang pemerintah
Hindia Belanda. Namun itu tidak segera terlaksana, dan baru benar-benar
terwujud cabang pemerintahan dibentuk pada tahun 1898 di afdeeling West-Zuidkust
Niew Guenea dengan ibu kota di Fakfak dan afdeeling Noord-Oosterkust Niew
Guinea. Ibu kota di Manokwari.
Lantas
bagaimana sejarah wilayah Indonesia di perbatasan Papua Nugin? Seperti disebut di atas, perbatasan ini sudah
ditarik garis lurus sejak era Pementah Hindia Belanda. Pada masa ini batas
garis lurus ini antara distrik Muara Tami, Kota Jayapura hingga Distrik Sota-Distrik
Naukenjerai di Kabupaten Merauke. Di wilayah pedalaman Papua, garis batas ini
melalui kabupaten Keerom, kabupaten Pegunungan Bintang dan kabupaten Boven
Digul. Lalu bagaimana sejarah wilayah Indonesia di perbatasan Papua Nugin? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Wilayah Perbatasan Papua
Nugini: Dari Muara Tami hingga Merauke
Batas
Papua dengan Papua Nugini berada pada garis lurus dari pantai utara di distrik
Muara Tami (Kota Jayapura). hingga pantai selatan di distrik Naukenjerai
(kabupaten Merauke). Diantara dua distrik ini (kabupaten Merauke dan kabupaten/Kota
Jayapura) terdapat kabupaten Keerom, kabupaten Pegunungan Bintang dan kabupaten
Boven Digul.
Kabupaten-kabupaten di perbatasan ini
merupakan pemekaran dari tiga kabupaten induk: Kabupaten Jayapura, Kabupaten
Jayawijaya dan Kabupaten Merauku, Kabupaten Keerom adalah pemekaran dari
Kabupaten Jayapura tahun 2002 dengan ibu kota di Waris. Kabupaten Keerom
terdiri dari lima distrik yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini,
yakni Web, Towe, Yaffi, Waris, dan Arso Timur. Kabupaten Pegunungan Bintang
adalah pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya pada tahun 2002 dengan ibu kota di
Oksibil. Kabupaten Boven Digoel adalah pemekaran dari kabupaten Merauke pada
tahun 2002 dengan ibu kota di Tanah Merah.
Perbatasan
di wilayah pantai utara di Jayapura (dengan nama Hollandia) dan pantai selatan
di Merauke sudah sejak lama dikenal. Jauh sebelum perbatasan dibuat (1824) di
wilayah pantai selatan sudah dikenal sejak era Portugis. Kawasan Teluk Torres
(antara Papua dan Australia) merupakan kawasan perdagangan orang-orang Moor
yang berbasis di Maluku (Halmahera). Pada era VOC, pedagang-pedagang Belanda
beberapa kali melakukan ekspedisi ke kawasan ini (dalam rangka eksplorasi
wilayah di benua baru yang disebut Nieuw Hollandia dan pulau Tasmania.

kejadian luar biasa dimana penduduk asli di barat perbatasan menyerang warga
yang berada di wilayah timur perbatasan. Pemerintah Australia (Inggris)
melakukan protes untuk diselidiki dan para pelaku diekstradisi ke Australia (di
Pulau Thursday). Pemerintah Hindia Belanda segera merespon dengan mengirim
suatu ekspedisi tahun 1900. Salah satu hasil ekspedisi ini adalah
merekomendasikan agar di Merauke ditempatkan pejabat pemerintah dengan
memekarkan Afdeeling West en Zuidkust Nieuw Guiena. Lalu pada tahun 1905 ibu
kota wilayah di pantai selatan didirikan di Merauke. Sejak itulah wilayah
perbatasan di pantai selatan di distrik Naukenjerai menjadi terkendali.
Wilayah
perbatasan di pantai utara mulai dipersiapkan cabang pemerintahan di Afdeeeling
Noors en Oostkust Nieuw Guinnea (ibu kota di Manokwari) seperti halnya
sebelumnya pemekaran di Merauke, Cabang pemerintahan yang dipilih di Afdeeeling
Noord en oostkust Nieuw Guinea dipilih di teluk Humboldt. Tempat yang dipilih
adalah lokasi pabrik Belanda di Hollandia (kelak dikenal sebagai Jayapura).
Untuk tujuan ini diawali dengan suatu pengukuran perbatasan antara Duitsche Nieuw
Guinea (Jerman) dengan Afdeeling Noord en Oostkust Nieuw Guinea (Nederlandsche)
yang akan disahkan (lihat Algemeen Handelsblad, 13-12-1910). Bagian timur perbatasan ini sejak 1884 di bawah yurisdiksi Jerman.

Muara Sungai Tami sudah dibentuk tim ekspedisi masing-masing di pihak
Pemerintah Hindia Belanda dan di pihak Jerman (German Nieuw Guinea). Dua tim
ekspedisi beda bangsa ini saling bekerjasama. Ketua tim ekspedisi Pemerintah
Hindia Belanda dipimpin oleh Kaptein Sachse (yang berdinas di Humboldt Baay)
pada bulan April dan Mei 1910 sebelum kehadiran tim Jerman. Pada bulan Juni Kaptein
Sache dibantu oleh Luitenant laut Luymes dan Luitenant Dalhuisen serta petugas
kesehatan Gjellerup. Tim dari pihak Hindia Belanda ini turut ahli fauna Dr. van
Kampen. Tim ini juga disertai seorang juru foto Eropa, satu orang scouut pribumi,
satu sersan Belanda dan seorang kopral pribumi dan tujuh orang pribumi yang membatu,
dua orang mantri pribumi bertugas untuk koleksi botani dan zoologi, juru bahasa
seorang Ternate, seorang pemandu dan dua kuli Papua. 64 pekerja paksa yang mana
di antaranya 25 orang sebagai pembawa bagasi dan 39 orang pembawa perlengkapan.
Sementara itu dari pihak Jerman diketuai oleh Prof. Schultze, Tim Jerman ini
bekerja terpisah dan mengikuti rute yang dilalui oleh Luymes dan Sasche.
Ekspedisi ini berhenti pada tanggal 12 Juli karena faktor kesulitan di suatu
titik yang disebut Terminus, sejauh ini hasilnya 96 Km sungaui dan jarak dari Muara Tami sudah
menempuh jarak 220 Km. Lalu tim kembali dan pada tanggal 17 tiba kembali di pos
Bergend. Pada tanggal 31 Juli tiba di pantai teluk Hunboldt di Hollandia. Prof
Shultze dari Muara Tami berlayar ke timur. Perjalanan bolak balik ke pedalaman
dari dan ke teluk Huboldt dari tanggal 12 Juni hingga 31 Juli telah menempuh
410 Km.
Dalam
laporan yang dimuat pada Algemeen Handelsblad, 13-12-1910 ekspedisi lain juga
dilakukan dengan menggunakan kapal perang HM Edi pada tanggal 6 Agustus melalui
sungai Kaiserin Agusta (kini sungai Sepik). Namun karena masalah navigasi hanya
berlayar hingga tanggal 12 Agustus. Pada tanggal 22 Agustus diadakan pertemua
antara Hindia Belanda dan Jerman di sekitar kawasan (kapal HM Edi) untuk
menyatukan laporan dari dua ekspedisi tersebut.

menjadi informasi yang penting untuk Pemerinatah Hindia Belanda dan Menteri
Koloni di Belanda sebagai bahan perencanaan pembentukan cabang pemerintahan di
di sekitar teluk Humboldt. Hal serupa ini yang telah dilakukan dalam ekspedisi
Merauke pada tahun 1900 yang dipimpin oleh Asisten Residen Afdeeling West en
Zuidkust van Nieuw Guinea Kroesen di Fakfak dengan dua kapal perang HS Serdang
dan HS Sumatra. Dalam ekspedisi ini Kroesen juga melaku ekspolorasi wilayah
(sejauh tertentu) di sungai Merauke dan sungai Digoel.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Wilayah Perbatasan di
Pedalaman: Keerom, Pegunungan Bintang dan Boven Digul
Kabupaten Boven Digul
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Kabupaten Pegunungan Bintang
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Kabupaten Keerom
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




