*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Papua dalam blog ini Klik Disini
Pegunungan
Arfak berada di sisi timur laut dari Semenanjung Kepala Burung. Puncak
tertingginya adalah Gunung Arfak, Kota Manokwari dapat terlihat. Selama musim
dingin, puncak gunung es biasanya ada, kadang-kadang salju dapat jatuh di
puncak. Gunung ini merupakan bagian dari Cagar Alam Pegunungan Arfak,kawasan
lindung yang melindungi bagian hutan hujan.

kabupaten di provinsi Papua. Ibukota kabupaten ini terletak di Anggi. Kabupaten
Pegunungan Arfak merupakan pemekaran dari Kabupaten Manokwari, (2012).
Kabupaten Pegunungan Arfak memiliki tanah yang subur. Dari situlah ada tanaman
kopi yang jadi andalan. Selain itu, kabupaten ini memiliki potensi Danau Anggi
yang nerupakan salah satu objek wisata yang sedang dikemas. Di Papua Barat
sendiri, pegunungan ini merupakan satu-satunya pegunungan yang jadi wilayah
penadah hujan di sana. Danau Anggi yang ada ini pun juga terbagi dua, yakni
Danau Anggi Giji, dan Danau Anggi Gida. Danau yang pertama, disebut pula
sebagai danau laki-laki, dan yang kedua, disebut sebagai danau perempuan. Dua
danau yang indah ini, hanya dipisah oleh perbukitan belaka (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah Pegunungan Arfak? Boleh jadi belum ada yang menulis, karena sejarah
Manokwari lebih menarik. Okelah itu satu hal. Yang jelas bahwa Pegunungan Arfak
memiliki sejarahnya sendiri, namun selama ini kurang terinformasikan. Lalu
bagaimana sejarahnya? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Nama Pegunungan Arfak
Teluk
Geelvink (kini teluk Cendrawasih) sudah sejak lama ditemukan oleh pelaut-pelaut
Belanda. Berdasarkan catatan yang ada teluk itu ditemukan oleh kapal Geelvink
pada tahun 1701. Jauh sebelumnya kawasan teluk ini sudah dikalaim oleh Sultan
Tidore. Dengan demikian jejak Belanda semakin kuat di kawasan teluk tersebut.
Sejak adanya Proklamasi wilayah Papoea pada tahun 1828 dan pada tahun 1845
dimasukkan ke wilayah Residentie Ternate, orang Eropa yang memiliki aktivitas
di kawasan ini adalah pedagang-pedagang Prancis dengan stasion di Pulau
Mansinam (lihat Algemeen Handelsblad, 06-03-1858). Pada tahun 1860 diketahui
seorang pedagang Belanda di Ternate menyewa pulau Mapia untuk stasion
perdagangan. Kawasan utara teluk ini juga kerap disinggahi oleh penangkap paus
Amerika Serikat.
Pada tahun-tahun ini misionaris Bink sudah
bekerja di kawasan teluk ini yang mengambil pos di (pulau) Shouten (kini pulau
Biak) yang kemudian relokasi ke kampong Manokwari. Keberadaan pedagang-pedagang
Prancis di pulau Mansinam boleh jadi faktor penting misionaris Bink relokasi ke
Manokwari (sebelumnya sudah pernah ditempati selama dua tahun oleh misionaris Eisler
dan Ottow). Pada tahun-tahun ini juga Pemerintah Hindia Belanda mulai
mempersiapk cabang pemerintahan di Papua dengan membentuk suatu komisi untuk
mempelajari dan memetakan wilayah (bagian) barat Papoea Nieuw Guinea. Laporan
komisi ini dapat dibaca yang dipublikasikn pada jurnal 1862. Pada tahun-tahun
inilah diduga pegunungan Arfak khususnya puncak Arfak terlihat jelas sebagai
salah satu alasan utama kemudian merekomendasikan ibu kota afdeeling utara ditetapkan
tidak jauh dari pelabuhan (pulau) Mansinam dan ibu kota afdeeeling barat ditetapkan
tidak jauh dari pelabuhan Skroe. Kelak, Residen Horst memilih di kampong
Manokwari dan di kampong Fakfak.
Dalam
hal ini pegunungan Arfak yang hijau dan subur sudah sejak lama dikenal bahkan
sejak era VOC (wilayah yurisdiksi Sultan Tidore). Pedagang-pedagang Prancis
membangun stasion di pulau Mansinam juga diduga karena faktor kawasan pegunungan
Arfak. Tampaknya kehadiran orang asing di sekitar teluk di Dorei telah mengusik
penduduk asli pegunuangan Arfak dan mulai melancarkan perlawanan (lihat Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-01-1864).

voor Nederlandsch-Indie, 23-01-1864: ‘Pada tanggal 11 November Resident Ternate
kembali ke ibu kota dari pelayaran ke Papoea Nieuw Guinea, Batjan. dan Gebeh.
Di Doreh dan Mansiuam diambil tindakan untuk memulihkan perdamaian yang selama
ini terusik oleh penduduk Pegunungan Arfak; sementara pada saat yang sama hal
itu perlu dilakukan untuk menjamin keselamatan para misionaris Eropa yang hadir
disana, yang berada dalam bahaya besar karena ancaman penduduk pegunungan,
seperti yang kami beritakan dalam terbitan kami tanggal 9 Desember tahun
sebelumnya’.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Danau Anggi dan Ekspedisi Pegunungan
Arfak
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





