*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Papua dalam blog ini Klik Disini
Pulau
Mapia, kini disebuat Pulau Bras, Nama Mapia kini menjadi nama wilayah (Kepulauan
Mapia). Tentu saja sudah banyak yang mengetahuinya sebagai salah satu pulau
terluar Indonesia di wilayah Papua. Boleh jadi masih banyak yang kurang
mengetahuinya. Hal itu boleh jadi karena yang lebih dikenal sebagai pulau
terluar adalah pulau Miangas dan pulau Marore (Sulawesi Utara), pulau Rote
(NTT) dan pulau Rondo (Atjeh). Namun ada satu keutamaan pulau Mapia, begitu
dekat dengan (negara) Palau.

(lautan) Pasifik Kepulauan ini kini dijadikan sebagai saru desa dengan nama
desa Mapia yang masuk wilayah distrik (kecamatan) Supiori Barat, kabupaten
Supiori, provinsi Papua. Pusat desa berjarak sekitar 290 Km dari utara Kota
Manokwari dan 630 Km dari Palau. Kepulauan ini terdiri dari dua pulau utama, pulau
Bras (Berasi) dan pulau Pegun (tempo doeloe disebut Mapia), Pulau yang lebih
kecil adalah pulau Fanildo. Pulau yang lebih kecil lagi adalah pulau Bras Kecil
dan pulau Fanildo Kecil. Pulau ini menjadi bagian dari Kabupaten Supiori,
Papua.
Lantas
bagaimana sejarah Pulau Mapia? Sudah barang tentu sudah ada yang menulisnya. Namun tentu
saja itu tidak cukup. Sejarah Pulau Mapia sesungguhnya sangat menarik tetapi
kurang terinformasikan. Satu yang pasti bahwa pulau Mapia pernah diduki oleh
Amerika Serikat seperti halnya pulau Miangas, namun klaim Amerika Serikat kalah
di pengadilan arbirasi. Lalu bagaimana sejarah Pulau Mapia itu sendiri? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya
untuk lebih menekankan saja*.
Nama Mapia: Klaim Amerika
Serikat
Pada
era Residen Ternate, Dr. DW Horst menginstruksikan untuk mengibarkan bendera
Hindia (Belanda) di pulau Mapia. Hal itu karena Amerika Serikat mengklaim bahwa
pulau Mapia berada di bawah otoritasnya (sebagaimana Amerika Serikat meproteksi
Palua dan Guam.dalah miliknya. Dr. DW Horst beranggapan bahwa pulau Mapia sudah
diambil alih Pemerintah Hindia Belanda sejak 1860.

delapan tahun dan kembali ke Belanda setelah pensiun tahun 1903 (lihat De
locomotief, 18-07-1903). Dr. DW Horst sendiri di Ternate selama 30 tahun. Oleh
karena itu Dr. DW Horst sangat paham tentang batas-batas wilayah Residentie
Ternate. Ketika pengaruh Amerika Serikat semakin meluas ke bagian barat
(lautan) Pasifik, saat diklaim pulau Mapia miliknya, atas dasar pengetahuannya
segera menginstruksikan mengibarkan bendera di pulau.
Lantas
mengapa Amerika Serikat mundur ketika kapal-kapal Amerika Serikat yang sedang
survei wilayah ketika melihat pulau Mapia sudah ada bendera Hindia Belanda? Lalu mengapa Amerika Serikat tidak melakukan
protes? Dalam perkembangan lebih lanjut diketahui pulau
Mapia dihapus dari peta Amerika Serikat. Satu yang pasti, Amerika Serikat yang
juga mengklaim pulau Miangas tetap ngotot menjadi miliknya.
Pada tahun 1862 Pemerintah Hindia Belanda membentuk
satu komisi untuk mendalami dan melakukan pemetaan sehubungan dengan rencana
pemerintah untuk membentuk cabang pemerintahan di (wilayah) Papua, Residentie
Ternate. Proklamasi kepemilikan (pasca Traktat London 1824) wilayah Papua sudah
dilakukan pada tahun 1828 (sesuai klaim Sultan Tidore sejak 1667). Proklamasi
tersebut kemudian pada tahun 1845 wilayah Papua dimasukkan pada wilayah
Residentie Ternate. Namun persiapan cabang pemerintahan di Papua (1862) tak
kunjung terealisasi. Hal ini boleh jadi karena perhatian pemerintah masih
tertuju pada beberapa wilayah yang melakukan pemberontakan seperti di Bandjarmasin.
Pada akhir tahun 1879 terjadi gonjang-ganjing soal adanya upaya asing (Belanda
dan Jerman) untuk menguasai di wilayah Papua (lihat De Tijd :
godsdienstig-staatkundig dagblad, 16-10-1879). Upaya asing itu juga termasuk tentang
hak-hak kedaulatan yang ingin ditegaskan Spanyol di utara pulau Borneo. Upaya orang asing
untuk menguasai wilayah di New Guinea termasuk kehadiran orang Eropa di pulau Mapia
atau St Davidseilanden. Dalam hal inilah Menteri koloni di Belanda memasukkan
anggran baru tentang soal itu ke dalam rencana anggaran 1880 utnuk melakukan
protes dan pemberontakan tidak hanya berdasarkan perjanjian yang ada, tetapi
juga atas dasar prinsip-prinsip hukum kerakyatan kolonial yang diakui secara
umum dan setiap campur tangan asing dan terutama setiap pendirian yang independen
dari otoritas kita harus dicegah terutama tentang wilayah Papoea Nieuw Guinea
yang selama ini terlalu sedikit perhatian dan diabaikan.
Nama pulau Mapia yang
dalam peta dunia disebut St David eilandane, tetntu saja sudah sejak lama dikenal
dalam navigasi pelayaran. Pada era VOC, pada tahun 1659 orang-orang Spanyol
terusir dari (kepulauan) Maluku, Manado dan Sangier en Talaud. Sudah barang
tentu Spanyol yang terkonsentrasi di Filipina jauh dari pulau Mapia (seperti
halnya pulau-pulau Pasifik lainnya seperti Palau dan Mariana (Guam). Setelah
sekian abad barulah muncul isu penguasaan wilayah di wilayah Pulau Papua dan
pulau-pulau Pasifik dengan kehadiran Inggris dan Jerman. Seperti disebut di
atas Pulau Mapia sudah diklaim Pemerintah Hindia Belanda sejak 1860 sebagai
wilayah pelayaran tradisional dari penduduk asli di pulau-pulau di teluk
Geelvink. Ketika Amerika Serikat mulai menjalankan aneksasi di barat (lautan)
Pasifik, Resident Horst secara sadar untuk menunjukkan otoritas Pemerintah
Hindia Belanda di pulau Mapia dengan pengibaran bendera tricolor (yang membuat
Amerika Serikat kecele). Sebaliknya, Resident Manado boleh jadi abai dengan
pulau Miangas, tidak adanya bendera tricolor, pulau yang diklaim (dan diduduki)
Amerika Serikat mendapat protes dari Pemerintah Hindia Belanda. Amerika Serikat
yang sudah mengambilalih Filipina dari Spanyol (1898), pendudukan pulau Miangas
didasarkan atas peta-peta Spanyol. Tibulah sengketa tentang pulau Miangas
antara Amerika Serikat dengan Pemerintah Hindia Belanda (hingga ke pengadilan
internasional).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pulau Terluar Indonesia:
Mapia, Miangas, Marore
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





