Hindia Belanda identifikasi gunung hanya sebatas hasil observasi dengan
menggunakan teropong laut dan pengukuran sudut untuk menghitung ketinggian
(dari atas permukaan laut). Hal itu juga tentang soal gunung Carstenz yang
sudah diidentifikasi pada tahun 1623. Sejak era Portugis, baru pada tahun 1838 di
Indonesia (baca: Hindia Belanda) dilakukan pengukuran gunung untuk kali pertama
dengan cara mendakinya.

terkenal, tidak hanya karena ada di dalam Injil tetapi orang Eropa tampaknya
merasa bahwa persepsi orang Eropa gunung Ophir adalah gunung paling tinggi di
Hindia. Ini dapat dibaca pada pandangan seorang penulis yang dimuat pada
Letterkundig magazijn van wetenschap, kunst en smaak, 1818 No 14: ‘Di Sumatra,
tepat di bawah garis khatulistiwa, gunung Ophir terkenal yang tinggi sekitar
12,000 kaki, tinggi, hampir setinggi gunung-gunung Eropa yang tinggi’. Iklan: Opregte Haarlemsche Courant, 10-11-1859
Tulisan-tulisan
yang kerap dipersepsikan di Eropa bahwa gunung tertinggi di Hindia adalah
gunung Ophir, tampaknya memancing minat dua orang pemanjat gunung terkenal di
Eropa untuk membuktikan ketinggian gunung Ophir. Mr. Horner dan Krusenstern
benar-benar membuktikannya (lihat Leydse courant, 19-11-1838).
Leydse courant, 19-11-1838: ‘De beklimming van
den berg Ophir, door L. Horner, medegedeeld uit eetien brief aan H. L.
Ostiioff. Setelah tinggal di Parit Batoe pada tanggal 9 Mei, saya yakin bahwa
saya dapat mendaki Ophir yaitu, atau puncaksebelah timur, yang disebut
Gooenoeng Telamau disini. Puncak sebelah barat, setidaknya setengah lebih
rendah, disebut Goenoeng Passaman. Tidak ada seorang pun, baik Melayu atau
Eropa, yang memanjatnya. Dikatakan seorang Malim (guru agama) yang mencoba
mengirim doanya kepada Tuhan disana, tetapi harus menahan diri darinya. bahwa
ada di atas danau kecil {Telaga}, penuh ikan, bahwa ikan ini sangat mudah
ditangkap dan bahkan dapat direbus dan dimakan, tetapi begitu seseorang ingin
memakannya, mereka meloncat kembali ke danau. Kepala daerah yang paling setuju
bahwa gunung di sisi utara harus didaki, kebetulan di Parit Batoe seorang pria
yang memiliki ladang (sawah kering) di kaki gunung, dekat kampung Sawa lima jam
di timur laut, dari Parit Batoe. Jalur ini dulunya untuk menjerat kambing liar
(antelope suraatrensis) yang memanjat gunung dengan baik, dan berpikir lebih
baik naik lebih tinggi lagi. Letnan Donleben, komandan distrik Ophir, yang
ingin sekali mendaki gunung yang terkenal ini, segera memerintahkan para kepala
kampung di pagi hari di kampung Sawa berkumpul…Setelah saya meninggalkan
botol kosong dengan kertas di dalamnya dengan tanggal dan semua nama pendaki
Ophirs yang sampai di puncak tertinggi, saya memerintahkan semua untuk turun
kembali. Kami bermalam. Keesekan harinya tanggal 35 Mei kami melajutkan
penurunan dan pukul tiga sore kami tiba di kampong Sawa lagi. Pada pagi hari
tanggal 36 Mei pukul delapan saya sudah menuju Parit Batoe dan tiba bukul 11 di
Parit Batoe..’.
Gunung
Ophir adalah gunung pertama di Indonesia (baca: Hindia Belanda) yang pertama
diikur secara langsung.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pengukuran Carstenz Top: Peneliti-Peneliti Flora dan
Fauna Tempo Doeloe di Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Â
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com
Â






