*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini
Sejarah
Buton, tidak dimulai dari Makassar, apalagi dari Kendari (di Pulau Sulawesi).
Sejatinya, sejarah Buton dimulai dari Ternate (Kepulauan Maluku). Sejarah tidak
selalu mengikuti dinamika di suatu daratan, tetapi sejarah masa lampau
mengikuti rute navigasi pelayaran kuno (dalam konteks perdagangan). Setelah itu
barulah muncul hubungan politik. Namun hubungan politik Buton tidak dengan
Makassar (Gowa) tetapi dengan Ternate. Oleh karena itu sejarah Kerajaan Buton di
masa lampau tidak dapat ditelusuri dari Gowa (Makassar) tetapi harus ditelusuri
dari Ternate (idem dito dengan sejarah Manado).

GPS berada di sebelah tenggara pulau Sulawesi. Menurut berbagai tulisan nama
Buton sudah dicatat dalam buku Nagarakertagama yang ditulis Prapanca (1365). Nama
Buton awalnya digunakan sebagai nama kabupaten, yakni Kabupaten Buton dengan
ibu kota Baubau. Setelah Baubau menjadi Kota (2001), ibu kota Kabupaten Buton
direlokasi ke Pasarwajo. Dalam perkembangannya Kabupaten Buton dimekarkan pada
tahun 2007 dengan membentuk kabupaten
Buton Utara dengan ibu kota Buranga. Lalu pada tahun 2014 kabupaten Buton
kembali dimekarkan dengan membentuk kabupaten Buton Selatan dengan ibu kota di
Batauga dan kabupaten Buton Tengah dengan ibu kota Labungkari.
Lantas
bagaimana sejarah Buton? Jika diduga sudah
terbentuk garis sejarah dengan Jawa di masa awal (pada era Majapahit), maka
sejarah Buton lebih lanjut membentuk garis ke Ternate yang kemudian sejarah
Buton diintegrasikan dengan sejarah Makassar (Sulawesi). Dalam artikel ini
sejarah Buton dimulai dari sejarah Ternate. Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Nama Buton di Ternate: Benteng
Buton di Kerajaan Buton
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Pulau Buton dan Pulau Sulawesi
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






