*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini
Sejarah
kesehatan penduduk (status kesehatan penduduk) dan sejarah prasarana kesehatan (klinik
atau rumah sakit) serta keberadaan petugas kesehatan (dokter) nyaris tidak
mendapat narasi dalam sejarah daerah. Hal itu juga yang terjadi dalam narasi
sejarah (provinsi) Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu, untuk melengkapi
narasi sejarah Kepulauan Timor (baca: Nusa Tenggara Timur) perlu diperkaya
dengan upaya menggali data secara terus berdasarkan sumber sejaman.

lama. Itu baru dimulai pada tahun 1851 ketika sekolah kedokteran untu pribumi
didirikan di Weltevreden (kini RSPAD Jakarta). Sekolah kedokteran ini didirikan
untuk meningkatkan status kesehatan penduduk dengan mendidik para siswa sekolah
khususnya di Jawa untuk menjadi dokter. Boleh jadi itu dilaksanakan karena para
dokter Belanda (lulusan Eropa) tidak cukup menangani luasnya endemik dan
epidemik yang terjadi wilayah Hindia Belanda. Lebih-lebih pada periode
1820-1822 pernah terjadi pandemik. Intinya untuk menjaga kesehatan orang-orang
Eropa juga harus menangani penyakit yang terjadi pada penduduk, sebab
penularannya dapat terjadi kapan saja. Meninggakatkan status kesehatan orang
Eropa, juga harus meningkatkan status kesehatan penduduk. Hal itulah mengapa
pendirian sekolah kedokteran bagi pribumi menjadi keharusan.
Bagaimana
sejarah kesehatan penduduk di Nusa Tenggara Timur, khususnya di kota Koepang
tempo doeloe? Itu bermula dengan kahadiran petugas kesehatan di
Koepang. Dokter pribumi pertama adalah Dr BM Noija. Nama Dr WZ Johannes kini
dijadikan sebagai nama rumah sakit daerah (RSUD) di Kupang. Bagaimana semua itu
berlangsung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Sejarah Awal Kesehatan
Penduduk: Dr BM Noija dan Dr WZ Johannes
Pada
minggu ketiga bulan November 1911 seorang penumpang dari Koepang bernama
Johannes tiba di Tandjoeng Priok (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 17-11-1911). Disebutkan dengan kapal ss van Riebeeck tiba
dari Koepang Johannes. Tujuan Johannes tampaknya ingin melanjutkan studi kedokteran
(STOVIA) di Batavia. Di Koepang sudah sejak lama ada sekolah Eropa (ELS).
Pada bulan Agustus 1912 sekolah kedokteran
Batavia mengumumkan hasil ujian (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-08-1912).
Disebutkan hasil ujian transisi di sekolah kedokteran pribumi adalah sebagai
berikut: Voorbereidende Afdeeling (tingkat persiapan). Kelas 1 yang lulus
antara lain Johannes, Moenir dan Mansoer, Yang lulus pada tingkat medis (Medische
Afdeeling) kelas 1 antara lain
Johannes
dengan nama WZ Johannes lulus STOVIA dan diangkat menjadi dokter pribumi pemerintah
di Dinas Kedokteran Sipil (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-05-1920). Sejak sekolah
kedokteran Docter Djawa School berubah menjadi STOVIA tahun 1902, lama
pendidikan bertambah dari tujuh menjadi sembilan tahun. Dalam hal ini WZ
Johannes yang masuk tahun 1911 dapat menyelesaikan studinya tepat waktu
(sembilan tahun). Ini berbeda dengan sekolah kedokteran ini di awal pendiriannya.
Salah satu lulusan Docter Djawa School tahun 1863 adalah BM Noija yang berasal
dari Koepang (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 10-01-1863).
Sekolah kedokteran Docter Djawa School dibuka
pada tahun 1851. Lulusan yang diterimaka sekolah dasar. Jumlah kapasitas
sekolah sekitar 10 siswa. Pada tahun-tahun pertama ini lama studi dua
tahun.Beberapa tahun kemudian lama studi menjadi tiga tahun. BM Noija yang
lulus tahun 1863 masih lama studi masih tiga tahun. Satu dasawarsa kemudian
menjadi lima tahun. Pada tahun 1890 lama studi menjadi tujuh tahun dengan dua
tahun persiapan. Lalu di era STOVIA lama studi menjadi sembilan tujuh tahun
yang mana masa persiapan selama tiga tahun.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Sejarah Kesehatan Penduduk
Lebih Lanjut: RSUD Kupang
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




