*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini
Provinsi
Nusa Tenggara Timur dibentuk dan diresmikan pada tanggal 20 Desember 1958.
Sejak itu provinsi Nusa Tenggara Timur tetap eksis dengan nama yang tetap sama
hingga ini hari. Sebelumnya Kepulauan Soenda Ketjil dijadikan sebagai satu
provinsi. Nama Soenda Ketjil diubah tahun 1954 dengan nama baru Nusa Tenggara
(lihat Het vaderland, 22-04-1954).

Pada era eskalasi politik nasional yang
memanas karena PRRI-Permesta Provinsi Sumatra Tengah dilikuidasi dan kemudian
dibentuk tiga provinsi (Sumatra Barat, Riau dan Jambi). Tidak lama kemudian
provinsi Nusa Tenggara dilikuidasi dan kemudian dibentuk tiga provinsi (Bali,
Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur). Dalam tahun ini jumlah provinsi
di Indonesia bertambah sebanyak empat buah. Pada tahun 1957 Residentie Atjeh
dipisahkan dari provinsi Sumatra Utara dengan membentuk provinsi Atjeh.
Perubahan
status wilayah adalah satu hal, perubahan nama wilayah adalah hal lain lagi.
Dua perubahan ini terjadi dalam sejarah (provinsi) Nusa Tenggara Timur. Tentu
saja perubahan nama menjadi penting dan demikian juga perubahan status
(wilayah) administrasinya juga penting. Okelah. Sejak kapan
perubahan-perubahannya bermula. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*. Benteng di Pulau Solor (1656).
Dari Nama Timor Menjadi Residentie
Tunggu
deskripsi lengkapnyaNama
Timor sudah sejak lama dikenal (Peta 1517). Namun nama Kupang (Coepang atau
Copang) baru dikenal pada tahun 1613. Ini bermula ketika pelaut-pelaut Belanda
berhasil mengusir Portugis dari Solor dan orang-orang Portugis mengungsi ke
Copang. Namun pelaut-pelaut Portugis terus mengejarnya hingga ke Coepang, dan
orang-orang Portugis bergeser ke bagian timur pulau Timor. Sejak saat inilah
(1613) orang Belanda membangun pos di Lohajong (pulau Solor) dan Koepang (pulau
Timor).

Macassar sebelum kehadiran Portugis sudah berdagang ke pulau Solor dan pulau
Timor dengan pusat perdagangan di Batoetara (pulau Komba). Nama Batoetara (batu
tara) dan Timor (timur) merujuk pada bahasa Melayu. Sedangkan nama Solor
merujuk pada nama Selayar. Seperti halnya Lohajong, pedagang-pedagang asal
Macassar membuka pos di pulau Timor yang disebut Kopang. Seperti halnya nama
Solor, nama Kopang juga diduga kuat merujuk nama dari Macassar. Benteng di
Pulau Timor di Coepang (1656)
Pada
era Portugis, pelabuhan yang diperkuat adalah Lohajong di pulau Solor,
sedangkan pada era Belanda pelabuhan yang diperkuat adalah Kopang di pulau
Timor. Ini ibarat Lohajong dan Solor adalah masa lalu; Kopang dan Timor adalah
masa depan. Dalam perkembangannya di Solor dibangun benteng (di Lohajong,
benteng Frederik Hendrik) di era Gubernur Jenderal Cornelis van der Lijn. Benteng
tersebut rusak akibat gempa bumi pada tahun 1648. Pada tahun 1653 VOC membangun
benteng baru pulau Timor di Koepang (Fort Concordia). Benteng Frederik Hendrik
di Solor ditutup pada tahun 1657. Dengan semakin diperkuatnya benteng
(Concordia) di Koepang, maka dengan sendirinya Kopang menjadi ibu kota wilayah
Timor (Groep). Benteng Frederik Hendtik ditempati kembali pada tahun 1667 untuk
memperkuat pertahanan di Koepang dari kemungkinan munculnya ancaman pelaut-pelaut
Portugis (yang telah diusir VOC dari Ternate 1657).
Berdasarkan Daghtegister 1659 radja di pulau
Solor adalah Niey Chily, sementara berdasarkan Daghregister 1683 di Solor berstatus
Radja dan di Koepang berstatus bupati (pangeran Coepang). Tampaknya radja Bima
dan radja Solor memiliki relasi (berdasarkan Daghregister). Terhadap tiga radja
inilah (Bima, Solor dan Koepang) menjalin kerjasama. Ketika pedagang-pedagang
berselisih dengan kerajaan Gowa, pedagang-pedagang VOC di Macassar pada tahun
1650 memindahkan posnya ke Bima (tempat Residen VOC berkedudukan). Hal itulah mengapa
Bima diidentifikasi dengan status sebagai Coningh, Solor sebagai Vorst dan
Koepang sebagai princen (regent).
Benteng
Frederik Hendrik pada tahun 1760 ditutup untuk selamanya. Dengan demikian,
satu-satunya benteng VOC di Timor Groep hanya di Koepang. Namun dalam perkembangannya
dianggap kurang menguntungkan, banyak pedagang-pedagang VOC yang meninggalkan
Koepang. Meski demikian pejabat pemerintah VOC masih ada di Koepang. Benteng dijaga
oleh pasukan pribumi pendukung militer
VOC (orang Melayu). Sejak 1782 Inggris mengusir VOC dari (pantai barat) Sumatra
lalu giliran Prancis melakukan aneksasi di Batavia pada tahun 1795. Sementara
itu, minimnya kekuatan militer VOC di Koepang, kesempatan bagi Inggris
melakukan aneksasi di Timor dengan melumpuhkan benteng Concordia di Koepang pada
tahun 1798.
Amsterdamse courant, 07-08-1798: ‘Berita dari
London, tertanggal 24 Juli, ada surat dari Hindia Timur. Kapten Pakenham pada
bulan September yang lalu telah mengklaim kudeta Comptoir Belanda Coepang di
Groot Timor. Ketika dia ingin pergi ke darat untuk mengatur penyerahan dengan
Gubernur Belanda, tiba-tiba seorang pengkhianat ditemukan yang tujuannya adalah
agar semua orang Inggris yang datang ke darat dibunuh oleh orang Melayu, yang
berakibat jatuh terbunuh dua puluh orang. Akibatnya, situs tersebut diserang
atas perintah Kapten Pakenham, kemudian dijarah dan dihancurkan dan sebanyak
200 orang Melayu di dalam benteng itu melarikan diri’
Satu-satunya
wilayah yurisdiksi VOC yang masih tersisa hanya tinggal di Ternate. Pasukan
pribumi Ternate pendukung militer VOC sangat gigih mempertahankan serangan dari
Inggris. Meski demikian, VOC tetap tidak tertolong dan VOC dibubarkan pada
tahun 1799. Tamat sudah VOC. Pada tahun 1800 kerajaan Belanda di bawah Prancis
mulai merintis pembentukan Pemerintah Hindia Belanda (suksesi VOC) .
Pembentukan cabang peerintahan ini baru efektif pada era Gubernur Jenderal
Daendels (1808-1811).
Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Timor
sebagai suatu Onder Prefect (dari Prefect atau Province Macassar). Pada tahun
1810 Daendels menempatkan beberapa pejabat di Onder Prefect Timor, seperti
boekhoder pada tahun 1812 (lihat Bataviasche koloniale courant, 13-04-1810) dan
kemudian Drost (lihat Bataviasche koloniale courant, 21-09-1810).
Pada
tahun 1811 Inggris yang berbasis di Calcutta (India), tempat kedudukan Gubernur
Jenderal dengan cabang pemerintahan di Bengkolen dan Penang melancarkan invasi
ke Jawa dengan melumpuhkan Batavia. Gubernur Inggris di Bengkoelen Raffles
diangkat menjadi Letnan Jenderal Inggris yang berkedudukan di Buitenzorg dan
Semarang. Di Timor dipersiapkan pemerintahan sementara.
Inggris yang pernah menduduki sejumlah wilayah
di luar Jawa seperti di Timor, segera mengisi pos yang telah ditinggalkan oleh
orang-orang Belanda. Hal yang pertama dilakukan adalah memindahkan Kapten Grey
yang sebelumnaya sebagai komandan sementara di Macassar dipindahkan ke Koepang
(lihat Java government gazette, 18-04-1812). Tujuan pemindahan ke Koepang ini
adalah untuk membangun garnisun militer di Koepang.
Perdagangan
di Timor kembali muncul. Paling tidak produk dari Timor sudah mengalir ke Jawa
(lihat Java government gazette, 31-10-1812). Disebutkan kapal dari Timor tiba
di Soerabaja pada tanggal 12 Oktober dengan membawa wax dan sandelwood.
Perdagangan semakin intens antara Jawa dan Timor, namun muncul masalah besar
pada tahun 1815 terjadi letusan dahsyat karena meletusnya gunung Tambora, Pulau
Lombok dan pulau Sumbawa lunpuh total dan di pulau-pulau Timor Groep terjadi
dampak yang besar (kelaparan) karena beras sangat tergantung dari Lombok dan
Sumbawa. Bencana ini menjadi alarm bagi Inggrsi dan pada tahun 1816 Inggris
harus menyerahkan Hindia Belanda kepada Belanda. Awal Pemerintahan Hindia
Belanda dimulai lagi.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Dari Residentie Menjadi
Provinsi
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




