Bagaimana
sejarah Teuku Muhammad Hasan Sudah barang tentu sudah ditulis. Lantas mengapa
ditulis kembali? Bukan karena Teuku Muhammad Hasan pionir orang Aceh studi
ke Belanda. Juga bukan karena Teuku Muhammad Hasan pernah menjadi anggota PPKI dan Gubernur
provinsi Sumatra. Lalu apa dong? Narasi sejarahnya masih banyak yang perlu
ditambahkan. Darimana dimulai? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu
terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Teuku Muhammad Hasan Studi di
Belanda
Pada
bulan November 1933 di Universiteit te Leiden, Tengkoe Moehammad Hasan
dinyatakan lulus mendapat gelar sarjana hukum (Mr) dalam bidang Indisch Recht
(lihat Haagsche courant, 01-12-1933). Inilah untuk yang pertama putra Atjeh
meraih gelar sarjana di Belanda. Beberapa hari kemudian di Universiteit yang
sama di Leiden, Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia berhasil meraih
gelar Doktor (Ph.D) di bidang sastra dan filsafat dengan desertasi berjudul:
‘Het primitieve denken in de moderne wetenschap’ (lihat Algemeen Handelsblad,
09-12-1933). Catatan: Soetan Goenoeng Moelia berangkat studi ke Belanda 1911.
Setelah lulus segera pulang menjadi kepala sekolah HIS di Kotanopan. Sebelum
berangkat studi kembali untuk tingkat doktoral, Soetan Goenoeng Moelia adalah
anggota Volksraad (Soetan Goenoeng Moelia kelak menjadi Menteri Pendidikan RI
yang kedua),

tahun 1911 meraih gelar sarjana pendidikan (akte guru kepala) di Universiteit
Leiden. Soetan Caajangan berangkat studi ke Belanda segera setelah berakhir
Perang Atjeh (1873-1904). Soetan Casajangan adalah mahasiswa kedua di Belanda
(yang pertama adalah Raden Kartono, abang dari RA Kartini). Pada tahun 1908
ketika jumlah mahasiswa pribumi berjumlah sekitar 20 orang di Belanda, Soetan
Caajangan berinisiatif mendirikan organisasi mahasiswa pribumi yang diberi nama
Indische Vereeniging (IV). Pada tahun 1921 Dr Soetomo dkk mengubah nama
organisasi ini menjadi Indonesiasche Vereeniging. Lalu pada tahun 1924 Mohamad
Hatta dkk mengubah lagi nama organisasi ini menjadi Perhimpoenan Indonesia
(PI). Beberapa bulan setelah nama baru Indische Vereeniging menjadi
Perhimpoenan Indonesia, di Universiteit Leiden, Alinoedin Siregar gelar Radja
Enda Boemi berhasil meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang hukum dengan desertasi
berjudul: ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het
Karoland’ (lihat Algemeen Handelsblad, 30-05-1925). Soetan Casajangan, Soetan
Goenoeng Moelia dan Radja Enda Boemi lahir di Padang Sidempoean (kini Tapanuli
Selatan).
Soetan
Goenoeng Moelia tidak segera pulang ke tanah air karena hasus melakukan post
doktoral di Belanda. Tengkoe (Teukoe) Moehammad Hasan segera pulang ke tanah
air. T Moehammad Hasan berangkat tanggal 17 Januari dari Amsterdam dengan
menumpang kapal ss Johan de Witt yang akan tibad di Tandjoeng Priok tanggal 16
Februari (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31-01-1934).
Namun dalam berita berikutnya Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 22-02-1934
diketahui T Moehammad Hasan menumpang kapal ms Marnix van St. Aldegonde yang
berangkat tanggal 7 Februari dari Amsterdam dan akan tiba di Tandjoeng Priok
tanggal 8 Maret.

berbeda dalam interval yang berbeda? Besar dugaan bahwa ketika menupang kapal ss Johan
de Witte, T Moehammad
Hasan turun di Port Said. Lalu dari sana menumpang kapal ke Jeddah dan naik bis
ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji (atau umroh). Setelah dari Mekkah
kembali ke Port Said dan kemudian menumpang kapal ms Marnix van St. Aldegonde
dengan tujuan Tandjong Priok dan turun di Sabang.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Teuku Muhammad Hasan Berjuang
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Â
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


