Pada
pelayaran kedua Belanda tahun 1598 Cornelis de Houtman dan Frederik de Houtman
dengan pasukannya tiba (kembali) di Hindia Timur dan sengaja mengunjungi (kota
pelabuhan) Atjeh sebagai yang pertama (sebelum ke kota-kota lain). Namun
kedatangan Belanda ini kurang diterima sehingga terjadi pertempuran dan
Cornelis de Houtman tewas dan Frederik deÂ
Houtman ditahan. Boleh jadi itu terjadi karena sebelumnya terjadi
konflik antara Cornelis de Houtman dengan Banten pada tahun 1596. Kejadian di
Banten tentu saja diketahui di Atjeh karena berita-berita pelaut pribumi yang
hilir mudik antara Banten dan Atjeh.
Pada tahun 1602 Frederik de Houtman dibebaskan
setelah terjadi negosiasi dengan perwakilan Belanda pada pelayaran-pelayaran
berikutnya. Selama Frederik de Houtman ditahan di Atjeh selama sekitar tiga
tahun, Frederik de Houtman terus mengembangkan kamus dan tatabahasa Melayu di
Atjeh. Kamus dan tatabahasa Melayu ini selesaikan Frederik de Houtman di Goode
Hoop. Pada tahun 1603 kamus dan tatabahasa tersebut diterbitkan di Amsterdam.
Inilah kamus dan tatabahasa Melayu pertama. Kamus dan tatabahasa bahasa Melayu
berjudul ‘Spraeck ende woord-boeck in de Maleysche ende Madagaskarsche talen,
met vele Arabische ende Turcsche woorden’. Kamus ini ditulis dalam aksara
latin, Peta kota Atjeh (1603) yang ditampilkan di atas diduga kuat dibuat oleh
Frederik de Houtman. Hal ini karena Fredrik de Houtman adalah satu-satunya
orang Belanda yang lama tinggal di Atjeh.
Sisa
pelaut-pelaut Belanda di Atjeh meneruskan pelayaran ke Bali untuk menjemput tiga
pedagang Belanda (Emanuel Roodenburgh, Jacob Claesz van Delft dan Jan Jansz de
Roy). Lalu dari Bali pelayaran dilanjutkan kembali ke Belanda. Sejak itu
intensitas pelayaran Belanda ke Hindia Timur dari tahun ke tahun semakin
meningkat. Pada tahun 1599 pedagang Belanda ditinggalkan di Ternate Frank van
der Does di Ternate dan seorang pedagang lainnya di Banda. Pada tahun 1600 di
Ambon ditinggalkan Jan Dirckz Sonnenbergh dan di Bantam Claes Simonsz Meehaêl.
Pada saat armada Cornelis de Houtman di Hindia
Timur, pada tahun 1598 satu armada Belanda berangkat dari Utrecht yang dipimpin
oleh Oliver van Noort. Namun Oliver Noort tidak mengikuti jalur navigasi
Cornelis de Houtman tetapi mengikuti jalur navigasi lama Spanyol di era
Magellan melalui Mexico (Spanyol) mengitari Amerika Selatan dan tiba di
kepulauan Filipina. Kapal-kapal pedagang Portugis di laut Cina (selatan) bentrok
dengan armada Oliver van Noort yang kemudian Oliver van Noort putar haluan ke
pantai utara Borneo lalu menemukan jalan ke selatan ke Bali dan Blambangan yang
seterusnya kembali ke Belanda. Satu dokumen penting dari pelayaran Oliver van
Noort ini adalah peta Borneo (Kalimantan) yang dibuat pada tahun 1601.
Frederik
de Houtman tampaknya tidak kapok. Pada akhir tahun 1603 Frederik de Houtan
kembali ikut dalam pelayaran yang dipimpin oleh seorang Admiral yakni Steven
van der Hagen (berangkat dari Amsterdam tanggal 18 Desember 1603). Frederik de
Houtman justru semakin siap apalagi telah menguasai bahasa Melayu. Armada yang
semi militer ini menyusun kekuatan di Bali (sebagai satu-satunya yang menerima
mereka di Hindia Timur). Pada tahun 1605 armada Steven van der Hagen ini
menyerang Portugis di Ambon tepatnya pada tanggal 23 Februari 1605. Benteng
Portugis di Ambon berhasil diduduki. Untuk memegang posisi Amboina ini Frederik
de Houtman diangkat sebagai Gubernur Amboina (1605-1611).
Dalam pelayaran Steven van der Hagen tersebut
dalam penaklukkan Portugis di Amboina salah satu kapal yang digunakan adalah
kapal Mauritius yang digunakan dalam pelayaran pertama Belanda yang dipimpin
oleh Cornelis de Houtman (1595-1597). Kapal ini tampaknya setelah mengalami
perbaikan lama di Amsterdam disertakan dala armada Steven van der Hagen. Tentu
saja Frederik de Houtman familiar dengan kapal ini. Pelayaran Steven van der
Hagen, seperti halnya, catatan Cornelis de Houtman, catatan harian Admiral
Steven van der Hagen juga dibukukan (yang dapat dibaca hingga sekarang).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Banda Atjeh dan Kota Radja
Kota
Radja dan Banda Atjeh adalah nama yang diterima hingga pada masa ini (ejaannya
tidak pernah berubah kecuali perubahan dj dan tj). Namun sebelum Pemerintah
Hindia Belanda membentuk cabang pemerintahan di Atjeh, nama Atjeh ditulis dalam
banyak versi (sehingga penulis-penulis Belanda bingung sendiri). Hal ini nyaris
tidak ditemukan nama tempat di wilayah lain di Hindia Belanda (yang dapat
diperbandingkan sejak era VOC).
Seorang ahli geografi Belanda Prof VI Peth
menghitung belasan penulisan nama Atjeh. Menurut Peth, nama Atjeh hanya terdiri
dari beberapa huruf tetapi bagaimana ditulis terdapat belasan versi. Di dalam
tulisan-tulisan Portugis dan Italia ditulis sebagai Achem, Achen, Acen dan Assi
dan hasil fusi dengan de Dachem, Dagin dan Dacin, Dalam tulisan-tulisan Prancis
ditulis sebagai Achem, Achen, Achin dan Atcheh. Sementara dalam tulisan-tulisan
Inggris ditulis sebagai Atcheen, Acheen dan Achin. Sedangkan dalam
tulisan-tulisan Belanda ditulis sebagai Achem, Achim, Achin, Atchin, Atchein,
Atjin, Atsjien, Atsjeh, Atjeh dan bentuk lainnya. Namun menurut Veth yang
paling umum ditulis Atchin meski bukan sesuai pengucapan penduduk asli. Veth
mengusulkan sesuai aksara Belanda sesuai pengucapan penduduk asli adalah Atjeh
atau lebih tepatnya Atjih, akan menjadi yang terbaik (lihat Bataviaasch
handelsblad, 11-06-1873).
Hingga
sebelum terjadinya perang (Perang Aceh 1873) Kota Banda Aceh disebut Aceh. Pada
permulaan pembentukan Pemerintahan Hindia Belanda (1874) nama (stad)) Atjeh
dijadikan sebagai nama wilayah yakni Groot Atjeh (Aceh Besar atau Aceh Raya).
Untuk nama ibu kota dipopulerkan nama Kota Radja. Nama Groot Atjeh tampaknya
bukan dimaksudkan untuk membedakan dengan Klein Atjeh (karena kenyataannya
tidak ada Klein Atjeh, Aceh Kecil).
Penamaan administrasi wilayah pada era
Pemerintah Hindia Belanda (bahkan sejak zaman kuno) sangat lazim membedakan
nama wilayah dan nama kota. Ada nama kota dan nama wilayah sama (seperti
Borneo, Lombok, Manado, Padang), namun umumnya dibedakan seperti Groot Atjeh
dengan Kota Radja. Hal ini juga sebelumnya yang terjadi di wilayah lain:
Tapanoeli menjadi nama wilayah dan Sibolga dipopulerkan menjadi nama ibu kota
(stad) dan juga Deli dijadikan nama wilayah dan Medan menjadi ibu kota.
Seperti
halnya nama kota pantai Kota Padang, Kota Tapanoeli dan Kota Deli, Kota (Stad) Atjeh
sudah dikenal sejak lama. Namun sejak kapan munculnya nama Atjeh, Padang,
Tapaboeli dan Deli tidak diketahui secara pasti. Yang jelas kota Atjeh tumbuh
dan berkembang menjadi kota (pelabuhan) penting di atas (ujung utara) pulau
Sumatra. Kota pelabuhan Atjeh inilah yang kemudian bertransformasi menjadi
kerajaan (kesultanan). Gambaran ini dapat dilihat dalam deskripsi Mendes Pinto
(1539).
Bagaimana suatu kota (pelabuhan) di pantai
terbentuk, secara teoritis bermula karena faktor perdagangan (arus masuk dan
arus keluar barang dan komoditi). Pelaku perdagangan di kota pelabuhan adalah
pedagang-pedagang yang datang dan berasal dari berbagai penjuru lautan. Para
pedagang ini berintraksi dan bertransaksi dengan penduduk asli di belakang
pantai (pedalaman). Penduduk asli membutuhkan barang industri seperti garam,
besi, kain dan perlengkapan rumah. Para pedagang manca negara bertukar dengan
komoditi alamiah darin penduduk asli seperti emas, gading, hasil hutan seperti
damar, kamper dan kemenyan. Kota-kota pelabuhan ini bermunculan di banyak titik
seperti di Pauh (pendahulu Padang), Loemoet (pendahulu Tapanoeli), Deli Toea
(pendahulu Labioehan Deli), Pedir (Pendahulu Segli), Lhoksukon (pendahulu
Lhokseumawe), Karang Baroe (pendahulu Langsar atau Langsa), Daya (Toea)
(pendahulu Daya Baru).
Lalu
kota mana yang menjadi pendahulu kota Atjeh. Kota pelabuhan Atjeh sendiri
bermula di muara sungai (akses masuk ke pedalaman). Tentu saja ada kota
pendahulu di belakang pantai sebelum terbentuknya kota pelabuhan Atjeh di
muara. Kota pendahulu ini tepat berada di pusat Kota Banda Aceh yang sekarang.
Menurut deskripsi yang ditulis oleh ahli geografi Belanda Prof PJ Veth (1873)
jarak dari muara ke kraton Atjeh dengan mendayung perahu lamanya satu jam. Ini
mengindikasikan jarak navigasi pelayaran antara kota pelabuhan Atjeh
(pendatang) di muara pada masa lalu terbilang jauh dengan kota di belakang
pantai (pusat Kota yang sekarang). Hal itu jugalah yang terdapat pada hubungan
kota pelabuhan Segli dengan kota Pedir dan kota Lhokseumawe (di pulau) dan kota
Lhoksukon. Kota-kota Pedir dan Lhoksukon serta Lhoknibung terhubung ke
pedalaman melalui jalur sungai. Kota Pedir terhubung dengan Pidi di pedalaman
(Tangse); kota Lhoksukon terhubung dengan pedalaman hingga danau pegunungan
(Takengon).
Pada zama doeloe (katakanlah pada era Boedha
Hindoe). Pulau Sumatra masih ramping (tidak selebar yang sekarang). Mengapa? Banyak luasan pantai
dan teluk telah terbentuk daratan karena proses sedimentasi (lumpur dan sampah
batang kayu) jangka panjang akibat aktivitas produksi di wilayah pedalaman
(pegunungan) yang terbawa oleh sungai. Hal itulah mengapa dapat dijelaskan kota
Lhokseumawe terbentuk di suatu pulau di teluk dimana Lhoksukon berada di pantai
(demikian juga Pedir di pantai dan Segli di pulau yang terbentuk proses
sedimentasi). Hal yang sama juga yang terjadi di teluk Daya dan teluk Singkil
di pantai barat. Tipologi inilah yang juga terjadi pada terbentuknya kota
pelabuhan Atjeh di muara sungai.
Lantas
bagaimana dengan kota pedahulu sebelum terbentuknya kota pelabuhan Atjeh? Kota apa gerangan
yang sudah eksis sejak zaman lampau (mungkin sejak era Boedha-Hindoe) di belakang
pantai yang jauhnya satu jam mendayung perahu? Kota-kota di belakang pantai ini terhubung dengan
wilayah pedalaman, seperti kota pegunungan Tangse (Pidie). Dalam hal ini kota
Tangse tidak hanya terhubung dengan kota pelabuhan Pedir di pantai timur tetapi
juga terhubung dengan kota pelabuhan di pantai barat di Labo (kini Meulaboh)
melalui Panthom (Meulaboh adalah pelabuhan pantai yang utama dari kota Tekengon
(danau). Tentu saja kota Tangse juga terhubung dengan kota-kota pelabuhan di
pantai utara.
Kota-kota pegunungan ini diduga kuat sudah
terbentuk sejak zaman lampau sebelum terbentuknya daratan sedimentasi dan
kota-kota pantai (era Boedha Hindoe). Kota-kota pegunungan ini kaya emas dan
hasil-hasil hutan yang diproduksi penduduk asli yang diperkaya oleh pengetahuan
dari orang-orang India (tidak hanya di wilayah Gayo di Aceh, juga di wilayah Batak
di Tapanuli, wilayah Agam, Solok dan Kerinci di Sumatra Barat, wilayah Komering
dan Lampong di Sumatra Selatan. Hal itulah mengapa nama geografi di wilayah
Aceh di wilayah pedalaman banyak yang terhubung dengan nama-nama di India
seperti nama tempat Tangse, Takengon, Pidie, Singh(il), Daija. Labo, dan
Lingga, nama sungai Arakoendo, Raba dan sebagainya serta nama gunung Loser
(kini Leuser) dan gunung Agam (kini Seulawah). Nama Lhok (pada Lhokseumawe,
Lhoksukon dan Lhoknibung), Segli dan Atjeh diduga kuat tidak berasal dari India
tetapi terbentuk dari penggunaan bahasa Melayu yang mana Lhok berasal dari
Telok atau Teloek dan Atjeh berasal dari Atas, Ateh, Atjih atau Atjeh, Kota
Atjeh (atas, ateh) diduga merujuk pada nama kota (pelabuhan) di ujung (utara).
Lalu
bagaimana dengan kota pedahulu sebelum terbentuknya kota pelabuhan Atjeh? Dalam berbagai peta
dan tulisan seperti deskripsi PJ Veth (sebelum Perang Atjeh) diidentifikasi
nama-nama tempat (kotta) di arah hulu kraton (yang diduga terhubung dengan
Tangse di pedalaman di pegunungan). Dua nama yang agak unik dan mengundang
pertanyaan adalah nama Bata (Lehong) dan nama Daroe (sungai dan bukit). Apakah
masih ada nama Lehong Bata(k) sekarang?
Yang jelas nama Daroe kini dikenal (bergeser) sebagai Daroy. Nama sungai
(Krueng) Daroe tepat berada di depan kraton (sebelum terbakar pada tahun 1873).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Â
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



