Kapan
VOC (Belanda) membuka pos perdagangan di Kamboja tidak diketahui secara pasti.
Orang Belanda pertama berkunjung ke Cambodia adalah Hendrik Hagenaar
(1631-1638). Naun informasi tentang Kamboja dicatat di Kasteel Batavia baru pada
tahun 1659 (lihat Daghregister 8 Mei 1659). Disebutkan kapal Tayoan datang dari
Cambodia. Dalam Daghregister 17 Agustus 1659 juga disebutkan bahwa kapal Witten
Oliphant atas permintaan pemerintah Siam agar perusahaan (VOC) di Cambodia
membuka cabang di Siam.

berpusat di Batavia pada tahun 1643 telah menaklukkan Malaka di Semenanjung
Malaya dan mendudukinya sebagai pos perdagangan di kawasan. Pembukaan cabang
perdagangan VOC diduga adalah perluasan perdagangan VOC di singai Mekong. Di
Cambodia tidak hanya VOC (Belanda) juga ada pedagang Inggris. Ini dapat
diketahui dalam Daghregister 21 Agustus 1659 dicatat surat dari kepala pedagang
Inggris di Kamboja yang dikirim ke Bantam (Banten). Beberapa tahun kemudian
surat Radja Kamboja yang dibawa oleh suatu misi diterima di Batavia (lihat
Daghregister10 Maret 1665). Lalu kemudian kontrak dengan Radja Kamboja dicatat dan
penempatan kepala pedagang VOC Pieter Kettingh di Kamboja (lihat Daghregister
17 April 1665). Surat dikirim ke Siam dan Kamboja (lihat Daghregister 21 Mei
1665). Kapal Waterhoen dan surat dari pemerintah VOC ke Kamboja (lihat
Daghregister 27 Mei 1665). Juga dicatat lima kapal Cina ke Kamboja dalam tahun
ini (Lihat Daghregister 6 Desember 1665). Surat dari Radja Kamboja kepada
Gubernur Jenderal (lihat Daghregister 7 Desember 1665).
Tampaknya
hubungan VOC dengan Kerajaan Kamboja berjalan cukup baik. Hubungan perdagangan
yang sukses antara VOC dengan Kamboja membuat kerajaan Champa tertarik. Pada
tahun 1680 dua utusan Champa tiba di Batavia (lihat Daghregister 15 Mei 1680).
Disebutkan bahwa kedatangan dua duta besar van den Coninck van Siampa yang terletak
di utara kekaisaran Kamboja. Ini mengindikasikan perdagangan VOC di semenanjung
Cochin China paling tidak berlangsung di tiga kerajaan (Siam, Kamboja dan
Champa).
Kerajaan Tsiampa (Siampa atau Champa) sudah
diketahui sejak lama. Dimana letak ibu kota Champa ini berdasarkan Peta 1660
tidak diidentifikasi. Namun diduga di kota Ho Chi Min yang sekarang. Berdasarkan
sejarah kuno, kerajaan Champa adalah kerajaan Islam yang menggantikan kerajaan
Hindoe. Pada era Hindoe, Champa diduga adalah suksesi kerajaan Cochi (bergeser
menjadi Cochin). Nama Champa diduga terkait dengan nama Sjam di Laut Mediterania
(kini Suriah, Lebanon dan Palestina). Lantas apakah nama Siam juga merujuk pada
nama Tsiampa (Champa)? Lalu bagaimana dengan
nama Cambodia? Juga diduga masih merujuk pada nama Champa (dan Ayodia). Seperti
kita lihat nanti, kelak (pada masa ini) nama Kamboja tetap Kamboja, tetapi nama
Champa telah menghilang dengan munculnya nama-nama baru (Cochin China) yang
kini menjadi wilayah Vietnam (selatan), sedangkan nama Siam telah diubah
menjadi Thai(land).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Hubungan Cambodia dan Malaka
Kamboja
awalnya menjadi salah satu pos perdagangan yang penting dimana terdapat orang Portugis
dan orang Belanda (tidak diketahui siapa yang lebih dulu eksis di Kamboja).
Pada tahun 1641 terjadi perselisihan antara Belanda dan Portugis di Kamboja
dimana pedagang VOC terbunuh. Pada tahun 1644 terjadi perang Kamboja Perang
Panumping) antara orang-orang VOC (Belanda) berhasil menaklukkan orang-orang
Portugis di Kamboja (lihat Francois Valentijn, 1724). Pertempuran di sungai
Mekong ini terjadi setelah VOC menaklukkan Portugis di Malaka pada tahun 1643.
Hal itulah mengapa terjalin hubungan perdagangan antara Kamboja dan Malaka.

Belanda yang bermukim di Amboina pernah berkunjung ke Cambodia dan bukunya
diterbitkan pada tahun 1724 dengan Oud en Nieuw Oost Indien. Salah satu lukisan
di dalam buku ini tentang lanskap dari suatu areal perkebunan (estate) di
Lauweck (bersumber dari lukisan Johannes Vingboons 1660). Estate ini diduga
dimiliki oleh pedagang VOC di Kamboja. Tidak diketahui komoditi apa yang
ditanam. Dari tampilan lukisan seperti perkebunan kelapa yang diduga untuk
kebutuhan pabrik minyak goreng. Lokasi Lauweck ini pada masa kini berada di
Long Yek (dekat Phnom Phen, Kamboja).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Â
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



