*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Riau di blog ini Klik Disini
Nama
Karimun dan nama Karimata adalah nama-nama kuno. Pulau Karimun berada di antara
pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya. Sementara pulau Karimata berada di antara
pulau Sumatra dan pulau Borneo. Seperti halnya nama Sumatra, nama Malaya juga
nama kuno (merujuk pada nama Himalaya; Malaya menurunkan nama Malay, Malaysia
dan Melayu). Akan tetapi nama Borneo adalah nama baru yang diberikan oleh orang
Portugis pada tahun 1524 (merujuk pada nama pelabuhan di pantai utara pulau
Kalimantan yakni Boernai; kini Brunai). Nama Kalimantan juga merujuk pada nama
Karimata.

Jawa. Untuk membedakan Karimun di selat Malaka maka disebut Karimun Jawa.
Identifikasi nama Karimun Jawa ini diduga dimulai sejak orang Portugis berada
di (pelabuhan) Malaka pada tahun 1511. Nama Karimun Jawa kini dijadikan nama
kecamatan di kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Sedangkan nama Karimun di selat
Malaka dijadikan nama kabupaten. Salah satu nama kecamatan di kabupaten
Karimun, provinsi Kepulauan Riau adalah kecamatan Moro. Nama Moro merujuk pada
orang-orang Moor beragama Islam yang berasal dari Afrika Utara di laut
Mediterania. Orang-orang Moor adalah pendahulu (predecessor) sebelum kedatangan
orang-orang Portugis. Orang-orang Moor adalah pelaut-pelaut yang memperkuat
Kerajaan Aroe dan kerajaan-kerajaan di Atjeh. Kerajaan Aru berada di pantai
timur pulau Sumatra di daerah aliran sungai Barumun yang berseberangan dengan
kerajaan Malaka di pantai barat Semenanjung Malaya. Di antara dua kerajaan ini
di selat terdapat pulau Aru.
Bagaimana
sejarah Karimun? Seperti disebut di atas, nama Karimun adalah nama
kuno dan di kepulauan Karimun terdapat nama pulau Moro. Lantas bagaimana
sejarah Karimun? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Karimun dan Nama Moro
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



